
Saat itu masih fajar, matahari bahkan belum benar-benar menampakkan dirinya. Sebuah mobil van berhenti tepat di depan sebuah toko kue.
“Keluar!” Perintah pria itu tanpa menatap wanita yang menjadi lawan bicaranya.
Sementara wanita itu tetap bergeming seraya memejamkan di kursi penumpang. Sejujurnya, saat ini dia sama sekali tak tertidur. Dia bisa mendengar suara bahkan helaan napas berat pria di sampingnya. Sayangnya, tubuhnya terasa sangat lelah. Bahkan untuk duduk tegak, rasanya sangat sulit baginya. Tak hanya itu, kedua netranya pun sangat sulit untuk terjaga. Netranya terasa sangat berat setelah semalaman ia gunakan untuk menangis.
Ya, wanita itu adalah Nawra. Semalam, dia dibawa paksa oleh sekelompok pria yang tak ia kenal. Pria-pria itu membawa Nawra ke sebuah rumah di lokasi yang cukup terpencil. Tak hanya mengambil barang-barang berharga miliknya, wanita itu juga dipaksa untuk melayani n*fsu bejat pria-pria itu.
“Hei, bangun. Kita sudah sampai. Keluar sana!” sekali lagi pria itu memerintahkan Nawra untuk segera beranjak dari mobilnya. Dengan kasar dia mendorong- dorong lengan Nawra. Ia menggoyangkan tubuh wanita itu agar dia terbangun.
“Kenapa juga harus aku yang kebagian tugas anterin wanita ini!” gumamnya mengeluh namun masih bisa didengar oleh Nawra.
“Hei! Aku hitung sampai tiga, jika kau masih tak mau bergerak maka jangan salahkan aku jika kau kutendang keluar dari mobilku!” ancam si pria.
Mendengar itu Nawra segera mengangkat tangannya. Tanda jika dia memohon agar pria itu memberinya waktu sebentar. Ia butuh mengumpulkan tenaganya dulu. Meski Nawra tahu, ancaman pria itu bukan sekedar ancaman belaka. Dia sudah mengalaminya semalam. Bahkan meski ia meronta pun, ia yakin pria itu tak akan mengindahkannya.
“Cih!” Pria itu berdecih lalu tertawa terbahak-bahak setelahnya. “Kenapa? Kau kelelahan, ya?” tanyanya.
“Padahal permainanmu semalam oke juga,” imbuhnya sembari terkekeh.
Nawra rasanya ingin kembali menangis dihina seperti itu. Sayangnya, kedua netranya sudah terlalu lelah. Ia pun tak tahu apakah air matanya juga masih ada tersisa setelah semalaman ia lewati dengan deraian air mata.
“Kau harusnya bersyukur. Kau satu-satunya wanita yang aku antar pulang. Biasanya wanita sepertimu akan aku tinggalkan begitu saja di jalan,” jelas pria itu tanpa diminta.
Baru lima menit berlalu, namun pria yang Nawra sendiri tak tahu siapa namanya itu mulai tampak gelisah. Ia sudah tak sabar ingin segera pergi, ia ingin istirahat setelah semalaman berpesta menikmati tubuh wanita yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa ia keluar dari mobilnya. Berjalan memutari mobil lalu membuka pintu untuk Nawra. “Keluar!” bentaknya.
“Iya … iya, aku keluar,” jawab Nawra lalu bergerak perlahan untuk keluar dari mobil.
Gerakan Nawra yang sangat pelan dan terkesan berhati-hati membuat pria yang menatapnya jadi tak sabar. Dengan kasar ia tarik Nawra untuk menjauh dari mobilnya. Bahkan pria itu menghempaskan tubuh Nawra hingga wanita itu jatuh terduduk di depan pintu toko kuenya.
“Baiklah, tugasku mengantarmu sudah selesai. Aku pergi, ya. Berdoalah semoga kau tak bertemu dengan kami lagi,” ucap pria itu kemudian pergi meninggalkan Nawra begitu saja.
Nawra memicingkan matanya melihat mobil van itu menjauh. Haruskah dia bersyukur karena ia masih hidup hingga sekarang. Melihat betapa buruk kondisinya saat ini, ia jadi tak yakin dengan rasa syukur itu.
