
Beberapa jam yang lalu.
“Dok, ada seorang wanita ingin bertemu dengan Anda,” ucap salah seorang perawat yang bertugas mendampinig Owen selama jam praktek di poliklinik.
“Pasien?” Owen berpikir keras. Seingatnya satu-satunya wanita yang memiliki janji dengannya, hanya istrinya.
“Oh … maksudmu istriku, ya?”
“Bukan, Dok. Jika istri Anda yang datang, tentunya aku akan tahu. Ini wanita lain. Maaf ya, Dok … tapi wanita ini sedikit menyebalkan!”
Owen mengernyitkan keningnya. Semenyebalkan apa wanita yang ingin bertemu dengannya, pikir Owen. Perawat bahkan tak segan-segan mengakuinya terang-terangan di hadapannya.
“Namanya, Nawra,” lanjut si Perawat.
Mendengar nama Nawra, Owen hanya bisa menghela napas panjang. “Pantas saja. Apa kalian sudah memintanya pergi? Katakan jika aku tak bisa menemuinya. Apa dia tak melihat jika banyak pasien yang menunggu?”
“Dok, jika wanita itu pengertian … mana mungkin aku mengatakan jika dia menyebalkan. Dia mengaku jika dirinya adalah orang sibuk, tak bisa menunggu. Bahkan mengancam akan melaporkan hal ini pada Anda. Katanya Anda akan marah jika tahu dirinya dihalangi untuk bertemu dengan Anda,” jelas perawat tersebut dengan raut wajah kesal.
“Gila! Memangnya dia siapa?!” Gerutu Owen.
“Panggilkan saja sekuriti. Seret dia keluar. Kamu benar, wanita itu menyebalkan. Sangat menyebalkan hingga aku tak ingin bertemu dengannya.”
“Anda yakin, Dok?” Perawat tersebut terlihat beberapa kali menyentuh telinganya. Memastikan tak ada yang salah dengan pendengarannya.
Dokter Owen … dokter tampan, ramah, sabar, pendiam, nan misterius, baru saja meminta untuk mengusir seseorang? Pikirnya.
Wanita itu pasti sangat menyebalkan. Dokter Owen saja sampai menyerah dan memilih menghindarinya, batin si Perawat. Ia bahkan tergelak dalam hati membayangkan seberapa menyebalkan wanita itu hingga dokter tersabar itu pun menyerah.
“Baik, Dok. Aku akan memintanya pergi sekali lagi. Jika dia masih memaksa ingin bertemu Anda, barulah akan saya panggil keamanan untuk membantunya keluar.”
Perawat sudah akan pergi melaksanakan perintahnya. Namun, Owen mencegahnya. “Sus!”
“Hem, apa lebih baik jangan melibatkan pihak keamanan, ya?” Owen tampak ragu.
“Aku mengenal sifat keras wanita itu. Aku yakin, dia mengira jika kalian hanya menggertaknya saja. Dia tak akan mundur begitu saja.”
“Kan kasihan jika dia berurusan dengan pihak keamanan. Pasti akan memalukan untuknya. Juga, aku tak ingin seandainya hal itu jadi keributan dan menjadi bahan perbincangan di rumah sakit ini,” jelas Owen.
Perawat itu tampak bingung. Namun, tak begitu terkejut dengan perubahan sikap Owen. Sebab, setahunya beginilah sikap dokter idolanya itu. Satu kata, baik.
“Jadi?”
Owen tersenyum lebar. Berharap senyumnya membuat perawat paham dan memaafkan keputusannya yang berubah-ubah. “Tetap cegah dia untuk masuk. Katakan saja untuk menunggu sampai aku selesai dengan antrian pasien.”
__ADS_1
Si Perawat mengangguk. “Siap, Dokter. Wanita menyebalkan itu akan jadi urusan kami.”
“Terima kasih. Maaf merepotkan kalian.”
Hampir tiga jam berlalu, tak ada lagi antrian pasien di polikinik yang menandakan jam praktek Owen di sana sudah usai. Seraya merenggangkan otot-otot tubuhnya, Owen tak henti melirik ke arah jam di ponselnya. Semakin mendekati waktu janjiannya dengan sang istri, Owen jadi tak sabar.
Melihat foto yang menjadi latar belakang ponselnya, Owen jadi merindukan istri dan putrinya. Ia baca kembali isi pesan Tessa satu per satu. Bibirnya tersenyum malu-malu tanpa bisa ia cegah. “Mengapa dia berubah menggemaskan saat hamil? Seingatku dulu sewaktu hamil Aya, dia tak seperti ini,” gumam Owen.
“Dok … Dokter Owen!” seru seorang perawat yang entah sejak kapan masuk ke ruangannya dan berdiri di hadapannya.
“Eh, ada apa?”
“Wanita menyebalkan itu masih ada di depan. Anda benar, dia sangat gigih. Sekarang dia bertanya apakah sudah boleh menemui Anda atau belum?”
Huh, Nawra! Aku bahkan lupa kehadirannya, batin Owen.
“Hemm, karena jam praktekku sudah selesai, aku akan pergi. Aku akan menemuinya di luar saja,” putus Owen.
Setelah beberapa menit berlalu, Owen pun terlihat keluar dari ruangannya. Melihat itu Nawra tak menyia-nyiakan kesempatan. Segera ia menghampiri pria pujaan hatinya.
