Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 104. Awal Yang Baru


__ADS_3

Setelah menghubungi Tessa, Bu Damira lanjut memasak makan siangnya berdua bersama Aya. Bu Damira sungguh merasa terhibur dengan semua celotehan gadis kecil itu. Banyak hal yang diceritakannya, mulai dari mainan kesukaannya, teman-temannya di sekolah, hingga bagaimana kelakuan Ayah dan Bundanya selama ini.


“Jadi, Bunda dan Ayah kaget dong pas Aya tiba-tiba muncul?” tanya Bu Damira seraya menahan tawanya.


Aya sedang menceritakan pada Neneknya mengenai kebiasaan baru Ayahnya setelah Bundanya hamil. Menurut Aya, Ayahnya betah berlama-lama menciumi perut Bundanya. Bahkan terkadang, Ayahnya itu bicara sendiri di depan perut sang Bunda.


Seperti kejadian yang sedang ia ceritakan sekarang. Saat itu, malam semakin larut. Hujan turun semakin menambah dinginnya malam. Aya yang haus, terbangun dari tidurnya yang baru sebentar. Sungguh malang, gelas di atas nakas kosong. Alhasil, gadis kecil itu masuk ke kamar Ayah dan Bundanya namun sayangnya di kamar itu tak ada siapa pun.


Saat akan kembali ke kamar, samar-samar Aya mendenger suara Ayahnya dari luar. Ia juga samar-samar mendengar suara televisi, Aya menduga jika kedua orang tuanya ada di ruang tengah. Dengan gelas berbentuk kepala kelinci di tanganya, Aya menghampiri kedua orang tuanya. Semua lampu padam hanya ada cahaya dari televisi.


Begitu sampai di ruang tengah, Aya mendapati kepala Ayahnya berada di dalam baju sang Bunda. Aya pikir, Ayahnya pasti sedang melakukan hobinya. Berbicara dengan adik yang masih berada dalam perut Bundanya. Itu yang ditangkap Aya dari apa yang dilihatnya.


“Iya, Nek. Ayah campai teriak karena kaget,” ucap Aya ikut menahan tawanya. “Lagian kenapa cih Ayah dan Bunda nonton TVnya cambil gelap-gelapan?”


Bu Damira yang paham apa sebenarnya yang akan dilakukan sepasang suami istri itu semakin tertawa. Terbayang di benaknya wajah gugup putra satu-satunya itu saat tiba-tiba Aya muncul.


Lagian mereka ada-ada saja, orang mesra-mesraan kan harusnya di kamar! Batin Bu Damira.


“Mungkin Ayah dan Bunda saat itu sedang nonton film horor. Jadi akan lebih seru jika lampunya padam,” elak Bu Damira sedangkan Aya mengangguk-angguk seolah paham dengan ucapan Neneknya.


Masih banyak hal lain yang Aya ceritakan. Bu Damira merasa sangat nyaman bersama Aya di dekatnya. Rasanya seperti hidup kembali, sebab ia sempat lupa bagaimana rasanya memiliki teman bicara. Tak ia duga, gadis kecil yang berusia kurang dari enam tahun ini yang meruntuhkan dinding keegoisannya. Selama ini, ia memang menutup diri termasuk dari putra putrinya.


Makan siang pun usai, Bu Damira baru saja selesai mencuci piring. “Nek, apa Nenek cudah tahu di mana boneka lala?” tanya Aya. Bu Damira sampai menepuk dahinya. Ah, ia lupa untuk lanjut mencari boneka tersebut.


“Tenang, Nenek sudah menelepon Bunda. Katanya boneka itu mungkin berada di dalam kamar Ayah dan Bunda.”


Aya mengekori langkah Neneknya. Syukurlah, kamar Owen dan Tessa tak terkunci. Namun, saat pintu terbuka betapa terkejutnya Bu Damira dan Aya.


“Hah?!” pekik Aya. “Kamar Ayah Bunda berantakan banget. Ihh!” serunya.

__ADS_1


Walau hanya diam, Bu Damira pun berpikir hal yang sama. Beberapa sepatu dan pakaian kotor Owen berserakan di lantai. Di atas nakas, entah ada berapa banyak gelas kotor yang dibiarkan saja begitu oleh pemiliknya. Di atas sofa dan meja, berserakan kertas dan laptop yang masih terbuka. Selimut dan bantal di sofa seolah menunjukkan jika si pemilik kamar pernah tidur di sana.


Yang paling mengejutkan adalah di atas tempat tidur, berserakan baju dinas malam sang menantu. Ada juga beberapa lembar foto Tessa, foto hasil usg, dan foto kebersamaan keluarga kecil itu di atas sana.


Melihat itu semua, Bu Damira semakin merasa bersalah pada putranya. Putranya pasti sangat tersiksa oleh rindu karena ketidak hadiran Tessa di sisinya. Setahunya Owen bukanlah pria yang seperti ini, sejak dulu dia menyukai keteraturan dalam hidupnya. Berantakan seperti ini bukanlah gaya Owen. Tapi, sepertinya rasa sakit di dalam hatinya telah membuat Owen menjadi pribadi yang berbeda. Bu Damira menyalahkan dirinya karena hal itu.


