Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 39. Dugaan Owen


__ADS_3

“Bunda!” Pekik Owen.


Mendengar pekikan ayahnya, Ayasya yang terkejut akhirnya menjerit dalam gendong sang Ayah. Owen berlari menghampiri istrinya yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai. Namun, sebelumnya ia sempat menurunkan Ayasya dari gendongannya.


Sementara, melihat Tessa pingsan di hadapannya membuat Bu Damira menjadi panik. Bukannya khawatir pada kondisi menantunya, Bu Damira malah mengingat-ingat bagaimana rentetan kejadian sebelum Tessa pingsan. Ia takut jika nanti terjadi sesuatu pada menantunya itu dan dialah yang disalahkan.


“Bunda! Tessa!” pekik Owen.


Owen semakin panik manakala jaraknya semakin dekat kepada istrinya, lalu dilihatnya banyak pecahan kaca yang berserakan. “Apa yang sebenarnya telah terjadi?!”


“I-i-itu … hem, Ibu juga enggak tahu.” Bu Damira tergagap menjawab pertanyaan putranya.


“Anu … hem, Ibu baru saja keluar kamar saat mendengar bunyi seseorang yang terjatuh,” ucap Bu Damira beralibi.


Bulir peluh memenuhi dahinya, Bu Damira sangat gugup saat ini. Dalam hati ia menggerutu, menyalahkan menantunya.


Pekikan tangis Ayasya semakin membuat Bu Damira kalang kabut. Terlebih saat ia melihat Owen mengangkat salah satu tangan Tessa dan ada darah yang mengalir di lengannya.


Bu Damira menggeleng dan menelan salivanya saat Owen menoleh padanya kemudian menatapnya tajam. “Bisakah Ibu membawa Aya pergi dan menenangkannya?”


Bu Damira tak menjawab, ia hanya mengangguk lalu bergegas pergi menuju kamar tamu. Ia tahu setelah memberikan pertolongan pada Tessa, Owen pasti akan menemuinya dan meminta penjelasan.


“Huh, apa yang harus kukatakan pada Owen?” gumamnya.


Otaknya tak bisa berpikir. Tangisan Ayasya sungguh mengganggunya. “Aya … anak cantik, anak pinter, sudah ya nangisnya,” bujuk Bu Damira.


Tak henti ia menimang-nimang cucunya seraya megelus lembut punggungnya. “Sudah … sudah … dasar Bunda kamu saja yang lemah.”


“Kamu jangan ngikutin kelakuan Bunda kamu. Malas, manja, hobinya hambur-hamburin duit,” oceh Bu Damira.


“Nyusahin saja, Bunda kamu itu!” imbuhnya.


Bukannya menghentikan tangisannya, Aya semakin memekik. Hingga Bu Damira mulai merasa lelah menimang-nimang Ayasya, cucunya itu masih saja terus menangis.


“Aya … berhentilah menangis! Cukup Bunda mu saja yang membuat Nenek pusing,” gerutu Bu Damira.


...…...


Sementara di dapur, dengan hati-hati Owen meningkirkan pecahan-pecahan kaca di sekitar istrinya. Setelah itu ia gendong istrinya dan ia bawa ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Setelah merebahkan Tessa di atas tempat tidur, tak henti-henti Owen memanggil-manggil nama istrinya. Tak henti pula ia berdoa agar istrinya cepat sadar. Hatinya cukup lega setelah ia bisa merasakan denyut nadi di leher Tessa.


“Bun … Bunda!” seru Owen tak jauh dari telinga Tessa.


“Bun … kamu mendengar aku?!” Intonasi suaranya sengaja ia naikkan. Kedua tangannya menepuk-nepuk lembut lengan istrinya.


Owen bergegas membuka dua kancing teratas kemeja Tessa agar ia lebih mudah dan nyaman untuk bernapas. Minyak beraroma aroma terapi sengaja Owen oleskan di sekitar indra penciuman Tessa.


“Tes … Tessa, ayo bangun!” Cemas, takut, bahkan sesal kini bergejolak dalam benak Owen. Ia menyayangkan dirinya yang lagi-lagi lalai menjaga Tessa. Harusnya tadi dia bisa mencegah semua ini terjadi, andai saja ia sedikit memaksa Tessa beristirahat.


Berselang beberapa detik, usaha Owen akhirnya membuahkan hasil. Walaupun terpejam, dirinya bisa melihat bola mata Tessa bergerak-gerak.


“Bunda … Bunda!” Owen semakin bersemangat memanggil-manggil istrinya.


Setelah bola matanya, kini giliran jemari Tessa mulai bergerak. Melihat hal itu, Owen segera menggenggam jemari istrinya. “Bun, ayo buka matamu!” Serunya.


Bersamaan dengan selesainya ucapan Owen, kedua netra Tessa akhirnya terbuka. “Ba-Bang,” panggil Tessa dengan suara lemah.


