
“I-I-Ibu.”
Owen tergagap saat pandangannya mengikuti langkah kaki Ibunya. Belum cukup satu menit yang lalu ia membahas hal ini bersama Alfio, namun kini orang yang mereka bicarakan sudah berada di hadapannya.
“Ibu, ini kan sudah sangat larut. Ke-kenapa ….”
Ucapan Owen tak ia lanjutkan saat melihat Ibunya mendelik padanya. “Kenapa apa?!” pekik Bu Damira dengan napas mulai tak terkontrol.
“Apa aku ... Ibu kandungmu, tak diizinkan datang ke rumahmu?” Dari intonasi suaranya dan juga air mukanya, Owen bisa tahu jika Ibunya dalam suasana hati yang sangat buruk.
“Bukan begitu, Bu. Tapi ….” Owen lagi-lagi menggantungkan ucapannya. Ah, jadi serba salah, batinnya.
“Tapi apa? Karena ini sudah larut malam jadi aku tak boleh datang ke sini?” Bu Damira terus menyerang putranya.
“Sejak kapan seorang Ibu memiliki jam-jam tertentu untuk berkunjung ke rumah putra kandungnya?!”
Owen menghela napas pelan. Kata-kata untuk membalas ucapan Ibunya seperti tercekat di tenggorokannya. Ia tak ingin mendebat Ibunya saat ini. Tidak sekarang.
Seandainya pun akhirnya akan terjadi perdebatan, Owen tak akan bertindak sebagai seorang putra yang menantang Ibunya. Dia akan berusaha memberi pengertian tanpa harus menyakiti perasaan sang Ibu. Begitulah yang ada di benak Owen saat ini.
“Aku tak bermaksud seperti itu, Bu. Aku hanya memikirkan perjalanan Ibu ke sini. Aku sedang mengkhawatirkan Ibu,” bujuk Owen berusaha melunakkan hati sang Ibu.
“Jangan pikirkan aku. Pikirkan saja dirimu! Kau pikir untuk apa Ibu datang ke sini larut malam jika tak ada hal yang penting,” ungkapnya.
Ibu Damira lalu menoleh ke samping. Saking kesalnya pada putra dan menantunya, dia tak sadar dengan kehadiran orang lain di sekitarnya. Melihat wajah pria yang sejak tadi menjadi penonton drama antara dia dan putranya, Ibu Damira merasa tak asing.
Di mana aku pernah melihat pria ini? Bu Damira mencoba mengingat-ingat.
“Kau siapa? Kau tak tahu aturan bertamu ke rumah orang lain?!”
“Bu!” tegur Owen. Karena sikap tak ramah Ibunya, dia jadi tak enak hati pada Alfio.
“Sudahlah, tak apa,” sela Alfio.
“Ibumu benar. Maaf atas kesalahanku,” lanjut Alfio.
Alfio dan Owen saling menatap. Keduanya seperti sedang bicara lewat tatapan. Anggukan kepala Owen diartikan oleh Alfio jika pria itu akan menanganinya sendiri.
“Kita akan lanjut bicara nanti. Aku permisi.” Alfio pamit undur diri.
Baru saja ia akan melangkah pergi, dari arah luar rumah Nawra masuk dengan tergesa-gesa. “Mau ke mana kau?”
__ADS_1
Baik Owen dan Alfio sontak melayangkan tatapan tajam pada Nawra. Sayangnya, wanita itu sepertinya tak terpengaruh sama sekali. Dengan angkuh dan percaya diri, ia berdiri di sisi Bu Damira.
“Bu, dia adalah pria itu. Kekasih Tessa!” pekik Nawra seraya menunjuki Alfio.
Bu Damira tampak sedang mengingat-ingat. Pantas saja wajahnya tak asing, pikir Bu Damira.
“Itu loh, Bu … pria yang ada di foto bersama Tessa,” jelas Nawra.
“Foto? Foto apa?” Komentar Owen dan Alfio bersamaan. Foto apa pun yang dimaksud Nawra, kedua pria itu tak ada yang tahu.
Owen menatap Alfio, apa ada informasi penting yang Alfio lupa atau sengaja tak ia beritahu padanya. Di tatap seperti itu, Alfio hanya merespon dengan gelengan kepala.
“Nawra!” tegur Owen.
“Kali ini apa lagi rencanamu, hah? Sebaiknya kau pergi dari rumahku. Kehadiranmu tak pernah di harapkan di sini!” lanjut Owen mengusir.
Bukannya mengangkat kaki setelah di usir, Nawra dengan tak tahu malunya malah merangkul lengan Bu Damira. “Aku tak akan pergi. Iya kan, Bu?” ia meminta persetujuan pada Bu Damira.
Bu Damira diam sejenak, kemudian mengangguk. “Owen, mengapa kau mengusirnya? Harusnya kau berterima kasih padanya. Dia telah membawa Ibu ke sini dengan selamat!”
Merasa Bu Damira membelanya, Nawra merasa sedang di atas angin. Ia semakin percaya diri jika kali ini rencananya akan berjalan lancar.
“Bu! Kenapa juga Ibu minta wanita ini yang menjemput Ibu. Jika tak bisa datang sendiri, harusnya Ibu menghubungiku. Bukannya menghubungi orang lain.” Owen mulai kesal.
“Apa? Selingkuhan?!” pekik Owen dan Alfio sekali lagi, kompak.
“Ibu jangan asal menuduh. Dia ini, hem … dia ini teman kami,” elak Owen.
