Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 88. Pergi


__ADS_3

Entah apa yang sedang di pikirkan Tessa saat ini. Dia pun tak bisa menjawab jika diberi pertanyaan seperti itu. Duduk di kursi penumpang, memandangi padatnya jalanan dari balik jendela mobil yang tertutup rapat. Tessa tampak sangat menyedihkan di mata pria yang duduk di sisinya, di balik kemudi.


Mobil yang dikemudikan Alfio melaju dengan sangat lambat. Bukan karena pria itu sengaja ingin mengambil kesempatan agar waktu bersama Tessa dan Ayasya lebih lama, namun kondisi jalanan yang sangat padat mengharuskan Alfio lebih sabar.


Ya … kini Alfio, Tessa, Mami Fhanie, juga Ayasya sedang dalam perjalanan menuju bandara. Dalam satu jam ke depan, mereka akan melakukan penerbangan menuju kota P. Kehadiran Alfio di antara mereka bukanlah tanpa alasan. Owen sendiri yang meminta langsung pada pria itu agar mengantar istrinya pulang ke Kota P.


“Semoga kita tidak telat sampai di bandara,” celetuk Alfio memecah keheningan.


“Apakah bandaranya masih jauh?” Hanya Mami Fhanie yang merespon ucapan Alfio dengan pertanyaan pula.


Sedangkan Tessa diam saja. Ia sepertinya tak peduli dengan kemacetan maupun pembicaraan yang terjadi di dalam mobil. Wanita itu tampak tak bergerak dari posisinya sejak masuk ke dalam mobil. Alfio beberapa kali sampai menoleh ke arahnya, memeriksa kondisi Tessa. Memastikan jika wanita yang telah melahirkan darah dagingnya itu baik-baik saja.


Jika melihat kondisi Tessa seperti sekarang, Alfio rasanya menyesal telah mengusik hidup tenang wanita itu. Walau semua kekacauan ini bukanlah disebabkan olehnya, namun, ia tetap merasa bersalah. Dirinyalah yang memulai semuanya. Seandainya dia tidak egois,seandainya dia tak punya keinginan untuk membawa Tessa dan Aya masuk dalam hidupnya, maka semua ini tak akan terjadi.


Sementara di kursi belakang, Owen sesekali melirik pada Ayasya yang duduk dengan tenang di pangkuan Mami Fhanie. Wajah gadis kecil itu tampak murung.


Alfio jadi ingat pembicaraan Mami Fhanie dan Ayasya saat perjalanan ke bandara baru saja dimulai. “Oma, kenapa Ayah tidak ikut liburan bersama kita?” tanya Ayasya sembari memandangi Owen yang masih melambaikan tangan meski mobil melaju semakin menjauh.


“Ayah sedang menjaga Nenek yang sakit,” jawab Mami Fhanie apa adanya. Wajah Aya berubah murung. Alfio melihat gadis kecil itu cemberut. Bibirnya mengerucut, Aya melipat kedua tangannya di depan dada lalu ia menghela napas.


“Kalau Nenek cakit, kenapa kita malah liburan. Harusnya kita bantuin Ayah jaga Nenek,” protes Ayasya.


Kemarin malam saat ia diberitahu akan berlibur ke Kota P, gadis kecil itu sangat senang. Dia begitu semangat membantu sang Oma untuk mengemasi pakaian miliknya. Namun, saat menjemput Bundanya di rumah sakit dan tahu jika Ayahnya tak ikut dalam perjalanan kali ini, sontak semangat gadis kecil itu menghilang.


Alfio yang melihat semua itu menebak jika Ayasya tak senang bepergian tanpa Ayahnya. Kedekatan keduanya sangatlah erat. Akan sulit memisahkan pasangan Ayah dan anak itu. Alfio merutuki dirinya yang baru menyadari hal itu.


Baru berpisah karena akan berlibur saja, Aya sudah sangat sedih. Bagaimana jika mereka benar-benar berpisah? Kasihan sekali putriku, batin Alfio.


Perjalanan yang hening itu akhirnya berakhir setelah mobil yang Alfio kemudikan tiba di Bandara Kota X. Alfio dengan sigap membantu membawa semua barang dan mengurus keberangkatan mereka hingga kini keempatnya sudah duduk di kursi pesawat.


Jika Aya kini sudah tertidur di kursinya yang bersampingan dengan Mami Fhanie, berbeda dengan Tessa yang kembali bergeming seraya memandang ke arah luar jendela pesawat. Alfio yang duduk tepat di sisinya, bisa mendengar helaan napas wanita itu beberapa kali.


