
“Apa?!” pekik Mami Fhanie sedetik sebelum ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Hal itu dia lakukan agar mencegah pekikannya mengusik tidur Tessa dan Ayasya.
“Lelucon apa ini? Kalian berdua mempermainkan kami?” Air mata Mami Fhanie akhirnya berlinang membasahi pipinya, Ia kecewa.
Bukan kecewa atas kehadiran Ayasya, tapi kecewa pada Tessa dan Owen. Terlebih ketika Mami Fhanie mengingat mendiang suaminya. Ia ingat, betapa suaminya itu memuja Owen, menantunya. Suaminya itu sangat menyayangi Owen. Bagi suaminya Owen adalah pria yang telah membawa banyak perubahan pada diri Tessa. Terlepas dari kesalahan yang keduanya telah lakukan.
Owen menggeleng, sungguh ia tak pernah bermaksud mempermainkan siapa pun. Ia beranjak dari duduknya. Bertumpu pada lututnya di hadapan Mami Fhani.
“Maafkan Tessa, Mi.” Pertama kali Owen memohon maaf atas nama Tessa. Hal ini yang paling penting, Owen tak ingin hubungan Ibu dan anak itu menjadi renggang. Owen tahu bagaimana besarnya cinta Tessa pada Ibunya. Juga, Owen tak ingin istrinya bersedih.
“Maafkan aku juga, Mi,” ucapnya setelah beberapa saat berlalu dan Mami Fhani masih saja bergeming.
“Walau aku bukan Ayah kandung Ayasya, tapi aku mencintainya, aku menyayanginya seperti putri kandungku sendiri.” Owen berusaha meyakinkan Ibu mertuanya.
Mami Fhanie tak bisa menampik hal itu. Kedekatan Ayasya dan Owen sudah membuktikan segalanya. Owen tak perlu membuat alasan untuk meyakinkan orang lain mengenai hal itu. Bagaimana sikap Ayasya saat menujukkan rasa sayangnya pada Owen, sudah menunjukkan bagaimana hubungan keduanya.
“Lalu, siapa Ayah kandung Aya?”
Owen bungkam. Haruskah ia mengatakan jika Ayah kandung Ayasya ada di balik pintu itu? Pria yang tak kalah cemasnya ketika menanti informasi perkembangan kondisi Tessa. Owen dilema.
“Jawab!” desak Mami Fhanie.
Owen menghela napas cukup panjang lalu ia menunduk. Kata maaf lirih terdengar lagi dari bibirnya membuat Mami Fhanie memalingkan wajahnya.
“Untuk itu, bolehkah jika kita menunggu Tessa sadar? Bisakah kita bicarakan lagi nanti?” pinta Owen.
Mami Fhanie menggeleng. Ia sempat melihat lama ke arah ranjang pasien tempat putri semata wayangnya terabaring lemah. “Katakan sekarang!” Desaknya lagi namun Owen tetap bertahan dalam diamnya.
“Baiklah jika kamu masih tetap diam. Maka, malam ini adalah malam terakhir pembicaraan kita. Tak akan ada lagi pembicaraan soal ini,” putusnya.
Owen kembali duduk di sofa. Ia menatap Mami Fhanie dengan tatapan bingungnya. Apakah hanya seperti ini? Apakah Mami Fhanie sudah memberi maafnya? Owen gelisah, ia tak bisa menebak apa maksud Ibu mertuanya itu.
“Pembicaraan terakhir?” gumam Owen.
__ADS_1
“Ya, terakhir. Setelah Tessa pulih aku akan membawa putriku kembali. Aya akan ikut bersama kami,” ucap Mami Fhanie. Ia sengaja memalingkan wajahnya ke arah lain saat berkata seperti itu. Ia tak sanggup melihat wajah menyedihkan menantunya.
“Apa?! Mami ingin memisahkan kami?” Owen tak sanggup. Pria itu tak akan bisa berpisah dari istri dan anaknya.
“Tidak. Mami hanya ingin menyelamatkan putriku,” jawabnya.
“Ta-tapi, Mami pasti tahu jika hal itu tak diinginkan Tessa. Tessa tak mungkin ingin keluarga kami berpisah,” ucap Owen.
“Mami tak lupa kan jika Tessa sedang mengandung buah hati kami? Yang dia butuhkan adalah aku di sisinya.”
Owen tak menyerah untuk meyakinkan Mami Fhanie. Hidupnya tanpa Tessa dan Aya, membayangkannya saja Owen tak mampu.
“Justru karena memikirkan kehamilan Tessa hingga Mami putuskan untuk membawanya,” ucap Mami Fhanie.
“Mami tak berniat memisahkan kalian. Tapi membiarkan Tessa bertahan di sini, bukanlah pilihan yang baik bagi Tessa dan calon bayi kalian.”
