Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 80. Menghasut Bu Damira


__ADS_3

Jederrrr!


Bagai ada petir yang menyambar Bu Damira dan Qanita. Keduanya ternganga setelah mendengar berita yang baru saja mereka terima. Tidak mungkin, pikiran mereka sama. Keduanya tak bisa mempercayai ucapan Nawra begitu saja.


“Diam, kau!” bentak Bu Damira.


“Jangan karena aku baik padamu, kau malah seenaknya mengatakan jika Ayasya bukan anak kandung Owen bersama Tessa.”


“Ayasya itu cucuku. Dia adalah darah daging Owen!” tegasnya sekali lagi.


Bu Damira masih saja tak bisa terima dengan apa yang diucapkan oleh Nawra. Dia memang tak pernah bisa menerima dan membuka hatinya untuk Tessa. Tapi tidak dengan Ayasya. Gadis kecil itu sudah mencuri hatinya sejak pertama kali ia terlahir ke dunia. Ia menyayangi Ayasya, gadis kecil yang ia yakini sebagai cucunya.


“Bu, aku berani bersumpah! Aku mendengar sendiri pembicaraan Tessa dengan seorang pria. Pria itu mengakui Aya sebagai putrinya,” jelas Nawra.


“Aku pun mengenal pria itu. Dia pernah menemuiku di toko. Dia mengaku sebagai mantan kekasih Tessa. Kami bahkan sepakat bekerjasama untuk memisahkan Tessa dan Owen,” lanjutnya.


Bu Damira masih tetap memalingkan wajahnya. Tak ingin ia memandang Nawra. Ia teramat kesal hingga rasanya ingin langsung mengusir saja wanita di hadapannya itu.


“Aku tak peduli apa yang kau rencanakan bersama pria itu. Tapi, jangan pernah bawa-bawa cucuku dalam masalahmu!” bentak Bu Damira.


“Pergi! Sekarang pergi kau dari rumahku!” Bu Damira kian meninggikan suaranya ketika mengusir Nawra.


Si*l! Umpat Nawra dalam hati. Rencananya terancam gagal untuk kedua kalinya, Nawra tak bisa menerima kekalahannya begitu saja.


“Bu, jangan begini. Tolong, lihatlah ini,” pinta Nawra seraya menunjukkan foto yang ia ambil beberapa hari yang lalu dengan ponselnya.


Bu Damira yang awalnya sudah berdiri dan hendak meninggalkan Nawra kembali bergeming. Beberapa detik kemudian ia menoleh lagi ke arah Nawra. Kedua netranya membelalak saat melihat foto Tessa bersama seorang pria. Bu Damira tak bisa menerima segala bentuk pengkhianatan. Kenangan buruknya di masa lalu, masih selalu menghantuinnya.


“Apa maksudmu menunjukkanku foto itu?” tanyanya masih dalam posisi berdiri. “Foto itu tak membuktikan apa pun!”


“Foto ini aku ambil saat aku menguping pembicaraan mereka berdua. Pendengaranku tak mungkin salah, Bu. Aku sangat yakin mendengar pria ini mengakui dirinya sebagai ayah dari Ayasya. Bahkan pria di foto ini sedang menuntut pada Tessa untuk mempertemukannya dengan Ayasya.”


“Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu. Mereka ingin menjalin kembali hubungan mereka yang telah kandas,” imbuh Nawra melebih-lebihkan.


Mendengar penjelasan Nawra, rasanya pandangan Bu Damira mulai kabur. Kakinya mulai terasa lemas, ia teringat bayangan berpuluh-puluh tahun silam. Situasinya sama seperti saat ini. Kala itu dirinya juga mendapati foto suaminya sedang bersama wanita lain.


Ia seperti bisa merasakan kembali sakit hatinya kala itu. Ia tak ingin putranya Owen bernasib sama dengannya, merasakan sakit yang dulu juga pernah ia rasakan.


Bu Damira kembali terduduk di kursinya. Beruntung ada Qanita yang membantunya duduk. Ia segera bertindak waspada saat melihat tubuh Ibunya yang berdiri tegap mulai kokoh.


“Bu … Ibu …” pekik Qanita. “Ibu baik-baik saja, kan?”

__ADS_1


Tak mendapat jawaban dari Ibunya yang bergeming, Qanita melampiaskan kecemasannya pada Nawra. “Kau ini kenapa sih?!” bentaknya. “Lihat akibat perbuatanmu!” serunya tak terima.


“Me-memangnya a-aku melakukan apa?!” balas Nawra tergagap. Ia juga terkejut, tak menyangka dengan respon Bu Damira saat ia menunjukkan foto Tessa dan Alfio.


Wanita tua ini saja yang berlebihan. Foto ini kan hanya pertemuan biasa, keduanya bahkan tak melakukan apa pun. Tapi, baguslah jika dia benar-benar terperdaya, batin Nawra.


Bu Damira menggenggam tangan Qanita. Gadis itu bisa merasakan dinginnya tangan sang Ibu membuatnya makin cemas saja. Qanita sudah cukup dewasa untuk tahu mengapa Ibunya sampai seperti ini. Trauma dari masa lalu kelamnya, menjadi penyebab semuanya.


“Kau buta atau apa sih! Kau tak bisa lihat?! Kau sudah buat Ibuku terkejut dengan berita sampahmu itu!”