“Bunda?!” Seru Owen.


“Syukurlah kamu sudah sadar.” Saking senangnya, Owen langsung memeluk Tessa. “Kamu membuatku khawatir!”


Dalam dekapan Owen, Tessa tersenyum. “Memangnya apa yang terjadi padaku, Bang?” tanya Tessa lemah.


“Tapi janji setelah itu jawab pertanyaanku.” Tessa pun mulai menenggak air sedikit demi sedikit dari gelas, dibantu oleh Owen.


Setelah memastikan Tessa selesai minum, Owen lantas membantunya untuk bersandar di kepala tempat tidur.


“Itu juga yang ingin kutanyakan padamu, Bun. Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu sampai pingsan di dapur,” ujar Owen.


“Pingsan?” ulang Tessa.


“Iya, pingsan. Saat aku dan Aya ingin menyusulmu ke dapur, aku sungguh terkejut ketika melihatmu sudah terbaring di lantai,” jelas Owen.


Tessa mengangguk lemah sementara satu tangannya memijit dahinya. “Oh, pantas saja. Seingatku, tadi penglihatanku sempat buram lalu lama-kelamaan semuanya berubah gelap,” cerita Tessa.


“Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi,” lanjutnya.


“Lagian, apa yang kamu lakukan di dapur? Kan sudah kukatakan jika kita akan sarapan di luar pagi ini,” ujar Owen.

__ADS_1


Tessa bungkam beberapa saat. Yang dia ingat, saat itu ia baru saja selesai membersihkan meja makan dan dapur. Sesuai perintah Ibu mertuanya, Tessa hendak mencuci piring. Saat itulah ia akhirnya pingsan.


“Aku ingin mencuci piring, tapi aku semakin pusing dan tak bisa lagi menahan perasaan mual,” jawab Tessa.


“Itu artinya, tadi pagi dugaanku benar. Kamu memang sedang kurang sehat,” ucap Owen.


“Sekarang aku enggak mau ada kompromi lagi,” tegas Owen.


“Kamu harus istirahat. Kamu enggak boleh beranjak dari tempat tidur ini tanpa izinku,” lanjut Owen.


Kedua alis Tessa mengerut. “Loh Bang, kalau begitu aku enggak bisa ngapa-ngapain dong?”


“Iya, memang begitu mauku,” jawab Owen tanpa ragu.


“Tapi, bagaimana dengan Aya? Jika, aku enggak boleh melakukan apa pun, siapa yang akan mengurus Aya?” tanya Tessa.


“Aku,” jawab Owen.


“Hari ini aku akan cuti lagi. Aku akan di rumah menjaga Aya juga merawatmu,” lanjutnya.


“Tak perlu berlebihan seperti itu, Bang. Aku hanya kelelahan,” elak Tessa. “Istirahat sebentar saja, maka aku akan baik-baik saja.”


Owen membelai lembut puncak kepala istrinya. “Bukan berlebihan, Bun. Aku hanya melakukan tugasku sebagai suamimu.”


Tessa hanya bissa menghela napas berat. “Baiklah, aku mengaku kalah. Aku akan menjadi pasien yang penurut, Pak Dokter,” canda Tessa.


Keduanya tertawa bersama sesaat. Namun setelah itu mereka bungkam dengan pikirannya masing-masing. Owen memikirkan apa yang memicu hingga istrinya sampai pingsan. Sedangkan Tessa kembali mengingat-ingat perdebatannya bersama Ibu mertuanya.


Hatinya teramat sedih, memikirkan bagaimana hubungannya yang masih saja buruk dengan Ibu mertuanya. Padahal sudah beberapa tahun berlalu, namun belum ada tanda-tanda hubungan keduanya membaik.


“Baiklah, sekarang kamu tunggu di sini. Akan kubuatkan bubur untuk kamu sarapan. Aku akan segera kembali,” ucap Owen.


Tessa hanya mengangguk saja, toh dirinya memang sudah sangat lapar. Pusing di kepalanya, juga rasa mual di dalam perutnya sungguh menyulitkan Tessa untuk melakukan apa pun saat ini.


Sementara di dapur, Owen sedang menyiapkan bahan-bahan untum membuat bubur ayam dan sayuran untuk istrinya. Tekadnya sudah bulat untuk memperkerjakan seorang wanita sebagai asisten rumah tangga.


Banyak hal yang dipikirkan oleh Owen ketika sedang memasak bubur untuk Tessa. Pekerjaan dan pasiennya di rumah sakit, tugasnya untuk mencari asisten rumah tangga, dan terakhir adalah keluhan yang dirasakan isrtinya.


“Pusing dan mual hingga pingsan,” gumam Owen.

__ADS_1


“Mungkinkah?”


...——————————...


__ADS_2