
“Kamu siapa sebenarnya? Dan anak kita? Anak yang mana kamu maksud?” tanya Bu Damira yang ingin meminta penjelasan dari kekacauan yang terjadi malam ini.
Plak! Sebuah tamparan mendarat tepat di wajah Ben. Tamparan itu asalnya dari Nawra. Semua orang yang menyaksikan ikut terkejut, termasuk Owen yang langsung berdiri dari kursinya.
Ben menaikkan tangannya, memberi kode pada Owen dan yang lainnya jika dia baik saja setelah mendapat tamparan dari Nawra. Jujur saja, Owen pun sebenarnya tak khawatir pada Ben. Tamparan Nawra tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tubuh kekar Ben.
Yang Owen khawatirkan adalah seandainya Ben terpancing emosi dan membalas perbuatan Nawra. Owen yakin wanita itu tak akan baik-baik saja jika Ben sampai membalas perbuatannya.
“Kau jangan asal bicara. Kau sengaja kan datang ke sini, bicara omong kosong sebab ingin menghancurkanku?!” tuding Nawra pada Ben sesaat sebelum ia mengalihkan tatapan tajamnya pada Owen. Nawra sudah menduga jika Owen tentu saja ambil andil dalam kekacauan malam ini.
Tamparan Nawra pada Ben memang mengejutkan, namun yang lebih mengejutkan lagi adalah respon Ben. Pria arogan itu bukannya marah, ia malah meraih tangan Nawra untuk dia genggam dan mulai memohon maaf pada wanita itu.
“Tampar aku lagi sayang. Tampar aku!” Ben mengeratkan genggaman tangannya. Nawra sampai meringis karena genggaman tangan Ben. Namun, tak ada yang tahu jika Ben sengaja melakukan itu, pria itu pandai sekali berperan seolah-olah dirinya saat ini diselimuti penyesalan.
“Aku memang pantas kamu tampar, Sayang. Aku memang bodoh, pia pengecut yang terlalu takut mengakui kehadiran calon anak kita,” ucap Ben seraya satu tangannya mengusap perut Nawra.
Genggaman erat tangan Ben membuat Nawra tak bisa bergerak menepis tangan Ben yang menyentuh perutnya. Ingin menampar wajah pria itu lagi pun, ia tak bisa. Ben tak membiarkan tangannya bisa bergerak bebas.
Brak. “Diam!” Pekik Bu Damira seraya memukul meja makan.
“Kalian semua, diam!!!” Beliau kesal sebab pertanyaannya tadi tak mendapat jawaban.
“Owen, jelaskan pada Ibu ada apa ini?” tuntutnya pada putranya.
Owen mengedikkan bahunya. “Jangan tanya padaku, Bu. Tanyakan saja pada mereka,” jawab Owen.
“Tapi kamu yang membawa pria ini.” Bu Damira menunjuk Ben yang masih menggenggam tangan Nawra. Menggenggam semakin erat hingga Nawra pun harus meringis sesekali.
“Aku tak membawanya. Dia teman lamaku, dan tak ada salahnya jika aku mengundangnya untuk makan malam ke rumahku,” elak Owen.
Sejujurnya Owen ingin sekali mengungkap semua fakta mengenai sandiwara Nawra, tapi pria itu menahannya. Seperti apa yang dia telah rencanakan dengan Ben, Owen akan tetap diam seolah pertemuan Ben dan Nawra memang suatu kebetulan. Mengingat Ibunya bisa saja tak akan percaya.
“Jika Ibu butuh penjelasan, bagaimana jika kita biarkan Nawra dan Ben yang menjelaskannya,” usul Owen.
__ADS_1
Ben segera mengangguk setuju, berbeda dengan Nawra yang menggeleng. “Maaf atas keributan ini, Owen, Bibi.”.
“Aku akan jelaskan semuanya. Aku dan Nawra dulunya sepasang kekasih yang saling mencintai,” ucap Ben berdusta.
“Tidak! Dia berbohong, Bu. Owen kamu juga tahu jika yang dikatakan Ben itu tidak benar,” sela Nawra.
Sementara Owen hanya mengedikkan bahunya lagi seraya menggelengkan kepalanya. Tanda jika dia tak ingin membenarkan ucapan Nawra.
“Ssstt … diamlah, Sayang. Biarkan aku yang jelaskan semuanya. Aku tahu kamu masih marah dan kecewa padaku,” ucap Ben.
“Hubungan kami baik-baik saja, kami bahagia bersama. Hingga beberapa waktu lalu Nawra mengatakan jika dia hamil dan ingin aku bertanggungjawab,” ungkap Ben.
