Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 47. Perdebatan bersama Ibu Mertua


__ADS_3

“Bu!” pekikan Nawra terdengar jelas di telinga Tessa.


Tessa menghela napas perlahan. Andai saja hubungannya dengan sang Ibu mertua baik, mungkin dia akan mempercepat langkahnya. Ia akan menghampiri Nawra, lalu menegur wanita itu. Bisa-bisanya dia memekik di hadapan orang yang lebih tua. Di mana sopan santunnya, apa lagi dia mengenal baik Bu Damira.


“Kamu jangan mudah putus asa dong!” balas Bu Damira. Intonasi suara Bu Damira juga mulai meninggi.


Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? tanya Tessa dalam hatinya. Rasa penasarannya mendukung Tessa untuk melakukan perbuatan yang tidak terpuji, yaitu menguping.


Awalnya Tessa sengaja memelankan langkahnya. Berharap masih ada potongan-potongan pembicaraan Ibu mertuanya dan Nawra yang bisa didengarnya. Sayangnya, bunyi alunan musik yang diputar menghalangi pendengarannya.


“Ah! Bagaimana ini? Apa aku langsung menyela saja, ya,” gumamnya lirih.


“Tapi, bagaimana jika mereka merencanakan sesuatu lagi? Aku kan bisa waspada.”


Dengan banyak pertimbangan, alhasil di sinilah Tessa saat ini. Di balik dinding, bersembunyi dari Ibu mertuanya dan Nawra. Meski tak dapat melihat keduanya, tapi, dari tempatnya ia bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka.


“Bagaimana aku enggak putus asa, Bu. Aku baru saja dipermalukan oleh putra, Ibu!” Decakan di akhir ucapannya, menandakan bagaimana kekesalan Nawra akan kejadian tadi.


Di balik dinding, Tessa menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Ia sedang menahan tawa saat wajah merah bagai tomat milik Nawra terbayang kembali.


“Oke, itu tadi adalah sebuah kesalahan. Ibu tak menyangka Owen akan melakukan itu,” ucap Bu Damira.


“Owen itu dulunya penurut, loh. Setelah ada wanita murahan itu, barulah Owen banyak berubah,” lanjutnya.


“Wanita murahan?” ulang Nawra.


Masih di balik dinding, Tessa tak terkejut lagi dengan julukan yang diberikan Bu Damira kepadanya. Wanita murahan hanya salah satu dari banyak hinaan yang telah ia terima dari Ibu mertuanya.


“Murahan bagaimana, Bu? Apa dia suka merayu pria lain? Apa Ibu pernah memergokinya?” cecar Nawra.


“Harusnya, Ibu langsung laporin saja ke Owen. Biar wanita itu dicampakkan!” Tanpa menunggu jawaban Bu Damira, Nawra terus saja mengoceh.


Terdengar helaan napas Bu Damira. “Bukannya murahan yang seperti itu, tapi ….”


“Tapi apa, Bu?” desak Nawra tak sabar.


Bu Damira bungkam beberapa saat. “Tapi, dia itu dinikahi karena hamil duluan!” ungkapnya.


“Hah?!” Nawra menutup mulutnya dengan kedua tangan. Rasanya tak percaya, Owen, pria pujaannya yang tak tampak seperti pria bad boy sampai menghamili wanita di luar pernikahan.


“Benarkah itu, Bu?” tanyanya untuk meyakinkan.


“Untuk apa aku bohong,” jawab Bu Damira.


“Kamu pikir apa alasanku membenci Tessa?! Aku yakin, jika dia sengaja menggoda Owen. Aku bisa merasakan, jika tak ada cinta untuk wanita itu. Putraku yang malang hanya terpaksa.”


Tessa yang masih setia berdiri di balik dinding merasa sungguh kecewa dengan Ibu mertuanya. Jika Owen susah payah untuk menyembunyikan rahasia kelauarganya, mengapa Ibunya dengan mudah mengungkap segalanya.


