Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 48. Menemui Papi dan Mami


__ADS_3

“Bang ….”


Tak mereda, isak tangis Tessa semakin menjadi-jadi. Ketika tangan Owen menghentikan tangannya memasukkan pakaiannya ke dalam koper, tubuh Tessa mendadak lemah tak bertenaga.


Hampir saja ia terjatuh ke lantai, seandainya Owen tak sigap menangkap tubuhnya. “Ada apa, Bun? Katakan!”


Tessa tak menjawab. Semakin Owen mendekap tubuhnya erat, maka semakin erat pula ia membalas dekapan Owen.


“Bun, kamu buat aku khawatir,” akunya. “Ada apa? Kamu sakit?”


Tak ada yang bisa Owen pikirkan. Kemungkinan lain yang membuat istrinya menangis sesenggukan seperti saat ini hanyalah karena ia sedang merasa sakit. Apalagi saat merasakan genggaman Tessa yang dingin dan bergetar.


Tessa menggeleng. “Pa-pi … Bang,” ucap Tessa terbata-bata.


“Papi? Kenapa dengan Papi?” desak Owen.


“Papi dilarikan ke Rumah Sakit setelah tiba-tiba saja pingsan,” ungkap Tessa diiringi tangisnya lagi.


“Oh, Tuhan ….” Owen semakin erat memeluk tubuh lemah istrinya. Sesekali ia kecup puncak kepala Tessa, ia ingin istrinya itu tak merasa sendiri.


“Bisakah kamu lebih tenang, Bun?” pinta Owen dengan lembut. Satu hal yang patut Owen syukuri, sebagai dokter dia terbiasa menghadapi keadaan darurat dengan tenang.


“Jadi, kamu mengemas bajumu karena ingin berangkat ke Kota P malam ini?” tanya Owen dan dijawab dengan anggukan oleh Tessa. Ada kelegaan dalam hati Owen saat tahu jika kekhawatirannya tidak terbukti.


Owen menengok jam di dinding, lima menit lagi pukul sebelas malam. Owen pun memikirkan putrinya, seandainya Tessa pergi sudah pasti putrinya juga akan ikut dengannya.


“Izinkan aku hubungi Mami Fhanie lebih dulu.” Owen menggendong Tessa, merebahkannya di atas tempat tidur.


Ia belai mesra kepala istrinya. “Tenang, ya. Kita akan bertemu Papi dan Mami secepatnya,” ujar Owen menenangkan Tessa.


Segera Owen menghubungi Mami Fhanie. Sayanganya, Ibu mertuanya itu tak bisa bicara langsung dengannya, karena sedang bertemu dengan dokter. Owen harus puas hanya mendapat informasi dari sekertaris Papi Stephen. Berdasarkan informasi yang Owen terima, Ayah mertuanya mengalami serangan jantung. Besar kemungkinannya karena kelelahan dan kurang beristirahat.


Cukup lama Owen berbicara, sebelum ia kembali mendekati istrinya. “Papi sudah ditangani oleh Dokter. Aku baru saja bicara dengan sekretarisnya,” ungkap Owen.


“Aku memesan penerbangan ke Kota P. Namun, yang paling cepat adalah lima jam lagi,” imbuhnya.


“Tak ada yang lebih awal lagi? Menunggu lima jam … hem, terlalu lama, Bang!” rengek Tessa.


Owen kembali membelai puncak kepala istrinya. Ia menunjukkan jadwal penerbangan yang tertera pada layar ponselnya agar Tessa percaya. “Aku janji akan mengusahakan yang terbaik agar kita segera tiba di sana,” ucap Owen.


“Selain itu, kamu harus pikirkan kesehatanmu, juga Aya. Jangan sampai niat kita untuk menjenguk Papi malah kacau karena kamu atau Aya ikutan sakit,” lanjutnya.


“Kamu bisa bersabar kan, Bun?”


Tessa yang sudah lebih tenang mengangguk. Ia hendak bangun dan meneruskan mengemasi barang-barangnya, namun Owen mencegahnya.


“Istirahatlah, Bun!” pintanya. ”Biarkan aku yang menyelesaikan ini.”