“Wen! Owen!” panggilnya.
Mendengar namanya dipanggil, Owen akhirnya menghentikan langkahnya. Gagal sudah rencananya untuk kabur dengan gaya elegan, alias kabur tanpa menengok kiri dan kanan. Berpura-pura tak sadar jika ada seseorang yang menanti untuk bertemu.
“Kamu sengaja menghindariku?! Kamu tadi sengaja kan pura-pura tak melihatku?!” Nawra menyampaikan protesnya saat sudah berdiri di hadapan Owen.
Owen menahan air mukanya agar tak kelihatan sedang kesal. Ia tak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya. Bukannya Owen tak ingin bicara di dalam ruangan, namun, dia hanya berusaha menghindari fitnah. Tak ingin ada asumsi-asumsi dari orang lain seandainya dia berdua di dalam ruangan bersama wanita yang bukan istrinya.
“Sekarang kamu bahkan terang-terangan menghindariku. Kamu jahat!”
Owen membalas dengan lebih dulu tersenyum. “Benar, sekarang aku adalah pria jahat. Jadi, lebih baik kau jangan lagi berurusan dengan pria jahat sepertiku.”
“Oke?! Aku pergi, ya.”
Owen sudah berbalik, melanjutkan langkahnya beberapa langkah hingga Nawra kembali mengejarnya dan menghentikannya lagi.
“Ada apa lagi?” Owen masih dengan raut wajahnya yang biasa. Tak ada yang tahu dalam hatinya dia menahan kekesalan yang luar biasa.
“Jujur padaku. Apa benar wanita itu hamil?” tanya Nawra.
“Wanita? Wanita siapa?” jawab Owen pura-pura tak mengerti. Enak saja, wanita itu … wanita itu! Wanita itu istriku, bod*h!
“Siapa lagi jika bukan Tessa.”
__ADS_1
“Oh, maksudmu istriku.” Seandainya bukan di rumah sakit, Owen akan meneriakkan kata istri di depan wajah Nawra.
“Ya, kau benar sekali. Istriku sedang mengandung calon buah hati kami yang kedua. Kau ingin memberi ucapan selamat?”
Tessa menggeleng. Tak ia duga jika Tessa benar hamil dan keinginannya untuk memiliki Owen sepenuhnya akan semakin sulit.
“Baiklah, aku tak peduli. Tessa hamil atau tidak, aku tak peduli. Aku akan tetap mencintaimu. Aku tetap ingin memilikimu dan menjadi milikmu. Nikahi aku, Owen. Aku mohon!”
“Gil*! Kau sepertinya harus ke psikiater Nawra. Kau sudah tak waras!”
Nawra meraih tangan Owen. Ia genggam erat meski Owen terus berusaha melepaskannya. “Aku tergila-gila padamu. Aku tak akan peduli pada apa pun. Hanya inginkan dirimu, Owen. Sekarang aku memohon. Aku mohon nikahi aku.”
...…...
Sementara Owen berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Nawra, tanpa ia sadari jika istrinya mengamati dari jauh.
Saat melihat Nawra menyentuh tangan suaminya, Tessa mempercepat langkahnya.
“Kau lagi!”
“Bunda? Ka-mu,” Owen terkejut dengan kehadiran istrinya tiba-tiba. Semoga tak akan ada keributan, dalam hati Owen berdoa.
“Iya, aku! Memangnya kenapa?! Apa aku tak boleh menemui Owen, hah?!” jawab Nawra menantang.
“Tentu saja tak boleh! Aku … sebagai istrinya, melarang kau untuk menemui suamiku!” Tessa dengan tegas memperingati Nawra.
Peringatan itu juga sebenarnya ia tujukan pada suaminya. Karena itu ia sengaja melirik ke arah Owen di akhir ucapannya.
“Aku tak peduli! Sebentar lagi juga aku akan menjadi istrinya. Aku ke sini untuk meminta Owen menikahiku,” ucap Nawra masa bodoh.
“Apa?! Dasar wanita gil*!” Tessa sudah akan melayangkan tangannya ingin menampar wajah Nawra. Namun, lagi-lagi Owen mencegahnya.
Owen menahan tangan Tessa. Ia genggam lalu ia kecup punggung tangan istrinya itu. Ia tak lagi peduli jika banyak orang menonton mereka sekarang.
“Jangan, Bunda sayang. Aku tak mau tanganmu sakit karena hal yang tak penting,” bujuk Owen.
“Tapi, dia ….”
Owen menangkup wajah Tessa dengan kedua tangannya. Ia hadapkan wajah cantik istrinya itu padanya. “Bunda, dengarkan aku. Cukup lihat aku. Cukup dengarkan aku. Aku tak ingin kamu dan calon bayi kita kenapa-kenapa jika kau meladeni kegil*an wanita itu. Paham?”
“Hanya aku, Bun. Percaya padaku, kumohon.”
Tessa mengangguk. Mengingat di mana mereka saat ini, ia akan menuruti suaminya.
__ADS_1
Lihat saja nanti. Anakmu akan membalasmu karena kamu sudah menemui wanita gila itu lagi, ucap Tessa dalam hati sambil terkekeh.
...————————...