Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 106. Akhirnya ….


__ADS_3

“Bu-Bu-Bunda.” Owen menelan salivanya dengan kasar. Melihat tampilan memukau istrinya, membuat kerinduan Owen sudah melewati puncaknya.


Semoga malam ini keberuntungan berpihak padaku, doa Owen dalam hati.


“Hem,” jawab Tessa dengan berdeham. Ibu hamil yang perutnya mulai terlihat buncit itu naik ke atas tempat tidur. Pandangan Owen tak pernah lepas dari Tessa barang sedetik. Tak salah jika menyebut Owen telah lupa caranya berkedip saat menatap tubuh molek istrinya.


“Aku sangat merindukanmu,” ungkap Owen. “Aku ingin jelaskan semuanya.”


Tessa tergelak. “Maksud kamu apa, Bang?” tanya Tessa disusul tawanya. “Kalau rindu ya rindu saja. Ngapain pakai dijelasin segala.”


Tessa terus menertawakan Owen. Semetara pria itu hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. “Bukan seperti itu Bun maksudku.”


“Aku sangat merindukanmu itu tentu saja benar. Tapi, bukankah aku juga perlu menjelaskan mengenai kebohongan yang kamu bahas di meja makan tadi?”


“Ingat janji kita kan, Bunda sayang?” Usaha Owen membujuk Tessa tentu tak akan mudah, ia sadari itu.


Semoga usahanya membuahkan hasil yang setimpal malam ini, pikirnya. “Kita sudah berjanji untuk selalu membicarakan masalah apa pun itu.”


“Jadi kamu ngaku nih. Benar kan kamu udah bohongin aku?!”


“I-iya, Bun,” jawan Owen terbata-bata. “Tapi aku jujur, Bun. Semua ini awalnya bukan ideku,” lanjut Owen. Maafkan aku, Alfio. Aku harus menyelamatkan diriku malam ini dan malam-malam berikutnya, batin Owen.


“Tak peduli idenya siapa, harusnya Bang Owen juga bicara padaku. Apa kalian pikir aku tak akan setuju? Apa kalian pikir hanya kalian yang ingin memperbaiki semuanya?”


Salah langkah! Sesal Owen dalam hati. Sekarang bayangan seberapa panasnya ia akan melewati malam ini, perlahan beranjak menjauh dari pandangannya.


Harusnya bicarakan ini nanti saja. Ah, aku lupa! Harusnya aksi dulu baru bicara, gerutu Owen masih sebatas dalam hati saja.


“Bu-bukan begitu, Bun. Tapi, kata Alfio kondisi kesehatan kamu kan belum pulih benar. Dia hanya khawatir seandainya ini akan jadi beban pikiran kamu.”


Pantang menyerah Owen membela dirinya. Biarlah Alfio menjadi yang paling bersalah malam ini, pikir Owen. Walau ia akui dirinya juga bersalah, tapi Alfio tetap harus yang paling salah. Titik.


“Oh, jadi hanya Alfio yang peduli pada kesehatanku. Kamu enggak Bang?”


Bisakah aku memghilang sejenak? Seandainya aku punya kekuatan itu, batin Owen.


“Bukan begitu, Bun. Astaga …” Owen mengacak rambutnya frustasi. “Aku jadi serba salah, Bun.”


“Jadi udah ngaku salah nih, Bang?”


Tak bisa mengelak lagi. Dengan segala kerendahan hatinya, Owen mengangguk. Ia harus mengalah pada wanita cantik yang sedang mengandung buah hatinya itu.


“Baiklah, karena suamiku ini sudah mengaku salah. Jadi, terima dong kalau seminggu ini enggak ada jatah malam?!”


“Apa?! Mana bisa begitu, Bun?” protes Owen tak terima. “Aku kan rindu banget sama kamu, Bunda sayang.”


Tessa diam cukup lama. “Hem … tapi karena rencana kalian berhasil, aku ngasih keringanan deh Bang.”

__ADS_1


Senyum Owen mengembang. Ada harapan, pikirnya.


“Jatah malam seminggu enggak ada. Tapi karena anak kita rindu ayahnya, jadi peluk-peluk boleh deh,” ucap Tessa.


“Apa?!” Owen memekik. “Bun, itu kejam banget loh. Mana bisa tidur meluk doang. Mana kamu pakainya baju tempur gitu. Makin menyiksa.”


