
Malam sudah terlalu larut untuk masih tetap terjaga. Setelah merasakan embusan napas teratur Tessa, perlahan Owen membuka kedua netranya kembali. Lekat ia pandangi istrinya yang terlelap dengan wajah yang terbenam di dadanya.
Malam ini ia kembali merasakan hal itu. Perasaan takut kehilangan Tessa dan Aya. Rasa takut itu pertama kali Owen rasakan ketika ia menggendong Aya untuk kali pertama. Beningnya bola mata Aya saat menatapnya, membuat Owen jatuh cinta pada bayi mungil di gendongannya saat itu.
Sejak saat itu bagi Owen, Tessa juga Aya adalah bagian dari hidupnya. Tak akan ia biarkan sesuatu menghilang dari hidupnya. Tak akan dia biarkan siapa pun merebut mereka. Termasuk Alfio, yang tak lain ayah kandung Ayasya.
“Apa maunya pria itu?” gumam Owen. “Untuk menghadapinya, aku tak boleh menghindarinya.”
Terus, terus hal itu besemayam di benaknya sepanjang malam. Owen terus memikirkan hal apa saja yang mungkin diinginkan Alfio. Namun, semuanya berujung pada satu nama, Ayasya-putrinya. Sedangkan, Owen tentu tak akan rela.
Hingga pagi menjelang, Owen belum bisa tidur sama sekali. Satu kesalahan yang dia lakukan, sebab hari ini jadwalnya sangat padat di rumah sakit. Perlahan ia rasakan gerakan tubuh Tessa yang menggeliat dalam dekapannya. Saat itu juga ia menutup matanya, berpura-pura tertidur.
Saat kedua netra Tessa terjaga, yang dia lakukan pertama kali adalah membelai lembut pipi Owen, mengecupnya pelan seraya mengucapkan terima kasih dengan lirih. Sontak saja jantung Owen dibuat berdetak dua kali lebih cepat karena perlakuan istrinya.
Apakah Tessa sering melakukan hal ini tanpa kusadari? Bukannya Owen menanggapi hal ini berlebihan. Namun, keduanya memang jarang sekali menunjukkan perasaan cinta secara langsung. Apalagi mengungkapkannya, sejak menikah belum pernah sekali pun kata cinta terucap dari bibir mereka masing-masing.
Dengan sikap Tessa yang seperti ini, membuat hati Owen menghangat. Dia merasa Tessa menghargai semua usahanya selama ini.
Akan kulakukan apa pun untuk mempertahankan kalian, Bun.
Saat Tessa masih betah dengan yang dia lakukan, mengusap-usap pipi suaminya, memuji betapa pengertian, betapa baik, dan betapa tampannya pria itu, Owen yang memang hanya pura-pura tidur seketika membuka mata.
“Terima kasih pujiannya, Bun.” Owen menyeringai dengan kedua mata yang mengerling saat Tessa juga menatapnya.
“Bang!” Tessa terperanjat. Seketika ia bangun, menjauhkan tubuhnya dari sang suami.
*Bodoh*! Harusnya tadi kamu periksa dulu, apa benar dia masih tertidur atau tidak. Jika sudah begini, malu kan jadinya.
“Hei, kamu kenapa, Bun? Ayo, kemarilah! Lakukan lagi,” ucap Owen.
“Aku senang jika kamu seperti itu, dan tentunya aku tak keberatan. Sentuhlah di mana pun kamu suka.” Sekali lagi Owen menyeringai.
Ia bahkan mencoba meraih pergalangan tangan Tessa lalu meletakkannya di pipinya. “Di sini kan, Bun?”
Wajah Tesaa sudah semerah tomat. Ia mencoba menarik tanganya agar lepas dari genggaman Owen. “Bang, apaan sih?!”
“Enggak apa-apa, Bun. Sentuh saja sesukamu. Aku akan pura-pura tertidur lagi.”
Tessa memalingkan wajahnya. Wajahnya semakin memerah karena Owen masih terus menggodanya.
__ADS_1
“Terima kasih, Bang. Tapi, sudah cukup,” tolak Tessa. Meski malu mengatakan itu, namun Tessa tak dapat berpikir alasan lain lagi.
“Benar, sudah cukup?” Rasanya Owen tak ingin melepaskan Tessa begitu saja. Menyenangkan menggoda istrinya seperti ini.
“Apa kamu selalu melakukan ini saat aku masih tertidur?” tanya Owen.
“Enggak, ya! I-itu baru pertama kali kok,” elak Tessa.
Ia tahu Owen tak mungkin percaya begitu saja. Tessa segera memutar otaknya, berharap otaknya bisa bekerja sama mencari alasan yang bisa Owen percayai.
“Ehm … mu-mungkin karena bawaan bayi, Bang.” Tessa beralasan. “Be-benar bawaan bayi!” serunya.
Terima kasih ya, Nak. Masih dalam perut saja kamu udah nyelamatin Bunda, cup cup cup.
Belum juga selesai Tessa berterima kasih pada calon bayinya, satu kecupan sudah mendarat di perutnya yang masih rata. Bagai tersengat listrik, Tessa mematung. Siapa lagi pelakunya jika bukan Owen.
Cup.
