Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 87. Janji


__ADS_3

“Menjelaskan apa? Memangnya kamu percaya dengan ucapan wanita itu?”


Bukannya menjawab, Owen balik bertanya pada Tessa. Wanita yang terbaring lemah dengan infus di tangannya itu memalingkan wajahnya. Ia ingat pernah berjanji pada Owen untuk percaya hanya pada apa yang pria itu ucapkan. Tapi, tetap saja kan sebagai wanita dia butuh penjelasan. Bagaimana bisa ada seorang wanita yang tiba-tiba meminta pertanggungjawaban pada suaminya.


“Kamu percaya padaku kan, Bunda?” tanya Owen sekali lagi. Dengan menarik perlahan dagu istrinya agar mereka kembali saling memandang.


“Wanita itu bukan masalah utama kita saat ini. Ya, selama kamu masih percaya padaku,” lanjutnya.


Meski ada air mata yang berlinang dari pelupuk matanya, Tessa tetap mengangguk. “Jadi kita harus bagaimana, Bang?” Tessa semakin terisak.


Perjalanan rumah tangga mereka hingga saat ini bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang telah mereka lalui, suka maupun duka. Rahasia yang mereka jaga bertahun-tahun, saat ini terungkap sudah.


Saat Tessa dan Owen saling berbicara lewat sorot mata masing-masing, tak jauh dari keduanya terdengar suara lenguhan Ayasya. Gadis kecil itu akhirnya terbangun dari tidur lelapnya.


Ketika pertama kali membuka kedua netranya, wajah sang Oma yang ia dapati sedang menatapnya. Ayasya berkedip beberapa kali, seraya mengingat-ingat kejadian semalam. Apa yang sudah terjadi sampai dia terbangun bukan di kamarnya.


“Bunda?” gumamnya lirih. Saat bayangan kejadian semalam terlintas di benaknya, kedua netra bening milik gadis itu mulai berkaca-kaca.


“Bun-da,” ulangnya sekali lagi dengan suara yang mulai bergetar.


“Sstt … Aya, Sayangnya Oma sudah bangun?” Mami Fhanie membantu cucunya untuk bangun.


“Di mana Bunda, Oma?” tanyanya lirih.


Mami Fhanie tak menjawab. Ia hanya menggeser sedikit tubuhnya agar tak menghalangi pandangan Ayasya.


“Ayah! Bunda!” seru Ayasya saat melihat kedua orang tuanya berada tak jauh darinya.


Rupanya Owen dan Tessa sudah sejak tadi mengamati interaksi Ayasya dan Mami Fhanie. “Sayang, ayo kemari!” seru Owen.


Mendengar ajakan Ayahnya, dengan semangat Ayasya beranjak dari sofa bed. Ia berlari menghampiri sang Ayah. Berlari ke dalam dekapan pria yang ia tahu adalah ayah kandungnya.


“Ayah … Bunda cakit.” Dari raut wajah dan suaranya saja, jelas sekali jika gadis kecil itu sangat sedih melihat Ibunya yang terbaring lemah di ranjang pasien.

__ADS_1


“Adik bayinya ikutan cakit enggak?” tanyanya yang dijawab gelengan kepala oleh Owen.


Ayasya lalu menatap lama pada Ayahnya. Ia menangkup wajah Owen dengan kedua tangan mungilnya. “Ayah kan doktel. Ayo, obatin Bunda biar cepet cembuh,” pintanya tulus.


Owen mengangguk. “Bunda udah diobatin sama teman Ayah yang dokter juga. Sebentar lagi Bunda pasti sembuh, bisa main lagi sama Aya,” jelas Owen.


“Tapi kalau Aya ingin Bunda lebih cepet sembuhnya, kita biarin Bunda dan adek bayi istirahat dulu, ya. Aya bisa kan?”


“Bisa dong, Ayah!” jawab Aya bersemangat.


Air mata Tessa rasanya semakin banyak yang menggenangi pelupuk matanya. Ia berusaha menahannya. Tessa tak ingin Aya melihatnya menangis. Dia merasa sedih saat melihat interaksi Owen dan Aya. Kedunya tampak sangat saling menyayangi. Bagaimana jika keduanya dipisahkan? Bagaimana jika Aya tahu jika Owen bukan Ayah kandungnya? Pertanyaan dalam batinnya membuat genangan air matanya semakin banyak.


Tak jauh berbeda dari Tessa, Mami Fhanie pun tak kuasa menahan tangisnya. Air matanya sudah berlinang tanpa permisi. Akan sulit untuk memisahkan Owen dan Aya, keduanya akan merasa tersakiti seandainya mereka berpisah. Cinta pertama Aya adalah Owen, pria yang dia kenal sebagai ayahnya, pikir Mami Fhanie.


