Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 102. Karena boneka lala


__ADS_3

“Ayo dong, Nek. Mau, ya ….” Kedua telapak tangannya ia satukan dan letakkan di dapan dada. Dengan kedua netra yang mengerjap-ngerjap dan bibir mengerucut, Aya sedang berusaha meluncurkan jurus rayuan mautnya pada sang Nenek.


Bu Damira menggeleng. “Begini saja, Nenek akan hubungi Ayah. Kamu bisa bicara pada Ayah dan meminta dia untuk menghubungi Bundamu. Bagaimana?”


Penawaran Bu Damira membuat Aya terlihat bingung. Kenapa lagi harus bawa-bawa Ayah, pikirnya. “Nenek enggak punya nomor HP Bunda?” tanya Aya lagi. Hanya itu satu-satunya alasan yang bisa ia pikirkan.


“Cebentar ya, Nek. Di buku cekolah Aya ada kok Nomor HP Bunda,” lanjutnya lalu bergegas ke tumpukan buku di meja belajarnya. Gadis kecil itu ingat, jika Ibunya pernah mengingatkan, bahwa saat keadaan darurat dia bisa meminta Bu Guru untuk menghubungi di nomor telepon yang tertulis di bukunya.


“Hah?!” kenapa pembicaraan mereka jadi membahas punya atau tidak punya nomor ponsel Tessa, pikir Bu Damira.


“Aya … Aya, bukan begitu maksud Nenek!” Bu Damira segera menghentikan Aya yang mulai membuat meja belajarnya berantakan.


“Jadi Nenek punya nomor HP Bunda?” tanya Aya dengan raut wajah leganya.


“Ayo, telepon Nek. Ayo, telepon Bunda! Tanyain di mana boneka lala aku,” pinta Aya mulai merengek. Gadis kecil itu bahkan terus menggerak-gerakkan tangan Neneknya sedikit memaksa.


“Oke … Oke, Nenek akan tanyain ke Bunda kamu. Tapi, Nenek akan kirim pesan saja ya,” putus Bu Damira akhirnya.


Setelah tiga kali batal mengirim, akhirnya sebuah pesan yang sangat-sangat singkat terkirim ke nomor ponsel menantunya.


‘Di mana Lala?’ Begitulah isi pesannya.


Satu menit.


Dua menit.


Hingga sepuluh menit berlalu, balasan pesan dari Tessa pun tak kunjung tiba. Beruntung Bu Damira berhasil mengalihkan perhatian Aya dengan mengajaknya memasak bersama untuk makan siang.


Tak ingin nantinya Aya kembali merengek, Bu Damira kembali mengirim pesan pada Tessa.


‘Di mana Lala? Jawablah sebelum Aya mulai rewel!’


Pesan yang lumayan panjang dari sebelumnya, ia yakin akan segera dibalas oleh Tessa. Apalagi ada nama Aya, Bu Damira yakin Tessa akan segera membalas.


...…...

__ADS_1


Sementara di Kota P, Tessa baru saja menyelesaikan sesi pijatnya. Benar kata Mami Fhanie, setelah dipijat tubuhnya terasa jauh lebih segar. Lelahnya pun ikut berkurang. Tessa setuju, sekali-kali memang dia perlu memanjakan tubuhnya seperti dulu lagi saat dirinya masih berstatus lajang.


Walaupun tubuhnya terasa jauh lebih baik, namun keresahan hatinya tak kunjung berkurang. “Apa yang sedang dilakukan Aya, ya? Apa mereka sudah tiba?” gumamnya lirih seraya kembali merapikan penampilannya setelah tadi ia sempat berendam cukup lama sebelum mandi.


Sebenarnya yang ia tunggu sejak tadi adalah bunyi dering ponselnya. Tessa merasa kesal ketika ia mengingat saat Alfio berusaha membujuknya agar memberi izin Aya ikut dengannnya. Pria itu berkata akan mengabari sesering mungkin, tapi yang terjadi sejak tadi pagi belum ada kabar yang Tessa terima.


Muncul kekhawatiran dalam hati Tessa, ia memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Bagaimana jika salah satu keluarga Alfio ada yang tak bisa menerima kehadiran Ayasya. Ah, Tessa tiba-tiba merasa gelisah.


Tanpa menunggu rambutnya kering sempurna, Tessa berhenti menggunakan hair dryer. Ia bergegas untuk memeriksa ponselnya yang berada di atas nakas. Tessa melihat ada notifikasi pesan masuk. Tak hanya satu, tapi ada beberapa pesan baru yang ia terima.


Keningnya mengernyit manakala melihat nama kontak Ibu Mertuanya menjadi salah satu pengirim dari beberapa pesan yang ia terima. Ragu-ragu Tessa membuka pesan tersebut untuk membacanya. Dia sudah siap seandainya isi pesan tersebut adalah cacian dan makian untuk dirinya.


