
Keluarga kecil Owen tampak serasi dan memukau dengan pakaian bernuansa warna hitam dan merah muda. Tessa memang tak pernah gagal dalam memadupadankan busana yang ia pakai. Malam ini, banyak pasang mata yang memuji betapa mempesonanya mereka bertiga.
Owen dan Tessa pun berusaha sebaik mungkin untuk menampakkan topeng wajah cerianya. Tak ingin ada orang lain yang menyadari jika antara keduanya sedang terjadi ketegangan. Bahkan Bu Damira tertipu, melihat keharmonisan keluarga putranya ia merasa kesal luar biasa. Percuma saja tadi usahanya untuk terus memanas-manasi Tessa, pikirnya.
Nawra mempersiapkan pestanya dengan sangat baik. Mulai dari carpot, taman, dan teras rumah, ia dekorasi dengan sangat baik. Tak ada satu sudut di bagian halaman rumah yang tak dimanfaatkan olehnya. Bagian dalam rumah, didekorasi untuk menampilkan kesan mewah dengan nuansa warna hitam dan emas. Tak ada banyak kursi, sepertinya Nawra memilih konsep Standing Party untuk pesta ulang tahunnya malam ini.
“Owen!” seru Nawra saat melihat rombongan keluarga Owen tiba. Bagai seorang model, ia berjalan lenggak-lenggok menghampiri pria pujaannya.
“Aku senang sekali kamu datang,” akunya. “Padahal aku sempat takut kamu tak akan datang.”
Owen melirik ke arah Tessa yang memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia yakin Tessa tak suka dengan cara Nawra menyambut mereka.
“Selamat ulang tahun, Nawra,” ucap Owen. “Kita bertetangga, tentu saja keluarga kami akan datang.”
Yes! Tessa bersorak dalam hati. Dugaannya salah, ia pikir Owen masih akan bertingkah kekanakan dengan sengaja membuatnya kesal.
“Ayo, Aya ucapin selamat ulang tahun untuk Tante Nawra!” pinta Tessa yang segera diangguki oleh putrinya.
“Tante Nawla, celamat uyang taun, ya.” Aya mencium punggung tangan Nawla setelahnya.
“Ah … Aya pinter banget!” ucap Nawra seraya mencubit kedua pipi Aya dengan gemas. “Anak siapa sih, udah cantik banget, pinter lagi,” lanjutnya memuji Aya.
“Anak Bunda Teca dan Ayah Owen dong!” jawab Aya.
Sontak senyuman di wajah Nawra berubah sementara Tessa berusaha menahan tawanya. Pinter! Anak Bunda memang pinter, batin Tessa memuji Aya.
“Hem, sekali lagi terima kasih ya sudah datang. Semoga kalian menikmati pestanya. Acaranya sebentar lagi mulai,” ujar Nawra sebelum meninggalkan Owen dan keluarga kecilnya.
Owen mengamati gerak-gerik Ibunya. Ada sesuatu yang aneh. Papper bag berisi hadiah untuk Nawra masih ada pada Ibunya.
Mengapa saat mengucapkan selamat, Ibu tak memberikannya langsung? Batin Owen mencurigai niat Ibunya.
Semoga Ibu memang benar-benar lupa, bukan karena sedang merencanakan sesuatu, batin Owen.
Tak lama berselang, pesta Nawra pun akhirnya di mulai. Pemandu acara mempersilakan Nawra untuk meniup lilin dan memotong kuenya. Semuanya berjalan biasa saja sampai akhirnya pemandu acara menyerukan nama Owen.
“Hadiah spesial pertama akan diberikan oleh orang yang spesial juga,” ujar si Pemandu acara membuat riuh para tamu undangan.
“Kepada Dokter Owen, dipersilakan maju ke depan!” serunya diikuti tepuk tangan dan sorakan dari para tamu.
Wajah Owen berubah merah padam. Antara ia menahan malu dan amarah. Jadi ini rencana Ibunya, pikir Owen.