Kedua netra Mami Fhanie mulai berkaca-kaca. Dia bisa melihat betapa hancurnya hati Owen dengan keputusan yang telah ia buat. Ia bisa merasakan ketulusan dan kesungguhan Owen.
“Kamu harus menyelesaikan semuanya lebih dulu. Selesaikanlah urusanmu dengan wanita yang meminta pertanggungjawabanmu.”
“Mami percaya, dan Mami yakin Tessa juga akan percaya padamu. Tapi, wanita itu pasti punya alasan mengapa meminta pertanggungjawaban darimu. Selesaikanlah urusan kalian. Juga, mengenai Ibumu … kupikir kamu harus menyelesaikan kesalahpahaman kalian,” ujar Mami Fhanie.
Owen menghela napas panjang. Sepertinya sulit untuk mengubah keputusan Mami Fhanie. Lagi pula setelah ia memikirkan semuanya, apa yang Ibu mertuanya katakan itu ada benarnya. Lebih baik Tessa tak terlibat ketika dia menyelesaikan semua masalah ini.
Owen menunduk, beberapa kali ia terlihat mengusap wajahnya dengan kasar. Owen yakin akan sulit baginya menjalani hari tanpa kehadiran Tessa dan Aya. Namun, harus bagaimana lagi.
“Baiklah, Mi. Aku titip istri dan anakku. Aku berjanji akan segera menyelesaikan semua kesalahpahaman ini. Aku akan segera menjemput mereka. Kumohon saat hari itu tiba, Mami akan mengizinkanku membawa mereka kembali.”
Mami Fhanie mengangguk. Ia menggeser duduknya agar lebih dekat dengan menantunya itu. Ia tepuk lembut lengan Owen untuk memberi dukungannya. “Mami percaya padamu. Kamu juga harus percaya, Mami akan menjaga Tessa, Aya, juga calon bayi kalian, hingga kamu datang menjemput mereka.”
...…...
Waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Suasana hening masih bertahan dalam ruang perawatan Tessa. Sepanjang malam hingga pagi ini menjelang, Owen terpaksa harus bolak-balik antara ruang perawatan Ibunya dan ruang perawatan istrinya.
__ADS_1
“Kapan kamu akan bangun, Nak?” gumam Mami Fhanie lirih. Ia mengusap lembut punggung tangan Tessa.
Beberapa detik setelah itu, tiba-tiba Mami Fhanie merasakan jemari Tessa yang bergerak perlahan. “Eunghh … Ma-Mami,” ucap Tessa.
“Tessa!” seru Mami Fhanie. “Syukurlah, Nak. Bagaimana perasaanmu, Sayang?”
“A-ku baik-baik saja, Mi. Di mana Aya? Bang Owen?”
Mami Fhanie menoleh ke arah sofa bed tempat Ayasya masih terlelap. “Aya tidur dengan nyenyak,” ucapnya.
“Kasian putriku, dia sampai harus tidur di rumah sakit,” sesal Tessa.
Ia edarkan pandangannya ke sekeliling, “Bang Owen di mana, Mi?”
“Entahlah kamu ingat atau tidak, tapi semalam Ibu Mertuamu juga pingsan. Sepertinya Owen sedang memeriksa keadaannya sekarang,” jawab Mami Fhanie.
Mendengar Ibu Mertuanya disebut, Tessa memalingkan wajahnya. Ia sedang berusaha menahan air mata yang hendak melesak keluar dari pelupuk matanya.
Terngiang kembali bagaimana semalam Ibu Mertuanya menghina dirinya. Lalu, pengakuan Nawra … ya, Tessa ingat. Pengakuan mengejutkan dari Nawra sesaat sebelum dia jatuh pingsan.
Bukankah Bang Owen berhutang penjelasan padaku? Batinnya.
Tak lama berselang, pintu ruang perawatan Tessa terbuka. Nampak wajah letih Owen berjalan masuk dengan perlahan. Namun, saat menyadari jika istrinya telah terjaga Owen segera mempercepat langkahnya.
“Bunda!” serunya. Owen segera mendekap erat Tessa yang masih berbaring. “Syukurlah kamu dan bayi kita baik-baik saja,” ucapnya.
Setelah merasa cukup memeluk Tessa, Owen kini menangkup wajah Tessa dengan kedua tangannya. Keduanya bertatapan cukup lama sebelum Owen mengecupi hampir seluruh wajah istrinya.
“Bunda, kamu membuatku khawatir,” akunya.
Tessa mengangguk lemah. “Maafkan aku, Bang.”
“Tapi, Bang … bukankah kamu juga harusnya menjelaskan sesuatu padaku?”
__ADS_1
...——————...