
Tepat setelah Qanita pergi, gadis kecil itu memberi pilihan pada Bu Damira. Apakah meraka akan beristirahat atau bermain saja. Pilihan pertama Bu Damira adalah beristirahat, itu pun setelah ia berpikir keras untuk memilih.
Bu Damira pikir yang dimaksud istirahat adalah mereka akan ke kamar masing-masing untuk tidur. Apalagi Aya baru saja tiba setelah perjalanan dari Kota P. Pilihan yang terbaik untuk menghindari gadis kecil itu, pikirnya. Namun, yang terjadi adalah Aya malah ikut masuk ke kamarnya. Gadis kecil itu bahkan tanpa permisi ikut naik ke tempat tidur dan berbaring di sisinya.
Tak puas hanya dengan berbaring bersama sang nenek, Ayasya juga tak hentinya berceloteh tanpa diminta. Dari mulai bertanya bagaimana kabar Neneknya, hingga ia memberitahu kabar Bundanya walaupun Bu Damira tak bertanya apa pun.
“Kata Ayah, Nenek baru cudah dioperaci ya? Nenek cakit apa?” tanyanya.
Bu Damira hanya menjawab dengan dehaman saja. Beliau sengaja berbaring memunggungi Aya, berharap gadis kecil itu akan menyerah dan segera berlayar ke alam mimpi.
Sayangnya, harapan Bu Damira hanya tinggal harapan saja. Setelah hening beberapa saat, Bu Damira merasakan ada tepukan lembut di punggungnya.
“Nek … Nenek,” panggil Aya. “Apa Nenek cudah tidur?” tanyanya.
“Belum! Kenapa memangnya?”
Bukan jawaban yang ia dapatkan, melainkan terdengar tawa renyah gadis kecil itu. Bu Damira sempat menoleh ke belakang, dan benar saja Aya sedang tertawa menatapnya.
“Kamu menertawakan Nenek?!” Bu Damira mengernyitkan kening menatap Aya yang masih tertawa. “Enggak ada yang lucu loh!”
“Aya buka ngetawain Nenek. Aya hanya teringat Oma,” jawab Aya jujur.
Namun, jawaban jujurnya membuat Bu Damira menjadi kesal. Kenapa harus sebut-sebut dia sih! Batinnya.
“Memangnya dia kenapa?” tanya Bu Damira penasaran.
“Cetiap kali Oma menemaniku tidur, pasti Oma yang tidur lebih dulu. Jadinya kebalik, aku dong yang nemenin Oma tidur.” Aya kembali tertawa mengingat kebersamaannya bersama sang Oma. “Kupikir, Nenek juga cama. Kan cama-cama nenek-nenek,” lanjutnya.
“Oh, tentu beda ya!” seru Bu Damira. Mana mau dia disama-samakan dengan besannya. “Jangan samain Nenek dengan Omamu itu. Nenek kan pandai menjaga anak-anak,” ucapnya membanggakan diri sendiri.
Tanpa Bu Damira sadari, kini ia telah berbalik badan. Ia tak lagi memunggungi Aya. Tentunya hal itu membuat Aya merasa senang.
“Aya, Nenek mau bertanya, tapi kamu harus jawab jujur,” ucap Bu Damira.
Aya mengangguk. Ia menaikkan dua jarinya membentuk huruf V. “Janji,” ucapnya.
__ADS_1
“Siapa yang menyuruhmu ke sini?” tanya Bu Damira.
Aya menggeleng sebagai jawaban tanpa berpikir lebih dulu. “Enggak ada yang nyuruh,” jawabnya.
“Ah, Aya bohong!” Bu Damira kembali memancing Aya. Ia yakin bisa membuat gadis kecil itu buka mulut perihal rencana menantunya.
“Ayo, bilang ke Nenek. Nenek janji enggak akan bilang kalau Aya yang ngasih tahu,” bujuk Bu Damira.
“Beneran, Nenek. Enggak ada yang nyuruh.” Jawaban Aya masih saja sama. Dua jarinya yang membentuk huruf V juga masih sama.
“Lalu, kenapa kamu kemari? Pasti ada yang nyuruh kan?!” Bu Damira masih belum percaya.
“Enggak ada yang nyuruh, Nenek. Tapi, Paman yang ajak Aya pulang,” ucapnya jujur.
