Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 55. Boneka Kelinci


__ADS_3

“Hai, Ayasya ….”


Rupanya menyapa Ayasya yang tak lain adalah putri kandungnya, jauh lebih sulit yang ia pikirkan. Apalagi saat kedua netra gadis kecil itu berkedip-kedip menatapnya, Alfio merasa jantungnya berdetak sangat cepat.


“Hai, paman,” jawab Ayasya ramah.


Saat gadis kecil itu tersenyum padanya, Alfio seperti sedang melihat dirinya di cermin. Tak salah lagi, kamu memang putriku, batinnya.


Melihat seorang paman yang tak ia kenali hanya bergeming, membuat Ayasya bingung. Gadis kecil itu turun dari papan jungkat-jungkitnya, lalu berjalan mendekati Alfio.


Tinggi badan mereka yang memiliki selisih yang cukup besar mengharuskan Alfio bertumpu pada satu lututnya agar bisa berdiri sejajar dengan Ayasya. Ragu-ragu dia mendekat saat Ayasya memanggilnya dengan gerakan tangannya.


“Tenapa Paman manggil aku?” tanya Aya.


“Pa-Paman?” gumam Alfio lirih.


Putriku sendiri tak mengenaliku?! Batinnya.


“Paman, kok malah bengong cih?” Ayasya menatap Alfio dengan kedua mata yang masih berkedip-kedip lucu. Bulu mata lentiknya sungguh nampak cantik.


“Ah, enggak kok. Pa-Paman enggak bengong,” elak Alfio.


“Paman hanya terlalu senang karena akhirnya bisa bertemu kamu,” akunya jujur.


“Memangnya Paman ini ciapa?”


Raut wajah bingung dan penuh tanya dari Ayasya sungguh menggemaskan di mata Alfio. Ia sudah tak sabar ingin mengatakan dengan lantang jika dia adalah ayah kandungnya. Lalu, dalam bayangannya Ayasya akan berlari menghampirinya kemudian memeluknya.


“Tapi, Paman kok bawa-bawa boneta cih? Memangnya Paman cuka main boneta?” Ayasya tampak malu-malu saat mengatakannya, hal itu makin membuat Alfio gemas padanya.


“Cama dong! Aku juga cuka main boneta,” celoteh Aya dengan suara pelan seraya menunduk.


Alfio tertawa lalu mengacak rambut Ayasya. “Lucu sekali sih, kamu.”


“Kamu mau boneka kelinci ini?” tanya Alfio dan Aya menjawab dengan mengangguk.


“Boleh aja. Boneka lucu ini memang Paman bawa untuk diberikan pada anak secantik kamu,” ucap Alfio.


“Tapi, bolehkah Paman meminta satu permintaan?”


Ayasya awalnya diam sembari berpikir sesaat. Namun, saat melihat ada pria lain dengan badan kekar berjalan cepat mendekat ke arah mereka, Ayasya pun melangkah mundur perlahan. Melihat itu kening Alfio mengernyit.


“Hei, Aya kenapa? Aya marah, ya?”


Ayasya menggeleng, lalu menunjuk ke arah pria bertubuh kekar yang berdiri di belakang Alfio. “I-itu, Aya takut,” akunya.


Alfio segera balik badan dan melihat Roy ada di sana. Pantas saja anak-anak takut, seorang pria berbadan kekar dengan tato yang memenuhi salah satu tangannya, pikir Alfio.


Sementara dalam benak Aya, pria di belakang Paman pemilik boneka kelinci adalah orang yang jahat. Dia jadi ingat, berita penculikan anak-anak yang Ayahnya nonton di televisi. Penculiknya tampak mirip dengan pria itu.


Alfio menghampiri Aya yang terus berjalan mundur. “Ayasya jangan takut, dia itu temannya Paman,” bujuknya.


“Apa Paman juga penculik?”


“Hah?!” Alfio tak menyangka jika putrinya malah mengira dirinya penculik. Si*l, kenapa juga Si Roy harus tiba-tiba muncul! Gerutunya dalam hati.


“Tentu saja bukan! Mana mungkin Paman adalah penculik,” elak Alfio.


“Tapi, Ayasya … hem, boneka kelinci ini akan Paman berikan pada kamu. Tapi, dengan satu syarat.”


