Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 36. Karena Bu Damira


__ADS_3

Owen dan Tessa saling tatap. Sepertinya bisa menebak siapa yang ditunggu oleh Bu Damira.


“Ibu menunggu siapa?” Selidik Owen. “Qanita?”


“Ngapain Ibu menunggu adikmu, dia kan sedang pergi study tour,” jawab Bu Damira.


Setelah itu Bu Damira terlihat sengaja mengabaikannya. Owen bisa melihat Ibunya itu sengaja sibuk dengan gawainya, entah siapa yang sedang ia kirimi pesan.


Lantas saat Owen menatap istrinya, ada gurat wajah yang tak bisa dibaca olehnya. Terlalu banyak yang tersirat dari sorot mata Tessa. Kecewa, kesal, sedih, dan yang pasti lelah. Owen sadari, akhir-akhir ini Tessa terlalu banyak berkorban perasaan. Hal itu pasti sangat melelahkan batinnya.


Tak ingin lama-lama membuat istrinya merasa tak nyaman, Owen tak mengindahkan peringatan Ibunya. Ia segera membalik piring yang ada di hadapannya.


“Bun, tolong ambilkan nasi dan lauknya,” pinta Owen.


Tessa sempat bergeming beberapa saat. Walaupun ragu, ia tetap mengambil piring yang disodorkan oleh suaminya.


“Eh! Kok kamu makan duluan, Wen?”cegah Bu Damira. “Tadi saja kamu ngajak makan malam bareng.”


“Iya memang, Bu. Tapi aku kan bilang sudah sangat lapar. Aku juga lelah, ingin istirahat. Tak apa jika Ibu ingin menunggu tamu Ibu, silakan. Aku dan istriku akan makan lebih dulu,” jelas Owen.


Ibu Damira mendengus. “Ya begitu tuh, kalau punya mertua yang manja. Mau ke Bandara saja harus diantar,” ocehnya.


Sontak kedua netra Tessa membola. Orang tuaku, manja? tanya Tessa dalam hati.


“Bu! Enggak usah bawa-bawa mertua aku!” tegur Owen.


“Andai saja Kota P itu bisa kutempuh dengan mengendarai mobil, mungkin aku tak hanya akan mengantarkan mertuaku ke Bandara. Aku akan mengantarnya hingga tiba di kediaman mereka,” aku Owen.


“Bukankah sejak kecil Ibu yang mengajarkan aku untuk selalu menghormati dan menghargai orang lain, apa lagi kepada yang lebih tua.”


“Apa yang kulakukan itu adalah salah satu bentuk hormatku pada mertuaku, Bu. Tak ada hubungannya dengan manja atau apa pun pikiran buruk Ibu,” ujar Owen.


Bu Damira berdecih seraya memalingkan wajahnya. “Ya kalau orangnya itu memang pantas dihormati sih, ya … enggak masalah,” gumamnya lirih seperti sedang berbisik.


Samar-samar Owen masih bisa mendengar apa ocehan Ibunya. Ia merasa tak enak hati pada istrinya. Mana ada seorang anak yang tak sakit hati ketika mendengar ucapan tak baik mengenai orang tuanya.


“Bu! Ini di meja makan, ya. Enggak baik jika bertengkar di hadapan makanan!” Peringat Owen.


“Bun, tolong ya. Ambilkan nasi dan lauknya,” pinta Owen.


Satu sendok nasi telah berada di atas piring Owen ketika bel pintu berbunyi.


“Sana, bukain pintunya!” Perintah Bu Damira pada Tessa.


“Ta-tapi Bu,” niat hati Tessa ingin menyelesaikan dulu menyiapkan nasi dan lauk untuk suaminya.

__ADS_1


“Tapi, tapi! Kau ini memang hobinya membantah, ya!” Intonasi suara Bu Damira mulai meninggi.


Melihat sikap sang Ibu, Owen menarik napas panjang dan dalam. “Sudah … hentikan!” ucapan owen barusan penuh dengan penekanan.


“Lanjutkanlah, Bun. Biar aku yang membuka pintunya,” ucap Owen.


“Tidak!” cegah Bu Damira. “Kenapa harus kamu yang membuka pintunya?!”


“Kamu itu pemilik rumah ini. Kamu itu kepala rumah tangga, bukan pembantu di rumah ini!”


Kening Owen mengernyit, ia menatap Ibunya dengan tatapan heran. Betapa sulit ia percaya, Ibunya bisa berkata seperti itu.


Tessa pun ikut panik. Walaupun hatinya sakit, tapi ia lebih takut saat melihat Owen mengepalkan salah satu tangannya. Sementara tangan yang satunya lagi mengusap kasar wajahnya.


“Bu!” bentak Owen. “Ibu itu kenap-“


Sebelum kemarahan Owen meledak-ledak, Tessa segera menyelanya. Dengan lembut ia usap lengan suaminya.


“Bang, tenanglah. Tolong pelankan suaramu. Putrimu sedang tidur,” pinta Tessa dengan lembut.


