
Seminggu berlalu, pagi ini, di meja makan Owen kebingungan melihat putri kecilnya sedang menekuk wajahnya. “Loh, kok tumben banget anak Ayah pagi-pagi gini sudah cemberut,” tegurnya.
Aya menggeleng. Sebenarnya ia ingin sekali bertanya pada Ayahnya, mengapa seminggu ini, sang Bunda tak pernah mengizinkannya ke sekolah. Dia sudah mulai rindu dengan suasana bermain sambil belajar di kelasnya, merindukan berlarian di play ground bersama teman-temannya.
“Kok Aya main rahasia-rahasiaan sih sama Ayah?” tanya Owen. Ia kenal sekali sikap putrinya. Putrinya yang senang berceloteh, mendadak menjadi pendiam. Tak mungkin bukan jika tidak terjadi sesuatu padanya.
Aya tetap saja menggeleng. Dia teringat, setelah sesi foto dengan kostum putri, keesokan harinya di jam sekolah, Bundanya kembali mengajak untuk menikmati es krim di salah satu pusat perbelanjaan.
“Aya kok enggak ke sekolah lagi, Bun?” tanya Aya kala itu.
“Hari ini sangat panas. Bunda ingin ajak Aya makan es krim yang paling enak!” Jawaban Bundanya kala itu tentu saja merupakan tawaran menarik untuk anak seperti Aya.
“Tapi, syaratnya … Aya jangan bilang ke Ayah, ya?!” Pinta Tessa yang segera diangguki Aya.
Dalam benak Aya yang memang sangat menyukai es krim, apa pun akan ia lakukan demi kudapan manis itu. Aya yang tadinya kecewa karena harus bolos sekolah lagi, seketika ia jadi melupakan kekecewaannya.
Begitu seterusnya hingga seminggu berlalu, Tessa terus saja mencari alasan agar putrinya tidak ke sekolah. Aya yang sudah sangat merindukan suasana sekolahnya mulai tak nyaman, namun ia tak tahu bagaimana cara menyampaikan hal itu ke Bunda atau Ayahnya.
“Loh! Anak cantik ini kok malah melamun?! Melamun di depan makanan itu enggak baik loh,” tegur Owen.
“Maaf, Ayah,” sesal Aya.
Tak lama berselang, Tessa ikut bergabung dengan keduanya. Sarapan sederhana yang telah ia masak, sudah siap di hidangkan. Dengan telaten Tessa menyendokkan nasi dan lauk ke piring Owen dan Aya secara bergantian.
“Ini akhir pekan loh, kenapa pada enggak semangat?” tanya Tessa melihat suasana canggung di meja makan.
“Aku ngikutin anak kamu, Bun. Dia lagi enggak semangat, Ayahnya juga ketularan deh,” jawab Owen dengan candaan.
Kening Tessa mengernyit. “Aya kenapa? Ada yang sakit, Nak?” tanya Tessa khawatir, namun, Aya menjawabnya dengan gelengan kepala.
Tessa menghela napasnya. “Gini aja … biar semuanya kembali semangat, bagaimana jika setelah sarapan kita siap-siap ke pantai. Kita sudah lama enggak liburan bareng. Bagaimana, Yah?”
Jika Owen menyambut usul Tessa dengan antusias, berbeda dengan Aya. Gadis kecil itu malah menunduk kemudian terisak. Hal itu menimbulkan kepanikan bagi Owen juga Tessa.
“Sayang … Sayang … kamu kenapa, Nak?” tanya Owen. Ia letakkan telapak tangannya di dahi Ayasya untuk memeriksa suhu tubuh Ayasya.
Tessa berjongkok di depan Ayasya. Ia melihat wajah putrinya yang kini memerah karena menangis. Dengan ibu jarinya, Tessa mengusap lembut buliran air mata yang membasahi pipi gadis kecilnya.
__ADS_1
“Kamu kenapa, Nak? Bilang sama Bunda, mana yang sakit?” pinta Tessa.
Aya menggeleng, ia mengangkat wajahnya lalu menatap kedua orang tuanya secara bergantian. “Aya enggak mau ke pantai, Bunda.” Meski sesenggukan Aya tetap berusaha untuk bicara.
“Aya rindu cekolah. Aya rindu teman-teman. Aya mau pergi ke cekolah aja!” Tangisan Aya semakin menjadi-jadi.
“Ke sekolah? Tapi ini hari libur, Nak,” ucap Owen menasihati putrinya.
“Akhir pekan seperti ini, waktunya Aya menghabiskan waktu bersama keluarga. Bermain atau bepergian bersama Ayah dan Bunda. Teman-teman Aya yang lain juga pasti gitu deh.” Owen masih berusaha membujuk putrinya agar berhenti menangis.
“Tapi, ta-pi, Aya halus libul belapa lama lagi, Ayah?” Pertanyaan Ayasya membuat kening Owen mengernyit. Ini adalah hari sabtu, itu artinya akhir pekan baru saja dimulai.
“Liburnya hari ini sampai besok, Nak,” jelas Owen.
Ayasya mengangguk. “Janji loh, Ayah, Bunda. Cuma sampai becok, setelah itu Aya boleh ke cekolah lagi?
Owen mengangguk ragu. Sedikit demi sedikit dia mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang bersarang di benaknya. Apalagi saat melihat Tessa bergeming, sungguh aneh. Biasanya istrinya itu punya seribu satu cara untuk menasihati putrinya.
“Iya, janji!” seru Owen. Tak lupa ia menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking mungil milik putrinya.