“Carat? Apa itu, Paman?” tanya Ayasya. Meski sudah tak lagi berjalan mundur, namun sesekali ia masih melirik ke arah Roy seolah sedang waspada.


“Bisakah kamu berhenti memanggilku Paman?”


“Tenapa? Telus aku manggilnya apa dong?” tanya Aya yang tampak bingung.

__ADS_1


“Panggil aku Papa,” pinta Alfio.


“Pa-pa? Tenapa halus Papa?” tanya Ayasya. “Kan Aya udah punya Ayah,” gumamnya bingung.


Alfio membelai lembut puncak kepala Ayasya. “Itu karena sebenarnya aku adal-“


“Hei, kamu! Menjauh dari putriku!” Teriakan Tessa menghentikan ucapan Alfio.


Dari kejauhan, Tessa berlari menghampiri putrinya. Memposisikan Ayasya agar gadis kecil itu berdiri di belakangnya.


“Mau apa kamu ke mari, hah?!” bentak Tessa.


Alfio menghela napas berat. Dia yang tadinya berdiri dengan lututunya sebagai tumpuan, kini bangkit. Ia berdiri mensejajarkan dirinya dengan Tessa- Ibu dari putri kandungnya.


“Hei, tenanglah! Lihat, kamu membuat anak-anak jadi takut,” ucap Alfio menenangkan Tessa.


“Masa bodoh! Aku enggak peduli. Yang penting sekarang, kenapa kamu berani-beraninya datang ke sini dan menemui putriku?!”


“Kenapa aku tidak boleh ke sini? Kenapa aku tidak boleh menemui put-“ ucapan Alfio lagi-lagi disela Tessa.


“Jaga ucapanmu! Jangan asal bicara!” peringat Tessa.


“Asal bicara apa? Yang akan aku katakan, semuanya adalah fakta,” ujar Alfio.


“Aku tak peduli dengan apa yang kamu maksud. Itu bukan urusanku!” balas Tessa.


Alfio tertawa. “Tessa, Tessa … kamu yakin benar tak peduli? Kamu yakin ini bukan urusanmu? Jadi, apa boleh aku beberkan semua fakta itu saat ini?”


Jelas sekali wajah ketakutan Tessa. Alfio merasa dirinya menang kali ini. Benar kata Roy, Ayasya-putri kecilnya itu adalah jalan baginya untuk merebut Tessa.


“Gil*, kamu!” umpat Tessa lirih. “Kita bicara di luar!”


Setelah Alfio mengangguk dan menyetujui permintaan Tessa, ia kemudian pergi keluar lebih dulu.


“Iya, Bunda,” jawab Aya.


“Aya kok bisa ngobrol dengan Paman yang tadi? Apa Aya lupa pesan Bunda untuk tidak dekat-dekat dengan orang asing,” ujar Tessa.


Ayasya hanya menunduk. Karena tertarik pada boneka kelinci tadi, dia jadi melupakan nasihat Ayah dan Bundanya. “Maapin Aya ya, Bun,” sesalnya.


“Janji,!enggak atan ulang lagi,” imbuhnya.


...…...


Saat Tessa dan Aya keluar dari Taman Kanak-Kanak, rupanya Alfio dan Roy masih setia menunggu. Bahkan, kedua pria itu bersandar pada mobilnya.


Tessa menghela napasnya. Di benaknya kini Tessa memikirkan sejauh apa Alfio mencari tahu mengenai dirinya dan hidupnya. Bahkan dari sekian banyak mobil yang terparkir, Alfio tahu jika mobil itu adalah miliknya.


Tak mungkin jika itu hanya kebetulan atau dia asal menebak saja, batin Tessa.


“Minggir!”


Alfio dan Roy mengangkat kedua tangannya lalu bergeser. “Silakan Bunda,” ucap Alfio yang segera di balas Tessa dengan tatapan tajamnya.


Setelah meminta Aya menunggu di dalam mobil, Tessa akhirnya menemui Alfio.


“Katakan apa maksudmu menemui putriku?! Apa yang kamu inginkan?” tanyanya.


“Putrimu?! Putri ki-ta, Tessa!” Alfio sengaja menekankan kata kita, berharap Tessa sadar jika dirinya juga punya hak menemui Ayasya.


