Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 79. Mengungkap


__ADS_3

“Silakan duduk.” Alfio menunjuk sofa yang ada di ruangannya sementara dirinya mengambil beberapa botol minuman dari dalam lemari pendingin yang juga tersedia di dalam ruangannya.


“Kelihatannya kau sedang tidak baik-baik saja,” tebak Alfio. “Kau tak mengajak Tessa untuk datang bersamamu?”


Alfio dengan bodohnya masih saja berbasa-basi yang semakin memancing kemarahan dalam diri Owen. Tak bisakah ia melihat dari raut wajah dan sikap dingin dokter muda itu, sudah jelas sekali jika ada amarah yang siap meledak sebentar lagi.


“Istriku tak ada urusannya kali ini. Kau hanya akan berurusan dengannku!”


Alfio tak bisa lagi menutupi keterkejutannya. Ia ingat bagaimana Owen sangat tenang saat pertemuan mereka terakhir kali. Padahal kala itu, Alfio terus berusaha memancing amarah dokter muda itu. Lantas, mengapa sekarang dia tampak sangat geram? tanyanya dalam hati.


“Baguslah kau datang. Aku juga punya urusan dengannmu,” ucap Alfio.


“Aku ingin meminta kepastian perjanjian kita. Sampai kapan aku harus menunggu untuk bertemu anakku? Sampai kapan aku harus bersabar menunggu waktu untuk bertemu dengan anak kandungku?!”


“Oh … jadi karena kau sudah tidak sabar sampai-sampai kau datang menemui istriku?!” Intonasi suara Owen mulai meninggi.


Alfio masih dengan gaya angkuhnya malah tergelak. “Jadi kau tak terima aku menemui istrimu? Itu alasannya kau datang menemuiku.” Alfio salah mengira maksud Owen.


“Jangan pura-pura bodoh!” bentak Owen. Alfio yang memang mudah terpancing emosinya tampak mengepalkan kedua tangannya. Ia geram disebut bodoh oleh Owen.


“Jangan bertingkah seolah kau tak tahu alasanku ke sini. Aku memang tak suka kau datang menemui istriku dan mendesaknya. Tapi kucoba untuk mengerti bahwa kau melakukan hal itu karena besarnya rindumu pada Aya,” jelas Owen.


“Tapi kesalahanmu lebih dari itu! Mengapa kau tak bisa menahan mulutmu untuk tak memberitahu Nawra mengenai semua ini?!” Bentaknya menyudutkan Alfio.


Alfio bungkam sejenak. Dia mencoba untuk mencerna ucapan Owen. Nawra tahu mengenai rahasia kami, dan aku dituding menjadi orang yang telah membocorkan rahasia itu, pikir Alfio.


“Hei! Kau jangan asal menuduh!” bantah Alfio tak terima. “Aku bahkan tak pernah lagi menemui wanita itu,” imbuhnya.


Kini gantian Owen tergelak. “Tak ada orang lain yang tahu rahasia ini selain aku, istriku, dan kamu.”


“Kau tahu dari mana? Apa dia menemui kalian dan membuat keributan?” Alfio ikutan geram. Ia memikirkan dampak pada Ayasya jika itu benar terjadi.


Walau hanya beberapa kali bertemu Nawra, Alfio bisa menebak bagaimana besarnya keinginan Nawra menghancurkan keluarga Owen dan Tessa. Walaupun tujuan mereka sama, namun Alfio tak akan pernah mau melibatkan Ayasya.

__ADS_1


“Seorang teman lama datang menemuiku, dia menanyakan kebenaran berita yang dia dengar dari Nawra,” jawab Owen.


Wanita gila! umpat Alfio dalam hati. “Bahkan dia sudah memberitahu berita ini pada orang lain?!”


“Kau salah besar jika berpikir Nawra bisa membantumu untuk mendapatkan apa pun itu yang kau mau. Aku sudah mengenalnya sejak lama, dan dia tak pernah berubah sejak dulu. Dia wanita egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia tak akan menguntungkanmu sama sekali. Dia hanya akan membawa masalah.”


Alfio terdiam. Apakah dia telah salah langkah? Begitu yang menjadi pertanyaan dalam benaknya kini.