“Aya sepertinya kita tak bisa cari boneka lala sekarang,” ucap Bu Damira. Seketika wajah Aya menjadi murung, gadis kecil itu keluar dari kamar Ayah Bundanya lebih dulu.


Tak ingin semua ini berlarut-larut. Bu Damira segera menghubungi Tessa setelah ia mengirimkan foto situasi kamarnya saat ini.


“Bu, apa yang terjadi? Kenapa kamar seperti kapal pecah begitu?” tanya Tessa dari seberang telepon.


“Mana kutahu. Datang sendiri kemari, bereskan kamarmu dan cari boneka lala! Aku tak ingin cucuku terus murung karena tak menemukan bonekanya,” suruh Bu Damira.


Tanpa pikir panjang lagi, Tessa segera berangkat ke Kota X. Walau sempat dicegah oleh Mami Fhanie, namun tekad Ibu hamil itu sudah bulat.


“Mami akan menemanimu,” putus Mami Fhanie.


Tessa menggeleng. “Tidak, Mi. Kumohon biarkan aku menyelesaikannya sendiri. Bantu aku, jangan katakan apa pun pada Owen ataupun Alfio. Aku akan membalas mereka karena telah berbohong,” pinta Tessa.


Setelah melalui perjalanan panjang, dengan bantuan Noah dan Sea, dalam beberapa jam Tessa sudah berada di Kota X. Tessa segera menuju ke rumahnya di mana Ibu mertuanya dan sang putri tercinta menanti.


Saat pertama kali menginjakkan kaki lagi di rumahnya, Tessa sempat ragu. Apalagi saat bertemu Bu Damira, tercipta kecanggungan yang luar biasa di antara keduanya.


“Aku akan segera membereskan kamar, Bu.” Tessa bergegas masuk ke kamar untuk menghindari pertemuan dengan Bu Damira. Benar saja, situasi kamar mereka sama persis dengan foto yang dikirim oleh Ibu mertuanya itu. Hati Tessa seperti tercubit, sepertinya ia bisa merasakan besarnya kerinduan Owen padanya. Faktanya, selama di rumah Mami Fhanie ia pun juga merasakan hal yang sama.


Setelah semua beres, Tessa pun juga sudah menemukan boneka lala yang dicari putrinya. Tessa merapikan kembali tas yang Aya bawa, ia berniat pergi lagi bersama Aya. Jika tak bisa kembali ke Kota P hari ini, mungkin ia akan membawa Aya menginap di hotel saja, begitu pikirnya.


“Bu, semuanya sudah beres. Aku pamit ya,” ucap Tessa ragu.

__ADS_1


Bu Damira cukup lama diam. Namun, ia masih menahan Aya yang duduk di pangkuannya. “Aku akan bawa Aya, Bu.”


Raut wajah Aya berubah murung. Sebenarnya dia sangat senang bisa kembali lagi ke rumahnya, tapi mengapa Bundanya mengajak pergi lagi.


“Tapi Bunda, Aya mau di cini caja. Kita enggak ucah pergi lagi. Boleh ya, Bunda?!” Pinta Aya memohon.


“Aya benar!” Bu Damira tiba-tiba buka suara. Hal itu sungguh membuat Tessa terkejut.


“Kamu mau ke mana? Tinggallah, ini rumahmu. Harusnya kamu memang di sini bersama suami dan anakmu,” ucap Bu Damira.


Melihat Tessa berdiri mematung, Bu Damira merasa semakin bersalah. “Lihatlah kekacauan rumah ini tanpamu. Tinggallah! Owen membutuhkan kalian,” pinta Bu Damira bersungguh-sungguh.


Tubuh Tessa rasanya bergetar hebat. Ini pertama kalinya, Ibu mertuanya bicara dengan lembut padanya.


“Maafkan aku. Maafkan Ibu, Tessa,” ucap Bu Damira.


Tessa segera berhambur memeluk Ibu Mertuanya saat ia melihat ada air mata yang berlinang dari pelupuk mata wanita itu. “Maafkan Tessa, Bu. Maafkan Bang Owen juga. Kami berdua sudah banyak mengecewakan Ibu,” ucap Tessa masih memeluk Bu Damira.


Bu Damira mengangguk. “Kita mulai dari awal lagi, ya. Semoga Ibu masih diberi kesempatan untuk bisa melihat keluarga kalian berbahagia.”


Tessa melerai pelukan keduanya. “Jangan bicara seperti itu, Bu. Ibu harus kuat, Ibu harus semangat untuk sembuh.” Tessa meletakkan tangan Bu Damira di perutnya yang mulai buncit. “Ibu harus melihat cucu Ibu lahir dan bermain bersamanya.”


Tangis Bu Damira semakin pecah. Ia merasa semakin bersalah, dulu bayi dalam kandungan Tessa sempat ia ragukan siapa ayahnya. Ia merasa tak pantas merasakan kebahagiaan itu.


“Sudah, Bu. Seperti yang Ibu katakan, kita mulai dari awal lagi ya,” bujuk Tessa. “Dan yang pertama Ibu harus membantuku membalas Bang Owen dan Alfio karena berani-beraninya telah membohongiku,” pinta Tessa yang segera diangguki Bu Damira.


“Aya juga akan bantuin Bunda!” Seru Aya dengan semangat membuat Bunda dan Neneknya tertawa bersamaan.


...————————...

__ADS_1


__ADS_2