
“Mungkin apa?”
Owen dibuat terkejut saat tiba-tiba Ibunya sudah berdiri tak jauh di belakangnya.
“Hem, i-tu … mungkin enggak ya, aku bisa nemuin ART dalam waktu dekat ini,” kilah Owen.
Saat ia berbalik badan, dilihatnya Aya sedang digendong oleh Ibunya. Kedua alisnya mengerut saat melihat betapa sembabnya kedua netra putrinya.
“Loh, Aya … nak matamu itu sembab banget,” tegur Owen.
“Tentu saja. Aya itu sejak tadi nangis terus-terusan. Sudah Ibu bujuk, tapi tetap saja enggak mau berhenti,” jelas Bu Damira.
“Lagian kenapa juga Tessa pakai acara pingsan segala. Padahal ini masih pagi, dia juga belum ngerjain apa-apa!” gerutu Bu Damira.
Mendengar hal itu, Owen hanya bisa menghela napas panjan. “Bu! Tessa juga enggak mau pingsan, Bu. Memangnya ada orang yang memang sengaja pingsan?!”
“Pingsan juga penyebabnya banyak, Bu. Wanita yang sedang mengandung juga rentan,” lanjut Owen.
“Mengandung? Maksudmu Tessa hamil?!” pekik Bu Damira.
Owen mengedikkan bahunya. “Entahlah, kami belum melakukan tes.”
“Lalu mengapa kamu menyimpulkan seperti itu? Padahal belum pasti juga Tessa hamil atau tidak,” ucap Bu Damira. Dari raut wajahnya, Owen tahu jika Ibunya tak akan suka jika Tessa benar mengandung.
“Aku tak pernah mengatakan Tessa hamil, Bu. Aku hanya mengatakan jika wanita yang sedang mengandung juga rentan pingsan jika kelelahan,” jelas Owen.
“Tetapi jika Tessa benar hamil, juga bukan masalah. Dia istriku,” lanjut Owen.
“Huh, ngurus anak satu saja belum beres. Jika dia hamil lagi, Aya akan semakin tak terurus!” Bu Damira tampak mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.
“Bu, kumohon … bisakah Ibu memikirkan dulu setiap ucapan Ibu?” Owen sungguh tak tahu lagi bagaimana harus menegur Ibunya.
“Istriku sudah sangat baik dalam merawat putri kami,” ucap Owen.
“Bu … kumohon sudah berapa lama waktu berlalu, mengapa Ibu belum bisa menerima Tessa,” keluh Owen.
Ibu Damira berdecih. “Jangan memaksaku untuk menerima wanita itu! Dia yang telah merusak karirmu.”
“Andai saja kamu tak menikah dengannya, mungkin saat ini kamu tak hanya bertugas sebagai dokter biasa!”
“Bu! Jangan salahkan Tessa. Semua yang terjadi dahulu memang sudah sepatutnya menjadi tanggung jawabku,” ucap Owen.
__ADS_1
“Jujur Bu … di mana pun aku bekerja, aku tak pernah mengharapkan jabatan. Aku ini seorang dokter, Bu. Yang utama bagiku adalah keselamatan dan kesehatan pasien,” ungkap Owen.
Bu Damira menekuk wajahnya. Sejauh ini ia masih menyalahkan Tessa. Di pikirannya, tetap Tessa lah yang bersalah.
“Terserah! Tapi tetap saja Ibu tak setuju Tessa yang menjadi istrimu,” ungkap Bu Damira.
“Mengapa, Bu?”
“Dia bukan wanita yang baik. Mana ada wanita baik hamil di luar nikah!” jawabnya.
Owen menggeleng. “Hanya karena satu kesalahan itu, Ibu menutup mata pada semua hal baik dari diri istriku?”
“Astaga, Bu … bisakah Ibu melihat betapa sabarnya Tessa selama ini?”
Owen diam beberapa saat, ia ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Ibunya. Sayangnya, sang ibu malah memalingkan wajahnya. Seolah pertanyaan Owen tak ada artinya.
Hingga bubur yang Owen buat telah matang. Ia pun menghidangkannnya ke dalam sebuah mangkuk dan ia letakkan ke atas baki.
“Aku titip Aya sebentar lagi ya, Bu,” pinta Owen.
Masih dengan baki yang ia bawa di kedua tangannya, Owen berhenti melangkah. Ia kembali berbalik menatap pada Ibunya.
“Bu, saat kutanya pada Tessa apa yang dilakukannya sebelum dia pingsan, dia tak menjawab apa pun,” ucap Owen.
Bu Damira menelan salivanya saat mendapat pertanyaan seperti itu dari Owen. Wajahnya berubah pucat. “Kamu bertanya hal itu pada Ibu? Maksudmu apa? Kamu menuduh Ibu?” cecar Bu Damira.
Suaranya yang bergetar semakin meyakinkan Owen jika kini Ibunya sedang panik.
“Bukankah sudah kukatakan jika aku juga baru saja ke dapur saat mendengar bunyi sesuatu yang terjatuh?!” elak Bu Damira.
