
“Kamu mau aku tes sekarangf?” tanya Tessa.
“Iya, Bun ... sekarang,” jawab Owen. Satu tangannya mengelus lembut puncak kepala istrinya.
Akh, Owen sudah tak sabar ingin tahu hasil tes kehamilan istrinya. Dalam pikirannya tak ada alasan lain, selain kehamilan yang menyebabkan seharian ini istrinya merasa pusing dan mual. Dan lagi, satu hingga dua bulan terakhir keduanya memang rutin berhubungan suami istri.
Kening Owen mengernyit manakala istrinya bergeming. “Bun, ada apa? Apa kamu mual lagi? Atau pusing?” Raut cemas terlihat jelas di wajah Owen.
Sementara Ayasya yang mendengar ucapan Ayahnya bergegas menghampiri sang Bunda. “Bunda … cakit agi?” tanyanya.
Tessa menggeleng dan tersenyum pada putrinya. “Enggak, Sayang, Bunda baik-baik saja.”
Mengetahui jika sang Bunda baik-baik saja, Aya pun tertawa. Malam semakin larut, balita itu pun menguap karena merasa kantuk.
Melihat hal itu akhirnya Tessa mendapatkan ide untuk menolak permintaan Owen. “Aku nemenin Aya tidur dulu ya, Bang,” ucapnya.
“Hah? Sekarang? Tes dulu saja, Bun. Enggak bakalan lama kok, paling hanya sepuluh menit saja,” bujuk Owen.
“Ta-tapi Bang, bukannya hasil yang lebih akurat jika tes dilakukan pada pagi hari setelah bangun tidur?”
“Tes malam ini pun tak apa, Bun. Jika belum yakin, kita bisa mengulang tesnya lagi besok pagi. Bagaimana?” Owen menunjukkan beberapa alat tes kehamilan dengan berbagai macam merek yang ia beli bersama Aya.
“Kamu membeli sebanyak itu, Bang?” Tessa menatap tak percaya atas apa yang dilakukan suaminya.
“Ya, aku sengaja membeli banyak alat tes,” jawab Owen.
“Mengapa?”
“Karena aku tak ingin kamu terbebani. Jika hasilnya tak sesuai dengan harapan kita, aku ingin kamu tahu kalau waktu kita masih banyak. Kita bisa melakukan tesnya lagi, lagi, dan lagi,” ungkap Owen memberikan semangat pada istrinya.
Tessa megusap kedua sudut matanya secara bergantian. Ada genangan air mata yang tak dapat ia cegah untuk berlinang. Tetesan air mata di pipinya secepatnya ia usap agar tak dilihat oleh suaminya.
“Ada apa, Bun?” tanya Owen. “Apa kamu belum siap untuk memiliki anak lagi?”
Tessa menggeleng, namun isak tangisnya tak kunjung mereda. Wajahnya bagai tertampar, ia sungguh merasa bersalah pada Owen. Selama ini ia telah melakukan banyak kesalahan dan suaminya itu selalu berbesar hati memaafkannya, pikir Tessa.
Tetapi, bagaimana jika Bang Owen tahu jika aku mengonsumsi pil pencegah kehamilan tanpa sepengetahuannya. Aku yakin dia akan sangat kecewa. Apa dia masih akan memaafkanku? Batin Tessa gelisah.
Terlarut dalam tangisannya, Tessa tak menyadari jika ia telah membuat suami dan putrinya cemas. “Bun, ada apa?” tanya Owen.
__ADS_1
Tessa mengusap lagi buliran air mata yang telah membasahi pipinya. “Aku tak apa. Maafkan aku,” jawabnya.
Tessa membawa Aya ke pangkuannya, ia peluk putrinya. Salah satu cara ampuh untuk menenangkan dirinya. “Maafkan aku, Bang,” gumamnya lirih.
Owen yang mendengarnya pun dibuat bingung. Dalam pikirannya, seharusnya yang minta maaf adalah dirinya. Bisa jadi sikapnya ini membuat Tessa merasa dipaksa. Walau tak bisa menebak isi hati istrinya, Owen tetap saja merasa bersalah.
“Baiklah … begini saja, Bun. Sekarang kita istirahat saja, ya. Malam juga sudah sangat larut. Mengenai tes kehamilannya, betul katamu, Bun. Sebaiknya kita lakukan besok saja,” ujar Owen.
Walau merasa sedikit kecewa, namun Owen tak ingin membuat Tessa merasa tak nyaman. Apa lagi jika benar istrinya itu mengandung, bukankah dia harus ekstra hati-hati menjaga perasaan istrinya. Begitulah yang Owen pikirkan.