__ADS_1


Owen mulai mengemasi pakaian yang sebelumnya telah disiapkan oleh Tessa. Setelah itu, ia juga mulai memasukkan pakain miliknya ke dalam koper.


“Bang, kok pakaian Bang Owen juga di masukin?” tanya Tessa. ”Bang Owen juga ikut bersama kami?”


“Tentu saja! Kamu lupa ya, Papi Stephen itu juga Ayahku.” Owen mengacak lembut rambut Tessa.


“Bagaimana dengan pekerjaanmu, Bang?”


“Bun, kondisi seperti ini adalah kondisi tak terduga. Aku bisa kok ngajuin izin, walaupun mungkin tak akan bisa lama,” jawab Owen.


“Kita lihat nanti ya, Bun,” imbuhnya.


“Sudah, sudah, istirahatlah! Kita akan berangkat beberapa jam lagi.”


Tessa pun akhirnya berusaha memejamkan mata. Harusnya ia bisa tidur dengan mudah, kedua matanya terasa lebih berat akibat menangis. Namun, walau ia berusaha memejamkan matanya tak sedetik pun ia bisa terlelap.


Owen yang meneruskan mengemas pakaian-pakaian yang akan mereka bawa, sesekali menoleh pada istrinya. Ia menghela napas melihat istrinya memejamkan mata namun belum sepenuhnya tertidur. Owen pun berusaha agar lebih cepat selesai dengan pekerjaanya. Setelah itu ia bersihkan tubuhnya dan berbaring di samping Tessa.


Masih ada dua jam sebelum mereka harus bangun dan bersiap-siap. Tessa yang sejatinya belum tidur, terkejut dengan hadirnya lengan suaminya yang tiba-tiba memeluknya.


Owen menarik tubuh Tessa agar lebih mendekat padanya. Mengecup punggung Tessa hingga wanita itu tak bisa lagi bertahan menutup kedua netranya.


“Ah, Bang! Geli, tahu!” protes Tessa.


Owen tertawa. “Loh, kupikir kamu sudah tidur. Kan aku mau nyuri-nyuri kesempatan, Bun,” canda Owen.


“Beneran, Bun. Suer!” Owen menunjukkan dua jemarinya yang ia bentuk layaknya huruf V. “Aku mikirnya kamu sudah tidur,” imbuhnya.


Tessa menggeleng. “Aku enggak bisa tidur, Bang,” rengeknya.


“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Soal Ibu? Atau soal Papi?” cecar Owen.


Lagi-lagi Tessa mengangguk, lalu sedetik kemudian ia menggeleng. “Loh, yang bener yang mana nih, Bun? Apa ada hal lain yang mengganggumu?”


“Hem ….” Tessa berdeham. “I-itu Bang, teman kamu, Si Ben!”


“Ben?! Ada apa dengannya?” tanya Owen pura-pura tak tahu dengan kejadian yang dilihatnya tadi di pesta Nawra.


“Ben tadi mengakui jika dia adalah salah satu penggemarku yang kecewa setelah aku tiba-tiba menghilang,” aku Tessa.


“Apa dia mengancammu?! Apa dia menyakitimu?!” selidik Owen.


Tessa menggeleng. “Entahlah Bang, tapi sepertinya dia sudah gila!” Ia bergidik ngeri saat mengingat bagaima sikap Ben tadi.


“Seperti penggemar fanatik yang ekstrim begitu loh, Bang,” adunya.


Owen memeluk Tessa lagi. Ia benamkan kepala istrinya di dada bidangnya. “Sudah, sudah, masalah Ben akan kuselesaikan setelah kembali dari menjenguk Papi,” ucap Owen menenangkan istrinya seraya membelai lembut kepala dan punggungnya.

__ADS_1


Sialan, Ben! Berani macam-macam kau dengan istriku! Geram Owen dalam hati menahan amarahnya.


...…...


