
“Kau gila!” pekik Tessa.
“Aku sudah berusaha bersikap baik padamu. Memberimu kesempatan untuk dekat dengan Ayasya,” ucap Tessa melampiaskan kekesalannya pada Alfio.
“Aku heran, apa yang sudah kau katakan pada suamiku, sampai dia percaya menitipkan kami padamu!” Gerutunya.
Dia masih ingat bagaimana suaminya kukuh pada pendiriannya, memberikan kepercayaan pada Alfio untuk menjaga Tessa dan Ayasya selama mereka berada di Kota P.
Tessa masih belum pu*s meluapkan kemarahannya pada Alfio. Bagaimana tak emosi, di tengah semua yang sedang terjadi wanita itu sengaja pergi menemui kedua sahabatnya untuk menghibur dirinya sejenak. Menepi sebentar dari penatnya pikiran karena masalah yang terjadi. Eh, tiba-tiba saat pulang dirinya menerima berita mengejutkan. Alfio bertindak seenaknya saja. Mengungkap rahasia pada Mami Fhanie tanpa berdiskusi sebelumnya dengan Owen maupun dirinya.
“Tess, tenanglah!” pinta Alfio. “Redakan emosimu, biarkan aku menjelaskannya.”
Bugh. Sebuah bantal kursi sudah mendarat tepat di wajahnya setelah Alfio selesai berbicara. Siapa lagi pelakunya jika bukan Tessa.
Apa yang Tessa lakukan menimbulkan senyuman tipis di bibir Alfio. Inilah Tessa yang kukenal dulu, batinnya. Ia jadi ingat bagaimana dulu wanita itu sering meledak-ledak seperti saat ini ketika sedang marah. Hal yang tak ia lihat lagi setelah tahu Tessa telah berumah tangga.
“Kenapa kau senyum-senyum?!” Alfio bergidik mendapat tatapan setajam silet dari Tessa.
“Pergi sana! Jangan lagi kau datang menemui Aya,” usir Tessa.
“Apa?! Tak bisa begitu dong, Tes! Kau tak boleh melarangku menemui Aya. Bagaimanapun kamu menyembunyikannya, fakta jika Ayasya putriku tak pernah berubah. Aku punya hak yang sama denganmu!”
Alfio memutuskan lebih tegas dalam menyikapi keegoisan Tessa. Apa lagi, dia punya alasan sendiri mengapa sampai berani mengungkap siapa dirinya sebenarnya pada Mami Fhanie.
“Tidak! Perjanjian kita hanya berlaku jika rahasia kita tak terbongkar. Tapi, lihatlah kekacauan yang terjadi sekarang,” balas Tessa.
“Kan bukan aku juga yang mengungkap semuanya,” Alfio mulai kesal dengan keras kepalanya Tessa. Tak tahu saja wanita ini jika dia punya rencana sehingga terpaksa jujur pada Mami Fhanie.
“Tes, kumohon mengertilah. Ada atau tidaknya perjanjian kita sebelumnya, Ayasya tetaplah putriku. Darah dagingku,” tegas Alfio.
Tessa bungkam, Alfio benar. Ingin mengelak tapi tak bisa. Ingin menerima, tapi batinnya tak rela.
Untuk menenangkan hatinya, Tessa meraih gelas kaca berisi air dingin di hadapannya. Melihat itu Alfio segera meraih bantal kursi yang tadi dilempar Tessa. Ia gunakan bantal itu untuk menutupi wajahnya.
“Tes … ampun, Tes. Jangan macam-macam, itu berbahaya,” peringat Alfio.
Kening Tessa mengernyit. Dia bingung apa yang dilakukan dan dikatakan pria itu. “Kau kenapa?”
Mendengar intonasi suara Tessa yang biasa saja, bahkan terdengar sedang bingung Alfio akhirnya mengembalikan bantal kursi tadi ke tempatnya semula. “Kupikir kau akan melemparku dengan gelas itu,” ucapnya lega.
“Apa? Kau pikir aku segila itu,” balas Tessa berusaha menahan senyumnya.
Alfio merasa dia bisa cukup tenang sebab Tessa tak lagi menampakkan raut wajah seriusnya. Walau masih terlihat betapa kesalnya wanita itu padanya.
__ADS_1
“Aku tak bisa menebak apa niatmu. Tapi kumohon, jangan bebankan Ayasya dulu. Dia masih terlalu kecil untuk bisa mengerti dengan semua yang terjadi,” pinta Tessa. Permintaan tulus dari seorang Ibu.
Alfio menelan salivanya. Haruskah ia berjanji? Sementara Ayasya ada dalam rencana yang sudah dia susun.
“A-aku, aku tak mungkin ingin menyakitinya. Dia putriku.” Hanya itu yang akhirnya dapat dijanjikan Alfio. Janji yang pasti akan dia tepati.
...…...
Sementara selama harus berpisah jarak, Tessa dan Owen hanya bisa melepaskan kerinduan melalui sambungan panggilan video. Tak ada yang ditutupi oleh Owen. Sesuai yang diinginkan istrinya, ia ceritakan semua yang terjadi. Termasuk bagaimana Nawra menghasut Ibunya dengan menggunakan kebohongan mengenai kehamilannya.
“Apa Ibu juga tak percaya padamu?” tanya Tessa.
“Tidak,” jawab Owen. “Ibu pikir itu adalah satu-satunya cara untuk memisahkan kita. Meski dia pun ragu, tapi dia tetap berusaha mempercayainya.”
