
“Hem, aku dan Tessa ….”
Owen menggantungkan ucapannya. Mami Fhanie pasti akan memberi pertanyaan lagi seandainya ia mengatakan Tessa murung setelah pertemuannya tadi pagi dengan Alfio.
“Aku dan Tessa baik-baik saja.”
“Biasalah, Mi. Hormon ibu hamil, suasana hati Tessa jadi mudah berubah-ubah,” kilah Owen.
Mami Fhanie tampak mengangguk, ia setuju dengan pernyataan menantunya. “Bersabarlah ya, Nak. Mohon lebih pengertian pada istrimu,” nasihatnya.
“Baik, Mi,” jawab Owen singkat kemudian berlalu menuju kamarnya.
Di dalam kamar, yang pertama kali dilihat Owen adalah istrinya yang berbaring memunggunginya. Hampir seluruh tubuh Tessa berada di bawah selimut tebal. Yang bisa Owen lihat hanya sebatas kepala dan punggung istinya saja.
Dengan hati-hati Owen melangkah, mendekat pada tempat tidur. Perlahan ia duduk di tepi tempat tidur, tak ingin membangunkan Tessa kalau-kalau wanita itu sedang tertidur.
“Bang, kamu kah itu?”
“Ya, Bun. Maaf, aku baru bisa pulang sekarang,” jawab Owen seraya membantu Tessa bangun dan duduk bersandar pada head board.
Betapa terkejutnya Owen saat melihat mata sembab istrinya. Sebanyak apa dia menangis? tanya Owen dalam hati. Belum juga Owen bertanya padanya, tangis Tessa kembali pecah.
“Ba-Bang …” Tessa memeluk Owen. Walau tak mampu menghentikan tangisnya, namun, Tessa merasa lebih baik saat menangis dalam dekapan suaminya.
“Apa dia menyakitimu?” tanya Owen lembut. Tessa menjawab dengan gelengan kepala.
“Lalu, apa yang terjadi?”
“Aku mau pindah saja! Ayo kita pergi dari sini, Bang.” Tessa menggenggam kedua tangan Owen saat ia memohon.
“Kenapa? Kenapa harus kita yang pergi?”
“Bang! Aku tak percaya jika Alfio benar-benar setuju dengan perjanjian yang kita buat,” ucap Tessa.
“Menurutmu hal buruk apa yang mungkin akan dilakukan Alfio? Menurutmu, apa dia tega menyakiti anaknya sendiri?”
“Anaknya?! Aya anakku, bukan anak pria itu!” Tessa memalingkan wajahnya. Kesal sekali mendengar Owen mengatakan hal itu.
Owen menghela napas pelan. Dengan lembut ia memegang dagu Tessa. Ia ingin Tessa melihat kesungguhan dan keyakinannya dari kedua netranya.
“Ayasya anakku juga, Bun. Akan selalu dan sampai kapan pun akan begitu.”
__ADS_1
“Meski begitu, kita tak akan pernah bisa memutus hubungan antara Alfio dan Ayasya. Bukannya berlagak sok bijaksana, aku hanya memposisikan diriku seandainya aku adalah pria itu,” ungkap Owen.
“Harusnya kita bersyukur, Alfio akhirnya mau mengerti dan dia setuju jika untuk sekarang sebaiknya kita tak memberitahu kebenarannya pada putri kita.”
Owen dengan hati-hati membuat Tessa mengerti. Tak ada yang perlu dikhawatirkan istrinya. Owen tak akan biarkan Alfio melakukan hal di luar perjanjian yang telah mereka sepakati.
“Tapi, aku belum siap seandainya Aya dekat dengan ayah kandungnya,” keluh Tessa.
“Sekarang atau nanti, Aya pasti akan tahu siapa ayah kandungnya. Percayalah pada putri kita, cinta dan sayangnya tak akan pernah berkurang untuk kita berdua. Aku percaya hal itu, sebab aku pun begitu padanya,” ucap Owen.
Tessa bungkam. Walau semua ucapan suaminya masuk akal, akan tetapi masih sulit dan tak rela rasanya, jika Alfio tiba-tiba masuk dalam kehidupan mereka yang tenang.
“Bagus jika dia hanya benar-benar pada tujuannya. Bagaimana jika dia membawa Ayasya pergi secara diam-diam? Bisa saja kan, dia berencana untuk menculik Ayasya.”
Owen hendak tertawa, namun ia urungkan. Ia geser tubuhnya agar mengikis jarak antara dirinya dan istrinya. Dipeluknya Tessa erat seraya membelai puncak kepalanya. “Kamu sepertinya terlalu banyak menonton film,” canda Owen membuat Tessa menghadiahi pukulan di dada bidangnya.
“Aku serius, Bang! Kamu enggak kenal Alfio, dia i-“
Owen menyela ucapan istrinya, “Memangnya kamu kenal banget sama pria itu?” Sengaja ia memasang wajah masamnya yang dibuat-buat. “Sedekat apa kamu dengannya dulu?”
“Bu-bukan begitu. A-aku juga enggak … ah, bagaimana ya menjelaskannya?!” Tessa gelagapan, dia khawatir jawabannya menimbulkan kesalahpahaman.
