Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 94. Drama Ben dan Owen


__ADS_3

“Owen!”


Owen menghentikan langkahnya saat mendengar namanya diteriakkan oleh seorang pria. Owen pun menoleh mencari sumber suara.


Saat tahu siapa yang memanggilnya. Ia langsung berdecak, “Ck.”


Rasanya Owen malas untuk bertemu pria ini. Namun bagaimana lagi, untuk menghindar pun rasanya tak mungkin. Pria itu sedang berlari ke arahnya.


“Bro, apa kabar?” tanya Ben basa-basi sembari berusaha menormalkan pernapasannya. Ia menyesali kenapa juga dia harus berlari, toh Owen juga tak berusaha menghindarinya, pikirnya.


“Tumben banget tanyain kabarku,” jawab Owen dengan wajah yang biasa saja. Tak ada raut kesedihan atau beban berat yang sedang ia pikul.


Ben menatap Owen beberapa saat. Ia masih sulit menebak apakah jawaban Owen bohong atau tidak.


“Cuma tanya saja … ketus banget sih Pak Dokter ini,” balas Ben dengan candaan. ”Kalau Tessa, bagaimana kabarnya?”


Mendengar nama istrinya, sontak tubuh Owen menegang. Hal apa yang sudah didengar oleh Ben hingga dia tiba-tiba mencari tahu kabar Tessa. Inilah yang akan dicari tahu oleh Owen.


“Kau sedang berlagak sok perhatian pada istriku?” tanya Owen. Walau ia menatap tajam pada Ben, ia tetap bertanya seperti seseorang yang sedang bercanda.


“Bolehkah? Jika kau izinkan, aku akan segera terbang ke Kota P untuk menemuinya dan memberinya perhatian,” jawab Ben memancing kemarahan Owen.


“Si*lan kau! Awas saja kalau kau berani menemui istriku!” ancam Owen.


“Oh, jadi benar Tessa tak berada di kota ini. Jadi, dia pulang ke rumah orang tuanya.” Ben begitu bersemangat saat berhasil memancing Owen untuk mengungkap kebenaran mengenai keberadaan Tessa.


“Memangnya apa urusanmu? Istriku ada di mana itu bukan urusanmu.”


Ah, Owen menyesali keputusannya yang membeli kopi dari kedai kopi di seberang jalan. Padahal biasanya dia membeli kopi di kedai kopi yang ada di lobi rumah sakit atau di kantin. Seandainya ia tetap berada di dalam rumah sakit, mungkin dia bisa menghindar untuk tidak bertemu Ben.


“Juga, aku koreksi ya … istriku pulang ke rumah orang tuanya untuk liburan. Jadi, tak perlu khawatir. Apa yang kau pikirkan tak mungkin terjadi,” tegas Owen.


“Yang kupikirkan? Memangnya sekarang kau sudah bisa membaca pikiran? Sepertinya aku ketinggalan informasi,” balas Ben.


Owen mendengus sebal. Teman lamanya ini benar-benar menguji kesabarannya pagi ini. “Katakan apa yang kau inginkan?!”


“‘Yang aku inginkan?” Ben memutar-mutar jemarinya memainkan kunci mobil miliknya.


“Sejujurnya aku sangat menginginkan istrimu,” jawab Ben jujur.


“Br*ngs*k!” Tangan Owen sudah bergerak cepat ingin mencengkeram kerah kemeja Ben. Sayangnya Ben mundur selangkah lebih cepat.

__ADS_1


“Hei … hei … tenanglah,” ucap Ben. “Aku hanya bicara jujur.”


“Tapi aku sadar kok keinginanku itu tak mungkin bisa kuwujudkan,” lanjutnya.


Walau amarahnya belum sepenuhnya reda, namun Owen berusaha menahannya. Dia masih harus cari tahu alasan Ben menemuinya dan membicarakan hal ini.


“Lalu, apa yang kau inginkan? Sampai-sampai menemuiku sepagi ini.”


“Aku hanya ingin memastikan dugaanku,” jawab Ben.


“Dugaanmu?” Owen mengernyitkan keningnya.


Ben menghela napasnya. Mengingat bagaimana Nawra pergi dengan mudah setelah Ben menolak untuk bertanggung jawab, pria itu sudah curiga. Saat itu ia merasa semakin jijik pada Nawra. Sebab ia berpikir Nawra pasti akan menemui pria lain yang juga menidurinya untuk meminta pertanggung jawaban.


Tak pernah terlintas dalam benak Ben, jika Owen adalah pria itu. Sebab bagi Ben, tak mungkin Owen juga menjadi salah satu dari deretan pria yang sudah menjadi teman ranjang Nawra.


“Nawra hamil lalu meminta pertanggung jawaban padamu. Benar kan? Sama seperti yang dia lakukan padaku,” Ucap Ben.