Tak sanggup lagi berada di sana dan melihat kesedihan putrinya, Tessa pamit untuk ke kamar. “Kalian makanlah! Kepalaku tiba-tiba pusing. Aku akan berbaring sebentar di kamar.”
Dengan cepat Owen menghabiskan sarapannya. Ia ingin segera menyusul Tessa, memeriksa kondisi istrinya yang mengaku pusing. Setelah memastikan Aya bermain di kamarnya, Owen pun menemui Tessa yang berbaring memunggungi pintu.
Perlahan, Owen duduk di tepian tempat tidur. Ia bisa melihat pundak Tessa yang bergetar. Dia pasti menangis, apa lagi yang disembunyikannya kali ini? Tanya Owen dalam hati.
“Ma-maafkan aku, Bang,” ucap Tessa di sela-sela isak tangisnya.
“Maaf? Setahuku kamu tak berbuat salah apa pun,” balas Owen.
“Aku bersalah, Bang!” aku Tessa. “Aku bersalah pada putri kita,” pekik Tessa lalu kembali menangis.
“Aku bukan Ibu yang baik, karena ketakutanku … a-aku membuat putriku menangis,” sesal Tessa.
Owen semakin tak mengerti. Ia belai lembut punggung istrinya. “Bangunlah, Bun. Ayo, kita bicarakan hal ini baik-baik. Jujur saja, aku merasa seperti orang asing di rumah ini. Aku merasa gagal menjadi kepala rumah tangga. Aku merasa bodoh, sebab tak tahu bahwa jika sudah terjadi sesuatu kepada kalian berdua.”
Sambil menahan pusing di kepalanya, Tessa bangun. Ia duduk bersandar pada head board. “Selama ini aku tak pernah membawa Aya ke sekolah,” aku Tessa. Kepalanya menunduk agar air mata penyesalannya tak dilihat oleh Owen.
__ADS_1
“A-apa?! Coba jelaskan, Bun. Aya tak pernah ke sekolah? Tapi, setiap pagi kita sarapan bersama, sebelum kita akhirnya berangkat secara terpisah.”
Tessa mengangguk. “Ya, Bang, ini semua salahku. Setiap pagi, aku memang berniat mengantar Aya ke sekolah. Namun, saat tiba di gerbang sekolah, aku mulai resah. Aku takut seandainya Alfio akan datang dan membawa Ayasya pergi,” jelasnya.
Owen mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berdiri dan berpindah ke sisi lain tempat tidur agar bisa lebih dekat dengan Tessa. “Kamu melakukan itu semua, tanpa memberitahuku?” tanya Owen dengan penuh penekanan.
Tessa mengangguk lalu bungkam. Tak ada pembelaan yang ingin ia sampaikan. Ia tahu dirinya bersalah.
“Jadi, itu alasan mengapa Aya menjadi murung … karena dia merindukan sekolah, merindukan teman-temannya? Benar begitu, Bun?” tanya Owen lagi yang masih di jawab Tessa dengan anggukan.
“Lalu, ke mana saja kalian pergi?”
Tessa masih bungkam, dia menoleh ke atas sofa. Owen memeriksa ke sofa, ingin mencari jawaban atas pertanyaannya. Di atas sana ada bingkai foto putrinya yang berpenampilan bagai seorang putri dengan ukuran yang cukup besar. Ada boneka, ada mainan, bahkan ada souvenir yang biasa dijual di sekitaran kebun binatang.
“Tessa … Tessa … kamu membuatku seperti orang bodoh. Atau, jangan-jangan kamu menganggap aku sebagai suami yang tak berguna? Suami yang tak bisa melindungimu dan Ayasya? Hingga kamu melakukan semua ini untuk menghindari pria itu?!”
“Bu-Bukan begitu, Bang. Aku hanya tak ingin mengganggu pekerjaanmu. Aku tahu, akhir-akhir ini kamu sangat sibuk. Aku tak ingin membuatmu khawatir,” ucap Tessa membela dirinya.
“Tapi, itu semua sudah menjadi tanggung jawabku sebagai pemimpin rumah tangga, Tessa!”
“Sudah kewajibanku menjaga kalian tetap aman! Kamu tak tahu saja, setiap detiknya aku selalu mencemaskan kalian. Apa kalian baik-baik saja, apa kalian merasa bahagia, apa kalian merasa sedih, kecewa, marah. Semua itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang suami dan ayah!”
Tessa beranjak dari tempat tidur, ia menghampiri Owen dan memeluk lengan suaminya. Ia benamkan kepalanya di sana, lalu menangis. “Maafkan aku, Bang,” sesalnya.
“Lagi-lagi kamu membuatku tak berarti di keluarga ini, Tessa!”
Perlahan Owen melepaskan pelukan Tessa di lengannya. “Pikirkan baik-baik Tessa, apa artinya aku bagimu. Apa artinya kehadiranku bagi keluarga ini?!”
Setelah itu, Owen mengambil jaketnya di lemari. “Bang, jangan pergi, Bang,” pinta Tessa mencegah Owen.
“Aku tak pergi. Tenanglah, aku tak akan pergi sampai kamu memiliki jawaban atas pertanyaanku tadi.”
“Aku akan memberimu waktu berpikir, Tes,” ucap Owen seraya berjalan mendekati pintu.
Baru saja tangan Owen memengang handle pintu, bunyi dentuman keras membuatnya menoleh kembali.
Brugh!
__ADS_1
“Tessa!”
...———————...