Tessa mengasihani suaminya, Owen tak bersalah sedikit pun. Namun banyak orang, termasuk Ibunya sendiri yang membicarakan hal buruk mengenai dirinya.

__ADS_1


Air mata menggenangi pelupuk mata Tessa. Ibu mertuanya benar-benar keterlaluan. Apa dia tak memikirkan perasaan putranya, seandainya Owen tahu apa yang Ibunya katakan pada Nawra?! Batin Tessa.


“Bu, jadi kapan mereka menikah?” tanya Nawra.


“Setelah wanita itu melahirkan,” jawab Bu Damira seraya mengedikkan bahunya.


“Apa?! Jadi, Aya lahir sebelum pernikahan terjadi?! Itu artinya, Aya adalah anak har-“


Pekikan Nawra terhenti karena lengannya ditepuk oleh Bu Damira. “Hust! Jangan asal ngomong kamu. Bagaimanapun, Aya itu tetap darah daging Owen. Yang bersalah di sini itu adalah Tessa.”


“Sekarang kamu tahu alasan mengapa aku membenci Tessa,” ungkapnya. “Aku yakin, tak ada cinta dari Owen untuk wanita murahan itu. Wanita pembawa sial di kehidupan putraku!”


Sakit … ibu mana yang tak sakit hati ketika mendengar pembicaraan buruk mengenai anaknya. Begitulah yang terjadi pada Tessa saat ini. Amarah dalam dirinya memerintahkan Tessa untuk melabrak Bu Damira dan tetangganya itu.


Namun, di sisi lain ia juga berpikir, seandainya ia gegabah dan melakukan hal itu maka sudah pasti akan menimbulkan keributan. Bukan tak mungkin, rahasia mengenai putrinya yang selama ini ia tutupi rapat-rapat, akan diketahui oleh lebih banyak orang.


Juga ada Aya, putrinya di luar sana menanti dirinya. Tessa tak ingin putrinya melihatnya dalam keadaan meledak-ledak. Ia tak ingin kelak putri kesayangannya itu mencontoh hal yang tak baik dari dirinya.


Dengan langkah lebar dan cepat, Tessa meninggalkan tempat itu. Di luar, Owen dan Aya masih setia menanti.


“Ayo, pulang! Tinggalkan saja Ibu di sini.”


“Memangnya ada apa?” tanya Owen.


“Aku tak ingin membahasnya di sini!” jawab Tessa.


Sesampainya di rumah, Tessa masih saja bungkam. Owen menunggu Tessa memulai pembicaraan lebih dulu, sebab ia tahu istrinya dalam keadaan emosi.


Sejujurnya, dalam hati Owen juga saat ini menyimpan pertanyaan yang hendak menuntut jawaban. Bukan hanya Tessa, dirinya pun saat ini sedang menahan kekesalan setelah tadi melihat istrinya berbincang dengan Ben.


Tessa mengabaikan Owen. Dia tampak terburu-buru melakukan semua hal. Mulai dari membersihkan riasan wajahnya, mandi, hingga menidurkan Aya, semuanya dia lakukan dengan terburu-buru.


Hingga ketika terdengar teriakan Ibu dari luar, “Ibu pulang,” barulah Tessa mengeluarkan suaranya.


“Ayo, Bang! Kita keluar dan temui Ibu. Aku ingin bicara dengannya,” pinta Tessa dan Owen pun mengikuti langkahnya.


Bu Damira tampak duduk bersandar pada sofa di ruang tengah. Kedua tangannya ia rentangkan ke samping, pertanda jika kini dirinya kelelahan. Meski matanya memejam, namun ia bisa merasakan kehadiran Tessa dan Owen.


Tessa mengambil posisi duduk di hadapan Ibu mertuanya. “Bu, aku ingin bicara.”


“Bicara saja, tak ada yang melarangmu!” balas Bu Damira dengan ketus.


“Apa maksud Ibu memberitahu Nawra mengenai rahasia pernikahan kami?!” Tessa tak dapat lagi menahan emosinya.


