Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 38. Ada apa dengan Tessa?


__ADS_3

“Bun, boleh ya?”


Meski halal baginya, namun sudah menjadi kebiasaan Owen untuk selalu meminta kesediaan Tessa lebih dulu sebelum mereka mulai berhubungan suami istri.


“Boleh apa, Bang?” tanya Tessa kembali. Senyum Tessa mengembang saat ia bisa melihat raut wajah kecewa suaminya.


“Bun … jangan menyiksaku,” jawab Owen.


Kedua tangan Tessa menangkup pipi suaminya. Dengan lembut Tessa mendekatkan wajah Owen. Dengan begitu ia jadi lebih mudah saat ingin mengecup bibir sang suami.


Cup.


Kecupan pertama dari Tessa mendarat di kening suaminya. “Terima kasih, kamu telah menjadi ayah terbaik untuk Ayasya.”


Cup.


Berikutnya pipi kiri dan kanan Owen yang dikecup oleh Tessa secara bergantian. “Terima kasih, kamu telah menjadi menantu terbaik untuk kedua orang tuaku.”


Cup.


Dan terakhir, ia mengecup lama di bibir Owen. Saat ia rasakan Owen akan meneruskan ciuman mereka lebih dalam lagi, ia pun sengaja menarik wajahnya menjauh.


“Terima kasih, kamu telah menjadi suami terbaik untukku, Bang. Terima kasih kamu telah berkorban banyak untukku.”


“Akan sulit bagiku membalas semua kebaikanmu. Aku hanya bisa berjanji untuk terus setia padamu dan tak akan mengkhianatimu,” lanjutnya.


Owen mengangguk. “Jangan berterima kasih, kalian memang pantas mendapatkan itu semua. Aku tak melakukan apa pun. Aku hanya melakukan semua yang terbaik, yang aku bisa menjadi suamimu.”


Kedua netra Tessa mulai berkaca-kaca. Kembali ia satukan bibirnya dengan bibir sang suami. Lama … kali ini jauh lebih lama sebab tak hanya kecupan yang ia berikan. Namun ciuman yang lebih dalam dan lebih menuntut.


Saat napas keduanya mulai terengah-engah, barulah Tessa dan Owen menghentikan ciuman keduanya. “Maka lakukanlah apa yang kamu inginkan padaku, aku milikmu, aku istrimu,” ungkap Tessa dengan suara beratnya.


Anggukan Owen mengawali perjalanannya bersama Tessa malam itu. Keduanya bergumul untuk mencapai puncak nirwana bersama-sama. Berawal dari detik hingga beberapa jam telah berlalu, keduanya seakan tak peduli. Amarah yang tadinya membara dalam hati Owen pun seketika sirna berganti dengan kebahagiaan.


...…...


Tok … tok … tok ….


Entah sudah berapa kali Owen mengetuk pintu kamar mandi, tetapi tetap saja tak ada jawaban dari salam sana.


“Bun, kamu baik-baik saja ‘kan?” teriaknya lagi dari depan pintu kamar mandi.


Pikirannya mulai tak tenang. Sudah hampir satu jam berlalu dan istrinya belum juga keluar dari kamar mandi. Setelah menikah dengan Tessa, Owen jadi tahu jika wanita yang menjadi istrinya itu bisa menghabiskan waktu yang sangat lama di saat sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Namun, semuanya berubah ketika putri mereka hadir. Tessa seolah melupakan kebiasaannya itu, sebab ia tak ingin lama meninggalkan putrinya.


Ditambah setelah pergumulan mereka semalam, Tessa mengeluhkan sakit di bagian perutnya. “Apakah dia sakit?” gumam Owen.


“Unda. Ayah … unda?” celoteh Tessa dalam gendongan ayahnya. Balita cantik itu terbangun dari tidurnya dan seperti biasa, ia akan menangis kemudian memekik agar dapat menemui sang Bunda.

__ADS_1


“Iya sayang, sabar ya. Bunda masih mandi,” ucap Owen menenangkan putrinya.


“Ayasya anak yang sabar ‘kan?” tanya Owen membujuk putrinya. Ayasya mengangguk lemah sebagai jawaban.


Tok … tok … tok ….


Sekali lagi, Owen mengetuk pintu kamar mandi karena masih tak ada jawaban dari dalam sana.


“Bun, kamu baik-baik saja ‘kan?” tanyanya kembali.


“Bun … Aya sudah bangun, dan dia mencarimu,” lanjutnya.


Dua menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Muncullah sosok istrinya dari dalam. Melihat tampilan istrinya yang hanya berbalut bathrobe putih dengan rambut basah yang tergerai, membuat Owen menelan salivanya. Detik demi detik yang ia dan istrinya lewatkan semalam kembali terbayang di benaknya.


“Maaf, aku membuat kalian menunggu lama,” ucap Tessa.


“Tak apa, aku hanya khawatir padamu. Apa kamu baik-baik saja?” Kening Owen mengernyit saat menyadari wajah pucat istrinya.


Tessa mengangguk. “Tentu saja,” jawabnya singkat.


Setelahnya ia duduk di kursi depan meja riasnya. Mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer.


Owen yang sedang menggendong Ayasya bisa melihat tangan Tessa yang memegang hair dryer bergetar. “Bun, apa kamu benar baik-baik saja?”