“Sudahlah! Aku tidak punya urusan dengan wanita itu. Tapi, karena dia sudah berani membawa-bawa putriku, maka aku akan memberinya pelajaran!”


Mendengar janji Alfio, amarah Owen perlahan mereda. Ia bisa melihat kejujuran dari sorot mata pria di hadapannya. Owen jadi bertanya-tanya bagaimana bisa Nawra mengetahui rahasia yang mereka simpan rapat-rapat.


“Baiklah, kuserahkan urusan Nawra padamu. Kau tahu jika istriku saat ini sedang mengandung. Kuminta bantuanmu, tolong jangan tekan dia. Bicaralah padaku sebagai sesama pria,” pinta Owen.


“Kau harus menyadari jika kita di pihak yang sama. Aku tak punya niat untuk menyulitkanmu. Aku tahu dan sadari jika kau punya hak untuk bisa dekat dengann Ayasya.”


Setelah pembicaraannya dengan Alfio selesai, Owen bergegas pergi meninggalkan restoran milik pria itu. Mobil yang ia kemudikan, kembali melaju dengan cepat membelah jalanan yang mulai lengang. Aku harus segera pulang, memastikan Nawra belum melakukan hal gila lain selain menemui Ben, batin Owen.


Sementara Alfio, setelah Owen pergi ia merenung. Otaknya ia gunakan untuk mencerna ucapan Owen. Sorot mata Owen yang penuh ketulusan terbayang di benaknya. “Apakah aku telah salah karena berniat menghancurkan rumah tangga mereka?” gumamnya.


Seketika Alfio merasa bersyukur. Ia merasa beruntung. Selama bertahun-tahun ia tak bisa berada di sisi putrinya, Ayasya diasuh oleh pria keren seperti Owen.


Memikirkan putrinya, ia jadi teringat Nawra. Ia coba menghubungi nomor telepon yang diberikan Nawra padanya, namun sayang panggilannya tidak dijawab.


“ Roy!” teriaknya dari dalam ruangan memanggil asistennya.


“Ya, Bos?”


“Cari wanita si*lan itu sampai ketemu!” titah Alfio menahan geram pada Nawra.


...…...


Jauh dari hiruk piku kota, Nawra kini duduk dengan gusar di hadapan Bu Damira dan Qanita. Meski sudah disuguhi secangkir teh oleh si tuan rumah, namun Nawra belum berniat menyentuhnya sama sekali.

__ADS_1


“Kau ingat terakhir kali rencanamu yang gagal total?!” ucap Bu Damira mengingatkan Nawra


Nawra berdecak dalam hati. Untuk apa coba wanita tua ini mengungkit kejadian malam itu lagi, batin Nawra.


“Bukannya berpisah, setelah malam itu Owen dan Tessa malah makin lengket,” lanjut Bu Damira.


“Malam itu kesalahan, Bu. Anggap saja kegagalan yang tertunda,” balas Nawra.


“Tertunda?!” Bu Damira tergelak. “Lalu kapan akan berhasil?”


“Sebentar lagi, Bu,” senyum licik tampak menghiasi wajah Nawra.


Bu Damira mulai terpancing rasa penasarannya. “Katakan apa rencanamu kali ini?”


“Aku sudah merencanakannya. Tapi aku butuh bantuan Ibu,” jawab Nawra.


“Cepat katakan!” desak Bu Damira mulai tak sabar.


“Ibu harus minta Owen menceraikan Tessa!” ucapnya enteng.


“Kalau itu aku sudah lakukan berkali-kali. Kau kira apa yang selama ini kulakukan? Aku sampai bosan berdebat denga Owen.


“Tapi kali ini aku yakin akan berhasil,” ucap Nawra pecaya diri.


“Paksa Owen berpisah dari Tessa. Owen tak seharusnya terjebak dengan masalah yang disebabkan oleh kehamilan Tessa,” ucap Nawra.


“Apa maksudmu?”


“Ya, Owen tak seharusnya bertanggung jawab atas bayi yang dikandung Tessa,” jawab Nawra.


“Karena?” desak Bu Damira.


“Karena Ayasya sebenarnya, bukan anak kandung Tessa dan Owen!” jawab Nawra.

__ADS_1


...————————...


__ADS_2