Bu Damira menghela napas, itu jawaban yang dia inginkan dari tadi. “Paman yang mana? Paman yang datang bersamamu tadi?” tanyanya dan dijawab anggukan oleh Aya.
“Sok baik!” gerutu Bu Damira. “Dia pasti punya rencana, makanya nyuruh kamu kesini.”
“Bukan nyuruh, Nenek. Tapi, Paman ngajak aku pulang. Paman bilang, kalau aku mau nengokin Nenek, dia bisa anterin dan minta izin ke Bunda.”
“Terus Bunda kamu izinin?” tanyanya semakin penasaran.
“Harusnya kamu enggak perlu datang. Enggak perlu nengokin Nenek,” ucap Bu Damira seraya memalingkan wajahnya.
“Tapi kata Ayah, Nenek cakit. Ayah bilang, di sini sangat cakit,” tangan mungil Aya menyentuh dada kiri Bu Damira.
Bu Damira terlonjak saat Aya tiba-tiba melakukan itu. “Cekarang macih cakit enggak, Nek?” tanyanya.
Bu Damira menggeleng. Ia bisa melihat ketulusan dari kedua bola mata bening gadis kecil itu.
“Jadi, Aya dan Bunda udah boleh pulang kan? Aya enggak mau Nenek cendirian di cini.” Kening Bu Damira mengernyit mendengar pertanyaan Aya.
“Ayah bilang, karena Nenek cakit Aya dan Bunda liburan ke rumah Oma dulu. Biar Nenek bisa istirahat dan cepat cembuh,” jawab Aya menirukan ucapan ayahnya.
“Tapi, Aya udah rindu cekolah, Nek. Rindu teman-teman, rindu cemua mainan Aya,” akunya. Bibirnya mengerucut setelah mengatakan itu. “Dan yang paling Aya rindukan itu ayah,” lanjutnya.
__ADS_1
Bu Damira bisa merasakan kesedihan Ayasya. Sorot mata Ayasya menggetarkan hatinya. Sebelum Aya datang, ia menduga bisa saja Tessa menceritakan hal buruk pada Aya hingga anak itu membencinya. Rupanya, dugaannya salah. Terbukti dengan Aya yang tetap mengkhawatirkannya.
Masih dengan posisi berbaring saling berhadapan, Bu Damira menanyakan kondisi Tessa pada Aya. Terakhir yang dia tahu wanita itu sedang hamil.
“Kenapa Bundamu tak ikut?”
“Bunda cakit. Kata Oma adik bayi di dalam perut Bunda lagi rewel. Kacian Bunda, enggak bisa makan,” jawab Aya.
Aya mendekat pada Bu Damira. “Nenek mau tahu rahacia enggak?” tanyanya dengan berbisik.
“Rahasia?”
“Iya, rahacia. Tapi jangan bilang-bilang ya, Nek.” Bu Damira mengangguk.
“Adik di dalam perut Bunda cengeng.”
“Kok begitu?” Bu Damira sedikit kecewa. Ia pikir bisa dapat informasi penting.
“Karena tiap malam dia nangis dalam perut Bunda. Jadinya, Bunda juga ikutan nangis tiap malam,” jawab Aya membungkam Bu Damira.
...…...
“Kamu sudah menghitungnya sepuluh kali, Aya!” seru Bu Damira. Bu Damira terlihat mulai bosan, menunggui Aya yang sejak tadi menghitung bonekanya berulang-ulang.
Setelah lelah mengobrol, Ayasya meminta Neneknya untuk menemaninya bermain. Awalnya Bu Damira menolak, namun setelah Aya membujuknya akhirnya ia mengalah.
Benar kata Aya, dia memang sangat merindukan mainannya. Seperti tak ada lelahnya ia mengabsen satu per satu boneka kesayangannya. “Tapi, ini ada yang kurang Nenek,” ucap Aya seraya kembali mengulang lagi hitungannya.
“Mungkin kamu lupa simpan di mana,” ucap Bu Damira membujuk Aya agar berhenti menghitung boneka-bonekanya.
“Selama Aya enggak ada di rumah, enggak ada kok yang main sama boneka Aya,” lanjut Bu Damira namun tetap tak membuat Aya berhenti menghitung jumlah bonekanya.
“Nenek, bica membantuku?”
“Bantu apa?”
__ADS_1
“Tanyakan pada Bunda, mungkin dia tahu di mana boneka lala yang kucari,” pintanya.
...————————...