
Seperginya Nawra dari kantornya, Ben tak bisa berhenti memikirkan ucapan wanita itu. Apa benar Tessa menjebak Owen dengan kehamilannya? Tanyanya dalam hati.
Seingatnya, dulu ia tak pernah melewatkan apa pun yang diunggah oleh selebgram cantik idolanya itu. Walau Tessa dulu kerap terlibat konflik dengan sesama selebgram, namun tak pernah terdengar berita mengenai kisah percintaannya. Jika benar mereka menjalin hubungan, maka Owen dan Tessa sukses merahasiakan hubungan mereka, pikir Ben.
Tak ingin rasanya ia percaya dengan mudah ucapan Nawra. Apalagi setelah beberapa bulan lalu Owen datang menemuinya. Teman lamanya itu mengancam, jika Ben berani mengusik rumah tangganya lagi, maka pria itu tak segan-segan membeberkan ke publik mengenai rahasia yang ditutupi keluarga Ben selama ini.
Sebuah rahasia jika Ben pernah menjadi pelaku perundungan pada seseorang siswa. Hingga siswa itu dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan sampai sekarang. Karena hal itu, Ben menyimpulkan jika Owen pasti sangat mencintai istrinya sampai berani mengancam dirinya.
“Owen kan pria paling tak peduli dengan urusan orang lain!”
“Ah, mungkin memang benar mereka menikah setelah Tessa hamil anak Owen,” gumam Ben menarik kesimpulan.
Meski telah berusaha meyakinkan dirinya, namun Ben tetap saja terbayang-bayang dengan ucapan Nawra. “Ah, pantas saja ada yang bilang orang yang selalu ingin tahu urusan orang, umurnya pendek. Kan aku jadi penasaran dan enggak bisa tenang gini!” canda Ben.
Setelah menimbang-nimbang beberapa hal, sore itu juga Ben menghubungi Owen untuk meminta bertemu. Owen yang saat itu masih berada di rumah sakit, meminta Ben untuk bertemu di sana.
Beberapa menit Ben habiskan dengan berjibaku di jalan raya yang padat merayap bersama para pengguna jalan lainnya. Hingga akhirnya ia tiba di rumah sakit yang ia tuju. Tempatnya janjian dengan teman lamanya, Owen.
Ben menanti di sebuah Coffee Shop yang berada di lobi rumah sakit. Wajah tampan dan penampilan mewahnya tak ayal menarik perhatian para wanita yang juga sedang menikmati kopi di tempat yang sama.
“Hei, Bro!” sapa Owen seraya menepuk pundak Ben dari belakang.
“Hei! Apa pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Ben basa-basi.
“Ya. Harusnya saat ini aku sudah berada di rumah bersama istri dan anakku, andai kau tak mengajak bertemu.”
Ben tergelak, ia tahu Owen sengaja mengatakan itu untuk membuatnya cemburu. “Iya, iya, yang sudah punya istri dan anak, dipamerin mulu.”
“Direbut orang, tahu rasa!” imbuhnya membalas candaan Owen.
“Si*lan! Coba saja kalau ada yang berani!”
Setelah saling melempar dan membalas candaan, kedua teman lama itu pun tertawa bersama. Bagi sebagian besar wanita di sekitar mereka, pemandangan itu adalah rezeki nomplok di kala senja. Melihat wajah tampan dua pria sedang tertawa, oh … indahnya dunia.
“Katakan, mengapa kau menemuiku?” tanya Owen mulai serius. “Pria sibuk sepertimu, tak mungkin menemuiku hanya karena ingin minum secangkir kopi denganku.”
Ben makin tergelak. Owen tetaplah Owen. Sejak dulu selalu saja serius, sangat sulit untuk diajak bercanda. “Jadi sudah cukup nih basa-basinya,” ucap Ben di sela-sela tawanya.
“Wen, sungguh aku menanyakan ini hanya karena rasa penasaranku saja. Kau tahu bukan, aku bahkan sudah jujur padamu jika sejak dulu aku tergila-gila pada istrimu,” ungkap Ben.
Mendengar pengakuan Ben, wajah Owen berubah dingin. Dalam hatinya ia merutuki kebodohan Ben yang seenaknya mengaku tergila-gila pada istri orang di depan suaminya.
__ADS_1
“Lalu?”
“Aku hanya ingin tahu, apa dulu sebelum menikah kalian berpacaran?” tanya Ben.
“Urusannya denganmu apa?!”
“Penasaran, Wen. Hanya penasaran, sumpah!” Ben menaikkan dua jarinya membentuk huruf V.
“Tetap saja, aku tak akan menjawab pertanyaanmu,” ucap Owen.
“Lalu, bagaimana menurutmu jika ada yang mengatakan bahwa Tessa sudah hamil saat menikah denganmu?” tanya Ben lagi.
“Omong kosong dari mana itu?!”
Bagi Owen hal itu memang omong kosong. Saat menikah dengan Tessa, wanita itu tak sedang hamil. Tetapi ia sudah melahirkan.
“Lalu apa maksud Nawra jika Tessa menjebakmu?” tanya Ben dengan wajah bingungnya.
“Nawra?! Maksudmu semua omong kosong ini kamu tahu dari wanita itu?”