Genggaman tangan Bu Damira semakin erat pada Qanita lalu ia menggeleng. Ia ingin putrinya berhenti mengoceh. Mendengar ocehan Qanita, semakin membuat napasnya sesak.


Qanita membantu Ibunya untuk meneguk air hangat sedikit-sedikit. Sedangkan Nawra yang melihat pemandangan itu, batinnya semakin gelisah. Wanita itu bukan takut terjadi sesuatu pada Bu Damira, ia takut seandainya Bu Damira rupanya tak bisa berbuat apa-apa. Hal itu berarti kedatangannya jauh-jauh ke desa itu akan berakhir sia-sia.


“Kau yakin dengan yang kau lihat? Kau yakin kau mendengar jika mereka berencana mengkhianati putraku?” tanya Bu Damira setelah dirinya tampak lebih tenang.


Nawra segera mengangguk dengan yakin. Yes! dia bersorak dalam hati.


“Apakah Ibu sudah baik-baik saja?” tanya Nawra ragu-ragu.


“Ya.”


Wajah Bu Damira tampak pucat karena terkejut. “Ha-hamil?”


“Iya, Bu. Tessa sekarang sedang mengandung. Apa dia tak memberitahunya pada Ibu?” Melihat Bu Damira menggeleng lemah, sekali lagi membuat satu sudut bibir Nawra tertarik ke samping. Ada rencana licik seketika bersemayang di benaknya. Ia ingin tersenyum namun segera ia tahan.


“Wah! Wah! Gawat,” Nawra memekik heboh.


Jika raut wajah Bu Damira kembali terlihat panik. Berbeda dengan Qanita yang terlihat geram pada Nawra.


“Mengapa Tessa tak mengabarkan berita kehamilannya pada Ibu? Apa dia sengaja? Apa dia menyembunyikan sesuatu?”


“Ah … jangan-jangan bayi yang dikandungnya bukan anak Owen. Itulah sebabnya dia tak memberitahu Ibu mengenai kehamilannya?!” ucap Nawra menghasut Bu Damira. Dalam hati ia bersorak karena sepertinya berhasil memancing amarah Bu Damira.


Kedua telapak tangan Bu Damira mengepal. Emosi telah mengalahkan akal sehatnya. “Si*lan! Wanita itu memang wanita murahan!” pekiknya.


“Bu, belum tentu ucapan wanita ini benar!” Qanita mencoba menenangkan Ibunya. Dia tak ingin terjadi sesuatu pada Ibunya.


Bu Damira mengernyit. Walau tak mengatakannya, namun kernyitan di keningnya sudah menandakan jika dia setuju dengan Qanita dan kini ia dilanda keraguan.


Nawra mengedikkan bahunya. “Entahlah, kau benar. Siapa yang tahu? Hanya saja kehamilan Tessa pas sekali waktunya dengan kemunculan mantan kekasihnya.”

__ADS_1


Bu Damira sontak memegang dadanya di sebelah kiri. Ia merasa sakit di sana, seperti ada yang menghimpitnya.


“Ka-kau, antarkan aku ke sana! Aku tak akan biarkan wanita murahan itu membodohi putraku!” ucapnya seraya menahan sakit di dadanya.


...…...


Sementara itu di kota, Owen yang baru saja tiba di rumahnya segera bergegas mencari keberadaan istrinya. Mami Fhanie yang sedang menonton TV di ruang tengah hanya menatap heran dengan sikap menantunya.


“Ada apa dengannya? Biasanya dia selalu memberi salam saat masuk rumah. Bahkan, dia tak menyapa sama sekali. Apa terjadi sesuatu yang buruk?”


Saat Owen memasuki kamar, hatinya yang gelisah perlahan-lahan menjadi tenang kembali. Ia mendapati istrinya duduk di atas tempat tidur dan sedang mengolesi lotion ke kakinya.


Tak ada tanda-tanda telah terjadi sesuatu padanya, kan? tanya Owen dalam hati untuk memastikan.


“Bang,” panggil Tessa menyadarkan Owen dari lamunannya.


Owen melangkahkan kakinya mendekat pada Tessa. Ia kecup kening Tessa sekali lalu ikut duduk di atas tempat tidur, berhadapan dengan istrinya.


“Bagaimana hari ini?” tanyanya.


“Hem … semua baik-baik saja. Aku masih seringkali mual dan muntah, tapi kamu jangan khawatir,” jawab Tessa.


“Kamu dari mana saja seharian ini?”


Tessa menggeleng. “Tidak ke mana-mana. Hanya mengantar Aya ke sekolah dan pulangnya aku menemani Mami sebentar ke toko oleh-oleh.”


“Apa kau bertemu seseorang hari ini?”


Pertanyaan Owen membuat kening Tessa mengernyit. “Seseorang? Seseorang siapa yang kamu maksud, Bang?”


“Hem … mungkin Ben?” tanya Owen dan dijawab Tessa dengan gelengan kepala.


“Kalau Nawra … apa dia menemuimu hari ini?”


Kening Tessa mengernyit. Ia hentikan gerakan tangannya yang mengusap-usap kaki jenjangnya.


“Aku tak bertemu siapa pun hari ini,” jawab Tessa.


“Tapi, Bang … memangnya apa yang terjadi? Mengapa kamu menanyakan hal itu?”


...————————...

__ADS_1


__ADS_2