“Anak pinter. Teruskan ya, Nak!” suruh Owen dari depan perut Tessa.
Ia elus lembut perut Tessa, lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Selama itu, Tessa masih saja bergeming di atas tempat tidur. Sampai kepala Owen menyembul kembali dari balik pintu kamar mandi.
“Ya,” jawab Tessa juga berteriak setelah terkejut sebab tak menyadari jika Owen sudah tak lagi di tempat tidur.
“Bersiaplah, nanti sore aku menunggumu ke rumah sakit. Kita akan periksa kandunganmu.”
Senyum Tessa mengembang tanpa ia perintah saat membahas mengenai kandungannya. Sama seperti Owen, ia juga memang sudah berniat memeriksa kandungannya ke dokter.
“Setelah memeriksa kandunganmu, kita akan menemui Alfio. Aku ingin tahu sejauh mana yang diinginkan pria itu.”
Lalu Tessa pun kembali mematung. Senyum manisnya juga turut menghilang. Bertemu Alfio? Tak ada gunanya. Bukannya sudah jelas apa yang diinginkan pria itu!
...…...
Waktu berlalu, sepasang suami istri yang sedang diselimuti rasa bahagia, berjalan berdampingan setelah keluar dari rumah sakit. Di tangan Tessa, selembar foto hitam putih, hasil pemeriksaan USG terus ia pandangi sepanjang jalan.
Senyumnya tak pernah hilang, apalagi saat dokter kandungan mengatakan jika janin dalam kandungannya baik-baik saja. Berusia lima minggu dan berkembang dengan baik.
Owen sampai harus merangkul Tessa sepanjang perjalanan mereka. Hal ini membuat para perawat dan pasien wanita semakin mengidolakan Owen. Menjadikan dokter tampan itu sebagai sosok suami ideal, begitu pikir mereka.
__ADS_1
Padahal Owen begitu sebab Ia takut istrinya terjatuh. Atau bisa saja menabrak sesuatu karena pandangannya tak terfokus pada jalanan, melainkan pada foto hasil USG calon bayi mereka.
Sepanjang perjalanan menuju restoran milik Alfio, Owen tak membahas apa pun. Ia biarkan Tessa yang terus memandangi foto hasil USG, mengambil gambar foto tersebut melalui ponselnya. Melihat kini istrinya sedang sibuk dengan ponselnya, Owen yakin kini Tessa sedang memberitahu kabar bahagia ini pada sahabat-sahabatnya.
Hingga mobil berhenti di depan restoran Alfio. Raut wajah bahagia Tessa sontak menghilang. Tak ada sorot mata hangat lagi yang terpancar. Yang ada hanya tatapan dingin istrinya.
“Tenanglah, ada aku. Kamu percaya kan, pada suamimu?” Owen mengambil foto USG dari tangan Tessa lalu menyimpan di saku jasnya.
Tessa menjawab dengan anggukan. Sebagai balasan, Owen mengecup kening Tessa sekali. “Ayo, kita temui pria itu.”
Di dalam restoran, sepertinya Alfio memang sudah menyiapkan segalanya untuk pertemuan malam ini. Hanya menyebutkan nama mereka, seorang pelayan sudah paham dan mengantar Tessa dan Owen ke meja yang sudah disiapkan sang bos.
“Bodoh! Apa dia pikir kita akan datang ke sini bersama Mami dan Aya?” gerutu Tessa setelah menghitung jumlah kursi di meja itu.
Tessa dan Owen duduk bersisian. Satu tangan Owen tetap merangkul pundak Tessa walau mereka sedang duduk. Sedang yang satunya lagi menggenggam tangan Tessa di atas pangkuannya. Keduanya kini sedang menanti kedatangan Alfio.
“Wow, kalian datang!” seru Alfio seakan terkejut dengan kehadiran Tessa dan Owen.
Ia mengamati sekeliling. Netranya menatap ke bagian play ground, ia pikir yang dia cari ada di sana. “Di mana Aya? Apa kalian hanya datang berdua?”
“Seperti yang kau lihat,” jawab Owen.
Meski kecewa Alfio akhirnya ikut duduk di depan pasangan itu. “Baiklah, jadi makan malam kali ini kita hanya bertiga saja,” ungkapnya kecewa.
“Sebenarnya kami tak datang untuk makan malam,” ucap Owen.
“Sudah menjadi kebiasaan kami untuk makan malam bersama keluarga,” lanjutnya.
Alfio tertawa. “Keluarga? Kau berkata seolah kau ayah kandungnya. Kau lucu!”
“Ya, kami keluarga. Sejak dulu dan sampai kapan pun akan begitu,” ucap Owen memancing kekesalan Alfio.
“Sebaiknya katakan saja apa yang ingin kau bicarakan hingga meminta kami ke sini.”
Alfio menoleh ke arah Roy. Dengan sigap pria kekar itu berjalan menghampiri bosnya. Menyerahkan selembar kertas yang ia bawa.
Alfio meletakkan kertas itu di atas meja. Sekilas Owen lihat, ia tahu selembar kertas itu adalah hasil tes DNA Ayasya dengan Alfio.
“Mudah saja. Aku minta kamu menceraikan Tessa!”
__ADS_1
...———————...