Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 70. Ungkapan cinta


__ADS_3

“Bun … Bunda, tunggu.”


Owen mencoba menghentikan langkah istrinya yang hendak masuk ke dalam rumah lebih dulu. Setelah pertemuan tadi, wajah Tessa terus saja tertekuk. Selama perjalanan pulang ke rumah dari restoran Alfio, Tessa bungkam. Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Hingga mereka di dalam kamar, Tessa masih saja bertahan dalam mode diamnya. “Bun, kamu marah?” tanya Owen namun tak mendapat jawaban.


Owen menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ingat Owen, istrimu sedang mengandung. Berusahalah untuk lebih sabar, ucapnya dalam hati.


Dari tempatnya berdiri Owen mengamati gerakan Tessa yang sedang berganti pakaian. Ah, dia sepertinya akan sulit untuk berpindah dari sana.


Memandangi Tessa melepas satu per satu kain yang melekat di tubuhnya, membuat Owen menelan saliva berkali-kali. Ia pandangi lekat-lekat tubuh Tessa di bagian perutnya yang masih rata. Senyumnya mengembang saat membayangkan, perut itu nanti akan membuncit saat calon bayi mereka semakin bertumbuh.


Tessa mengernyit saat sadar jika suaminya kini menatap tubuh polosnya. “Jangan menatapku begitu, Bang!”


“Eh, maaf, maaf, Bunda. Hanya saja … kamu terlalu indah untuk kulewatkan,” goda Owen.


Semburat rona merah muda muncul di pipi kanan dan kiri Tessa. Saat Owen melangkah perlahan ke arahnya, gantian Tessa yang mematung. Otaknya tiba-tiba saja tak dapat memikirkan apa pun. Apa yang harus dilakukannya, diam di tempat saja seperti patung? Atau dia harus merentangkan tangannya lebar-lebar menyambut suaminya?


Ayo otak, berpikir. Kumohon saat seperti ini, jadilah lebih pintar dari biasanya, batin Tessa.


“Kamu marah padaku? Katakan?” Owen sudah memeluk Tessa dari belakang.


Saat Owen perlahan mulai mengecupi tengkuk hingga ke pundak istrinya, yang dipeluk tetap bergeming. Ingin menghindar, sayangnya karena serangan mendadak suaminya, bahkan untuk bernapas pun terasa sulit bagi Tessa.


“Apa yang membuatmu marah? Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Owen lagi.


Tessa tahu, Owen tak akan berhenti hingga mendapat jawaban atas pertanyaannya.


“Biarkan aku berpakaian dulu. Setelah itu baru kita bicara.”


Owen akhirnya melepaskan pelukannya. Ia beri kecupan beberapa kali di perut rata istrinya sebelum ia keluar dan menunggu di sofa.


Dalam hati Owen sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan Tessa. Apa yang membuat istrinya mengacuhkannya, Owen tahu itu. Tapi, sekali lagi Owen ingin Tessa bisa belajar untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya. Ia tak ingin Tessa selalu memendam perasaannya sendiri.


Tak beselang lama, Tessa sudah mengenakan setelah piamanya. Ia mengikuti Owen duduk di sofa kamar mereka. Syukurnya malam ini Ayasya tidur di kamar tamu bersama Mami Fhanie. Keduanya bisa bicara lebih leluasa tanpa khawatir akan didengar oleh Ayasya.


“Jadi benar, kamu marah padaku?”

__ADS_1


“Menurut kamu, Bang? Bagaimana aku tak kesal jika kamu dengan mudahnya menuruti permintaan Alfio,” jawab Tessa.


Benar bukan? Tessa pasti mempermasalahkan hal ini, pikir Owen. “Lantas, apa kita biarkan saja Alfio memberitahu Ibu jika Aya adalah putri kandungnya?”


Tessa menunduk. Jika benar hal itu terjadi, bayangan bagaimana rumah tangganya kelak akan sangat menyedihkan. “Ta-tapi … apa tak ada cara lain?”


Owen membelai lembut puncak kepala Tessa. “Kita memang tak seharusnya memisahkan Alfio dan Ayasya. Biar bagaimanapun mereka adalah ayah dan anak,” ungkap Owen.


Mendengar itu Tessa semakin cemberut. “Kenapa kamu berkata seperti itu, Bang. Ayasya itu adalah putri kita. Putri kamu dan aku!”


“Ya, tentu saja. Sampai kapan pun, Ayasya adalah putri kesayanganku. Aku mencintainya dengan seluruh jiwa dan ragaku,” ucap Owen.


“Tapi semua itu tak akan pernah menghilangkan kenyataan jika darah yang mengalir dalam tubuh putri kita adalah darah Alfio.”


Setetes demi setetes buliran bening air mata Tessa mulai membasahi pipinya. Hal seperti inilah yang Owen hindari. Ia tak ingin membuat Tessa menangis, tertekan, terbebani, dalam kondisinya yang sekarang.


