Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 69. Kesepakatan


__ADS_3

“Mudah saja. Aku minta kamu menceraikan Tessa!”


Tessa sudah siap melayangkan tangannya ingin menampar Alfio, seandainya tangannya tak digenggam oleh Owen. Meski sempat mematung beberapa detik, namun Owen akhirnya bisa mengendalikan dirinya lalu menenangkan istrinya.


Owen merespon permintaan Alfio dengan tenang. Hanya sebuah senyum yang sangat sulit ditebak maksudnya.


“Mimpimu berlebihan,” ucapnya datar.


Kening Alfio mengernyit. Pikirnya, Owen pasti akan terpancing emosi. Dia bahkan berharap pria itu tak bisa menahan amarahnya, menghajarnya pun tak apa. Dia ingin Owen menunjukkan sisi buruknya di hadapan Tessa. Sayangnya, usahanya gagal.


“Mimpi? Kau yang selama ini bermimpi, Dokter!”


“Bukankah yang hidup dengan semua kepura-puraan itu, adalah kalian!” lanjut Alfio. Baginya, pantang menyerah untuk menyulut amarah pasangan suami istri di hadapannya.


Namun, sepertinya Alfio masih harus berusaha lebih keras. Baik Owen maupun Tessa masih saja tenang duduk di tempatnya. Sejauh ini, semuanya tak berjalan dengan yang dia inginkan.


Owen terlihat menarik napasnya panjang. “Begini saja, kami atau kau yang bermimpi, bukankah lebih baik jika kita menjalani hidup masing-masing tanpa saling mengusik?”


Keadaan berbalik, bukannya Owen yang terpancing amarah melainkan Alfio. Hidupnya selama ini tak pernah berjalan sesuai harapannya. Setelah tahu jika selama ini ia memiliki seorang putri, ia berharap hidupnya menjadi lebih baik. Memiliki keluarga, ia sudah membayangkan dirinya akan menjadi Ayah yang hebat untuk Ayasya. Menebus waktu-waktu yang telah ia lewatkan selama ini.


“Kau yang sudah mengusik hidupku dari awal. Mengapa kau menikahi wanita yang mengandung anak pria lain?! Seandainya kau tak melakukan itu, maka keadaan tak akan serumit ini.”


Mengamati sikap bosnya yang mulai tersulut api amarah, Roy pun berjalan mendekat. Ia menepuk pundak Alfio, mengingatkan agar bosnya itu mengontrol dirinya.


“Bos, ingat rencana Anda. Jangan tersulut emosi,” bisiknya.


Peringatan Roy bagai air yang memadamkan bara api dalam hati Alfio. Sedangkan Tessa, untuk menahan dirinya agar tak melayangkan tamparan pada wajah Alfio, maka genggaman tangan pada suaminya semakin ia eratkan.


Tessa edarkan pandangannya ke sekeliling. Jaga-jaga seandainya ada seseorang yang ia kenal juga berada di sana. Ia khawatir orang lain bisa saja mendengar ucapan pria br*ngs*k di hadapannya ini.


“Apa pedulimu aku menikah dengan siapa?! Apa kau lupa, setelah semua yang terjadi di antara kita, kau bahkan masih saja sibuk mengejar Sea?!” Tessa pun akhirnya angkat bicara. Ia harap Alfio bisa sadar mengapa semua ini terjadi.


“Menurutmu, jika Owen tak menikahiku … apa kau pikir masih bisa melihat Ayasya sekarang?! Kau pikir apa aku seberani itu, melahirkan seorang anak tanpa ayah, hah?!”


Meski tak meledak-ledak, Tessa menekankan setiap kata yang terucap dari bibirnya. Pengakuan Tessa baru saja, berhasil menampar Alfio. Ya, dia telah melupakan satu hal. Perasaan Tessa saat tahu jika dirinya hamil.

__ADS_1


Alfio melupakan itu. Bagaimana hancurnya dia seorang diri. Bagaimana takutnya dia kala itu. Apa mungkin dia sempat berpikir untuk meng …. Arrggh! Alfio tak sanggup membayangkannya.


“Jadi, karena itu kau menikah dengannya?” masih dengang angkuhnya, Alfio tetap menyalahkan Owen atas segala hal yang telah terjadi.


“Berhenti membual. Berhenti mencari pembenaran untuk dirimu dengan menyalahkan orang lain. Sekarang katakan apa keinginanmu!”


Kalah telak! Argumen Owen semuanya benar.


“Jika ingin aku menceraikan istriku, maka sampai kapan pun aku tak akan melakukannya. Kau tak akan pernah mendapatkan keinginanmu itu,” jelas Owen.


Alfio bungkam untuk sesaat. Selama itu pula tatapan Owen tak pernah beralih darinya. Malam ini Owen ingin memperbaiki keadaan. Tessa dalam kondisi tak boleh banyak pikiran. Maka, Owen berharap malam ini ketegangan bersama Alfio harus berakhir.


“Baiklah! Tapi, izinkan aku dekat dengan putriku. Jangan jauhkan kami. Jangan halangi aku untuk bertemu dengannya,” pinta Alfio.


“Jika kalian tak setuju, aku tak akan berpikir dua kali untuk membuka semua rahasia ini kepada mertua kesayangan Tessa!” Jelas sekali jika Alfio menekankan kata ‘mertua kesayangan’ sebagai ancaman.