Pria itu tersenyum menatap Nawra. Kali ini ucapannya tak sepenuhnya bohong. Nawra memang sempat meminta pertanggungjawabannya.
“Namun, aku bersalah. Aku yang saat itu panik malah bersikap bodoh hingga akhirnya tak mengakui janin yang dikandung Nawra adalah anakku,” jelas Ben.
Akting Ben memang patut diacungi jempol. Tak hanya Bu Damira, bahkan Qanita pun terkejut dan percaya dengan apa yang pria itu ucapkan.
“Aku menyesal, Sayang. Maafkan aku,” ucap Ben dengan kedua netra yang berkaca-kaca. Ia bahkan membawa Nawra ke dalam pelukannya.
“Ekhem … dia hanya membohongi Ibu. Kami semua sih memang tak ada yang percaya,” sela Owen yang diangguki Qanita, membuat Ibunya semakin geram.
“Berbohong?” Ben berpura-pura bingung lalu ia menatap Nawra. “Apa yang telah kamu katakan pada mereka, Sayang?”
Nawra memilih untuk mengacuhkan Ben. Ia memilih membela diri pada Bu Damira. “Bu, jangan percaya. Semua yang dikatakan pria gila ini, bohong.”
“Anak yang ada dalam rahimku ini adalah anak Ow-“ ucapan Nawra terjeda saat Ben menutup mulut Nawra dengan satu tangannya.
“Hmmmpphh …. hmmmpphhh ….” Nawra masih berusaha untuk terus bicara.
“Jangan dengarkan Nawra, Bu. Aku tahu dia begini karena masih marah dan kecewa padaku,” ucap Ben.
Kekacauan yang terjadi secara tiba-tiba, membuat Bu Damira mulai merasakan sakit di kepalanya. Belum lagi dadanya mulai terasa sesak. Sebelum rasa sakitnya semakin bertambah, Bu Damira akhirnya memutuskan untuk mengusir saja sumber keributan itu dari rumah putranya.
__ADS_1
“Sudah. Lebih baik kalian semua pergi!!!” usir Bu Damira.
“Kau, bawalah wanitamu pergi bersamamu. Pastikan dia jangan pernah lagi menampakkan batang hidungnya di sekitar keluargaku!!!”
“Baik Bu,” sahut Ben cepat.
“Maaf jika rencana makan malam kita jadi berantakan,” ucap Ben pada Owen.
Lalu dengan paksa ia membawa Nawra keluar dari rumah Owen. Awalnya, Nawra masih sempat berusaha untuk tak bergerak dari tempatnya. Namun, ia masih kalah tenaga dari Ben.
Nawra pun masih sempat ingin membela diri namun Bu Damira yang menutup telinganya dengan kedua tangan membuat Nawra mengurungkan iniatnya.
Akhirnya, malam itu setelah kepergian Ben dan Nawra, Bu Damira tak menyentuh sedikit pun makanan yang dibawa Owen. “Aku sudah tak berselera makan lagi,” begitu alasannya sebelum beliau meninggalkan meja makan dan masuk ke kamarnya.
Hanya tersisa Qanita dan Owen di meja makan. “Jadi, kapan Abang akan menjemput Kakak Ipar?” tanya Qanita dengan suara lirih.
Owen tersenyum mendengar pertanyaan adiknya. Untuk pertama kalinya setelah ia menikah dengan Tessa, malam ini Qanita akhirnya menyebut Tessa dengan sebutan Kakak Ipar.
“Secepatnya. Aku pastikan secepatnya akan segera menjemput istri dan anakku.”
“Aku senang mendengarnya, Bang. Jujur, aku sangat merindukan Ayasya,” ungkap Qanita.
“Benarkah?”
Qanita berdecak. “Ck, tentu saja benar.”
“Aku memang dulu tak menyukai Kakak Ipar. Tapi, aku tak pernah sekalipun tak menyayangi Ayasya,” aku Qanita.
“Iya, iya, Abang percaya,” ucap Owen seraya mengusap puncak kepala adiknya.
“Tenang saja, kerinduanmu sebentar lagi akan terobati, kok. Tunggulah, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan Ayasya.”
“Sebentar lagi? Tapi kan Aya di Kota P?” gumam Qanita.
__ADS_1
Sibuk memikirkan maksud dari ucapan Kakanya, ia bahkan tak menyadari jika Owen sudah berlalu meninggalkannya sendiri di meja makan.
...—————...