Tessa tertawa. Misinya balas dendam sukses. “Ini kan karena bumil suka kepanasan kalau tidur. Makanya pakai baju ginian.”


“Ya udah deh, Bang. Kalau Bang Owen enggak mau meluk juga enggak masalah. Aku enggak maksa kok,” lanjut Tessa pura-pura merajuk. Ia bahkan berbaring memunggungi suaminya.


“Eh, siapa yang bilang enggak mau!” seru Owen. “Meluk kamu mana mungkin nolak sih. Apalagi yang minta anak kita.”


“Sini deketan dong, Bun. Maunya anak kamu ini,” ucap Owen semakin merapatkan tubuhnya dengan sang istri.


Owen memeluk Tessa sangat erat. Malam ini ia yakin akan tidur nyenyak sebab Tessa ada dalam pelukannya. Setelah sekian lama ia tidur tak pernah lebih dari tiga jam, akhirnya malam ini ia optimis akan tidur cukup.


Sayangnya hingga pagi menjelang, Owen kesulitan untuk terlelap. Berbeda dengan Tessa yang tampak sangat segar saat pertama kali membuka mata. Kegelisahan di malam-malam sebelumnya saat harus tidur terpisah dari suaminya, akhirnya sirna sudah. Tidur dalam pelukan sang suami adalah hal paling nyaman sejauh ini.


“Kok kusut begitu mukanya, Bang?” tanya Tessa dengan wajah tanpa dosa.


“Cih, malah tanya. Ini kan karena kamu, Bun,” jawab Owen terlihat sebal.


“Aku?! Kok aku sih?” Tessa antara bingung dan tak terima.


“Semalam susah tidur, Bun. Soalnya yang di bawah enggak bisa tidur juga. Meronta-ronta, nyari sarang kali!” jawab Owen asal seraya menunjuk ke tempat paling sensitif di tubuh istrinya.


Setelah bersiap, sepasang suami istri itu keluar bersamaan dari kamar dengan raut wajah yang berbeda. Tessa dengan senyumnya yang secerah mentari, sedangkan Owen dengan wajahnya cemberutnya.


Raut wajah Owen tak jauh berbeda dengan Alfio. Rupanya pria itu semalam juga tak bisa tidur. Alfio yakin, yang terjadi padanya semalam juga bagian dari rencana balas dendam Tessa.


Bagaimana Alfio bisa tidur dengan nyenyak, saat tempat tidur milik Ayasya saja tak cukup memuat setengah dari tubuhnya. Setelah beberapa jam mencoba berbagai gaya, berusaha agar tubuhnya bisa berbaring di tempat tidur Aya, usaha Alfio berakhir sia-sia. Tetap saja, kedua netranya tak bisa terpejam.


Mendekati subuh, akhirnya Alfio memutuskan untuk tidur di lantai, beralaskan karpet dan selimut bulu warna merah muda yang lebarnya hanya mampu menutupi kakinya. Alhasil, hingga pagi tiba, tak ada semenit pun Alfio bisa tertidur.


Tessa yang mendengar cerita dramatis Alfio semalam, hanya bisa menahan tawanya. Misi sukses! Batinnya.


...…...


Waktu berlalu tanpa terasa. Hari-hari yang dilalui oleh keluarga Owen terasa menyenangkan. Seperti hari ini, kebahagiaan kembali menyelimuti keluarga kecil itu.


Hari ini, kehamilan Tessa menginjak usia tujuh bulan. Bu Damira dan Mami Fhanie memaksa Owen dan Tessa untuk mengadakan acara syukuran tujuh bulanan. Sebagai anak dan menantu yang baik, keduanya setuju-setuju saja. Apalagi, Bu Damira dan Mami Fhanie berjanji membantu menyiapkan semua keperluan acaranya.


Acara tujuh bulanan Tessa berjalan lancar. Mulai dari pengajian dan rentetan acara adat telah selesai digelar. Kini saatnya para sahabat dan keluarga Tessa juga Owen yang banyak membantu acara ini untuk beristirahat.


“Nanti cowok atau cewek lagi ini?” tanya Sandy.


Owen menggeleng. “Kami sengaja enggak mau cari tahu jenis kelamin calon anak kami,” jawab Owen.

__ADS_1


“Tessa dan Bang Owen enggak asyik nih! Padahal baru aja aku mau buatin surprise gender reveal party,” celetuk Phila.