Tessa dan Owen saling pandang. Dalam benak keduanya sama. Keduanya berpikir jika Alfio mendapat informasi mengenai hubungan buruk Tessa dan Bu Damira tentunya dari Nawra. Sudah terbayang di benak keduanya bagaimana jika Bu Damira tahu mengenai rahasia ini.


“Baiklah, kami setuju!” jawab Owen.


“Tapi jujur saja, kami tak percaya padamu. Bisa saja kau berniat buruk. Menculik Aya … mungkin,”lanjut Owen.


Alfio tertawa. Keberanian dan sikap terus terang Owen baru saja membuatnya kagum. Pria ini memang luar biasa. Tenang dan tepat sasaran, pantas saja Tessa sulit untuk menolaknya, batin Alfio.


“Kau sangat berterus terang, Dokter. Jadi, apa yang harus kulakukan agar kalian percaya?”


“Bersabarlah,” jawab Owen singkat.


“Apa maksud kalian? Kalian ingin mempermainkan aku?”


Lagi-lagi Alfio tersulut emosinya. Sedangkan Owen, pria itu tetap terlihat sangat tenang. Hanya senyuman tipis yang terukir di sudut bibirnya.


“Pertama, bersabarlah menghadapi Aya. Kau tahu, empat tahun bukanlah waktu yang sebentar. Maaf, tapi selama itu dan sampai kapan pun aku adalah ayahnya. Jangan, paksa Aya untuk mengerti dengan keadaan ini sekarang. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti,” jelas Owen.


“Kau menyayangi Aya dan ingin disayangi Aya, bukan?” pertanyaan Owen yang dijawab anggukan oleh Alfio.

__ADS_1


“Maka, bukanlah suatu masalah dia mengenalmu sebagai apa dan siapa. Cukup kau menyayanginya dan dia menyayangimu. Jika Aya sudah cukup dewasa, aku berjanji padamu, aku sendiri yang akan memberitahu kebenaran ini padanya.”


Tessa melirik suaminya. Ia mengernyitkan keningnya tanda ia tak setuju dengan keputusan Owen. Orang seperti Alfio akan sulit dipercaya.


“Yang kedua, bersabarlah untuk mulai mendekati Ayasya. Saat ini, Ibu Tessa sedang berada di rumah kami. Bersabarlah, setelah beliau pergi maka aku akan mempertemukan Aya denganmu.”


Alfio tak langsung menyetujui ucapan Owen. Ia masih menimbang-nimbang, apakah penawaran pria itu menguntungkan untuknya. Sebenarnya, hatinya berat untuk menyetujui penawaran Owen. Namun, mengenai Ayasya yang masih terlalu kecil untuk mengerti dengan keadaan ini, membuatnya ragu. Tentunya ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada putrinya.


Alfio melirik Tessa. Tak hanya Ayasya, ia juga ingin memiliki Tessa. Namun, memaksa wanita itu sepertinya tak mungkin. Hanya dari tatapannya saja, ia bisa melihat besarnya cinta Tessa pada pria di sisinya.


Aku akan mendapatkanmu, bagaimanapun caranya. Pertama Ayasya, setelahnya kamu pun harus menjadi milikku.


“Baiklah aku setuju. Tapi, ketahuilah aku orang yang tak sabaran,” putus Alfio pada akhirnya.


Owen tertawa. “Saat merasakan menjadi seorang ayah, kau akan berusaha menjadi orang yang paling sabar di dunia ini. Percayalah, kau akan berusaha untuk itu,” ucap Owen.


“Baiklah, kurasa kita sepakat. Saat bertemu Ayasya, entah aku atau Tessa akan selalu bersamamu. Meski sama-sama saling percaya, tapi lebih baik saling menjaga.”


“Ayo, Bun. Pembicaraan kita di sini sudah selesai, waktunya kita pergi.” Owen berdiri dari tempat duduknya. Dengan lembut ia membantu Tessa untuk berdiri mengikutinya.


“Sebentar!” Alfio menghentikan langkah pasangan suami istri itu.


“Mengapa kau tak ingin menceraikan Tessa? Apa kau mencintainya?”


Pertanyaan ini Alfio tujukan pada Owen. Namun, pria itu terlihat tak terusik sama sekali. Malahan Tessa yang sedang merangkul lengan Owen yang dibuat merasa risau menanti jawabab suaminya.


“Menurutmu, apa mungkin aku tak mencintai wanita yang telah menjadi istri dan Ibu yang hebat dari anak-anakku?”


“A-anak … anak-anakku?” gumam Alfio lirih mengulang ucapan Owen. Setahunya saat ini, hanya Ayasya anak kecil di keluarga Tessa dan Owen.


Apakah Tessa sedang mengandung anak pria itu? Jika benar, maka harapannya untuk memiliki Tessa semakin sulit.


Jangan khawatir, Alfio. Jika dia saja bisa menerima dan menyayangi Ayasya, maka kau juga pasti bisa menerima dan menyayangi anak yang dikandung Tessa. Jangan mundur hanya karena hal ini, ucap Alfio menyemangati dirinya dalam hati.


...---------------...

__ADS_1


__ADS_2