
“Aku menyesal, Bang,” aku Tessa. Ia menangis, menyesal karena sekali lagi telah melakukan hal yang bodoh.
“A-aku, aku sudah membuang semua isinya. Aku tak akan mengulangnya lagi. Aku janji, Bang!” sesalnya.
Melihat istrinya menangis, Owen pun mulai merasa tak tega. Entah dimulai sejak kapan, tangis istrinya telah menjadi salah satu kelemahannya.
“Menurut kamu, setelah membuang semua pil si*lan itu masalah ini akan selesai?” tanya Owen.
Tessa menggeleng. Ia mendekati Owen dan memeluk salah satu lengannya. “Aku janji, Bang. Tak akan kuulangi lagi, maafkan aku. Kamu mau kan? Kamu masih bisa memaafkanku, iya kan?”
Tentu saja akan selalu ada maaf untuk istrinya. Namun, kali ini Owen ingin Tessa benar- benar merenungi kesalahannya. Kekecewaannya membuatnya berpikir, jika selama ini ia terlalu lembut menghadapi istrinya.
Meski pelukan Tessa di lengannya semakin erat. Sesekali Ibu muda itu juga menggoyang-goyangkan tangannya, namun Owen tetap bergeming.
“Apa kepercayaan akan kembali utuh setelah memaafkan?” tanya Owen lirih.
“Beri aku alasan, Tes! Yang aku inginkan adalah alasan mengapa kamu tega melakukan itu?” lanjutnya.
“I-itu, itu karena aku belum siap memilki anak. Aku pikir, Aya masih butuh perhatian lebih,” jawab Tessa berbohong.
“Bukan itu, Tessa. Kamu salah! Kamu belum tahu masalah kita apa sebenarnya,” ungkap Owen.
“Masalah kita di sini, kamu yang belum bisa percaya padaku. Kamu yang belum yakin dengan rumah tangga kita. Kamu yang belum bisa menerima kehadiran aku di hidupmu,” jelas Owen.
Perlahan pelukannya pada lengan Owen mulai terlepas. Kepalanya menunduk dan mulai terdengar kembali isak tangis Tessa.
“Aku masih takut berharap, Bang,” akunya jujur.
“Aku takut kembali merasakan cinta yang tak terbalas,” imbuhnya.
Mendengar istrinya membahas soal cinta, sontak membuat Owen gusar. Berharap pada siapa yang dimaksud Tessa. Cinta pada siapa? Tanyanya dalam hati.
“Maksudmu, kamu memiliki perasaan pada pria lain?” tanya Owen mulai gusar.
“Bang!” pekik Tessa.
“Aku tak pernah merasa diriku sempurna sebagai istri ataupun ibu. Tapi, tak ada sedikitpun niatku untuk mengkhianati ikatan suci ini,” ungkap Tessa.
Wajah Tessa yang beberapa hari terakhir tampak pucat, kini memerah menahan kekesalan dan kekecewaan pada suaminya. Owen bungkam, tak bisa berkata-kata. Dia bisa melihat kejujuran dari sorot mata istrinya.
Lantas siapa yang tak membalas cinta Tessa? Tanya Owen dalam hati. Apakah aku?
__ADS_1
Owen ingat, dulu saat mereka masih di kota P, Tessa sering berusaha menarik perhatiannya. Namun, karena cinta yang ia pendam pada Sea, dia sengaja menghindari Tessa. Membuat batasan yang jelas dengan wanita yang akhirnya kini menjadi istrinya.
“Bunda … Ayah ….” Pekikan Aya membuyarkan ketegangan di antara Owen dan Tessa.
Tessa segera megusap buliran air mata di sudut mata juga di pipinya. Sementara Owen terdengar berdeham beberapa kali untuk menormalkan detak jantungnya.
“Bunda … Aya pengen mandi,” pinta balita menggemaskan itu.
Tessa melirik ke arah jam di dinding, “Memang sudah waktunya Aya mandi,” gumam Tessa lirih.
“Oke,” jawabnya diikuti senyum pada putrinya. “Bunda bantu mandiin, ya.”
“Kita bicara lagi nanti, Bang,” ucap Tessa.
“Ya, kalian bersiaplah untuk ke pesta Nawra. Kita akan pergi bersama-sama,” balas Owen sembari menatap punggung Tessa yang berjalan menuju kamar mandi.
...…...
Selagi Tessa dan Aya bersiap-siap, Owen berniat menemui Ibunya. Tentu saja ia ingin penjelasan mengenai hadiah yang dibicarakan istrinya.
Tok … tok … tok ….
“Ibu, bisa kita bicara sebentar?” seru Owen dari depan pintu kamar Ibunya.