Diamnya Owen dianggap Ben sebagai jawaban ya. “Lalu apa karena itu Tessa pergi? Apa dia percaya dengan ucapan Nawra?”


Owen menggeleng. “Tessa tak mungkin semudah itu percaya.”


“Dasar wanita j*l*ng!” umpat Ben. “Wanita seperti Nawra memang harus diberi pelajaran.”


“Aku akan membantumu memberi pelajaran pada wanita itu. Ini kulakukan karena aku tak ingin Tessa bersedih,” ucap Ben jujur.


“Aku ada ide ….”


...…...


Malam pun tiba, Bu Damira juga Qanita sudah menanti Owen di meja makan. Siang tadi, Owen menelepon Ibunya. Ia meminta agar Ibunya atau Qanita tak perlu menyiapkan makan malam. Dia akan mengundang temannya makan malam di rumah, jadi Owen yang akan membeli makanannya.


Bu Damira juga Qanita terkejut saat melihat Owen membawa banyak sekali makanan. “Memangnya kamu mengundang banyak temanmu?” tanya Bu Damira saat ia membantu Qanita menghidangkan makanan di meja makan.


Owen menggeleng. “Hanya satu orang,” jawabnya.


“Lalu makanan sebanyak ini, siapa yang akan habiskan?” tanya Bu Damira.


“Ibu boleh memanggil kenalan Ibu untuk makan malam di sini. Atau, membagikan pada tetangga juga boleh,” jawab Owen.


Senyum terbit di wajah Bu Damira. Ia berencana untuk mengajak Nawra bergabung bersama mereka.

__ADS_1


Setelah Owen selesai mandi dan sudah siap untuk makan malam, Ia dikejutkan dengan kehadiran Nawra yang sudah duduk manis pada salah satu kursi di meja makan.


“Malam Owen,” sapanya.


“Hem,” jawab Owen dengan berdeham.


“Terima kasih sudah mengajakku makan malam bersama. Anak kita sangat senang bisa berada di dekat Ayahnya,” ucap Nawra dengan sok manja. Qanita sampai merasa ingin muntah mendengarnya.


Melihat wajah Owen yang tampak tak senang dengan kehadiran Nawra, Bu Damira mencoba memulai perbicangan agar suasana tak canggung.


“Kapan temanmu akan datang? Kita menunggunya dulu, atau-“


“Kita tunggu dulu, Bu. Malam ini kan temanku itu yang jadi tamu undangannya,” sela Owen. Ia sengaja menekankan kata tamu agar Nawra tahu bukan Owen yang mengundangnya.


Owen dan Qanita tetap diam. Keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Tak peduli pada obrolan antara Ibunya dan Nawra. Hingga bel rumah berbunyi, Owen pun meminta Qanita yang membuka pintu.


Tak lama berselang, betapa terkejutnya Nawra saat ia melihat sosok Ben berdiri di hadapannya. Nawra berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


Di pikirannya, Ben seharusnya tak akan menjadi ancaman. Pria itu kan tak ingin bertanggungjawab, jadi sudah semestinya dia akan mendukung Nawra yang meminta pertanggungjawaban pada Owen.


Namun apa yang diharapkan tak selalu menjadi kenyataan. Keributan di kediaman Owen akhirnya dimulai saat Ben memekik. “Nawra?! Sayangku?!”


Kening Nawra mengenyit. Begitu pun dengan Bu Damira. “Apa-apaan kau, Ben! Sayang, sayang apa?!”


“Kamu mengenal pria itu, Nawra?” tanya Bu Damira namun tak mendapat jawaban.


“Ada apa denganmu, Sayang? Aku mencarimu ke mana-mana. Rupanya kita memang berjodoh. Tak kusangka Tuhan mempertemukan kita di sini,” ucap Ben.


Ia bahkan mendekat ke arah Nawra. Ia hendak memeluk Nawra yang masih duduk dari belakang. Sayangnya, Nawra memberontak dan menepis tangan Ben.


“Sayang, apa kamu masih marah padaku?”


“Kumohon maafkan aku,” pinta Ben.


Melihan akting Ben, Owen menggeleng. Pikirnya Ben hanya pandai berbisnis, rupanya teman lamanya itu juga pandai berakting. Owen dan Qanita masih tetap diam, melihat drama yang diperankan Ben.


“Maafkan aku, Sayang. Hari itu aku hanya terlalu bingung hingga akhirnya mencampakkanmu. Sekarang aku sudah sadar akan kesalahanku. Aku akan menerimamu dan juga menerima anak kita,” ucap Ben seraya tangannya hendak menyentuh perut Nawra namun segera ditepis.


“Kamu siapa sebenarnya? Dan anak kita? Anak yang mana kamu maksud?” tanya Bu Damira yang ingin meminta penjelasan dari kekacauan yang terjadi malam ini.


...——————-...

__ADS_1


__ADS_2