
“Bunda, tenanglah!”
Owen tak bisa berbohong, kini ia tak kalah paniknya setelah mendengar isak tangis istrinya. Terlebih, istrinya menangis di telepon. Posisinya ia tak berada di sisi Tessa saat wanita itu menangis, entah karena apa.
“Tenangkan dirimu, Bun. Tarik napas perlahan dan embuskan perlahan-lahan juga.”
“Bunda, ingat bayi kita dalam kandunganmu,” ucap Owen masih berusaha menenangkan Tessa. “Katakan, sekarang kamu di mana? Kamu tak sendiri kan?”
Tessa yang terus bungkam membuat Owen semakin khawatir. Ia belum bisa menebak apa alasan istrinya sampai menangis saat menghubunginya. Dalam hati Owen berdoa semoga tak ada hal buruk terjadi pada istrinya itu.
“A-aku di sekolah Aya,” ucap Tessa.
“Hah? Sekolah Aya?” Owen makin bingung. Hal buruk apa yang mungkin terjadi di sebuah taman kanak-kanak yang membuat istrinya sampai menangis, pikir Owen.
“Lalu, apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis?”
“Alfio ada di sini. Di-Dia ….” Tessa tak melanjutkan ucapannya sebab dari tempatnya berdiri ia melihat sosok Mami Fhanie yang berjalan mendekat ke arahnya.
“Mau apa dia ke sana?”
“Bun? Kenapa kamu diam, apa dia melakukan hal buruk padamu?”
Tessa yang menggantungkan ucapannya membuat Owen khawatir. Awas saja jika Alfio melakukan hal buruk pada istrinya. Dia sudah berusaha menghadapi pria itu dengan tenang. Jangan sampai dia menyalah artikan sikap Owen dan berbuat seenaknya pada Tessa.
“Ssstt, aku akan ceritakan semuanya di rumah. Aku baik-baik saja. Kututup ya, Bang. Mami Fhanie ada di sini.” Lalu sambungan telepon dengan istrinya pun akhirnya terputus.
Owen melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih lama, pikirnya. Dia masih harus bersabar, menyelesaikan pekerjaannya dengan baik sebelum kembali ke rumah dan mendengar cerita istrinya.
...…...
Sementara itu di tempat lain, di sebuah toko kue Nawra duduk termenung memandangi benda pipih dengan dua garis merah di tangannya. Ini bukan kali pertamanya menerima fakta mengejutkan itu. Dulu, ia juga pernah ada di posisi ini. Namun, kala itu dengan mudah dan tanpa pikir panjang, Nawra menggugurkan janin tak berdosa yang hadir dalam rahimnya.
__ADS_1
Nawra membolak-balik alat tes kehamilan di tangannya. Memikirkan siapa ayah dari janin yang kini berada di dalam rahimnya. “Ah, bodoh, bodoh!” gerutunya.
“Kenapa aku bisa kecolongan lagi sih!” kesalnya.
Fakta jika dirinya kini sedang mengandung mengingatkan Nawra pada sesuatu yang didengarnya pagi tadi. Ya, tadi pagi niatnya untuk membeli bahan-bahan keperluan toko kuenya terpaksa ia urungkan karena ia membuntuti ke mana Tessa pergi.
Awalnya, ia kecewa saat melihat mobil yang dikemudikan oleh Ibunya Tessa menepi di sebuah taman kanak-kanak. Nawra pikir, upayanya membuntuti Tessa pagi itu tak akan membuahkan hasil apa pun.
Namun, wajah masamnya segera berubah cerah ketika ia melihat sosok pria yang ia kenali. Alfio, pria yang mengaku sebagai mantan kekasih Tessa berdiri tepat di depan gerbang sekolah.
“Apa yang dilakukan pria itu di sana? Aku sangat yakin mereka sudah janjian sebelumnya,” gumam Nawra kala itu.
Nawra dengan sigap mengambil beberapa foto yang rencananya akan ia gunakan sebagai alat untuk mengadu domba Owen dan Tessa. Apalagi saat melihat, Ibunya Tessa membawa Ayasya masuk ke dalam sekolah dan meninggalkan Tessa juga Alfio berduaan. “Apa jangan-jangan Ibunya Tessa juga ambil andil pada pertemuan Tessa dan Alfio pagi ini?”
Momen-momen itu segera diabadikan oleh Nawra dan ia simpan pada memori ponsel pintarnya. Menurutnya foto itu pasti akan berguna suatu saat nanti.
Nawra mengetuk-ngetuk jemarinya pada meja di hadapannya. Ucapan Alfio pagi tadi sungguh mengusiknya. Jika pendengarannya tak salah, itu artinya Alfio mengakui Ayasya sebagai putrinya. Nawra menggelengkan kepalanya karena masih sulit percaya dengan apa yang didengarnya.