Kuatkan hamba, Ya Tuhan, batinnya memohon kekuatan agar tak kembali merasa sakit seandainya Ibu mertuanya memang mengirim pesan karena ingin memakinya.


Tessa menelan salivanya. Keningnya mengernyit saat dengan lirih ia membaca pesan teks tersebut. “Di mana Lala?”


“Apa Ibu salah mengirim pesan?”


Lala siapa? Mungkinkah selain Nawra, Ibu berencana menjodohkan suaminya dengan wanita lain selain Nawra, pikirnya.


“Namun, mengapa nama Lala terasa tak asing ya?” Gumamnya lagi.


Mana dia tahu, pikir Tessa. Namun lanjutan pesan itu dengan jelas menyebutkan nama Ayasya, putrinya.


“Jika berhubungan dengan Ayasya, mungkinkah yang Ibu cari adalah lala boneka Aya?” tanya Tessa pada dirinya sendiri.


“Tapi untuk apa? Dan dari mana Ibu tahu nama-nama boneka milik Aya?” lanjutnya bergumam.


Lama menerka-nerka seorang diri sepertinya akan membuat Tessa makin pusing. Ia pun mengetikkan pesan balasan pada Ibu mertuanya dan bertanya apakah yang beliau maksud adalah lala yang tak lain merupakan sebuah boneka. Namun, niatnya itu segera dia urungkan. Walaupun sempat ragu akhirnya Tessa memutuskan untuk menghubungi langsung Ibu Mertuanya.


Tut … Tut … Tut …. Menunggu panggilannya dijawab selama semenit, sama rasanya Tessa sudah dibuat menunggu selama berjam-jam. Ah, ia sangat penasaran sampai tak sabar menanti Ibu mertuanya menerima panggilannya.


“Halo,” suara Bu Damira terdengar menyapa.


“Ha-halo, Ibu ….”

__ADS_1


“Apa kau sudah membaca pesanku? Kenapa tak membalasnya?!” Bu Damira bertanya tak sabar.


“Hem, maaf Bu. Aku baru saja melihat pesan Ibu. Ponselku dalam mode hening, jadi aku tak menyadari jika Ibu mengirim pesan,” jelas Tessa berbohong.


Lebih baik ia berbohong, bukan? Pikirnya. Daripada dia jujur jika dia telat membaca pesan sebab baru saja melakukan perawatan spa, bisa saja Ibu Mertuanya mengira dia sedang bersenang-senang di saat jauh dari suaminya.


“Terserah! Jadi, di mana lala?” tanya Bu Damira langsung ke inti pembicaraan.


“Lala? Lala siapa, Bu?”


“Lala boneka milik putrimu! Jangan bilang kau tak tahu, itu artinya selama ini kau memang tak perhatian pada cucuku!” jawab Bu Damira.


Cucuku?! Tessa bergeming mendengar Bu Damira kembali menyebut Aya adalah cucunya. Entah mengapa, hanya satu kata itu namun berhasil menghangatkan hati Tessa. Mengikis keraguan yang sempat muncul tadi saat ia ingin menghubungi Ibu mertuanya.


“Tes, Tessa! Kau masih di sana kan? Kau mendengarku?!”


“Eh, iya Bu. Aku mendengarnya kok.” Tak tahu saja Bu Damira jika kini ada air mata haru yang menggenangi pelupuk mata Tessa.


“Boneka itu ada di kamar Aya, Bu. Namun, jika tak ada di sana biasanya boneka itu ada di kamarku dan Owen. Aya selalu membawanya jika ingin tidur bersama kami, jadi mungkin masih tertinggal di kamar,” jelas Tessa.


“Baiklah, nanti kucari lagi,” jawab Bu Damira singkat.


Siang ini hati Tessa seperti dipenuhi bunga-bunga. Ia teramat bahagia sebab pembicaraannya di telepon bursama Ibu Mertuanya berjalan lancar. Tak ada cacian atau makian yang Tessa khawatirkan. Walaupun sebenarnya yang mereka bahas bukanlah hal yang penting, tapi Tessa tetap merasa bahagia.


“Tapi, perhatikan ponselmu. Jika aku tak menemukannya, aku akan menghubungimu lagi,” pesan Bu Damira.


“Baik, Bu. Akan lebih kuperhatikan lagi. Tapi … kenapa Ibu mencari boneka milik Aya?”


“Bukan aku yang mencarinya. Tapi, pemiliknya sendiri yang mencarinya,” jawab Bu Damira.


Tessa terlonjak. “Pe-pemiliknya? Maksud Ibu, Aya?”


“Siapa lagi jika bukan Aya!” jawab Bu Damira.


“Tak mungkin, Bu. Aya kan sedang pergi bersama-“ Tessa tak melanjutkan lagi ucapannya.

__ADS_1


Jangan-jangan … Alfio !!!


...—————————...


__ADS_2