Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 51. Meyusul Tessa


__ADS_3

“Noah! Sea!” Mendengar namanya dipanggil, keduanya terlonjak.


“Nagapain kalian di luar?” tanya Owen seraya berjalan mendekat pada kedua sahabatnya.


Seperti jantung Sea sebentar lagi akan melompat keluar dari tempatnya. Dengan kedipan mata, ia meminta suaminya untuk tak mengatakan apa pun pada Owen.


Segera Sea mendorong Alfio agar berjalan mengikutinya ke mobil pria itu. Namun, sebelumnya ia sempat berbisik pada suaminya.


“Percaya padaku. Mereka tak boleh bertemu. Akan kuceritakan semuanya padamu di rumah,” bisiknya.


“Kak Al, kumohon jangan sekarang. Tessa masih terguncang dengan kepergian Papinya yang tiba-tiba. Dia sangat kacau,” ucap Sea seraya mendorong Alfio agar kembali ke mobilnya.


“Akan ada saatnya kalian bertemu. Tapi bukan hari ini. Kumohon, mengertilah.”


Alfio akhirnya mengalah. Ia pergi tanpa hasil. Tak ada jawaban akan pertanyaan yang bersarang dalam benaknya. Bahkan bertemu dengan Tessa pun tidak.


...…...


“Apa yang diinginkan pria itu?” tanya Owen pada Noah.


Yang ditanya hanya bisa bungkam. Dalam hati Noah berharap agar Sea bisa kembali lebih cepat dan menjawab pertanyaan Owen. Sebab dirinya pun tak tahu mengapa Alfio kembali menemui istrinya.


“Dia gangguin rumah tangga lu lagi?” tanyanya.


“Tidak, tidak! Rumah tangga gue baik-baik saja,” jawab Noah.


“Mungkin dia ingin membicarakan sesuatu dengan Sea,” ucap Noah asal.


Sea yang kembali setelah mengantar Alfio ke mobilnya, tampak gugup sebab Owen masih berada di sana. “Kalian masih di sini? Ayo, masuk!”


“Dia gangguin kamu, Sea?” tanya Owen pada Sea.


Sea menggeleng. “Enggak, kok. Kak Alfio hanya menanyakan beberala hal mengenai kafenya,” elak Tessa.


Kening Owen mengernyit, ia menatap tak percaya pada Sea. Wanita itu tak bisa berbohong. Owen yakin jika dia menyembunyikan sesuatu. Mengingat bagaimana dulu masalah rumah tangga Sea dan Noah, Owen berharap semoga kali ini kehadiran Alfio tak menjadi sumber masalah baru lagi dalam rumah tangga sahabatnya itu.


...…...


Keesokan harinya, semua sahabat mengantar keluarga Tessa ke Bandara. Jika, Mami Fhanie akan berangkat ke luar negeri, maka Tessa dan keluarga suaminya akan kembali ke kota X.

__ADS_1


Suasana haru sangat terasa saat mereka saling berpamitan. Tapi, tidak dengan Bu Damira dan Qanita. Mereka pulang dengan perasaan kesal pada Owen.


Pasalnya, Mami Fhanie menawarkan Tessa dan Owen untuk kembali ke kota P. Mereka bisa menempati rumah mewah keluarga Tessa dan Owen bisa memimpin perusahaan yang ditinggal Papi Stephen. Namun sayang, Owen menolak penawaran tersebut. Saat ini ia masih ingin membangun karirnya sebagai dokter. Ia ingin berusaha mandiri bersama keluarga kecilnya.


Karena Tessa mendukung suaminya, maka Mami Fhanie tak memiliki alasan memaksa. Alhasil rumah mewah itu hanya akan ditempati oleh beberapa orang asisten rumah tangga. Perusahaan akan di pimpin oleh Mami Fhanie dari jauh. Sekretaris Papi Stephen yang akan menjalankannya.


Perjalanan melelahkan tak membuat Bu Damira lelah bersungut-sungut. Setibanya mereka di rumah Owen, Bu Damira kembali mengajak Owen bicara.


“Apa salahnya dengan penawaran Ibu Mertuamu?” tanyanya.


Owen menggeleng. “Tak ada yang salah, Bu,” jawabnya.


“Lantas?”


“Lantas?” tanya Owen mengulang pertanyaan Ibunya.


“Apa alasanmu menolaknya? Kamu harusnya menerima itu, sebagai menantu kamu harus membantu keluarga istrimu. Dan lagi, Tessa itu anak tunggal. Tak ada orang lain yang bisa diharapkan,” jelas Bu Damira.


“Bu, perusahaan milik Almarhum Papi Stephen itu adalah perusahaan besar. Tak hanya berbisnis di negeri ini saja, bisnisnya mencakup beberapa negara. Untuk memimpin perusahaan sebesar itu, aku harus belajar. Aku tak punya pendidikan di bidang bisnis. Aku seorang dokter!” Owen mulai muak dengan pembicaraan ini.