Peringatan dokter sudah sangat jelas, istrinya harus selalu dalam kondisi tenang, rileks, dan tak ada beban pikiran. Namun, lihatlah yang terjadi saat ini. Dia sedang menangis, menyalurkan kegundahan hatinya melalui tangisan.


“Bagaimana dengan kita, Bang? Bagaimana dengan rumah tangga kita jika ada Alfio,” keluh Tessa.


Banyak hal yang dia khawatirkan. Kehadiran Alfio bagai sebuah bom yang sewaktu-waktu bisa saja meledak dan menghancurkan segalanya.


“Jangan memikirkan hal yang belum terjadi, Bunda. Tak akan terjadi apa pun pada keluarga kita. Juga, sampai kapan pun pria itu tak akan pernah ada di antara kita. Dia hanya akan ada disekitar Aya, tak ada hubungannya dengan kita,” jelas Owen menenangkan Tessa.


Ia bawa Tessa dalam pelukannya. Diusap-usap punggung Tessa lembut. Sesekali ia mengecup kening istrinya. “Sudah, berhentilah menangis. Ingat jika saat ini kamu sedang mengandung buah cinta kita, Bun.”


“Buah ci-cinta?”


Owen melerai pelukannya. Ia menahan Tessa dengan memegang kedua lengannya. “Kenapa kamu ragu? Apa yang kamu pikirkan? Jangan-jangan kamu pikir tak ada cinta di antara kita?”


“Kamu tak pernah mengatakannya, Bang!”


“Sudah kukatakan. Aku bahkan mengatakan aku mencintaimu di depan pria itu,” aku Owen dengan bangga.


Tessa menahan tawanya. “Kamu sebut itu sebagai pengakuan cinta?”


Owen bungkam sejenak. Ia pikir, selama ini tanpa perlu ia ungkapkan, Tessa pasti bisa merasakan bagaimana perasaannya.

__ADS_1


“Apa cinta harus selalu diungkapkan? Apa selama kita bersama, kamu tak merasakan cintaku?”


Owen sepertinya masih akan bicara seandainya Tessa tak membungkamnya dengan sebuah kecupan di bibirnya. “Sssttt … sudah, sudah. Yang terpenting kini aku tahu. Aku tahu kamu mencintaiku.”


Owen terlihat berpikir. Benaknya kini dilema, apakah ia harus menanyakan perasaan Tessa juga padanya? Apalagi sebelum ini Tessa tampak ragu.


“Bun, tapi bagaimana denganmu. Kamu pun tak pernah mengungkapkan cinta padaku,” ucap Owen ragu.


Tessa tergelak. “Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta pada suami luar biasa sepertimu,” ungkap Tessa.


Tessa meraih tangan Owen, lalu diletakkannya di atas perutnya. “Apa ini bisa membuktikan cintaku padamu. Kehadiran buah cinta kita?” Tessa sengaja menekankan kata ‘buah cinta’ menirukan ucapan Owen.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, segera Owen satukan bibirnya pada bibir istrinya. Keduanya terlibat ciuman yang cukup lama. Baru berhenti setelah Tessa merasa butuh oksigen untuk bernapas.


Ciuman pun akhirnya terhenti disusul tawa keduanya. “Percayalah, Bun. Semua akan baik-baik saja. Kita akan selalu bahagia bersama anak-anak kita nanti.”


Tessa mengangguk, lalu mengikuti Owen yang mengajaknya pindah ke tempat tidur.


“Malam semakin larut, Bun,” ucap Owen. Wajah keduanya yang sangat dekat membuat Tessa bisa merasakan embusan hangat napas suaminya.


Beruntung lampu utama kamar sudah dipadamkan. Tersisa lampu kecil di sudut ruangan yang dibiarkan menyala. Jika tidak, maka sudah pasti Owen bisa melihat wajah Tessa yang lagi-lagi merona tanpa izin.


“Ya, aku tahu. Lalu?” tanya Tessa.


“Waktunya kita tidur, Bun. Ibu hamil harus memiliki waktu tidur yang cukup,” jawab Owen.


“Apa? Ti-tidur?” Tessa tak percaya jika Owen hanya akan mengajaknya tidur.


Hanya tidur? Pikirnya.


“Ya, Bunda. Tidur, kita harus tidur sekarang jika tak ingin besok bangun terlambat,” jelas Owen.


Owen ingin sekali tertawa, ia tahu apa yang istrinya inginkan. Beberapa Ibu hamil memang memiliki keinginan yang besar akan hal itu. Keinginan Owen pun tak kalah besarnya, namun, ia mengingat petuah dokter.


Karena Tessa bergeming, Owen pun akhirnya membantu istrinya berbaring. Ia tuntun Tessa agar berbaring beralaskan lengannya sebagai pengganti bantal. Ia peluk erat hingga wajahnya istrinya terbenam di dadanya.


“Malam ini kita tidur dulu. Tunggu sampai kandunganmu lebih kuat. Saat itu tiba, aku tak yakin kamu akan punya waktu tidur yang cukup lagi,” goda Owen sebagai penutup hari yang melelahkan bagi keduanya.

__ADS_1


...—————————...


__ADS_2