Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 89. Terpisah jarak


__ADS_3

Dua anak manusia di dua tempat yang berbeda, namun, merasakan hal yang sama. Sama-sama sakit karena merindu. Owen dan Tessa, sepasang suami istri itu kini harus terpisah bukan karena cinta di antara keduanya telah memudar. Melainkan karena cinta yang sedang coba mereka pertahankan, membuat keduanya harus terpisahkan oleh jarak.


Adil atau tidak, tak ada yang bisa menilai. Keduanya memilih untuk berusaha yang terbaik. Semuanya demi memperjuangkan dan menjaga cinta yang bersarang di dalam hati masing-masing.


Tiga hari yang lalu di tempat yang sama di mana dirinya mencari nafkah, Owen dihadapkan pada suatu kenyataan yang sulit. Memilih antara dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya, Ibu atau Istrinya. Fakta jika Ibunya harus menjalani operasi pemasangan ring jantung segera, digunakan oleh sang Ibu untuk memaksa Owen memilih.


“Jangan harap aku mau menjalani operasi, jika kamu masih mempertahankan wanita itu!” kata Bu Damira kala itu.


“Biarkan aku mati, dan kamu bisa hidup bahagia bersama wanita murahan itu!” lanjutnya.


“Tapi Bu, antara Ibu ataupun Tessa … kalian berdua bukan pilihan, Bu. Kalian berdua sama-sama sangat berarti bagiku!” Bukannya Owen menerima begitu saja permintaan sang Ibu. Dia masih menyimpan harapan agar Ibunya bisa melunak.


“Jangan samakan aku dengannya! Jelas-jelas kami berbeda. Aku adalah Ibumu, wanita yang telah melahirkanmu ke dunia ini. Sedangkan dia … cih, dia adalah wanita yang telah menghancurkan masa depanmu!”


“Bu, Tessa tak pernah menghan-“


Pembelaan Owen tak dapat ia lanjutkan lagi ketika melihat Ibunya meringis menahan sakit. Bu Damira memegang dadanya di bagian kiri. “A-ah, ra-rasanya sakit sekali,” lirihnya.


“Ibu!” Owen dan Qanita adiknya memekik bersamaan.


Saat melihat Ibunya mulai kesulitan bernapas, dalam benak Owen terpikirkan satu hal. Satu hal yang akan sangat sulit ia lakukan, merelakan.


...…...


Lalu di sinilah Owen, tiga hari telah berlalu dia harus berjauhan dengan istri dan anaknya. Dari tiga hari yang dia jalani seorang diri, hari ini adalah hari di mana ia paling merindukan Tessa. Ia membutuhkan kehadiran istrinya. Owen membutuhkan Tessa untuk menenangkannya.


Hari ini, tepat saat ini Owen sedang menanti dengan cemas sang Ibu yang sedang menjalani operasi pemasangan ring jantung. Sebenarnya, operasi ini tak asing lagi bagi Owen. Tak sedikit pasien yang ia rawat adalah pasien dengan kondisi yang sama. Namun Owen tetaplah manusia biasa. Saat Ibunya yang berada di posisi sebagai pasien, entah mengapa Owen sangat cemas. Ditambah dia dalam posisi harus menenangkan adiknya juga yang tak kalah cemas seperti dirinya.


Dering ponselnya berbunyi, sebuah panggilan video dari Tessa. Owen tak ingin membuang waktu, ia pindah ke tempat yang lebih sepi agar bisa lebih leluasa berbicara. Tak lama setelah Owen menjawab panggilan tersebut, potret wajah imut dan menggemaskan milik Ayasya tampak di layar. Hanya hal sederhana seperti ini, namun sudah berhasil mengulas senyum di wajah tampan Owen.


“Ayah!” pekik gadis kecil yang begitu dirindukan Owen dengan sangat bersemangat.


“Anak kesayangan Ayah!” jawab Owen tak kalah bersemangatnya.

__ADS_1


“Ayah ... kapan Ayah menjemput Aya dan Bunda?”


Owen menghela napasnya berat. Pertanyaan yang sama setiap kali putrinya itu menghubunginya.


“Sabar ya, Anak cantik. Setelah Nenek sembuh, Ayah akan segera datang menjemput Aya dan Bunda.”


“Tapi … Aya cudah kangen, Ayah. Aya juga kangen ke cekolah,” keluhnya.


“Bagaimana kabar Bunda? Aya jagain adik bayi dan Bunda kan?” tanya Owen mengalihkan pembicaraan.


Owen berhasil, pertanyaannya mengalihkan perhatian Aya. Akan tetapi bukannya langsung menjawab pertanyaan Ayahnya, Aya malah menoleh ke kiri dan kanan. Entah apa yang sedang di lihatnya, namun raut wajah gadis kecil itu berubah serius.