Owen melihat ke sekelilingnya. Bagi sebagian orang yang sudah mengenal sosoknya, semuanya menatap Owen dengan tatapan curiga dan penuh tanya. Sedang sisanya menoleh ke sana ke mari sebab penasaran dengan sosok pria spesial yang dibicarakan.
Lamunan Owen terhenti manakala ia merasakan erat genggaman Tessa pada lengannya. Tak hanya itu, Ibunya pun kini sudah berdiri di sisinya. Menyodorkan kotak beludru yang dia bawa sedari tadi.
__ADS_1
“Ini!” Bu Damira meletakkan kotak tersebut ke telapak tangan Owen.
“Jangan mempermalukan Nawra di hari ulang tahunnya!” Peringat Sang Ibu.
Owen bergeming beberapa saat. Saat genggaman tangan Tessa melemah, ia mengubah untuk merangkul pundak istrinya. “Baik, akan kulakukan. Tapi, akan kulakukan bersama istriku,” ucap Owen.
Keriuhan sontak berubah menjadi keheningan, ketika melihat sosok yang diakui spesial oleh Nawra, melenggang sembari merangkul seorang wanita cantik dan juga menggendong seorang balita cantik. Bisik-bisik dari para tamu mengiringi langkah Owen dan keluarga kecilnya.
Senyum sumringah Nawra berganti dengan senyum yang dipaksakan. Riasannya tak mampu menutupi rona merah di hampir seluruh wajahnya. Ingin rasanya ia meminta bumi menenggelamkannya saja saat ini.
Saat Owen, Tessa, dan Aya berdiri di hadapannya, Nawra masih saja bergeming. Owen sampai harus berdeham sebanyak dua kali agar Nawra mengetahui kehadiran mereka.
“Entah apa kriterianya hingga aku bisa menjadi yang spesial,” ucap Owen setelah menerima microphone dari si Pemandu acara.
“Tapi, aku dan keluargaku berterima kasih karena telah diundang ke pesta ulang tahunmu. Sebagai teman lama dan tetanggamu, kami mendoakan yang terbaik untukmu,” lanjut Owen.
“Dan terimalah hadiah sederhana dari kami sekeluarga. Semoga kamu suka, sebab ini adalah pilihan Ibuku. Semoga sesuai dengan seleramu,” ungkapnya semakin membuat Nawra malu.
Nawra sesekali melirik ke arah Bu Damira. Ia seolah ingin meminta penjelasan mengenai kekacauan ini. Bu Damira hanya mengedikkan bahunya. Sebenarnya ia juga tak menyangka jika putranya yang biasa irit bicara akan mengoceh sebanyak itu.
Tak ada adegan Owen memasangkan kalung di leher Nawra seperti bayangannya. Yang ada, Nawra malah meminta pemandu acara mempercepat jalannya pesta ulang tahunnya.
Menit demi menit berlalu. Dalam gendongan Ayahnya, Aya tak henti-hentinya menguap dan hal itu di sadari oleh Owen. “Bun, di mana Ibu?” tanya Owen.
“Aya sudah ngantuk, sebaiknya kita pulang sekarang,” ajak Owen.
Tessa mengangguk. “Ya, aku pun sudah lelah. Coba aku telepon Ibu.”
Sayangnya setelah mencoba menghubungi Ibu mertuanya beberapa kali, panggilannya tetap saja tak dijawab. “Masih tak dijawab, Bang.”
“Apa aku cari saja, ya,” usulnya.
“Baiklah. Aku akan menunggumu di luar.”
Tessa pun mulai mencari Ibu mertuanya di antara padatnya tamu undangan. Tessa merasa tak nyaman, sebab ke mana pun langkahnya, tatapan dari tamu lain mengikutinya. Sudah pasti dirinya menjadi bahan pembicaraan. Suaminya baru saja dijadikan seseorang spesial oleh wanita lain.
Aku beruntung yang menjadi suamiku adalah Owen. Walaupun kadang membuat kesal, tapi dia tak pernah membiarkan orang lain menghinaku, batin Tessa.
Tessa menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sosok Ibu mertuanya. Namun, betapa terkejutnya ia saat yang muncul di hadapannya adalah sosok Ben. Teman lama suaminya yang harus Tessa akui memiliki wajah yang cukup tampan.