“Sejak kapan Ayasya menjadi putrimu?!” elak Tessa.


Alfio tertawa. “Haruskah aku menjawab pertanyaanmu itu? Sejak kapan katamu?! Ayasya itu darah dagingku, anak kandungku! Silakan kamu pikirkan sejak kapan Ayasya menjadi putriku!”


“Jangan asal bicara kamu. Ayasya tak punya ayah sepertimu. Sampai kapan pun tak akan ada yang berubah. Kamu bukan ayah Ayasya!”

__ADS_1


Setelah berteriak, melampiaskan semua yang ia tahan dalam dadanya, Tessa pergi begitu saja. Tessa tak peduli dengan Alfio yang berdiri mematung di tempatnya.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Tessa mengusap air mata yang berada di sudut matanya. Jangan sampai Aya tahu jika dirinya baru saja menangis.


“Maaf karena membuat anak cantiknya Bunda menunggu,” ucap Tessa setelah memasang sabuk pengaman.


Ayasya menggeleng. “Enggak kok, Bun.”


“Hem … Tapi, Bunda, apa Paman kelinci itu olang jahat? Apa dia menyakiti Bunda?” tanya Aya karena khawatir.


“Bu-bukan, Nak. Paman tadi bukan orang jahat,” jawab Tessa.


“Ta-tapi, maukah Aya berjanji satu hal pada Bunda?”


“Apa itu, Bunda?” tanya Aya.


“Jika paman itu datang lagi, bisakah Aya janji untuk tidak menemuinya?” pinta Tessa.


Cukup lama Aya berpikir. Ia menunduk, memikirkan mengapa Bundanya melarang padahal Paman tadi bukan orang jahat. Namun, pada akhirnya Aya tetap saja mengangguk. Tak mungkin ia mengecewakan sang Bunda.


“Anak pintar. Terima kasih, Nak.”


Tessa sekarang bisa sedikit tenang. Dia tahu, putrinya selalu bisa menepati janji. Setidaknya kini peluang Alfio untuk bicara pada Aya semakin kecil, batinnya.


...…...


Sesuai janji, siang ini Tessa dan Aya akan menemui Owen di Rumah sakit. Mereka memiliki rencana makan siang bersama.


Meski sudah sering datang ke sana, sepasang Ibu dan Anak itu masih saja selalu menarik perhatian. Bahkan beberapa dokter baru yang tak mengetahui siapa mereka, mengira jika Tessa adalah kakak Aya.


Krieet …. Bunyi derit pintu ruangannya yang dibuka, mengalihkan perhatian Owen dari tumpukan kertas di hadapannya.


“Ayah!” Ayasya berlari dengan riang menghampiri Ayahnya.


Owen pun tak kalah senangnya. Segera ia memangku putri kesayangannya itu.


“Ekhem ….” Tessa berdeham.


“Kalian berdua kalau udah ketemu, pasti deh Bunda dilupain.” Tessa pura-pura memasang wajah sedihnya.


“Uh, maaf ya, Bunda.” Owen berusaha menarik tangan istrinya agar mendekat padanya.


“Jangan ngambek dong, Bunda. Mau dipangku juga? Sini!” ucap Owen menggoda istrinya.


“Bang! Apaan sih, enggak malu apa sama anak!” balas Tessa.


“Ya sudah, sekarang mending kita berangkat ke restoran. Aya pasti sudah lapar,” ajak Owen.


Tessa dan Aya semakin bersemangat. Memang sejak tadi Aya mengeluh jika dirinya sudah lapar.


“Tapi, Ayah … boleh Aya minta sesuatu?” tanya Aya ragu.


“Boleh dong! Aya pengen apa? Nanti akan Ayah usahain,” jawab Owen.


“Aya ingin boneta kelinci,” jawab Aya polos.


Berbeda dengan Tessa yang mulai panik. Wajahnya sontak memucat. Dia tahu betul boneka kelinci apa yang Aya maksud.


“Boneka kelinci?”


“Iya Ayah … boneta kelinci walna putih. Milip punya Paman yang tadi,” jawab Aya.


“Paman? Paman siapa?”


...————————...

__ADS_1


__ADS_2