Perlahan-lahan, Nawra mulai merangkai potongan-potongan informasi yang ia miliki mengenai Owen, Tessa, Ayasya juga Alfio. “Ah, aku ingat … bukankah kata Ben, Tessa adalah seorang selebgram?”
Berbekal informasi itu, Nawra segera berseluncur di dunia maya. Ia mencari tahu segala informasi yang berhubungan dengan Tessa. Mulai dari sosial media milik Tessa, hingga artikel-artikel yang memuat berita mengenai wanita itu beberapa tahun silam.
“Aneh, mengapa tak ada satu pun berita mengenai kedekatan Tessa dan Owen?” Kecurigaan pun akhirnya muncul dalam benak Nawra.
“Meski merahasiakan hubungan asmara mereka, rasanya tak mungkin tak ada jejak sama sekali mengenai hubungan keduanya. Bisa saja mereka tak mengaku sebagai sepasang kekasih, tapi, sebagai teman, kenalan, atau apa pun.”
Ah, rasa pusing menyerang kepala Nawra. Entah karena efek kehamilannya atau karena rasa ingin tahunya.
Setelah puas berseluncur di dunia maya, ingatannya membawanya pada pernyataan Ibunda Owen. Owen dan Tessa harus menikah karena Tessa sedang mengandung. Pernikahan mereka terlaksana setelah Tessa melahirkan Aya. Seingat Nawra, begitulah kata Ibunda Owen pada malam ulang tahunnya.
Pengakuan Ibunda Owen semakin meyakinkan Nawra jika pendengarannya pagi tadi tak bermasalah. Bisa saja saat itu Tessa memang sedang mengandung tapi bukan darah daging Owen, melainkan darah daging Alfio. Nawra sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan saat memikirkan hal itu.
__ADS_1
“Astaga! Jika dugaanku benar, maka ….” Nawra tak tahu harus bereaksi seperti apa dengan semua pikiran yang berkecamuk dalam benaknya.
“Cih. Dasar wanita licik! Dia pasti menjebak Owen untuk bertanggung jawab atas kehamilannya,” gerutu Nawra. Wanita yang juga sedang mengandung itu sangat yakin dengan asumsinya sendiri.
“Jika wanita si*lan itu bisa berbuat licik, mengapa aku tidak?!” Setelah memikirkan semuanya, ide yang dianggapnya brilian terlintas dalam benaknya.
Tessa mengusap perutnya. “Jadilah berguna untukku. Sekali saja … kumohon,” gumamnya seolah sedang bicara dengan janin dalam rahimnya.
...…...
Siang pun mulai berganti malam. Sang mentari mulai terbenam di ufuk barat. Senja menghiasi langit, menampakkan keindahan yang hanya sesaat namun mampu memanjakan mata dan menghangatkan jiwa.
Bagi sebagian besar karyawan dan para pekerja yang seharian ini telah berjuang mencari nafkah, senja dijadikan pertanda bagi mereka untuk berhenti dari rutinitas. Waktunya mereka kembali pulang ke rumah masing-masing. Berkumpul bersama keluarga yang setia menanti kepulangan mereka. Juga, kini waktunya bagi mereka untuk mulai mengistirahatkan tubuh dan pikiran. Serta menyiapkan tenaga untuk kembali beraktivitas keesokan harinya.
Begitu juga dengan Owen. Dokter muda berbakat itu sudah tak sabar untuk kembali ke rumah. Pembicaraan dengan istrinya di telepon pagi tadi masih mengambang. Owen masih belum paham dengan apa yang terjadi.
Hingga, ketika ia tiba di rumah, yang ia lakukan pertama kali adalah mencari di mana sosok istrinya berada. “Bun … Bunda, kamu di mana?” pekiknya sesaat setelah masuk dan menutup pintu rumah.
“Tessa di kamar, sepertinya dia tak enak badan. Seharian ini dia hanya berdiam diri di kamar.” Jawaban itu datangnya dari Mami Fhanie yang sedang menyuapi Aya makan malam.
“Oh, terima kasih, Mi. Aku temui Tessa dulu,” balas Owen.
Baru dua langkah kaki Owen melangkah, Mami Fhani kembali memanggilnya. “Owen.”
“Ya,” jawab Owen seraya menoleh pada Ibu mertuanya.
“Apa ada masalah? Kalian baik-baik saja, bukan? Kalian tidak sedang bertengkar kan?”
Owen mematung. Jawaban apa yang paling tepat yang harus dia katakan pada Ibu mertuanya, ia pun bingung.
“Hem, aku dan Tessa ….”
__ADS_1
...---------------...