“Jika memang harus ada yang memimpin, maka Tessa adalah orangnya. Aku tak menahannya, aku sudah memberinya pilihan. Dan pilihannya adalah menjadi istri dan ibu yang waktunya senantiasa dicurahkan untuk keluarganya.”


Entah karena malu atau tersinggung dengan ucapan putranya, esok harinya Bu Damira mengajak Qanita pulang ke rumah mereka di desa. Rumah Owen yang luasnya tak seberapa menjadi sepi. Nyonya rumah tampak lesu dan tak bersemangat. Tessa lebih banyak diam.


Tak hanya Owen yang khawatir. Putri mereka, Ayasya pun mulai merasa kesepian. Namun, melihat raut wajah Ibunya yang tampak murung dan hanya memaksakan senyumnya, Aya ikut merasa sedih.


Beruntung Owen cukup memahami keadaan ini. Ia mengurangi jadwal prakteknya di rumah sakit. Memilih lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Dokter muda itu juga menunda rencananya untuk mulai menjalankan praktek pribadi di luar jam bekerja di rumah sakit. Semua ia lakukan karena ingin berada di sisi istrinya, di saat-saat terpuruknya.


Hingga ide itu pun muncul setelah mendengar cerita dari seorang pasiennya. Owen akan mencarikan Tessa kesibukan. Owen ingin Tessa jalan-jalan keluar rumah untuk menikmati waktunya. Bukannya hanya menghabiskan sepanjang hari di rumah.


...…...


Sepuluh hari telah berlalu. Seperti malam sebelumnya, jika tak melakukan olah raga malam, maka sebelum tidur Owen dan Tessa melakukan pillow talk.


“Semakin hari, Aya makin pinter ya, Bun!” ucap Owen tampak antusias.


Kepala Tessa yang bersandar di dada bidang suaminya mengangguk. “Iya, Bang. Dia makin cerewet juga,” ucap Tessa menimpali disusul tawanya.


“Bun, menurutmu bagaimana jika kita sekolahkan Aya?” usul Owen.

__ADS_1


“Tapi, usia Aya saja bahkan belum cukup empat tahun.”


Owen menjawil puncak hidung istrinya karena gemas. “Kamu lupa, ya? Sebulan lagi Aya ulang tahun, Bun. Itu artinya dia sebentar lagi berusia empat tahun,” jelas Owen.


Tessa terdiam setelah mendengar penjelasan suaminya. Perasaannya campur aduk, bahagia, sedih, sesal, bangga, hingga tak ada ekspresi yang dapat mewakili apa yang ia rasakan.


“Ada apa, Bun?” tanya Owen saat melihat apa yang istrinya terdiam. “Kamu mikirin apa? Cerita ke aku!”


Bukannya bercerita, Tessa menitikkan air matanya. “Bang, maafkan aku,” ungkapnya.


“Aku terlarut dalam kesedihanku, hingga melupakan hal penting yang harus kuperhatikan,” sesal Tessa.


Owen semakin merapatkan tubuh istrinya pada tubuhnya. Ia belai lembut punggungnya. “Sstt … kami mengerti. Kami, aku dan Aya juga sedih karena kepergian Papi Stephen. Tapi, kamu jangan khawatir, karena kami mengerti jika sedihmu masih jauh lebih besar dari kami,” ujar Owen.


“Kapan pun kamu siap untuk keluar dari sedihmu, percayalah … aku dan Aya ada di sana menantimu.”


Pillow talk seperti ini yang dibutuhkan oleh Tessa. Dia butuh waktu dan tempat untuk membagi pikirannya. Tessa jadi sadar, sudah cukup baginya waktu untuk bersedih dan menyesali apa yang telah terjadi. Kini saatnya dia kembali seperti sedia kala. Menjadi istri dan Ibu yang bisa diandalkan.


...…...


Sementara di Kota P, Alfio tampak menahan kekesalannya. Baru saja ia menerima laporan dari Roy mengenai wanita yang ia cari-cari.


Brak! Alfio menggebrak meja menimbulkan bunyi dentuman yang cukup keras.


“Apa maksudmu Tessa sudah meninggalkan kota ini?” bentaknya.


Roy, pria bertubuh kekar itu mengedikkan bahu lalu mengisap batang rokoknya cukup lama. “Jelaskan padaku yang penjelasan singkat!” Perintah Owen.


“Nona Tessa sudah tak berada di kota ini. Dari informasi yang kudapatkan pesawatnya adalah rute ke kota X,” lanjutnya.


“Kota X?! Kamu yakin?” tanya Alfio.


Roy mengangguk yakin. “Aku sudah memeriksa nama-nama penumpan pesawat pada hari itu,” jawab Roy.


“Dan nama Tessa ada di sana” tanya Alfio memastikan.


“Benar, Bos!” Roy mengangguk yakin.


Senyum terukir di bibir Alfio. “Atur semuanya. Kita akan pindah ke sana!”

__ADS_1


...—————...


__ADS_2