Tanpa menunggu Tessa membalas ucapannya, Owen menggendong putrinya dari pangkuan Tessa. Ia berniat mengalihkan pembicaraan.
“Ayo, sekarang anak ayah sikat gigi dulu sebelum tidur,” ujar Owen sebelum ia bangkit dan menggendong Aya menuju kamar mandi.
...…...
Sementara jauh di kota P, Sea … sahabat Tessa dan Owen dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang telah bertahun-tahun tak ia temui. Niatnya ingin menjemput putranya dari sekolahnya. Namun, rasanya ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Putranya sedang berbincang di taman sekolah bersama seorang pria. Ibu dua anak itu terkejut, bukan karena ia tak mengharapkan pertemuan dengan pria itu, melainkan ia hanya tak menduga mereka bisa bertemu secepat ini.
“Ka-Kak Alfio!” tegur Sea.
Salah satu tangan Alfio hampir saja membelai puncak kepala Sea, sama seperti yang biasa ia lakukan dahulu. Untungnya, Sea dengan cekatan menghindar. Seandainya tidak, ia yakin harus menyiapkan penjelasan yang tepat agar putranya tak salah paham.
“Kok bisa Kak Alfio ada di sini? Dan putraku, bagaimana Kak Alfio menemukan putraku?” tanya Sea.
“Seminggu yang lalu aku baru saja bebas,” jawab Alfio singkat.
“Bebas? Bukannya masih tersisa tiga tahun lagi?” Sea menampakkan wajah penuh tanyanya. Bagaimana jika Alfio saat ini sedang kabur dari penjara? Apakah putranya nanti akan ikut dibawa-bawa, sebab Alfio menemuinya.
Alfio tertawa, ia tahu apa yang dipikirkan oleh wanita yang dulu telah mengobrak-abrik hatinya. “Hei … ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” ucap Alfio.
“Banyak hal terjadi, anggap saja aku sedang beruntung,” canda Alfio.
“Kak Alfio!” Teguran Sea menghentikan tawa Alfio.
“Baik … baik,” ucap Alfio. “Tapi sebelum aku menjawab pertanyaanmu, biarkan aku bertanya satu hal padamu,” pintanya.
“Tanya apa”
__ADS_1
“Ke mana Tessa? Di mana aku bisa menemui Tessa?” tanya Alfio.
Sea menelan salivanya, seketika wajahnya pucat. Sea tak tahu harus menjawab apa. Hingga telapak tangannya yang dingin terasa digoncangkan. “Mi … Mami,” panggil Izzan.
“Eh, iya Nak, ada apa?”
“Itu, Om Alfio nanya ke Mami,” jawab Izzan.
“Nanya?” Sea memandang Alfio. “Oh, ya … maaf, Mami tadi kurang fokus,” lanjutnya.
“Tadi Kak Alfio nanyain apa?” tanya Sea.
“Aku menanyakan keberadaan sahabatmu, Tessa. Di mana dia sekarang?” tanya Alfio.
“Kenapa menanyakan keberadaan Tessa? Kamu ingin menemuinya?” bukannya menjawab, Sea malah balik bertanya.
“Aku sudah pernah memberitahumu, Sea,” ujar Alfio. “Kukatakan saat keluar dari tempat terkutuk itu, aku akan menemui Tessa. Bukankah kuminta kamu sampaikan pesan itu padanya?”
Sea bungkam, tentu saja dia ingat saat itu. Namun, mengapa saat ini dia berdoa jika Alfio tak sungguh-sungguh melakukan ucapannya.
“Jadi, Mami Sea yang cantik … maukah kamu memberitahuku di mana Tessa?” tanya Alfio.
“Kapan kamu ingin bertemu dengannya? Biarkan aku bertanya kesediaan Tessa lebih dulu,” ucap Sea.
Alfio mengedikkan bahunya. “Jika dia di kota ini mungkin aku bisa menemuinya sesegera mungkin,” ungkap Alfio.
“Hanya jika dia berada di kota ini, mengapa?” tanya Sea penasaran.
“Aku belum diizinkan bepergian, baik keluar kota atau keluar negeri,” jawab Alfio.
Mendengar hal itu tanpa sadar Sea menghela napasnya lega. “Syukurlah,” gumamnya lirih.
Kening Alfio mengernyit. Samar-samar ia bisa mendengar gumaman Sea.
“Jadi benar, Tessa tak berada di kota ini lagi?”
“Bisakah kamu beritahu aku di kota mana aku bisa bertemu dengannya?”
...——————...
__ADS_1