“Hai, Tessa cantik!” sapanya.
“Eh, hai!” balas Tessa sembari tersenyum.
“Mau ke mana? Kenapa terburu-buru?” tanya Ben.
__ADS_1
“Aku ingin mencari Ibu mertuaku,” jawab Tessa.
“Oh, kupikir kamu mencari suamimu,” gumam Ben lirih.
“Bagaimana kabarmu? Jujur saja, aku sudah mencarimu sejak tadi,” ungkap Ben. “Senang sekali rasanya, akhirnya aku melihatmu saat memberi hadiah pada Nawra,” lanjutnya.
Tessa tak menjawab, ia hanya tersenyum kikuk. Sikap Tessa berubah menjadi canggung, saat Ben mengakui senang bertemu dengannya. Dasar buaya! Batin Tessa.
“Baiklah, aku permisi. Aku harus segera menemui Ibu mertuaku. Suami dan anakku menunggu di luar.” Tanpa menunggu Ben merespon, Tessa segera berlalu.
Baru dua langkah ia menjauh, Ben meraih salah satu pergelangan tangannya. “Tapi, aku masih merindukanmu!” akunya.
“Kamu tahu betapa sulitnya aku menjalani hari-hariku setelah pertemuan kita terakhir kali? Aku tak henti-hentinya memikirkanmu.”
Tessa berusaha melepaskan genggaman tangan Ben. Ia menarik bahkan menghentak tangannya dengan kuat, namun tak berhasil.
“Lepaskan! Jangan kurang ajar. Aku bisa saja berteriak dan memberitahu suamiku,” ancamnya.
Ben tertawa. “Tessa … Tessa … kamu pikir dokter rendahan seperti suamimu bisa apa, hah?”
“Berhenti menghina suamiku!” pekik Tessa.
“Salahmu yang tiba-tiba saja menghilang dari sosial media. Aku jadi merindukanmu. Kamu pasti tak tahu jika tiap hari, selama bertahun-tahun aku selalu memeriksa akun sosial mediamu? Namun, kamu tak pernah memberi kabar,” ungkap Ben.
“Kamu mengecewakan banyak penggemarmu, sayang. Saat tahu jika nyatanya kamu hiatus karena menikah dengan teman lamaku, kamu mengecewakan aku yang selalu menunggumu kembali,” akunya.
Tessa menggeleng. “Gila! Lepaskan atau aku akan teriak!”
Setelah Tessa mengancam, Ben akhirnya melepaskan genggaman tangannya. “Baiklah, sayangku. Kamu kulepaskan malam ini,” gumamnya seraya memandangi punggung Tessa yang menjauh.
Sedetik kemudian Ben berbalik badan. Di kejauhan ia bisa melihat Owen yang menatapnya tajam. Bukannya merasa bersalah, Ben mengedikkan bahunya, lalu melambai dengan satu tangan pada Owen. Ia yakin, teman lamanya itu sangat geram saat ini.
Sementara tak jauh dari tempatnya tadi bicara bersama Ben, Tessa akhirnya bisa melihat sosok Ibu mertuanya yang sedang mengobrol bersama Tessa. Benar dugaanku, mereka pasti sedang bersama. Rencana apa lagi yang mereka susun, batin Tessa.
Ingin tahu apa yang dibicarakan Bu Damira dan Nawra, Tessa pun memelankan langkahnya. Di balik dinding ia bersembunyi dan menguping pembicaraan keduanya.
Baru beberapa saat ia berdiri di sana, namun sepertinya emosinya akan memuncak. Deru napas Tessa jadi tak beraturan sebab menahan amarah. Tangannya ia kepalkan. Apa yang dibicarakan Ibu mertuanya kepada Nawra, sungguh membuat Tessa marah.
Dengan langkah lebar dan cepat, Tessa meninggalkan tempat itu. Di luar, Owen dan Aya masih setia menanti. “Ayo, pulang! Tinggalkan saja Ibu di sini.”
“Memangnya ada apa?” tanya Owen.
“Aku tak ingin membahasnya di sini!” jawab Tessa.
...————————...
__ADS_1