Sementara Tessa, dalam benaknya kini terbayang kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi setelah ini. Apakah rumah tangganya akan berakhir seperti ini? Apakah bayi dalam kandungannya akan lahir tanpa sosok Ayah di sisinya? Apakah dia mampu merelakan Owen? Apakah dia mampu bertahan hingga Owen menepati janjinya?


Semua pikiran-pikiran dan kekhawatiran Tessa muncul, karena ingatan membawanya ke kejadian kemarin pagi. Saat sedang bicara serius dengan Owen, Alfio tiba-tiba masuk dalam ruang perawatannya.


“Owen!” pria itu memekik hingga Owen dan Tessa menatap padanya bingung.


Alfio tampak terengah-engah, apa dia berlari ke sini? Tapi, untuk apa? Apa dia ingin membuat keributan? Begitulah pikiran Tessa saat melihat Alfio kala itu.

__ADS_1


“Ibumu …” pekiknya lagi.


Mendengar Ibunya disebut, Owen melepaskan pelukannya pada Tessa. “Ada apa dengan Ibuku?”


Saat itu Tessa bisa melihat kepanikan di wajah Owen. Walau dia belum tahu bagaimana kondisi Ibu mertuanya dengan jelas, namun kepanikan Owen sedikit banyak menjelaskan hal itu.


“Dia baru saja siuman,” jawab Alfio setelah selesai mengatur napasnya yang memburu.


“Benarkah?!” Raut wajah panik Owen sirna sudah berganti dengan raut wajah lega. Ia kembali memeluk Tessa dan mengucapkan kata syukur berkali-kali.


Hal ini semakin menambah rasa penasaran Tessa. Jadi, Ibu baru siuman? Separah apa kondisinya? Tanya Tessa dalam hati. Yang dia ingat semalam dia dan Ibu mertuanya pingsan bersamaan, lalu saat di IGD Tessa sudah sempat siuman dan kembali tertidur karena obat-obatan yang diberikan dokter.


“Bang, memangnya apa yang terjadi dengan Ibu? Beliau baik-baik saja, kan?” tanya Tessa kemarin untuk menjawab rasa penasarannya.


Owen terdiam cukup lama kala itu, lalu ia akhirnya membelai puncak kepala Tessa dengan lembut. “I-Ibu, baik-baik saja. Jangan khawatir,” ucapnya. Namun, dari sorot matanya Tessa bisa menebak jika apa yang dikatakan Owen itu tak benar.


“Aku akan pergi melihat kondisi Ibu dulu, ya. Tak apa kan aku meninggalkanmu sebentar?” Tessa tersenyum, ada kehangatan di dalam hatinya saat Owen meminta izin darinya saat itu.


“Boleh aku ikut bersamamu? Aku juga ingin melihat kondisi Ibu,” pinta Tessa.


Owen menggeleng, menolak permintaannya. “Bunda, Sayang, kesehatan kamu belum pulih benar loh. Nanti, ya … jika kondisimu sudah lebih baik, maka aku akan membawamu mengengok Ibu,” jawab Owen.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Tessa.


“Duduk,” jawab Alfio singkat.


“Aku juga bisa lihat kalau kau sedang duduk,” ucap Tessa. “Tapi, kenapa kau harus duduk di situ? Memangnya sudah tidak ada tempat duduk yang lain lagi?!”


“Aku duduk di sini karena aku sedang menjagamu,” jawab Alfio. “Eh, jangan salah sangka dulu. Ini kulakukan atas permintaan suamimu,” lanjutnya menjelaskan sebelum Tessa kembali protes.


“Terserah kau saja. Tapi, awas saja jika kau macam-macam dan membuat keributan!” peringat Tessa lalu ia kembali melangkahkan kakinya perlahan sembari mendorong tiang infusnya.


Baru beberapa langkah, Tessa dikejutkan dengan Alfio yang membantunya mendorong tiang infusnya. “Hei! Apa yang kau lakukan?!”


“Aku ingin membantumu,” jawab Alfio datar.


“Aku tak perlu bantuanmu!” tolak Tessa.


Alfio menghela napas. Wanita ini benar-benar keras kepala, pikirnya. “Kutebak kau pasti ingin menyusul Owen? Apa kau tahu di mana ruang perawatan Ibu mertuamu?” Tessa menggeleng saat menjawab.

