
“Paman? Paman siapa?”
Ayasya yang tak tahu harus menjawab apa, hanya mengedikkan bahunya seraya menggeleng. Pertemuan tadi adalah kali pertama ia bertemu si Paman.
Tadi, ia belum sempat menanyakan nama Paman itu, saat Bundanya sudah datang dan tampak tak senang dengan kehadiran Paman pemilik boneka kelinci itu. Jadi, mana mungkin dia bisa menjawab pertanyaan ayahnya, pikirnya.
Tak kunjung mendapatkan jawaban dari putrinya, Owen lantas menoleh pada Tessa yang wajahnya tampak pucat. Walau tak mengulang pertanyaannya, kedua alis Owen yang naik bersamaan, sudah berarti jika pria itu kini butuh jawaban.
“Eh, i-itu, yang dimaksud Aya adalah Pa-man … hem … Paman ….” Tessa merutuki dirinya yang kehilangan ide tiba-tiba. Rasanya seperti sedang berdiri di tepian jurang. Jika tak memberi jawaban dalam beberapa detik, maka dirinya akan terhempas jatuh dari atas sana.
“Paman?” Owen mengulang kembali pertanyaannya. Pikirannya tertuju pada teman lamanya, Ben. Meski beberapa waktu lalu telah ia peringati, namun, tak menutup kemungkinan pria gila itu masih nekat mengganggu istri dan anaknya.
“I-itu, Bang … Paman ... Paman penjual boneka. Ya, itu dia yang Aya maksud.” Tessa tertawa, dan entah mengapa terdengar mencurigakan di telinga Owen.
“Paman penjual boneka? Kalian dari mana saja memangnya?” Owen melirik ke arah jam di pergelangan tangannya. Ah, dia baru sadar, istri dan anaknya tiba 30 menit lebih lama dari biasanya.
Tessa menggeleng. “Tidak dari mana-mana,” jawabnya segera.
“Lagian kenapa juga kita bahas penjual boneka itu?! Itu loh, Bang … dia hanya pedagang yang kebetulan lewat di depan sekolah Aya,” ujar Tessa beralasan.
Meski bingung dengan ucapan Bundanya, Aya tetap saja mengangguk. Bagi anak seusia Aya, ucapan Bundanya adalah suatu kebenaran. Sekarang di benak Aya, Alfio tak lain hanyalah seorang pedagang boneka yang kebetulan mengetahui namanya.
Setelah dirasa cukup untuk membahas Paman dan boneka kelinci yang diminta Aya, Owen pun mengajak istri dan putrinya untuk pergi makan siang.
“Enaknya makan apa, ya?” tanya Owen saat mereka sedang dalam perjalanan.
Tak mendapat jawaban, Owen pun melirik ke samping, ke arah Tessa. Didapatinya Tessa sedang melamun seraya menatap ke luar melalui jendela mobil. “Bun, mau makan apa?” tanya Owen.
Sayangnya Tessa tetap saja asyik dengan lamunannya. “Kalau Aya, maunya makan apa?”
“Hem, Aya mau makan di lestolan kemalin. Lestoran yang ada tempat mainnya itu loh, Yah.”
Owen hanya mengangguk, ia masih menunggu respon Tessa. Akan tetapi, hingga mobil tiba di depan restoran yang Aya maksud, Tessa masih saja tenggelam dalam lamunannya.
__ADS_1
“Bun, ayo! Kita sudah sampai.”
“Sampai? Loh, kenapa kita ke sini, Bang?” Tessa panik. Banyak pertanyaan dalam benaknya, mungkinkah Owen tahu? Tapi, dari mana dan bagaimana bisa?
“Ini maunya anak kamu, Bun,” jawab Owen apa adanya.
“Aya?! Aya yang minta? Bagaimana jika kita ke tempat lain saja?”
“Memangnya ada apa, Bun? Apa ada yang salah dengan tempat ini?” Owen sungguh heran dengan tingkah Tessa. Istrinya itu jelas sekali sedang menyembunyikan sesuatu.
Tessa menggeleng. “Tak ada yang salah, Bang. Ta-tapi apa enggak bosan? Beberapa hari yang lalu kan kita juga makan di sini,” elaknya.
“Baru sekali itu, Bun. Kali ini ngalah dulu ya. Lihatlah … Aya sepertinya antusias sekali,” bujuk Owen.
Melihat putrinya yang sudah tak sabar ingin segera masuk ke restoran, Tessa tak punya alasan lagi untuk menolak. “Baiklah,” ucapnya tak bersemangat.
Di dalam restoran Tessa semakin gelisah. Tessa tak sabar menanti datangnya makanan yang telah mereka pesan. Tessa terus memandang ke sekeliling. Ia jadi tak fokus dan hal itu tentu saja disadari Owen dengan mudah.
