Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 96. Kemalangan Nawra


__ADS_3

“Ayo, Sayang kita pergi!” ucap Ben saat ia menuntun Nawra keluar dari rumah Owen. Ben sudah seperti seorang polisi yang sedang menggiring seorang tahanan untuk masuk ke dalam mobil polisi.


Dengan enggan Nawra mengikuti apa yang dikatakan Ben. Jika ia menolak, maka Ben tak segan-segan mengeratkan cengkeraman pada tangannya.


“Masuk!” titah Ben setelah membukakan pintu mobil.


“Aku bisa pulang sendiri. Kau tidak perlu mengantarku!” Nawra menolak saat Ben memaksanya masuk ke dalam mobil.


Ben tak menjawab. Dengan kasar dia mendorong tubuh Nawra agar masuk ke dalam mobil. Sekali lagi, dari segi kekuatan wanita itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Ben. Maka dengan sedikit paksaan Nawra kini sudah duduk di dalam mobil Ben.


“Pasang sabuk pengamanmu!”perintah Ben tanpa menoleh pada wanita yang duduk di sampingnya.


Nawra tak mengindahkan perintah Ben. Pria itu pun sepertinya tak peduli dan tak berniat untuk memaksa. Terserah Nawra mau mengikuti perintahnya atau tidak, begitu pikirnya.


Mobil Ben mulai melaju. Nawra pikir Ben akan menurunkannya di rumahnya yang lokasinya hanya beberapa rumah dari rumah Owen. Rupanya perkiraan wanita itu salah. Mobil Ben terus melaju hingga meninggalkan komplek perumahan.


“Hei, berhenti!” pekik Nawra. ”Kau mau bawa aku ke mana?”


Lagi-lagi Ben tak menghiraukan ucapan Nawra. Wanita itu diperlakukan bagai makhluk tak kasat mata oleh Ben.


“Kalau kau tak mau berhenti aku akan teriak,” ancam Nawra.


Ben masih sama. Dia masih tak acuh pada apa yang dilakukan wanita di sampingnya. Tak ingin dianggap hanya bisanya mengancam saja, Nawra segera menekan tombol di pintu mobil untuk membuka jendela. Sayangnya, Ben masih lebih pintar sebab pria itu telah menguncinya lebih dulu.


“Si*l!” geram Nawra. “Sebenarnya kau mau apa? Apa kau masih belum pu*s setelah mengacaukan semua rencanaku, hah?!”


Ben hanya berdecak sekali mendengar ocehan Nawra. Pandangannya masih saja terfokus pada jalan di hadapannya.


“Berhenti kataku!” pekik Nawra lagi.


“Kali ini aku benar-benar serius akan melompat keluar!” ancam Nawra lagi.


Akhirnya setelah sekian lama Ben menoleh juga pada Nawra. “Ck! Kau benar-benar menyusahkan,” gerutunya.


“Sana lompat kalau berani! Aku malah senang kalau kau benar-benar lompat. Aku jadinya tak perlu repot,” ucap Ben setelah menekan salah satu tombol di pintu mobilnya.

__ADS_1


Tangan Nawra bergetar, Nawra bergeming. Sekarang dia jadi ragu berkali-kali lipat. Dia pikir ancamannya akan berhasil pada Ben.


“Kenapa?! Enggak jadi lompatnya? Akan lebih baik sekarang kau pasang sabuk pengaman dan tutup mulutmu!”


Mau tak mau, Nawra akhirnya melakukan apa yang disuruh oleh Ben. Wanita itu sudah lelah berdebat malam ini. Nawra memejamkan kedua netranya, melepas penatnya sejenak. Sementara Ben terus melajukan mobilnya membelah malam. Sejujurnya Ben pun tak tahu tujuannya ke mana. Ia hanya memacu mobilnya saja, melewati jalanan yang tak padat oleh hiruk pikuk kendaraan.


Selang berapa lama, Ben menghentikan laju mobilnya. Mengacaukan rencana Nawra, Ben anggap belum cukup jika dijadikan sebagai pelajaran untuk wanita gila seperti Nawra.


“Di mana kita? Kenapa berhenti?” Nawra membuka kedua netranya saat ia rasa mobil Ben tak bergerak.


“Keluar!” titah Ben tanpa menatap Nawra.


Kening Nawra sampai mengernyit manakala ia melihat daerah sekitar. Jalanan yang sepi dengan pencahayaan yang minim. Tak ada bangunan di sekitar jalan itu. Tebakan Nawra, sisi kiri dan kanan jalan seperti sebuah taman kota.