“Bener enggak, Sea?” tanya Phila meminta persetujuan sahabatnya.


Namun, Sea sengaja menggeleng untuk menggoda sahabatnya itu. Tawa pun akhirnya pecah di antara mereka saat melihat wajah cemberut Phila. Phila yang tak terima terus berceloteh dibantu Aya dan Qanita yang menjadi pendukungnya.


Tessa merasa sangat bahagia, kehangatan seperti ini yang selalu ia rindukan bersama dengan sahabat-sahabatnya. Rasa haru tiba-tiba saja ia rasakan. Hal itu membuat air mata menggenangi pelupuk matanya. Owen yang melihat itu segera memeluk Tessa dari belakang. Ia sandarkan punggung Tessa ke dada bidangnya.


“Kok malah sedih?” tanya Owen berbisik.


“Enggak sedih, Bang. Aku bahagia,” jawab Tessa jujur.


Owen tahu jawaban istrinya itu adalah jawaban yang jujur sebab ia pun merasakannya. Rasanya Tuhan membalas kesedihannya beberapa waktu lalu dengan banyak kebahagiaan.


Terlebih Owen kini bisa merasa cukup tenang sebab janjinya pada Alfio juga sudah ia tepati. Entah bagaimana cara ia mengucap syukur, putrinya-Ayasya perlahan bisa mengerti. Tak terlihat bingung, gadis kecil itu malah tampak begitu riang saat tahu jika ia memiliki dua ayah sebab keduanya begitu sayang padanya.


Tessa menoleh pada Owen yang sedang melamun. “Kok diam, Bang? Aku berat ya, nyandar gini?”


“Enggak kok. Kamu enggak berat kok, Bun.”


Tessa berdecak. “Ck! Bang Owen bohong nih! Berat badan aku sudah naik 14kg loh!”


Owen menghela napas. Dia sudah tahu akan bagaimana akhirnya perdebatan ini jika menyangkut dengan berat badan. Tak ingin perdebatan semakin panjang, akhirnya Owen membungkam istrinya dengan ciuman di bibir. Sontak semua orang yang melihat menyoraki pasangan itu.


Alfio yang duduk di samping Owen, ikut-ikutan bersorak lalu menyandarkan kepalanya di bahu Owen. “Kalian kayaknya bahagia banget, ya!”


Kening Owen mengernyit. Ia sengaja goyang-goyangkan bahunya agar Alfio memindahkan kepalanya. “Makanya kamu cari istri juga dong!”


“Aku enggak mau nyari. Aku lagi nungguin seseorang,” jawab Alfio.


Owen mengamati arah pandang Alfio. Kedua netranya membelalak saat menyadari jika pria itu kini sedang memandangi Qanita, adiknya. Sontak saja Owen mendorong tubuh Alfio menjauh darinya.


“Kamu?!” Owen memicingkan matanya menatap Alfio.


“Aku kenapa? Kan enggak ada yang tahu bakalan jatuh cinta pada siapa,” ucap Alfio membela dirinya.


Owen hanya bisa menghela napasnya. “Awas saja jika kamu berani macam-macam pada adikku. Dia masih harus menyelesaikan kuliahnya. Dia punya mimpi, jangan sampai kamu hancurkan itu.”


Alfio bisa merasakan jika peringatan Owen benar-benar serius. Mengingat bagaimana sepak terjangnya, Alfio bisa mengerti jika pria itu mengkhawatirkan adiknya.


“Tenang saja, Kakak Ipar. Aku janji hanya akan satu macam saja dengan adikmu,” balas Alfio menggoda Owen. Tessa yang hanya menjadi penonton, akhirnya tertawa melihat Alfio menggoda suaminya.


Tessa merasa harus banyak bersyukur hari ini. Sejak ia membuka mata, tak terhitung lagi besarnya kebahagiaan yang ia rasakan.


Terima kasih, Tuhan. Aku sungguh merasa bersyukur dengan semua yang telah Engkau beri untukku. Aku merasa semua kebahagiaan ini lebih banyak dari apa yang harusnya kudapatkan. Aku sungguh mensyukurinya, Ya Tuhan. Namun, izinkan aku meminta lagi padaMu. Kumohon, jaga semua orang-orang yang kusayangi. Berikanlah mereka kebahagiaan. Aamiin.


...-Tamat-...

__ADS_1


__ADS_2