“Bu … aku tiba di dapur setelah Tessa sudah jatuh pingsan dan kulihat Ibu sudah berada di sana. Harusnya Ibu bisa menjawab pertanyaanku, bukan?”
Setelah memberi satu pertanyaan yang berhasil membungkam Ibunya, Owen pun berlalu kembali ke dalam kamarnya. Di dalam sana, bisa ia lihat istrinya berbaring memunggungi pintu. Owen harus menormalkan debaran jantungnya lebih dulu setelah perbedebatannya dengan sang ibu.
“Bun, ayo bangun … makanlah. Sudah kubuatkan bubur untukmu,” ucap Owen membangunkan istrinya.
...…...
Malam pun tiba. Seharian ini, Bu Damira terus mengurung diri di dalam kamar. Dalam hati ia tak henti-henti menggerutu, menyalahkan kehadiran Tessa dalam hidup putranya.
“Sejak kecil, Owen adalah anak yang penurut. Tak pernah sekali pun ia membantah atau memojokkanku seperti tadi!” gerutunya.
__ADS_1
“Semua ini karena wanita murahan itu! Kenapa juga Owen bisa berurusan dengannnya!”
Sejak putranya memutuskan untuk merantau ke Kota P, Bu Damira selalu rindu dan sangat menanti kepulangan putranya. Saat Owen pulang, tak ada sedetik pun ia merasa bosan atau tak nyaman ketika berada di sisi putranya.
Namun, semenjak kehadiran Tessa … Bu Damira merasa sikap Owen berbeda. Terlebih saat ia tak setuju jika Owen tetap pada pendiriannya untuk menikahi Tessa.
Semenjak saat itu, Bu Damira merasa jika putranya tak lagi segan untuk membantahnya. Ia semakin meyalahkan Tessa, ketika Owen memutuskan membawa keluarga kecilnya pindah dari rumahnya.
Berbeda dengan Ibunya, kini hati Owen sedang berdebar-debar ketika ia dan Ayasya baru saja kembali dari apotek. Bukan tanpa alasan keduanya ke sana, sejak pagi Owen dibuat tak tenang dengan dugaannya mengenai kondisi istrinya.
Jadi, dengan alasan mengajak Ayasya ke mini market yang berada di depan kompleks perumahan, Owen pun akhirnya memutuskan untuk membeli alat tes kehamilan tanpa sepengetahuan Tessa.
Saat masuk ke dalam kamar, dilihatnya Tessa yang duduk di sofa dan sedang melipat pakaian Aya. “Eh, sudah balik ya. Jadi, Aya beli apa saja di mini market?” tanya Tessa menyambut kedatangan putri dan suaminya.
“Anyak, Bun. Aya beli oklat, beli cucu, beli wafel,” celoteh Aya dengan antusias. Dengan cekatan, balita itu mengeluarkan satu per satu jajanan yang baru saja ia beli di minimarket untuk ditunjukkan pada Bundanya.
“Wah, banyak sekali cemilan Aya,” sahut Tessa. “Tapi, jangan di makan malam ini, ya.”
“Kalau Aya makan makanan yang manis-manis di malam hari, nanti gigi Aya sakit,” lanjut Tessa menasihati putrinya.
“Ote, Bunda,” seru Aya seraya mengacungkan jempolnya.
Sementara itu, Tessa bisa melihat wajah tegang Owen yang kini duduk di sofa. “Bang, ada apa? Apa sekarang kamu yang kurang sehat?” tanyanya.
Owen menggeleng. “Hem, begini Bun … apa kamu baik-baik saja?”
Tessa mengangguk. “Ya, setelah beristirahat aku sudah merasa jauh lebih baik.”
“Terima kasih ya, Bang. Ini juga karena kamu yang merawatku dengan baik,” ucap Tessa. Satu tangannya meraih tangan Owen untuk ia genggam.
Tahu jika ini adalah kesempatan yang tepat untuk bicara, Owen segera berbalik menggenggam tangan Tessa.
“Bun, sungguh aku berharap jika dugaanku ini benar,” ucap Owen.
Melihat raut wajah suaminya begitu serius, Tessa jadi curiga. “Apa itu, Bang?” tanya Tessa.
Owen membuka telapak tangan Tessa, ia letakkan benda pipih itu. “Mungkin saja mual dan pusing yang kamu rasakan adalah pertanda baik untuk keluarga kita,” ungkap Owen.
Tanpa perlu minta penjelasan, Tessa tahu apa maksud dari pertanda baik yang suaminya katakan. Dari sorot kedua netra suaminya, Tessa bisa melihat besarnya harapan Owen akan hal itu.
“Mu-mungkin sa-ja,” jawab Tessa terbata-bata.
__ADS_1
Owen tersenyum dan semakin menggenggam erat tangan Tessa. “Ya, sudah … kamu tes sekarang ya. Aku tunggu di sini,” ucap Owen.
...———————...