“Aya jagain Bunda dan adik bayi kok,” jawabnya lalu ia kembali menengok ke sekitarnya memastikan tak ada orang lain yang mendengar ucapannya.


“Tapi, Bunda … hem, Bunda ….” Aya tampak ragu untuk mengatakannya. Bahkan suaranya sangat kecil, seperti seseorang yang sedang berbisik.


“Bunda kenapa Sayang?” tanya Owen. Semoga tak terjadi sesuatu yang buruk, doa Owen dalam hati.


“Tapi Ayah janji jangan malah, ya,” ucap Aya membuat kesepakatan. Owen mengangguk untuk menyanggupi permintaan putrinya.


“Menangis? Aya yakin?”


“Iya, Ayah. Aya biasanya terbangun, tapi karena Bunda menangis Aya jadi diam saja,” jelasnya.


Mendengar pengakuan putrinya, hati Owen semakin pilu. Kasihan sekali istrinya. Tessa pasti merasa tertekan dengan semua permasalahan ini, batin Owen.


Owen masih ingin bicara dengan Aya saat Qanita memanggilnya. “Bang … Bang Owen.”


Owen tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. “Operasi Ibu sudah selesai. Dokter ingin menemuimu, Bang,” ucap Qanita.


Walau masih sangat rindu dan masih ingin melihat wajah putrinya, dengan berat hati Owen harus mengakhiri panggilan videonya bersama Aya. Panggilan itu pun berakhir setelah Owen berjanji akan menghubungi gadis kecil itu secepatnya setelah ia menemui dokter.


...…...

__ADS_1


Setelah menghubungi Ayahnya, wajah murung Aya sirna sudah. Walah hanya melalui panggilan video, rasanya dia sudah sangat senang setelah melihat wajah Ayahnya. Tiga hari tak bertemu, tak bermain dan menghabiskan waktu bersama seperti biasanya, membuat Aya sangat merindukan sosok sang Ayah. Tak terhitung pula, berapa kali gadis kecil itu menanyakan kapan Ayahnya akan datang menjemput pada Ibundanya.


Siang itu, di kediaman orang tuanya, Tessa sedang bersiap-siap hendak pergi. Tiga hari mengurung diri di kamar berteman sepi dan kerinduan, rasanya sudah cukup untuk menyiksa dirinya juga orang-orang di sekitarnya yang cemas melihat keadaannya.


Maka dari itu, Tessa memutuskan hari ini dia akan keluar rumah untuk bertemu sahabat-sahabatnya. Selain itu, dia pun tak pergi sendiri. Tessa mengajak Aya bersamanya. Dia amati, putrinya itu mulai dilanda bosan. Jadi, Tessa memutuskan untuk mengajak Sea dan Phila bertemu dengan alibi Play Date untuk putra putri mereka.


Tak lama setelah Tessa dan Aya pergi, sebuah mobil yang tak asing memasuki halaman rumah mewah Mami Fhanie. “Alfio,” sapa Mami Fhanie saat si pemilk mobil keluar dari mobilnya.


“Assalamualaikum, Bibi,” sapanya ramah.


“Waalaikumsalam,” balas Mami Fhanie.


“Kamu datang untuk bermain bersama Aya, ya?” tebak Mami Fhanie yang segera di benarkan oleh Alfio.


“Yah … sayang sekali. Tessa dan Aya baru saja pergi,” lanjutnya.


“Oh, mereka pergi ya.” Alfio tampak sedikit kecewa namun setelahnya pria itu terlihat gelisah.


Kening Mami Fhanie mengernyit melihat sikap Alfio. Pria itu tiba-tiba saja tampak gelisah. Alfio terlihat meremas kedua tangannya, bulir keringat membasahi keningnya.


“Hem, Bibi. A-aku ingin ….” Alfio menggantungkan ucapannya.


“Kamu ingin?”


“Hem, bagaimana ya,” Alfio tampak ragu melanjutkan ucapannya.


“Bagaimana apanya? Kamu baik-baik saja kan? Apa jangan-jangan kamu sakit?”


Alfio menggeleng. Ia pun turut mengusap buliran keringat di dahinya dengan sapu tangan yang ia simpan di dalam saku celananya. “A-aku baik-baik saja, Bibi. Hanya saja, bolehkah jika aku ingin menunggu Tessa dan Aya?”


“Menunggu? Boleh saja. Tapi, bagaimana jika pulangnya lama. Bagaimana jika kuminta Tessa menghubungimu setelah dia pulang?” tawar Mami Fhanie.


Lagi-lagi Alfio menjawab cepat dengan menggelengkan kepalanya. “Ti-tidak perlu, Bibi. Aku tak apa jika harus menunggu lama.”

__ADS_1


“Juga … sebenarnya karena aku ingin membicarakan sesuatu hal yang penting dengan Bibi. Bolehkah?”


...----------------...


__ADS_2