“Bun, kamu baik-baik saja? Apa sesuatu telah terjadi?
“Kamu yang harusnya tenang, Bun. Sejak tadi, kuperhatikan kamu sangat gelisah,” tegur Owen.
“Hah, aku, gelisah? Enggak, Bang. Aku biasa saja. Mungkin karena kelelahan saja.” Meski telah mengelak, namun, Tessa yakin Owen tak akan semudah itu percaya.
Beruntung bagi Tessa, pembicaraan mereka harus terhenti sebab pelayan telah datang membawa pesanan makanan.
“Aku akan memanggil Aya.” Untuk menghindari Owen, Tessa segera beranjak dari tempat duduknya selagi pelayan menghidangkan makanan.
Owen hanya bisa mengamati punggung Tessa yang berjalan menjauh. Ada apa dengannya? Apa lagi kali ini? Batin Owen curiga dan khawatir bersamaan. Sungguh ia tak ingin sesuatu yang buruk kembali terjadi dalam rumah tangganya.
Sementara Tessa, Owen, dan Aya menikmati makan siang mereka dalam diam, dari sebuah ruangan berdinding kaca, Alfio sedang mengamati interaksi ketiganya. Darah dalam tubuhnya rasanya mendidih, ketika melihat betapa manjanya Ayasya pada Owen. Ditambah Tessa yang tampak gelisah sepanjang waktu. Alfio tahu, Tessa seperti itu tentu karena tak ingin kehadirannya diketahui oleh Owen.
“Memangnya seburuk apa aku?! Kenapa dia tak ingin mengakuiku, hah?!” Kedua tangan Alfio mengepal menahan amarah.
__ADS_1
Alfio sudah akan beranjak menemui keluarga kecil itu, namun, langkahnya dicegah oleh Roy. “Bos! Apa tidak sebaiknya Anda menghadapi Non Tessa dengan cara yang lembut?!”
Mendengar ucapan Roy, Alfio menghentikan langkahnya lalu berbalik. “Lembut? Memangnya apa yang sudah kulakukan? Baik dulu atau sekarang, aku tak pernah menyakitinya.”
“Bukan padanya, Bos. Tapi, pada sahabatnya- Non Sea,” jelas Tessa.
“Apakah Anda lupa, bagaimana dulu Anda mengejar-ngejar Non Sea? Anda bahkan beberapa kali membahayakan nyawanya. Terakhir kali, Anda bahkan rela dipenjara karena Non Sea.”
“Apa Anda lupa, bagaimana Non Tessa bisa hamil anak Anda?” tanya Roy penuh penekanan.
Alfio tertawa terbahak-bahak. “Kau lucu Roy. Tessa bisa hamil anakku, tentu saja karena kami berdua bercinta! Kau pikir aku siapa?! Kau pikir hanya dengan mengedipkan mata maka aku bisa menghamili seorang wanita?!”
Alfio kembali tertawa. Namun, tawanya tentu saja bukan karena sesuatu yang lucu. Ia sedang menutupi kegugupannya.
“Bos! Anda tahu bukan itu maksudku!” Roy mulai kesal.
Roy bisa melihat, jika bosnya kembali memulai sesuatu yang nantinya akan merugikannya. Apakah hampir lima tahun hidup di balik jeruji besi masih tak cukup baginya?! Batin Roy.
“Bukan itu maksudku, Bos,” ucap Roy.
“Jika tujuan melakukan ini agar Anda tak kehilangan Non Tessa dan putri Anda, sebaiknya jangan bersikap seperti ini. Mulailah dari merebut hatinya,” lanjut Roy memberi saran pada Bosnya.
Roy memberi saran sesuai dengan apa yang pernah ia alami. Bukannya merebut hati wanita yang ia suka, Roy sudah bertindak bodoh dengan menahan wanita itu di sisinya dengan cara yang tidak bijak. Bukan seperti harapannya, wanita yang ia suka malah semakin menjauh.
“Cih! Jangan sok tahu,” ucap Alfio masa bodoh.
“Aku tak ingin membuang waktu. Kau tak tahu rasanya saat putri kandungmu bersikap layaknya orang lain dan memanggilmu Paman.”
“Kau tak merasakan itu, Roy!”
“Yang perlu kulakukan sekarang hanyalah sesering mungkin berada di sisi putriku. Dia harus tahu, aku adalah ayahnya!”
Tak peduli dengan saran dari asistennya, Alfio meneruskan langkahnya. Sapaan dari para pegawainya bahkan ia abaikan, tak seperti Alfio yang biasanya.
__ADS_1
“Hai, gadis kecil … kita bertemu lagi!” seru Alfio.
...——————...