Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 52. Ulang tahun Aya


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa tiga hari lagi Ayasya genap berusia empat tahun. Saat ini keluarga kecil itu sedang dalam perjalananan menuju ke sebuah Taman Kanak-Kanak.


“Huah, lama anget … aku udah enggak cabar,” keluh Aya yang duduk di jok tengah mobil.


Tessa yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang. Ia bisa melihat putrinya tampak sangat cantik dan menggemaskan dalam balutan seragam sekolah Taman Kanak-Kanak. Rambut panjangnya yang sedikit ikal, diikat dua dengan hiasan pita berwarna kuning. Tampil serasi dengaan seragam, tas, dan juga sepatunya. Tentunya semua yang dikenakannya adalah pilihan Aya sendiri.


“Memangnya, Aya enggak sabar karena apa?” tanya Tessa.


“Pastinya sudah enggak sabar pengen ulang tahun tuh, Bun! Pengen dapat kado yang banyak,” celetuk Owen seraya mengemudikan mobilnya.


“Ih, Ayah calah,” sanggah Aya dengan bibir yang mencebik.


“Lah, terus kamu enggak sabarannya karena apa dong?” tanya Tessa.


“Enggak cabar nyampe cekolah, Bun. Kan aku pengen main cama teman-teman,” aku bocah polos itu.


Jawaban polos Aya mengundang tawa kedua orang tuanya. “Kamu tuh ya … masa ke sekolah karena pengen main?! Ke sekolah ya untuk belajar dong, Nak!” ucap Tessa menasihati putrinya.


“Kan Aya belum celecai ngomongnya, Bun. Celain main, Aya juga udah enggak cabar pengen belajar sama bu guru biar pinter. Bener kan, Ayah?” tanya Aya meminta persetujuan pada Owen.


Sementara Owen pastinya selalu siap sedia menjadi pendukung putrinya. Ia mengangguk lalu mengedipkan sebelah matanya sambil menoleh pada Aya.


Keseruan obrolan pagi ini pun akhirnya harus terhenti saat Owen menepikan mobilnya. Perlahan mobil Owen masuk ke dalam parkiran Taman Kanak-Kanak.


Dengan menggandeng tangan Ayah dan Bundanya di sisi kiri dan kanan, Aya terus saja mengembangkan senyumnya saat berjalan di koridor. Ia sudah tak sabar ingin bermain di play ground yang sempat mereka lalui.


Aya diantar oleh Owen dan tessa untuk menemui gurunya. Setelah mengantarkan Aya pada Ibu Gurunya, Tessa dan Owen hanya diperkenankan untuk mengantar sampai di depan kelas. Hal itu bertujuan agar Aya kedepannya bisa lebih berani.


“Aya, nanti dengerin kata Miss Rena, ya!” Pesan Tessa sebelum membiarkan Aya dibawa oleh Ibu gurunya.


Aya mengangguk dengan raut wajah sedihnya. Semangat dan senyumnya menghilang saat tahu jika Bunda dan Ayahnya hanya mengantar sampai di situ saja. Dipikiran bocah itu, dia akan sekolah ditemani oleh Ayah atau Bundanya.


Setelah Aya berjalan cukup jauh, barulah Tessa dan Owen pun mengikuti langkah mereka. Keduanya ingin mengabadikan momen hari pertama Aya bersekolah.


Owen merangkul pundak istrinya dengan mesra. Sebab tak hanya Aya yang bersedih, Tessa pun terdengar menghela napas beratnya sesekali.


“Bun, jangan khawatir. Putri kita hanya akan pergi bersekolah, bukan berperang. Hanya dua jam, kok. Lalu, setelahnya kamu bisa bertemu lagi dengannnya,” ungkap Owen membuat Tessa mencebik.


“Tapi, hem … rasanya ada yang kurang, ya. Sepertinya suasana hening banget kalau enggak ada celoteh Aya,” aku Tessa yang diangguki Owen.


Tak lama sepasang suami istri itu tiba di depan sebuah kelas. Dari jendela, keduanya bisa melihat Aya-putri mereka sedang memperkenalkan diri di depan kelas. Tampak raut wajah malu-malu dan terdengar suara Aya yang lembut. Begitu berbeda saat di rumah. Tessa sampai menggeleng dan berusaha menahan tawanya melihat tingkah Aya yang sungguh berbeda saat ini.