__ADS_1


Alfio tersenyum merasa dirinya menang. “Makanya, kau tak boleh menolak bantuanku. Sini, aku antar kau ke sana.”


Tessa tak dapat lagi membantah. Masa bodohlah, pikirnya. Toh bukan dia yang meminta bantuan Alfio. Pria itu sendiri yang menawarkan bantuan, bahkan Tessa sudah menolaknya tapi pria itu tetap saja memaksa.


Lalu setelah berjalan tak begitu jauh, tibalah Tessa dan Alfio di depan sebuah ruangan. Tessa tampak ragu untuk masuk ke dalam. Bagaimana jika dia tak diterima dan diusir, pikirnya.


Saat Tessa masih bergeming, pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter dan dua perawat keluar dari sana. Mengira Tessa akan masuk, Dokter itu sengaja membiarkan pintu terbuka.


Tessa pun mulai melangkahkan kakinya, namun ia berhenti saat terdengar suara Ibu mertuanya yang sedang berbicara. “Biarkan aku mati!”


Tessa menelan salivanya saat mendengar ucapan Ibu mertuanya itu. Langkahnya kembali tertahan. “Aku tak mau dioperasi jika kau masih tak meninggalkan wanita itu!” Ucap Bu Damira lagi.


“Bu!” kini suara Owen yang terdengar oleh Tessa. “Bagaimana mungkin aku meninggalkan istriku yang sedang mengandung buah hati kami. Itu tak akan mungkin!”


“Terserah. Jika itu keputusanmu, maka pergilah pada wanita murahan itu. Kau lebih memilihnya, bukan? Tak usah pikirkan aku lagi, biarkan aku mati saja!” Tessa bisa mendengar tangisan Qanita saat Ibu mertuanya mengatakan itu.


“Bu, mana mungkin aku bisa memilih antara Ibu dan Istriku,” ucap Owen terdengar frustasi. “Kumohon Bu, lakukan operasi ini. Pemasangan ring jantung akan mengurangi risiko yang lebih fatal lagi, Bu,” bujuk Owen.


Mendengar itu, Tessa menutup kedua mulutnya. Bagaimana ini? Jadi, ini alasan Owen memintanya pergi dengan Mami Fhanie? Tak ingin Owen tahu jika dia mendengar semua pembicaraan mereka, Tessa kembali ke ruang perawatannya.


Setelah beberapa saat, Owen kembali saat dirinya akan makan siang. Tessa berusaha agar terlihat baik-baik saja. “Bang, aku sudah putuskan untuk ikut bersama Mami. Kamu benar, sepertinya aku butuh liburan,” ucap Tessa berusaha menahan air matanya.


Saat itu Owen tampak terkejut dengan keputusan Tessa. “Kapan aku bisa pergi, Bang?” tanya Tessa lagi.


“Baiklah. Tapi Aku harus mengambil cuti dulu untuk mengantar kalian,” jawab Owen.


“Tak perlu mengantarku, Bang. Aku bisa kok pergi sendiri, kan ada Mami juga,” tolak Tessa.


Owen diam beberapa saat sebelum ia akhirnya menggeleng. “Kamu tidak boleh pergi sendiri. Jika aku tak bisa mengantarmu, maka akan kuminta seseorang melakukannya.”


“Siapa?” tanya Tessa.


“Alfio. Dia yang akan mengantar kalian. Aku percaya dia akan menjaga kalian,” jawab Owen kala itu.


Begitulah akhirnya hingga saat ini Tessa duduk bersampingan dengan Alfio di dalam pesawat. Pada akhirnya Tessa memutuskan untuk mengalah. Dia tak boleh egois, pikirnya. Owen sudah mengorbankan banyak hal untuk dirinya. Ia tak ingin Owen menyesal seandainya terjadi sesuatu yang buruk pada Ibu mertuanya karena Owen yang tetap mempertahankan dirinya dan Aya.


Ya Tuhan, kuserahkan semuanya padamu. Kumohon, berikan kesembuhan pada Ibu mertuaku. Bukakanlah hatinya, agar bisa menerima kami. Lindungilah selalu suamiku. Semoga masalah rumah tangga kami bisa segera berakhir, doa Tessa dalam hati.


Air matanya luruh seiring dengan pesawat yang mulai lepas landas. Tessa masih saja terus menatap ke luar jendela. Sampai jumpa, suamiku. Aku harap kita bisa segera berkumpul bersama lagi.

__ADS_1


...—————-...


__ADS_2