Tessa semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya. “Intinya aku dan pria itu enggak pernah punya hubungan apa pun. Aku jujur padamu dari awal. Semua yang terjadi saat ini karena kebodohan yang kulakukan pada suatu malam,” jelas Tessa.
Tentu saja Owen percaya. Owen tahu bagaimana kisah cinta menyedihkan pria itu. Dulu, dia pun dalam posisi yang sama dengan Alfio. Sama-sama memiliki cinta yang tak terbalas pada wanita bernama Sea.
Tapi, lucu melihat wajah istrinya yang gugup. Apalagi jika Owen melihat wajah gugup Tessa seperti saat ini, ah … dia tak akan bosan melihat wajah itu.
“Iya, iya, aku tahu. Aku percaya padamu,” ucap Owen.
“Tapi dengan syarat, kamu juga harus percaya padaku,” lanjutnya.
“Percayalah jika semuanya akan baik-baik saja. Tak akan terjadi apa pun pada Ayasya. Begitu juga dengan keluarga kita, kita akan terus bersama, terus saling menyayangi seperti sekarang sampai nanti.”
“Percayalah, aku tak akan biarkan hal buruk terjadi pada keluarga kita. Kamu bisa kan percaya aku?”
...…...
Di waktu yang sama, di salah satu gedung perusahaan yang menjulang tinggi Nawra berjalan dengan angkuh menuju lantai teratas gedung tersebut. Sepanjang jalan ia mengamati betapa mewahnya perusahaan tersebut.
Jika rencanaku malam ini berhasil, maka aku akan menjadi pemilik ini semua, ucapnya dalam hati.
__ADS_1
“Malam Nona, tapi jam kerja sudah selesai. Anda bisa datang lagi besok,” ucap seorang wanita yang merupakan sekertaris dari pemilik perusahaan itu.
“Heh, bilang sama bosmu jika yang ingin menemuinya itu adalah aku, Nawra. Sana cepat!” suruh Nawra. “Cih, jika aku sudah menjadi Nyonya, aku akan memecat wanita itu pertama kali!” lanjutnya menggerutu.
Terlihat si sekertaris menjelaskan beberapa hal di telepon. Lalu setelah selesai ia bangkit dari kursinya. “Silakan Nona, lewat sini. Anda sudah ditunggu,” ucapnya ramah.
Dengan wajah angkuhnya, Nawra mengikuti langkah si sekertaris dari belakang. “Ck, sudah kubilang juga apa. Mulai sekarang kamu harus ingat wajah cantikku. Ingatlah, jika aku adalah calon istri Bosmu.”
“Jika, aku sudah menjadi Nyonya pemilik perusahaan maka karyawan-karyawan yang tak patuh yang akan pertama kusingkirkan,” oceh Nawra seraya terus berjalan mengikuti langkah si sekertaris. Tak tahu saja dia, jika sekertaris itu bahkan tak mendengar satu kata pun yang ia ucapkan.
Pintu sebuah ruangan diketuk oleh sekertaris wanita itu. Terdengar sahutan seorang pria dari dalam sana. Saat pintu terbuka, sengaja Nawra masuk lebih dulu.
“Malam Sayang, aku datang!” serunya dengan suara yang cukup besar. Ia sengaja agar sekertaris itu bisa mendengarnya.
Sementara pria yang duduk di kursi kebesarannya, mengernyitkan kening sebab heran dengan sikap aneh Nawra. “Malam juga, dan apa-apaan dengan panggilan sayang itu?” tanyanya.
Nawra terkekeh. Dengan manja dan tanpa permisi ia segera duduk di pangkuan pria itu. “Memangnya enggak boleh aku manggil kamu sayang?”
“Kamu juga kalau di ranjang manggil aku sayang, aku enggak protes!” ucap Nawra pura-pura merajuk.
Pria itu tertawa. “Tapi sekarang kita bukan di ranjang. Jangan sampai ada yang salah paham mendengarmu memanggilku seperti itu.”
Kecewa dan kesal, itulah yang Nawra rasakan kini. Si*lan! Pria ini sulit juga untuk ditaklukkan. Tunggu sampai kau melihat senjataku!
“Kemarikan tanganmu! Aku ada hadiah untukmu,” ucap Nawra dan pria itu pun menurut.
Nawra merogoh benda pipih itu dari dalam tasnya. Ia letakkan di tangan si Pria dengan senyum yang dia buat semanis mungkin. “Ini! Selamat, kamu akan segera jadi ayah,” ucapnya.
Hening.
Untuk beberapa detik setelah itu, keadaan hening. Nawra gugup. Dari raut wajahnya, Nawra coba menebak akan bagaimana pria itu merespon.
“Apa ini?”
“Alat tes kehamilan,” jawab Nawra.
“Aku tahu. Tapi ini punya siapa?”
“Tentu saja, punyaku!” Nawra berusaha agar terlihat bahagia dengan kehamilannya.
Kening si pria mengernyit. “Selamat untukumu. Tapi, kenapa kau tunjukkan ini padaku?”
__ADS_1
“Karena kau Ayahnya!”
...————————...