__ADS_1


Oleh gurunya, Aya dipersilakan duduk di bangku kosong warna merah mudah dengann sandaran berbentuk kepala kucing. Miss Rena terlihat membantu Aya berkenalan dengann teman-teman yang duduk di sekitarnya.


Melihat pemandangan itu, perasaan dalam hati Tessa terasa campur aduk. Senang dan juga khawatir, bagaimana jika putrinya tak bisa bersosialisasi, tak memiliki teman, dan merasa kesepian. Namun, semua pikiran buruknya itu sirna saat ia merasakan rangkulan tangan Owen di pundaknya beralih ke pinggangnya. Suaminya itu memeluknya erat dari belakang.


“Jangan berpikir berlebihan. Percaya saja pada putri kita,” bisik Owen yang dibalas anggukan oleh Tessa.


Meski Owen terus meyakinkan jika putrinya tak masalah ditinggalkan sendiri, namun, Tessa berkeras ingin menunggui putrinya hingga jam pulang sekolah. Meski tak bisa berada di sisi putrinya, ia merasa tenang karena tetap bisa mengawasi dari jauh. Alhasil, hari itu baik Tessa maupun Owen juga ikut bersekolah.


Dua jam berlalu, air mata kembali menggenangi pelupuk mata Tessa. Dari jauh ia bisa melihat putrinya berjalan keluar kelas dengan menggandeng dua anak perempuan seusianya. Aya dan kedua temannya tampak mengobrol lalu tertawa bersama. Melihat itu Tessa merasa lebih tenang. Ia bangga pada Aya.


“Sudah kubilang, putri kita itu anak yang hebat,” bisik Owen.


Hari pertama putri kesayangannya sekolah, Owen memang sengaja cuti. Setelah pulang sekolah, Owen mengajak keluarga kecilnya untuk menikmati es krim di kedai es langganan mereka. Ini sengaja Owen lakukan untuk mengapresiasi Aya yang pintar bersekolah.


Setibanya di rumah, rupanya sudah ada kejutan yang disiapkan Owen untuk istrinya. Sebuah mobil tipe city car berwarna merah terparkir di carpot rumah mereka lengkap dengan pita besar sebagai hiasan.


“Bang, mobil siapa ini?” tanya Tessa.


Cup.


Bukannya menjawab, Owen mendaratkan kecupan di pipi sebelah kanan istrinya. “Hadiah untuk Ibu yang hebat,” bisiknya.


Tessa bergeming. Kedua netranya terasa sulit untuk berkedip. Tak sanggup berkata apa pun, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.


“Bu-bukan begitu. Ta-tapi, tapi, kenapa Bang? Aku tak memintanya, Bang.”


“Tapi, kita membutuhkannya, Bun. Aya sekarang sekolah dan kamu tahu pekerjaannku, Bun. Kamu tahu aku tak bisa selalu mengantar atau menjemput Aya tepat waktu,” ungkap Owen.


“Kamu bisa gunakan mobil ini, untuk mengantar dan menjemput Aya sekolah. Jika perlu ke suatu tempat, kamu boleh pergi. Tapi, jangan lupa bilang padaku lebih dulu.”


Tessa berhambur memeluk suaminya. Hari belum terlalu siang, namun, dirinya sudah banyak sekali mengeluarkan air mata, pikirnya.


“Terima kasih, Bang. Terima kasih,” ucap Tessa haru dalam pelukan Owen.


“Ye, ye, ye, mobil balu … mobil balu!” seru Aya sambil berlarian mengelilingi mobil Bundanya.


Tak jauh dari rumah mereka, dari dalam mobil, Nawra yang baru saja pulang dari toko kuenya melihat potret kebahagiaan keluarga Owen secara langsung. Hatinya memanas, harusnya setelah semua yang ia lakukan, hubungan Owen dan istrinya merenggang. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Owen dan Tessa semakin lengket.