Sembari menahan sakit dan perih di bagian sensitif tubuhnya, Nawra mencoba berdiri. Berjalan terseok-seok, hingga ia berhasil menekan bel di depan pintu toko kuenya. Tak perlu menunggu lama, pintu dibuka oleh salah seorang karyawannya yang memang tinggal di sana.
“Mbak Nawra?” Pekiknya saat melihat Nawra yang berdiri bersandar pada pintu. Bahkan saat pintu dia buka, Nawra hampir terjatuh karena tak bisa menahan keseimbangannya.
Bosnya itu tampak lemah tak bertenaga. Terdapat sobekan di beberapa bagian pada baju yang ia gunakan. Bahkan puncak buah d*danya tercetak jelas tanda wanita itu tak mengenakan br*.
“Mbak Nawra baik-baik saja kan?” tanyanya lagi.
Nawra hanya mengangguk. “Bantu aku ke kamar,” pintanya lirih.
Di kamar yang biasa digunakan Nawra istirahat jika ia sedang berada di toko, karyawan yang bernama khalisa itu membantu Nawra berbaring.
“Khalis, tolong siapkan air hangat. Aku ingin membersihkan tubuhku,” ucap Nawra dengan suara bergetar seperti sedang menahan tangis.
Khalisa pun bergegas melakukan apa yang diperintahkan Nawra. Setelah Khalisa masuk ke dalam kamar mandi, tangis Nawra pun akhirnya pecah. Ia teringat bagaimana semalam pria-pria itu memaksa untuk menjamah tubuhnya dengan kasar. Bayangan saat empat orang pria menggempur tubuhnya sekaligus membuat Nawra kembali merasakan sakit dan perih di inti tubuhnya.
__ADS_1
Pipinya yang basah sebab dilinangi air mata membuat Nawra teringat kembali saat ia mendapatkan tamparan berkali-kali di pipinya juga di beberapa bagian tubuhnya yang lain. Seakan para pria itu tak pu*s hanya dengan menamparnya, para pria itu juga mengikat kedua tangan dan kakinya lalu mencambuk tubuh Nawra berkali-kali dengan ikat pinggang.
Bayangan peristiwa semalam terputar kembali di benak Nawra. Suara des*han, tawa, juga makian dari para pria itu kembali terngiang. Nawra menutup kedua telinganya, saat samar-samar ia mendengar bagaimana para pria itu tertawa saat melihat dirinya menjerit menahan sakit.
Khalisa yang baru keluar dari kamar mandi segera menghampiri bosnya. “Mbak Nawra … Mbak kenapa? Apa ada yang sakit?” Wanita muda itu semakin cemas saat menyadari jika tubuh bosnya itu bergetar hebat.
“Mbak … Mbak, ayo kita ke rumah sakit saja!”Namun Nawra menggeleng menolak usulan Khalisa.
“A-aku enggak apa-apa. Aku hanya ingin membersihkan tubuhku lalu beristirahat,” ucapnya.
Khalisa tak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia segera keluar dari kamar bosnya dengan perasaan cemas.
Sementara di dalam kamar mandi, Nawra menatap pantulan dirinya di cermin. Banyak lebam dan bekas kemerahan ditubuhnya akibat perbuatan kasar para pria yang telah menculiknya semalam. Saat ia menyentuh bagian sensitifnya, hanya sentuhan lembut namun rasanya sungguh menyakitkan.
Setelah berendam beberapa menit, tiba-tiba Nawra merasakan sakit di bagian perutnya. “Akh … perutku sangat sakit,” keluhnya.
Dengan sisa-sisa tenaganya ia mencoba berdiri. Nawra berniat segera mengakhiri sesi mandinya dengan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Namun, tak lama setelah ia menyalakan shower perutnya semakin sakit lalu ada cairan merah yang mengaliri mulai dari pahanya.
“Da-darah?”
Astaga, aku lupa! Apa mungkin aku ….
Brugh. Tubuh polos Nawra terjatuh ke lantai kamar mandi.
...———————-...
__ADS_1