“Eh, kamu sudah pulang, ya?” sambut Ibunya. “Ibu sedang bersiap-siap, jadi tak tahu kalau kamu sudah pulang,” jelasnya.
“Tak apa, Bu. Ibu sedang siap-siap untuk ke pesta Nawra, ya?” tanya Owen dijawab anggukan oleh Ibunya.
“Iya, ini Ibu sengaja dandan yang cantik biar enggak malu-maluin nanti di sana,” ungkap Bu Damira.
“Kata Nawra, akan ada Ibu-Ibu sosialita yang datang ke pestanya. Itu loh, Wen … kumpulan pengusaha muda pemilik toko kue,” lanjutnya menjelaskan.
Owen hanya merespon dengan anggukan. Sebenarnya ia tak peduli dengan pesta Nawra. Apa yang dilakukannya pagi tadi, merupakan sikap impulsifnya karena memendam kekecewaan pada Tessa.
“Tessa dan Aya juga sedang bersiap. Kita bisa pergi bersama-sama nanti,” ucap Owen.
Mengetahui jika Tessa juga akan ikut menghadiri pesta Nawra, sontak raut wajah Bu Damira berubah. Senyumnya tak se-sumringah sebelumnya.
“Oh, memangnya tak apa jika Aya ikut juga? Pestanya kan sampai larut malam, bagaimana jika Aya ngantuk dan ingin tidur,” ujar Bu Damira.
“Ya, tinggal pamit pulang saja, Bu,” jawab Owen singkat.
__ADS_1
“Itulah mengapa aku berani membawa Aya, toh tempat pestanya juga dekat, kok. Aku juga enggak berencana untuk berlama-lama di sana, Bu.”
Wajahnya semakin ia tekuk saja. Bu Damira merasa rencananya untuk memberi waktu pada Nawra dan Owen berduaan, akan terancam gagal.
“Oh ya, Bu … kata Tessa, hadiah untuk Nawra sudah Ibu beli?” tanya Owen menghentikan lamunan ibunya.
“Iya, sudah!” jawabnya bersemangat. “Kamu tahu, Ibu pilihkan kado paling spesial untuk Nawra. Ibu jamin, Nawra akan menyukainya. Apalagi hadiah ini kan dari kamu.”
“Hadiah ini bukan hanya dari aku seorang, Bu. Ini dari kita semua, dari keluarga kita,” sanggah Owen.
“Boleh aku lihat hadiahnya apa?” pinta Owen.
Bu Damira bergeser, membuka pintu kamar tamu lebih lebar dan mempersilakan putranya masuk. Owen mengikuti langkah Ibunya, ia duduk di bagian tepi tempat tidur.
Owen melihat ke sekeliling kamar, banyak paper bag dari berbagai toko berserakan di lantai. Yang dia tahu, Tessa dan Aya juga ikut berbelanja bersama Ibunya.
Mengapa tak ada tanda-tanda barang belanjaan di kamar, ya? tanya Owen dalam hati.
“Nih.” Sebuah kotak beludru berwarna hitam disodorkan oleh Bu Damira ke hadapan Owen.
“Apa ini?” tanya Owen.
Dari tempatnya saja ia sudah bisa menduga apa isi kotak beludru itu. Dari nama brand yang tercetak dengan tinta berwarna emas di atas kotak itu, Owen bisa mengira-ngira berapa uang yang harus ia keluarkan.
“Apa lagi?! Ini hadiah untuk Nawra!” jawab Bu Damira.
Setelah kotak beludru itu ia buka, kening Owen mengernyit. Kalung dengan liontin berbentuk hati, sangat cantik, berkilau, dan pastinya tampak mewah.
“Ibu yakin ingin memberikan kalung ini pada Nawra?” tanya Owen ragu.
Ibu Damira mengangguk yakin.
“Bu, coba pikirkan lagi. Nawra hanyalah teman lama yang baru saja kembali bertemu. Suatu kebetulan dia menjadi tetanggaku, Bu,” jelas Owen.
“Apa salahnya?! Apa kamu lupa, dulu sedekat apa kamu dengannya? Lagian siapa yang tahu jika pertemuan kalian lagi ini hanya kebetulan atau bisa jadi suatu pertanda,” ujar Bu Damira.
“Ibu sendiri yang bilang jika dulu kami dekat. Du-lu Bu! Semua sudah berlalu,” ucap Owen tak setuju dengan pemikiran Ibunya.
“Sudah! Aku tak ingin berdebat dengan Ibu,” putus Owen.
“Karena hadiah ini adalah pilihan Ibu, maka silakan Ibu yang berikan pada Nawra.” Dan setelah meletakkan kembali kotak beludru hitam itu di atas nakas, Owen pun keluar dari kamar Ibunya.
__ADS_1
Ah! Semakin lama Ibu semakin keterlaluan! batin Owen.
...——————...