Mami Fhanie menghapus air mata yang membasahi pipinya. “Aya, ayo kita pergi cari sarapan,” ajak Mami Fhanie.


Aya menggeleng, ia seperti tak ingin berjauhan dari Ayah dan Bundanya. “Aya belum lapar, Oma,” tolaknya.


“Aya, kok gitu. Aya ikut Oma, ya,” bujuk Owen.


Aya tampak berpikir sesaat lalu ia mengangguk. Namun berbeda dengan tangannya yang semakin erat memeluk leher Owen.


“Sekarang, Aya cium dan peluk Bunda dulu. Setelah itu ikut Oma untuk sarapan,” suruh Owen yang segera dilakukan Aya.


Setelah Aya dan Mami Fhanie menghilang dari balik pintu, pecah sudah tangisan Tessa. “Dia sangat menyayangimu, Bang,” ucap Tessa.


“Aku pun begitu. Aku sangat menyayangimu, menyayangi Aya, juga menyayangi bayi kita,” aku Owen. Tangannya bergerak mengusap perut Tessa.


“Ta-tapi, bagaimana dengan Ibu? Semalam saja dia sudah mengusir kami. Ibu pasti akan misahin kita, Bang.” Tangisan Tessa semakin menjadi-jadi.


Owen bergeming. Ia tak bisa membantah ucapan Tessa. Semuanya benar dan hal itulah yang menjadi masalah utama mereka saat ini. Dalam kondisi yang sekarang, Owen tak akan bisa jika dirinya harus memilih.


“Kamu percaya aku kan, Sayang?” tanya Owen.

__ADS_1


Tessa diam cukup lama. Owen bertanya mengenai kepercayaan padanya, sedangkan dari raut wajahnya Tessa bisa melihat keraguan di sana.


“Apa yang harus aku percaya?”


“Percaya jika aku akan menepati janjiku,” jawab Owen.


“Janji?” kening Tessa mengernyit.


“Ya, aku berjanji padamu jika keluarga kita akan baik-baik saja. Keadaan akan kembali seperti sedia kala. Keluarga kita akan bahagia. Ya, keluarga kita … aku, kamu, Aya, dan bayi kita,” jelas Owen.


“Apa maksudmu, Bang? Mengapa aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi?” tanya Tessa. Jujur saja saat ini ia merasa cemas. Janji yang Owen ucapkan lebih terdengar seperti doa dan harapan dari pria itu.


“Aku ingin kamu bersabar dan percaya jika aku akan memenuhi janjiku. Aku ingin kamu dan Aya ikut bersama Mami Fhanie, jaga kesehatan kalian di sana. Berbahagialah dan tunggu aku menjemput kalian,” ucap Owen.


Tessa menangis. Akhirnya apa yang ia takutkan terjadi. Mereka akan berpisah. “Apa ini adalah akhirnya?”


Owen mengusap buliran-buliran air mata di pipi istrinya. “Tidak, Sayang. Tidak ada yang berakhir. Aku hanya memintamu untuk menepi sesaat. Berikan aku waktu dan kepercayaan untuk menyelesaikan semuanya,” pinta Owen.


“Apa Ibu memaksamu untuk meninggalkan aku dan Aya?” tanya Tessa.


Owen menggeleng, dan itu adalah jawaban jujur darinya. Untuk sekarang ini, sepertinya Ibunya tak akan bisa meminta Owen meninggalkan Tessa dan aya. Bahkan untuk membuka kedua netranya pun, Ibunya tak bisa. Owen kembali dilanda perasaan sedih akan hal itu.


“Lalu apa yang terjadi, Bang?” desak Tessa. “Kenapa aku dan Aya harus pergi?”


“Karena untuk sementara aku tak bisa fokus menjaga kalian. Kalian akan lebih aman dan tenang bersama Mami Fhanie. Anggap saja kalian sedang liburan,” pinta Owen diakhiri dengan senyuman yang memilukan.


Tessa mengangguk saja. Dia harus berbuat apa selain mengikuti ucapan suaminya. Walau berat rasanya untuk berpisah, namun Tessa percaya jika semua ini sudah dipikirkan baik-baik oleh Owen. Ya, Tessa memilih untuk percaya sepenuhnya pada suaminya.


Pasangan suami istri itu pun saling berpelukan. Beberapa kali Owen mengecupi kening dan bibir Tessa bergantian. Dia sangat yakin kelak akan sangat merindukan istri dan putrinya.


Di saat keduanya masih berpelukan, pintu ruang perawatan Tessa terbuka. Sosok Alfio muncul dengan napas yang terengah-engah.


“Owen!” pekiknya mengalihkan pandangan Tessa dan Owen bersamaan.

__ADS_1


“Ibumu ….”


...——————————...


__ADS_2