“Untuk apa kita ke sini? Kau mau apa Ben?” Nawra mulai berpikir buruk. Mungkinkah Ben akan melenyapkanku? Batin Nawra membuatnya bergidik.


“Kau tuli?! Aku bilang keluar!” bentak Ben. “Keluar dari mobilku. SE-KA-RANG!!!”


“Iya, aku dengar. Tapi untuk apa kita turun di sini? Memangnya apa yang ingin kita lakukan di sini?”


Ben tergelak, “Kita?”


“Jadi sebelum kuseret kau keluar dari mobilku, cepat keluar! Aku tak ingin berlama-lama berbagi udara yang sama denganmu!”


“Ta-Tapi Ben, kita di mana?” tanya Nawra yang tak kunjung mendapat jawaban.


Ben berdecak lalu mengembuskan napas kasar. Nawra melihat Ben yang hendak membuka pintu mobilnya. Sontak Nawra panik, tak lucu jika Ben benar-benar menyeretnya keluar dari mobil.


Sebelum Ben turun, Nawra segera membuka pintu mobil. “Baik-baik, kau menang!” Ia pun segera melangkahkan kakinya keluar dari mobil.


“Kau boleh saja tertawa saat ini. Tapi ingat Ben, suatu saat aku akan membalasmu!!!” Geram Nawra sebelum ia menutup pintu mobil Ben dengan keras.


Mendapat ancaman dari Nawra, Ben hanya mengedikkan bahunya lalu tergelak. Dia tak takut sama sekali.


Sepanjang jalan setelah meninggalkan Nawra di jalan, Ben tak henti-hentinya tertawa. “Siapa suruh berbuat ulah hingga menyusahkan Tessa!”

__ADS_1


“Rasain … biarin dia nyasar sekalian!” Gumam Ben di susul tawanya yang menggema di dalam mobil mewahnya.


Sementara Nawra mulai kebingungan ketika Ben benar-benar meninggalkannya di jalanan yang sangat asing baginya. Wanita itu merutuki dirinya yang tadi memejamkan mata hingga tak tahu jalan mana yang dilalui Ben.


“Kenapa juga ponsel pakai lowbat segala!” gerutunya semakin kesal saat ia mengecek ponselnya yang ternyata sudah kehabisan daya.


Nawra kembali mengamati sekeliling, disekitarnya sangat gelap. Sebagian besar lampu jalan tak berfungsi. Mungkin itu sebabnya kurang pengendara mobil atau motor yang melintasi jalanan ini.


Bulu kuduknya meremang, saat ia merasakan ada embusan angin di tengkuknya. “Ah, kok jadi horor gini sih suasananya!”


Nawra mempercepat langkahnya berharap ia segera mencapai ujung jalan ini dan bisa tiba di keramaian. Hingga bunyi deru mobil terdengar olehnya membuat Nawra menghentikan langkahnya.


Mungkinkah Ben kembali, batinnya.


Nawra menoleh saat sebuah mobil van berhenti di tepi jalan. “Hai, Nona manis,” seru seorang pria melalui jendela mobilnya yang terbuka.


“Butuh tumpangan?” tanyanya.


Nawra menggeleng lalu kembali melanjutkan langkahnya lebih cepat. Rupanya mobil van tadi tetap mengikutinya. Entah mengapa perasaan Nawra tak enak. Ia merasa ada bahaya yang mengincarnya.


Kini pria yang tadi menegurnya sudah keluar dari mobil dan menghadang langkahnya. “Ayolah Nona, biarkan aku mengantarmu!”


“Tidak, terima kasih,” tolak Nawra.


“Tapi aku ingin. Bagaimana dong?” Ucap pria itu sedikit memaksa.


“Ambil apa yang kau mau, tapi biarkan aku pergi!” Nawra melemparkan tasnya ke hadapan pria itu.


Pria tadi mengerutkan keningnya. “Oh, Nona … sikapmu sungguh membuatku tersinggung.”


Pria itu menoleh lalu mengangguk ke arah mobil van di mana ada seorang temannya yang menunggu. Nawra mengikuti arah pandang pria tadi dan betapa terkejutnya ia saat melihat pintu mobil van terbuka. Tiga orang pria bertubuh kekar keluar dari sana.


“Jangan macam-macam atau aku akan teriak!” ancam Nawra.


Keempat pria itu tertawa bersamaan. Nawra bersiap untuk lari namun sayangnya tubuhnya lebih dulu dibopong oleh salah satu pria kekar itu.

__ADS_1


“Lepas! Tolong lepaskan aku!” Teriak Nawra memohon.


...——————...


__ADS_2