Dari pantulan cermin, Owen bisa melihat istrinya itu mengangguk dan tersenyum. “Aku baik-baik saja, Bang.”


“Sungguh, aku baik-baik saja. Aku hanya kurang tidur.”


Mendengar jawaban istrinya, Owen pun tertawa. Dia paham maksud dari kurang tidur yang dikatakan Tessa.


“Baiklah, baiklah, aku mengerti.” Owen mendekat ke arah istrinya.


“Pagi ini aku yang akan memandikan Aya,” ucapnya seraya mengecup kening istrinya.


“Bun, kamu demam!” serunya kemudian setelah mengecup kening Tessa.


Refleks Tessa meletakkan punggung tangannya di keningnya. Ah, pantas saja kepalaku pusing, gumamnya dalam hati.


Sebenarnya itu juga menyebabkan Tessa menghabiskan lebih banyak waktu di kamar mandi. Saat sedang menyikat gigi, tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing, pandangannya seketika menjadi kabur, juga perutnya terasa mual.


“Bun … Bunda,” panggil Owen saat tahu jika Tessa melamun.


“Sepertinya kamu tak sehat,” ucap Owen saat istrinya itu menatap padanya.


Harusnya aku bisa menahan semalam, batin Owen. Dipikirannya kini, Tessa demam karena semalam kelelahan dan kurang tidur.


“Ayo, kubantu keringkan rambutmu dan berpakian. Setelah itu istriahatlah.” Owen turut merasa bersalah.

__ADS_1


Tessa menggeleng. “Tidak perlu, Bang. Aku baik-baik saja,” ucap Tessa meyakinkan.


“Tapi-“ ucapan Owen disela Tessa.


“Percayalah, Bang. Aku baik-baik saja. Tapi, jika ingin membantuku … tolong mandikan Aya selagi aku menyiapkan sarapan,” pinta Tessa.


Owen mengangguk. “Baiklah. Tetapi kamu tak perlu memasak sarapan. Aku ingin mengajakmu dan Aya sarapan di luar.”


Tessa mengangguk. Ia tahu, Owen pasti merasa bersalah, hingga tiba-tiba saja Owen mengajak mereka sarapan di luar. Maka setelah rambutnya kering dan ia memakai riasan tipis, Tessa segera berpakaian lalu keluar dari kamar lebih dulu.


Saat melewati kamar tamu, pintunya masih tertutup rapat. Tessa pikir Ibu mertuanya mungkin saja belum bangun. Niatnya untuk membangunkan Ibu mertuanya ia urungkan ketika netranya melihat meja makan yang ia tinggalkan semalam.


“Huh,” Tessa menghela napasnya dengan kepala menggeleng.


Di atas meja makan masih berserakan bekas piring kotor dan sisa makanan bekas semalam. Makanan yang tersisa sudah dikerubuti semut. Aroma tak sedap dari sisa-sisa makanan membuat Tessa mual.


Seketika ia merasa ingin muntah. Kepalanya terasa berat, pandangannya berkunang-kunang. Tessa menggelengkan kepalanya, berharap pusing yang ia rasakan bisa menghilang.


“Heh!” Pekikan Bu Damira terdengar.


“Pagi, Bu,” sapa Tessa. Ia tetap tersenyum walau kepalanya terasa semakin pusing.


“Apa yang kau lakukan, bengong di situ dan enggak nyiapin sarapan!” tegur Bu Damira.


“Itu Bu, Bang Owen ingin mengajak kita sarapan di luar pagi ini,” ujar Tessa.


“Dan kalau begitu, memangnya kau boleh bengong saja?! Dasar pemalas!”


“Apa kau tak melihat di atas meja makan itu banyak piring kotor berserakan?! Baunya, euh!”


“Lalu, apa kau mau menunggu sampai Aya digigiti semut-semut itu baru kau mau membersihkannya, hah?!” Geram Bu Damira.


“Begini ini kalau istri pemalas, taunya membuang-buang duit suami saja. Enggak masak, bisanya cuma beli makanan dari restoran saja.”


“Diturutin malah ngelunjak. Sekarang malah enggak mau bersih-bersih juga!” Omel Bu Damira.


Tessa yang semakin pusing mendengar ocehan Bu Damira akhirnya menahan pusing dan mualnya. Tanpa banyak bicara ia segera membersihkan meja makan dan membuang sampah sisa makanan.


Walau tubuhnya terasa semakin lemah, Tessa tetap memaksakan diri untuk melanjutkan pekerjaannya. Kini saatnya ia mencuci tumpukan piring kotor. Saat di rasa pusing kepalanya semakin tak terhankan lagi, Tessa berpegangan pada pinggiran wastafel.


Ia pejamkan kedua netranya. Namun, usahanya itu tak membuahkan hasil apa-apa. Bukannya berkurang, pusing di kepalanya malah semakin bertambah.


Perutnya yang tadi mual, kini malah seperti di aduk. Tessa tak tahan lagi. Pandangannya berkunang-kunang, lama kelamaan semakin kabur. Dan tiba-tiba saja tubuhnya terasa ringan seperti melayang disusul dengan pandangannya berubah gelap.


Bruk!


“Bunda!” Pekik Owen.

__ADS_1


...—————-...


__ADS_2