Bugh! Nawra memukul kemudi mobil di hadapannya. “Tertawa saja sekarang! Tunggu saatnya sampai kau menangis karena kurebut suamimu!” gumam Tessa.


...…...

__ADS_1


Hari berganti hari, besok Ayasya Putri Swan akan genap berusia empat tahun. Sejak malam, gadis kecil itu sudah tak sabar menanti pergantian hari. Baginya, hari ulang tahunnya adalah hari di mana semua keinginannya akan diwujudkan oleh Ayah dan Bundanya.


Keinginan pertama sebelum masuk hari ulang tahunnya adalah tidur bersama kedua orang tuanya. “Boleh ya, Ayah, Bunda? Kumohon,” pinta Aya. Anak itu sengaja memasang wajah memelasnya.


Owen menghela napas berat. Proyek pembuatan adik Aya pun harus tertunda malam ini. “Karena besok hari ulang tahunmu, maka Ayah izinkan. Ayo, kemari!”


Dengann riang Aya berlari dan memanjat naik ke atas tempat tidur. Ia mengambil posisi di tengah, di antara kedua orang tuanya. ”Becok macih lama, ya?” tanya Aya setelah mendapat kecupan di pipi kiri dan kanannya dari Ayah dan Bundanya.


“Enggak, sebentar lagi kok,” jawab Owen.


“Benelan, Ayah?”


“Bener, kok. Asal Aya mau bersabar,” timpal Tessa.


“Iya, Miss Rena juga bilang gitu.” Aya ikut membenarkan ucapan Bundanya. “Tapi, hem, malamnya kok lama banget,” keluhnya lagi mengundang tawa Owen dan Tessa.


“Begini saja, Bunda ada ide!” seru Tessa. “Sekarang kita tutup mata dan tidur. Pasti enggak akan terasa, nanti saat Aya buka mata besok pasti malamnya sudah pergi,” usul Tessa.


“Benel apa kata Bunda, Ayah?” tanyanya memastikan pada Owen yang dijawab dengan anggukan. Tak lama berselang, tak ada lagi celotehan Aya tanda gadis kecil itu akhirnya tertidur.


Pagi pun tiba, yang dinanti Aya akhirnya tiba. Hari ini ia akan merayakan ulang tahunnya di sekolah bersama teman-temannya. Sebelum pergi sekolah ia sudah sangat bersemangat dan tak berhenti berceloteh.


Selama di sekolah, Aya begitu bahagia sebab ini adalah pertama kalinya ia merayakan ulang tahun dengan banyak orang. Bernyanyi, meniup lilin ulang tahun, dan menerima banyak hadiah adalah impian Aya yang akhirnya menjadi nyata.


Hingga waktu berlalu, malam harinya keluarga kecil itu memilih untuk makan malam di sebuah restoran baru untuk merayakan ulang tahun Aya.


“Sepertinya resto ini memang di desain untuk tamu yang berkeluarga ya, Bun,” komentar Owen.


“Kenapa?”


“Lihat sana,” ucap Owen seraya menunjuk ke salah satu sudut dengan dagunya.


Tessa menoleh ke arah yang ditunjuk suaminya. Di salah satu sudut, ia bisa melihat sebuah play ground dengan banyak anak-anak yang bermain di sana. Sontak saja kedua netra Aya berbinar. “Ayah, Bunda, aku juga ingin main di sana,” pintanya.


“Boleh saja, asal habiskan dulu makanan Aya,” ucap Tessa mengizinkan putrinya.


Tessa makan dengan lahap. Ia selesai makan lebih dulu dari pada Owen dan Aya. Ketiganya hendak berfoto untuk mengabadikan momen malam ini, oleh karenanya Tess pamit ke toilet untuk merapikan riasannya.


Cukup lama Tessa di toilet, karena cukup banyak orang yang mengantri untuk menggunakan kamar mandi. Setelah di rasa perutnya sudah lebih lega, dan riasannya sudah rapi kembali, Tessa pun berniat kembali ke mejanya. Tempat di mana suami dan putrinya menunggu.


“Ekhem!” dehaman seorang pria menghentikan langkah Tessa. “Akhirnya, aku menemukanmu!”

__ADS_1


...—————————...


__ADS_2