Pukul lima pagi berangkat ke Kota P, kini keluarga kecil Owen sudah tiba di Rumah Sakit Pelita Harapan setelah menempuh hampir dua jam perjalanan udara dan darat. Owen dan Tessa meninggalkan rumah, tanpa pamit pada Bu Damira. Mereka hanya meninggalkan catatan kecil yang ditempel pada pintu lemari pendingin.


Mobil yang dikendarai Noah, baru saja tiba di pelataran parkir rumah sakit. Aya masih saja tertidur dalam gendongan Ayahnya, ia tampak sangat kelelehan. Balita menggemaskan itu tak terusik sama sekali dengan perbincangan para orang dewasa.


Sepanjang perjalanan tadi, Noah terus membahas perkembangan kondisi kesehatan Papi Stephen. Walaupun tak paham dengan istilah-istilah kedokteran, namun beberapa ucapan dan raut cemas di wajah keduanya, membuat Tessa yakin jika kondisi Ayahnya tak baik-baik saja.


Noah menuntun Owen dan Tessa berjalan menuju ruangan ICU, tempat Papi Stephen mendapatkan perawatan intensif. Perjalanan menuju ke sana, melewati kafetaria di mana Owen tak sengaja melihat Sea bertemu seorang pria.


Langkahnya yang cepat, mengikuti langkah Noah dan Tessa, membuat Owen kesulitan untuk memastikan siapa pria yang ditemui Sea. Namun, dalam banyangannya sudah ada satu sosok yang terpikirkan.


Berani sekali pria itu menemui Sea di sini? Batin Owen.


Mereka pun akhirnya tiba di depan ruangan ICU. Ada Phyla, Sandy, dan sekretaris Papi Stephen menunggu di sana. Tessa dan Phyla saling berpelukan, selain karena rindu keduanya saat ini sedang saling menguatkan.


“Ayo, kuantar kau masuk ke dalam!” ucap Sandy.


Sebelum mengikuti Sandy, Tessa sempat menoleh pada Owen. “Masuklah lebih dulu. Aku akan menyusul setelah Aya bangun. Di dalam sana juga tak boleh terlalu banyak pengunjung,” ucap Owen.


“Baik, Bang. Titip Aya ya, Bang,” pamit Tessa lalu mengikuti langkah Sandy memasuki ruang ICU.


Owen dilanda rasa penasaran dengan pria yang ditemui Sea. Tak jauh dari tempatnya duduk, Owen bisa mendengar Noah yang sedang menghubungi istrinya, Sea.


Apa Sea sembunyi-sembunyi masih menemui pria itu di belakang Noah? Batin Owen.


Owen tahu bagaimana kisah mereka bertiga. Owen pun salah satu saksi bagaimana dulu rumitnya rumah tangga sahabatnya itu. Semua terjadi karena pria yang ditemui oleh Sea.


Beberapa menit setelah Noah menghubungi Sea, wanita itu pun akhirnya kembali. Ia datang bersama putranya, Izzan yang masih mengenakan seragam sekolahnya.


Sea nampak terkejut melihat kehadiran Owen yang memangku Aya. “Kak O-Owen!” sapanya. Refleks Sea menoleh kebelakang, seolah memastikan tak ada orang lain yang mengikutinya.


“Sudah lama sampainya? Di mana Tessa?” tanya Sea.


“Baru beberapa menit yang lalu. Tessa sudah masuk lebih dulu menemui Papi,” jawab Owen.


Sea mengangguk, namun raut cemas terlihat jelas di wajah cantiknya. “Dari mana saja kamu, Sea? Aku rindu dengan kopi di kafetaria. Harusnya tadi aku titip kamu untuk beliin kopi,” ucap Owen memancing Sea.


“Ko-kopi? Nitip beli kopi di kafetaria?” ulang Sea tampak gugup.


“I-itu, aku tadi menjemput Izzan ke lobi. Aku tak pergi ke kafetaria,” elak Tessa.


“Oh, kupikir kamu baru saja kembali dari sana,” balas Owen. Dalam hati ia semakin curiga dengan gelagat aneh Sea.


Mau apa pria itu menemui Sea? Berani sekali dia menemui istri orang, ditempat suami si wanita bekerja, ck, batin Owen.

__ADS_1


...———————...


__ADS_2