“Dan kau Nawra!“ Owen menunjuki Nawra seraya menahan geram.
“Pasti kau sudah bicara omong kosong pada Ibuku?! Hal busuk apa lagi yang kau rencanakan, hah?!”
Bukannya menjawab atau tampak menyesal, Nawra malah semakin bersembunyi di balik tubuh Bu Damira. Ia pun sepertinya enggan untuk pergi dan melewatkan drama menegangkan malam ini.
“Kau memang bodoh, Nak. Apa kau tak tahu jika dia mantan kekasih istrimu? Apa kau memang benar dijebak oleh wanita murahan itu, hingga mengira jika Aya adalah putri kandungmu?”
Owen dan Alfio lagi-lagi kompak menelan salivanya bersamaan. Bertukar pandangan sesaat, keduanya tahu apa yang kini bersemayam di pikiran mereka sama. Rahasia kita terbongkar sudah, batin keduanya.
“Apa kau benar-benar tak tahu, Wen?” desak Bu Damira. Ia menanti jawaban dari satu-satunya putranya itu.
Bungkamnya Owen. Lalu Owen yang tampak tenang dan tampak tak terkejut, membuat Bu Damira mengerti atas apa jawaban dari pertanyaannya tanpa perlu menunggu jawaban dari Owen.
__ADS_1
“Jadi kau tahu semuanya dan kau tetap diam saja?! Bodoh! Kau menghancurkan karirmu. Kau berubah menjadi anak yang tak patuh karena ingin melindungi wanita murahan itu? Wanita yang bahkan tak punya hubungan apa-apa denganmu?! Begitu?”
Meluap sudah semua amarah Bu Damira. Kecewa, merasa dibohongi, merasa tak dianggap, marah. Semua perasaan itu bercampur jadi satu.
“Di mana wanita murahan itu?!” Teriaknya saat mencari Tessa. Saking menahan geramnya, bibir juga tangan Bu Damira bergetar.
“Bu … Bu … hentikan. Kumohon jangan buat keributan. Semua yang terjadi adalah jalan yang sudah kupilih. Aku mencintai istriku Tessa. Aku pun sangat mencintai Ayasya putriku.” Owen berusaha mencegah langkah Ibunya yang berniat masuk ke dalam rumah.
“Lepaskan, Ibu! Wanita murahan itu harus pergi dari rumah ini. Ibu tak akan biarkan dia membodohimu terus menerus!”
Bu Damira tak peduli dengan larangan putranya. Malam ini juga Tessa harus pergi dari rumah ini, begitu pikirnya. Ia merasa sangat geram karena merasa telah ditipu selama bertahun-tahun.
“Dia tak akan pergi ke mana pun. Ini adalah rumahku. Ini adalah rumah kami. Ibu atau siapa pun tak ada yang berhak mengusir istri dan anakku!” Kali ini Owen cukup keras dalam memperingati Ibunya. Namun Ibunya seakan tak peduli. Ia tetap saja memaksa masuk ke dalam rumah.
Owen terus mengikuti langkah Ibunya, sesekali ia memperingati Ibunya untuk tak membuat keributan. “Jangan begini, Bu. Tessa sedang hamil muda, aku tak ingin terjadi sesuatu padanya dan anak kami,” peringat Owen.
“Bodoh! Seperti kamu yakin saja jika anak yang di kandungnya adalah anakmu. Kau tak ingat, dulu dia bahkan hamil di luar nikah,” balas Ibunya.
“Tessa! Tessa! Ke mari kau wanita murahan!” Baru saja kakinya masuk ke ruang tengah, Bu Damira sudah berteriak-teriak memanggil Tessa.
“Bu! Maaf. Tapi jika Ibu terus membuat keributan, maka aku terpaksa harus meminta Ibu keluar dari rumahku!” Ancam Owen.
“Kau mengusir Ibu? Beraninya, kau!”
Seketika ada rasa sakit yang mulai menggerogoti dadanya sebelah kiri. Ah, perasaan ada yang menghimpit dadanya kembali lagi ia rasakan. Namun, kali ini jauh lebih sakit dari sebelumnya.
Bu Damira, memegang dadanya di bagian sebelah kiri. Sedikit ia tekan lalu ia usap perlahan berharap sakitnya mereda. Tetapi, bukannya membaik, yang terjadi malah kepalanya terasa berdenyut-denyut.
Melihat itu, Owen sedikit khawatir dengan Ibunya. “Ibu … Ibu baik-baik saja?” tanyanya mulai melunak.
“Tidak! Ibu tidak akan baik-baik saja selama wanita murahan itu masih ada di sini!” jawab Bu Damira masih dengan intonasi suaranya yang tinggi.
Di saat keributan dan ketegangan di ruangan itu masih berlangsung, tiba-tiba saja pintu kamar utama di rumah itu terbuka. Tessa muncul dengan wajah lelahnya, juga masih dengan pakaian tidurnya.
Dia begitu terkejut saat melihat banyak orang di rumahnya. Ia mendekat pada Owen yang segera merangkulnya dengan posesif.
“Bang, ada apa ini?” tanyanya.
“Ibu juga di sini? Nawra?” Tessa menyapa, namun terdengar seperti sedang bertanya.
Ia lalu melihat ke sekitar, keningnya mengernyit lalu seketika tubuhnya menegang saat melihat di salah satu sudut ada Alfio sedang berdiri dan tampak seperti sedang mengawasi keadaan.
__ADS_1
“A-Alfio? Mau apa kau di sini?!”
...———————— ...