Mendengar kata ‘putrimu’, Owen akhirnya berusaha menurunkan emosinya dengan menarik napas panjang dan dalam. Namun tatapan tajam pada Ibunya belum juga sirna. Owen masih tak habis pikir mengapa Ibunya bersikap sepeti itu.


Dengan lembut Tessa membantu suaminya agar kembali duduk di kursinya.


“Tak apa, Bang. Biarkan aku yang membuka pintunya.” Tessa tersenyum lebar.


Saat bayangan Tessa tak terlihat lagi, Owen kembali menatap Ibunya.


“Ada apa?! Kamu mau membentak ibumu lagi? Tak cukup kamu membentak Ibumu di depan wanita itu?!”


“Wanita itu adalah istriku,” ucap Owen dengan penekanan.


“Dan dia bukan pembantu. Dia juga pemilik rumah ini,” lanjut Owen. “Sejak menjadi istriku, dia berhak atas segala yang kupunya!”


Bu Damira tak menjawab. Ia berdecak lalu tertawa. Tangannya meraih piring makan Owen yang tadi ditinggalkan Tessa. Tanpa sepatah kata pun, ia mulai menambahkan beberapa macam lauk pauk yang menjadi kesukaan Owen.


Hingga Tessa kembali dan melihat ketegangan antara suami dan ibu mertuanya. Ada apa ini? batin Tessa.


“Siapa yang datang, Bun?” Belum sempat istrinya menjawab, terdengar salam dari sosok wanita yang tak ia harapkan kehadirannya.


“Selamat malam semua,” ucap Nawra dengan gaya manjanya.


“Kuharap aku tidak mengganggu makan malam kalian,” imbuhnya.


“Tentu saja tidak,” sahut Bu Damira dengan riang dan ramah.

__ADS_1


“Kemarilah, ayo duduk di samping Ibu. Kami sudah menantikanmu sejak tadi.” Bu Damira menarik ke belakang kursi yang berada tepat di sampingnya.


Sementara Tessa pun kembali ke tempat duduknya. Ia tersenyum tipis saat melihat piring makan Owen yang ia tinggalkan telah lengkap dengan lauk pauknya.


“Ayo kita makan,” ajak Bu Damira. “Sebelum makanannya dingin,” imbuhnya.


Bu Damira melirik pada Tessa, ketika pandangan keduanya bertemu ia segera memerintahkan Tessa untuk mengambil piring makan untuk Nawra.


“Ambilkan piring untuk tamuku!” perintahnya.


“Hah? Piring?” Tessa sedikit linglung. Ia takjub melihat perubahan sikap ibu mertuanya, yang tiba-tiba begitu ramah dan lembut pada Nawra. Sangat berbeda dengan sikap Bu Damira padanya.


“I-bu!” Tegur Owen.


Tessa segera berdiri saat melihat wajah suaminya mulai memerah. “Tak apa, Bang. Kita harus bersikap baik pada tamu kita, bukan?” ucap Tessa berbisik pada suaminya.


“Oh ya, maaf aku lupa. Sebentar ya, aku ambilkan piringnya dulu,” ujar Tessa.


Meski ia kesulitan menahan sesak di dada, namun Tessa tetap mengembangkan senyumnya seraya berjalan menuju dapur. Ketika tiba di dapur, Tessa terengah-engah. Beberapa kali ia menarik napas panjang seraya menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit karena sesak.


Ketika Tessa kembali ke meja makan, Ibu Damira dan Nawra sedang asyik mengobrol. Sementara suaminya terlihat tak peduli dan hanya fokus pada gawainya.


Tessa meletakkan piring dan alat makan yang ia bawa ke atas meja, di hadapan Nawra. “Silakan, Nawra. Semoga kamu menyukai makanannya,” ucap Tessa.


Keempat orang dewasa itu mulai menikmati makan malam mereka dalam diam. Hingga Nawra lebih dulu memulai perbincangan.


“Oh, sampai lupa,” celetuknya tiba-tiba.


“Ini kubawakan kue-kue pesanan ibu.” Kotak berwarna coklat yang tadi di bawa Nawra, berpindah tangan ke Bu Damira.


“Wah, cantik sekali!” seru Bu Damira ketika menengok apa isi kotak tersebut. “Aku sangat yakin Aya pasti menyukainya.”


“Semoga saja ya, Bu. Saat tahu Ibu memesan kue itu untuk Aya, maka kuputuskan untuk membuatnya sendiri,” ujar Nawra.


Saat Bu Damira dan Nawra tampak asyik dan heboh mengobrol, Owen dan Tessa hanya menjadi pendengar. Bahkan Owen sepertinya tak peduli dengan apa yang dilakukan ibunya bersama Nawra.


“Iya, kue ini sengaja ibu pesan untuk Aya,” ucap Bu Damira.


“Hanya ini yang mampu kuberikan pada cucuku,” lanjutnya.


“Apalah aku ini … hanya nenek miskin yang tak bisa memberi cucunya mainan yang mahal,” ucap Bu Damira dengan sinis.


Lalu sedetik kemudian … brak!!!


Owen menggebrak meja. “Aku kehilangan n*fs* makanku!”

__ADS_1


...---------------...


__ADS_2