“Rahasia apa?! Kamu ini mengada-ngada. Mau ngajak bertengkar,ya?!” Balas Bu Damira tak kalah emosinya.


“Apa yang Ibu katakan pada Nawra?!” bentak Owen tak kalah emosinya. Sementara Bu Damira tampak tak merasa bersalah atau pun menyesal.


“Aku mendengar sendiri, Ibu menberitahu Nawra jika aku melahirkan Aya di saat belum resmi menikah dengan Bang Owen!” aku Tessa.

__ADS_1


“Kau menguping?!” Bukannya merasa bersalah, Bu Damira balik marah pada Tessa. Ia menyalahkan Tessa yang telah menguping.


“Ya, Bu! Aku menguping dan aku mendengar semua ucapan Ibu yang menghinaku!” Tessa tak dapat menahan amarahnya. Meski Owen telah merangkul pundaknya dan sesekali mengelus punggungnya, tetap saja Tessa tak dapat dengan mudah meredahkan amarahnya.


“Kamu menguping dan tak merasa bersalah?! Dasar wanita tak tahu malu!” Bu Damira berdiri berkacak pinggang.


Tessa pun ikut berdiri, kali ini susah sekali rasanya mengalah pada Ibu mertuanya. “Iya, aku tak merasa salah, Bu. Sama seperti Ibu yang tak merasa jika perbuatan Ibu itu salah.”


“Tak apa jika Ibu menghinaku, tapi kumohon jangan lakukan itu pada putriku!” jerit Tessa.


Owen ikut berdiri lalu memeluk Tessa yang sudah menangis sesenggukan. “Bun, Bun, tenang, tenanglah!” bujuk Owen.


“Ayo, kita ke kamar. Kita tenangkan dirimu,” pinta Owen.


“Kamu akan biarkan ini semua, Bang?” tanya Tessa.


Owen menggeleng. “Percaya padaku, aku yang akan bicara pada Ibu,” ucapnya.


Beberapa detik Tessa bergeming, ia amati sorot mata Owen. Ia akan coba percaya, kali ini suaminya akan memberikan peringatan pada Ibu mertuanya.


Tessa pun akhirnya menurut pada Owen. Ia biarkan suaminya itu mengantarnya hingga ke depan pintu kamar.


“Bu, tunggu sebentar, kumohon. Kita harus bicara,” ujar Owen.


“Bela saja terus! Bela saja istri tak tahu dirimu itu!” sindir Bu Damira. ”Seperti surga telah pindah di telapak kaki istrimu saja!”


...…...


Setelah berdebat dengan Ibunya, Owen pun kembali ke dalam kamarnya. Cukup sulit membuat Ibunya mengerti, sebab beliau merasa tak bersalah sebab yang diberitahukan pada Nawra bukanlah sebuah fitnah.


Yang pasti Owen sudah menyampaikan betapa kecewanya dirinya atas sikap Ibunya. Owen pun memperingati Ibunya, agar menjauhi Nawra. Dari awal, Owen sudah curiga jika wanita itu memiliki niat untuk menghancurkan rumah tangganya.


Tiba saatnya Owen kembali ke kamar. Di depan pintu ia menghela napas panjang. Tugasnya belum selesai, ia masih harus menenagkan istrinya.


Ceklek.


Saat membuka pintu kamar, Owen di sambut dengan suara isak tangis Tessa. Tak lama, istrinya keluar dari walkin closet mereka. Tessa terlihat membawa setumpuk pakaiannya.


Kening Owen mengernyit manakala Tessa mengambil koper, memasukkan tumpukan pakaian tadi ke dalam sana. “Bun, apa yang kamu lakukan?”


Tessa menoleh pada suaminya. Air mata membanjiri wajah cantiknya.


“Bun, jangan seperti ini. Kita masih bisa bicarakan semuanya!” Dengan cepat, Owen menghentikan gerakan tangan Tessa.


“Jangan pergi, kumohon,” pinta Owen.


“Bang ….”


...———————...

__ADS_1


__ADS_2