Terdengaar helaan napas Tessa. Helaan napas memilukan yang menyakiti hati Owen. “Maafkan aku,” ucap Owen.
“Bukan salahmu, Bang.”
Benar, ini bukan salahmu Bang Owen, batin Tessa. Sekarang di pikiran Tessa yang salah adalah kehadirannya dalam kehidupan Owen. Ingin menyalahkan dirinya, tapi cinta yang telah ia dan Owen pupuk membuat Tessa membela diri dengan alasan takdir.
Sudah sejauh ini keduanya melangkah. Bahkan ada calon buah hati mereka di dalam rahimnya, hal ini membuat Tessa akan tetap bertahan.
“Bunda, berjanjilah padaku,” pinta Owen. Permintaan yang sama, yang selalu ia minta pada Tessa setiap kali mereka bicara.
“Bertahanlah. Demi anak-anak kita. Percaya padaku, kita akan kembali bersama seperti dulu lagi,” ucapnya.
“Jangan khawatirkan kami, Bang. Lakukan yang harus kamu lakukan. Kami menunggumu,” ucap Tessa sebelum panggilan video mereka berakhir.
...…...
Di tempat berbeda, Ben sedang melewatkan malamnya dengan menikmati pesta di sebuah klub malam. Tak ada yang berbeda dengan malam sebelumnya, minuman dan wanita cantik selalu setia menemaninya.
Hingga ada tepukan di bahunya yang membuatnya menoleh. “Bro!” sapa pria itu yang tak lain adalah Abraham.
“Bro … apa kabar?” Ben berdiri menyambut Abraham.
“Dari yang kudengar, setiap malam kau ke sini,” ucap Abraham yang dijawab dengan anggukan oleh Ben.
“Semuanya baik kan? Mungkin kau ada masalah?” tanyanya.
“Bukan masalah besar,” jawab Ben. “Kau masih sering dihubungi Nawra?”
Abraham menggeleng. Karena diingatkan dengan wanita itu, Abraham jadi memiliki ide. “Kenapa? Kau mau main bertiga lagi?”
__ADS_1
Setelahnya pria itu tertawa terbahak-bahak, mengingat malam panas yang pernah mereka lewati bersama-sama. Beruntung suara musik yang dimainkan Disk Jockey berhasil meredam tawa Abraham hingga tak menarik perhatian pengunjung lain.
Ben menggeleng. “Itu pertama dan yang terakhir. Aku tak ingin lagi berurusan dengan wanita gila itu.”
“Jangan seperti itu, Bro. Di sini saja kau katakan dia wanita gila. Aku tahu kau masih sering bermain bersamanya,” ucap Abraham meledek Ben.
“Ya, aku tak bisa mengelak. Tapi tidak lagi setelah dia datang dan memintaku bertanggung jawab atas kehamilannya,” ungkap Ben.
“Apa?!” Abraham memekik tak percaya. “Nawra hamil? Kau jangan bercanda.”
“Apa wajahku terlihat seperti sedang bercanda?” balas Ben dengan pertanyaan pula.
“Kau tak pernah terlihat serius saat membahas wanita,” ledek Abraham lagi.
Ben hanya menggeleng lalu menenggak minuman dari gelas kecil di hadapannya. Hal itu diartikan oleh Abraham jika Ben memang serius dengan ucapannya kali ini.
“Tapi, Bro … kau yakin kau bukan ayah anak itu?” tanya Abraham.
Ben terdiam. “Entahlah. Sebenarnya aku tak yakin. Sama halnya aku yang tak yakin jika selama ini dia hanya tidur denganku.”
Abraham tak lagi membantah ucapan Ben. Benar juga, pikirnya. Wanita sekelas Nawra, akan sulit untuk menebak siapa ayah dari anak yang dia kandung.
“Tes DNA saja,” usul Abraham.
Ben lagi-lagi menggeleng. “Tak perlu. Aku sudah mengatakan padanya jika aku tak akan bertanggung jawab.”
“Sepertinya anak itu memang bukan anakku. Buktinya dia tak lagi datang meminta pertanggung jawaban. Mungkin dia sedang menemui pria lain yang juga menidurinya,” ucap Ben disusul tawanya.
Malam semakin larut, namun suasana dalam klub malam tersebut semakin ramai. Dengan ponselnya, Ben berselancar di dunia maya. Betapa terkejutnya dia saat melihat postingan salah satu akun. Sebuah foto di mana ada Tessa dan dua orang wanita lain yang dikenali Ben sebabai sahabat Tessa.
“Tessa di Kota P?” gumamnya.
Tanpa sadar senyumnya mengembang. Ah, dia masih saja mengagumi kecantikan wanita yang menjadi idolanya itu. “Tapi, di mana Owen?” gumamnya.
Samar-samar mendengar nama Owen, Abraham teringat sesuatu. “Owen? Kau mencari Owen?” tanyanya.
“Tidak,” jawab Ben singkat.
“Tapi kebetulan kau menyebut Owen, aku jadi teringat sesuatu,” ucap Abraham. “Jika ada waktu, besok kita ke rumah sakit, yuk.”
“Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?”
“Ibunya Owen. Kita jenguk Ibunya, dan kau bisa curi-curi kesempatan menemui istri Owen,” jawab Abraham disusul tawanya.
__ADS_1
“Jangan-jangan ….”
...—————————...