Ben mengangguk. Meski Owen terlihat marah, Ben pikir ia tak perlu khawatir. Apa yang dia tanyakan pada Owen, tak ada yang dia lebihkan atau kurangi. Dia hanya ingin mengetahui kebenaran atas ucapan Nawra yang menjelek-jelekkan wanita yang diidolakannya.
Tanpa perlu mendengar penjelasn Ben lebih jauh lagi, Owen segera beranjak dari kursinya. Secangkir kopi yang bahkan belum ia cicipi, ia tinggalkan begitu saja. Melihat kemarahan Owen, Ben semakin curiga. Benarkah ucapan Nawra? Tanya Ben dalam hati.
“Si*lan!” umpat Owen. Emosinya sedang membara di dalam dada. Bahkan padatnya kendaraan di jalan raya yang menghambat laju mobilnya pun menjadi sasaran emosi Owen.
“Mengapa harus macet segala sih!” gerutunya.
Ah, dokter muda nan tampan itu sudah tak sabar ingin segera menemui Alfio. Jika ada kesempatan, ia tak akan segan-segan untuk melayangkan tinjunya pada wajah Ayah kandung dari putrinya-Ayasya.
Setelah tiga puluh menit terjebak dalam kemacetan yang cukup parah, akhirnya mobil Owen berhasil lolos. Kaki kanannya semakin dalam menginjak pedal gas, agar laju mobilnya semakin cepat. Hingga ia tiba di depan restoran milik Alfio.
“Selamat malam, Tuan. Ingin meja untuk berapa orang?” sapa seorang pelayan dengan senyum ramahnya.
“Saya ingin menemui Bosmu. Di mana dia?!” jawab Owen.
“Bos? Hem, boleh tahu ada keperluan apa?” tanya Si pelayan.
“Panggilkan saja. Ini urusan pribadi!”
“Baik, Tuan. Akan segera saya panggilkan manajer saya,” jawab pelayan itu mulai takut-takut setelah intonasi suara Owen meninggi.
__ADS_1
“Hei! Bukan manajermu. Aku ingin bertemu pemilik restoran ini, Alfio. Di mana dia?”
“Oh, Tuan Alfio … beliau ada di ruangannya. Ta-tapi Anda harus buat janji leb-“ ucapan Si Pelayan di sela oleh orang yang sejak tadi menjadi bahan perbincangan.
“Tak perlu. Aku akan menemuinya!” Seru Alfio yang tiba-tiba muncul di dekat mereka.
“Ada apa ingin menemuiku? Ingin bicara di mana? Di sini atau di ruanganku saja?” tanya Alfio pada Owen.
“Jika kau tak akan malu saat aku memukul wajahmu di depan karyawanmu, maka tak masalah kita bicara di sini saja,” jawab Owen.
Kening Alfio mengernyit. Apa lagi masalahnya? Pikirnya.
“Baiklah, kita bicara di ruanganku saja,” putus Alfio lalu ia pun berjalan lebih dulu untuk menunjukkan jalan menuju ruangan kerja pribadinya.
...…...
Sementara itu di desa, sudah hampir dua jam Nawra menunggu di dalam mobilnya. Qanita, gadis itu benar-benar membuktikan ucapannya. Ia sama sekali tidak mengiba pada Nawra yang menunggu seorang diri di dalam mobil meski langit sudah mulai gelap.
Kesabarannya tersisa sedikit. Sedikit lagi ia sudah akan melajukan mobilnya meninggalkan desa itu, namun seseorang yang mengetuk kaca jendela mobilnya menghentikannya.
“Nawra?! Kau sedang apa di sini?” tanya Bu Damira dengan wajah herannya.
“Ibu!” seru Nawra girang. Akhirnya penantian panjangnya tak sia-sia.
“Tentu saja aku ingin menemuimu, Bu.” Nawra segera keluar dari mobilnya. Ia tatap wajah lesu Bu Damira. Sepertinya suasana hati wanita tua ini sedang buruk, batinnya.
“Ingin menemuiku? Untuk apa?”
“Aku punya cara paling ampuh, dijamin sukses untuk memisahkan Tessa dan Owen,” jelas Nawra.
Bu Damira menghela napasnya. Ia bersikap tak acuh dengan ucapan Nawra. “Jika idemu itu hanya omong kosong lagi, maka sebaiknya kau pergi.”
“Kau tahu, kepalaku sedang sakit karena bukan aku yang dapat arisan. Jadi, kau jangan menambah beban pikiranku dengan idemu!”
Nawra berdecak. Apa-apaan sih! Jika dia tak yakin kali akan berhasil, mana mau dia jauh-jauh ke desa bahkan menunggu berjam-jam, gerutunya dalam hati.
“Ta-tapi Bu, dengarkan aku dulu!” Nawra berusaha menyamakan langkahnya dengan Bu Damira yang berjalan memasuki rumahnya.
“Aku yakin kali ini akan berhasil,” cegah Nawra.
“Aku yakin, Bu. Percaya padaku sekali ini saja,” ucapnya meyakinkan Bu Damira. Sementara Bu Damira masih terus bersikap tak acuh.
__ADS_1
“Aku tak akan memaksa. Tapi, kumohon dengarkan rencanaku dulu, Bu!”
...—————————...