
“Hei! Kau jauhkan tanganmu dari istriku!!!”
Bugh … bugh ….
Dua pukulan mendarat tepat di wajah Alfio. Owen tak dapat mengontrol emosinya. Beberapa menit setelah Tessa pergi, perasaannya dilanda gelisah. Ia merasa menyesal telah mengizinkan istrinya pergi seorang diri.
“Kau! Apa yang telah kau lakukan pada istriku, hah?!” Owen mencengkeram erat kerah kemeja Alfio. Satu tangannya sudah terkepal hendak melayangkan satu pukulan lagi, namun terhenti saat ia merasa ada tangan lain yang menahannya.
“Bang …” panggil Tessa dengan berderai air mata.
“Bang … sudah,” ulangnya lagi.
Owen ingin sekali menulikan telinganya, Akh! Pria seperti Alfio memang pantas mendapat pukulan darinya, batinnya. Namun, isak tangis istrinya adalah hal yang tak bisa ia abaikan.
“Kumohon, Bang. Demi aku, lepaskan!”
Perlahan-lahan, cengkeraman Owen pada kerah kemeja Alfio merenggang. Ia hempaskan dengan kasar tubuh pria itu ke lantai. “Kau! Jangan kira ini sudah selesai!”
Bersamaan dengan itu, Roy berlari masuk ke ruangan bosnya setelah diberi tahu oleh salah satu karyawan yang sempat mendengar keributan. “Bos!” pekiknya.
Roy segera membantu Alfio berdiri. Diliriknya ada bekas luka disudut bibir Alfio. “Bos! Haruskah saya-“ Roy menggantungkan ucapannya saat melihat gelengan kepala Alfio.
“Ini memang belum selesai, Pak Dokter!” balas Alfio menantang Owen.
“Semua akan berakhir saat aku mengambil kembali semua yang memang milikku!” imbuhnya.
“Milikmu, katamu?!” Telapak tangan Owen kembali mengepal. Seandainya lengannya tak dipeluk oleh Tessa, sudah pasti satu pukulan akan kembali dilayangkan olehnya.
“Bangun dari mimpimu, Tuan! Kau tak berhak memiliki siapa pun atau apa pun!”
“Kuperingatkan kau. Jauhi keluargaku!” Dari sorot mata Owen saat ini, Alfio bisa melihat jika pria itu tak main-main dengan ucapannya.
“Jangan temui lagi putriku dan jangan lagi kau usik istriku! Aku akan memberimu pelajaran seandainya kau berani melakukannya!”
Roy yang tak terima Bosnya diancam seperti itu hendak maju. Dengan tubuh kekarnya, melawan Owen bukanlah apa-apa baginya. Namun, Alfio mencegahnya dengan menahan Roy agar tetap berdiri dibelakangnya.
“Pak Dokter … kau ini seorang dokter tapi bodoh!” sindir Alfio.
“Sebagai seorang dokter, harusnya kau yang paling tahu jika pepatah darah lebih kental dari air, itu benar adanya,” lanjutnya seraya menatap Owen penuh ancaman.
“Bagaimanapun juga, Ayasya itu adalah darah dagingku. Darahku mengalir dalam tubuhnya. Kami punya ikatan yang lebih kuat, ikatan Ayah dan Anak yang tak bisa kau ataupun Tessa putuskan.”
“Tinggal masalah waktu, hingga putriku tahu siapa aku. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan Ayasya pilih. Aku atau kau?!
__ADS_1
...…...
Setelah keluar dari restoran Alfio, Owen menelepon salah satu kenalannya. Seorang dokter junior di rumah sakit yang hendak ia minta tolongi, untuk membawa mobil milik Tessa pulang ke rumah. Sementara dia dan Tessa akan pulang dengan mobil yang sama.
“Apa dia menyakitimu?” tanya Owen setelah beberapa menit ia hanya diam saja.
Tessa menggeleng. “Harusnya aku yang bertanya, Bang. Apa kau baik-baik saja? Tak ada yang teluka kan?”
“Tak ada. Aku baik-baik saja,” jawab Owen singkat.
“Lalu apa yang kamu lakukan di sana? Mengapa aku melihatmu terduduk di lantai jika dia tak menyakitmu?!” tanya Owen masih tak percaya.
“Kamu tidak percaya aku, Bang?!” Tessa menoleh ke samping. Menatap suaminya yang berbicara padanya namun, pandangannya tetap terfokus ke jalan.
“Bukan persoalan percaya dan tidak, Tessa. Tapi, ini persoalan pria itu berani menyakiti keluargaku atau tidak! Jika benar dia melakukannya, maka tak seharusnya aku diam saja, bukan?”
Tessa akhirnya diam. Tentu saja dia setuju dengan ucapan Owen. Bukankah tadi yang dia lakukan juga bertujuan sama? Menemui Alfio dan meminta pria itu menghentikan apa pun yang ia rencanakan, pikir Tessa.
Namun, fakta jika Owen meihatnya begitu menyedihkan di hadapan Alfio, menggores sedikit ego Tessa. Ia malu! Masalah ini sejak awal adalah masalahnya, namun, Owen selalu ada untuk menyelesaikannya.
“Kamu istriku, kewajibanku adalah melindungimu. Jangan membuat dirimu terbebani dengan memikirkan hal yang tidak-tidak,” ujar Owen.
Tessa mengangguk lalu memeluk lengan Owen. Ia benamkan wajahnya di sana. “Bang, maafkan aku. Lagi-lagi kita mengalami masalah karena aku yang tak mendengarkanmu,” aku Tessa
Mobil pun terus melaju, membelah jalanan yang cukup ramai karena lalu lalang kendaraan. Sebentar lagi, sang surya akan kembali ke peraduannya. Jam bekerja bagi sebagian besar para pekerja juga telah usai.
Mereka yang bergegas untuk kembali ke rumah masing-masing, menambah hiruk pikuk jalanan sore itu. Di tengah-tengah padatnya lalu lintas, Tessa teringat akan putrinya.
Astaga, dia lalai lagi, pikirnya. Sibuk mengurusi Alfio, dia jadi lupa jika tadi dia pergi meninggalkan putrinya yang sedang tertidur. “Bang, kamu kan menyusulku. Lalu … siapa yang menjaga Ayasya?” tanya Tessa.
Owen menelan salivanya. Ia ragu untuk menoleh pada istrinya. Dia yakin, jawabannya akan membuat Tessa kesal padanya.
”Aya, hem … aku titipkan pada tetangga,” jawab Owen.
“Tetangga” tanya Tessa.
“Tetangga ki-ta,” jawab Owen ragu.
“Tetangga yang mana?” Tessa sungguh berharap jawaban Owen bukanlah satu nama yang tak ingin ia dengar.
“Hem … jangan marah, Bun. Tadi, aku sangat khawatir padamu,” ucap Owen membela diri.
“Aya, aku titipkan pada Na-Nawra,” imbuhnya.
__ADS_1
“Hah, Nawra?!” Kedua bola mata Tessa membola.
“Tapi, Bang …!” Tessa menggantungkan ucapannya. Ingin marah, tapi, dirinya yang menyebabkan Owen melakukan hal itu.
“Ya, sudahlah,” pasrahnya.
...…...
Sementara di restoran miliknya, Alfio masih betah duduk bergeming di balik meja kerjanya. Sejak tadi dia merenungi takdirnya yang selalu berurusan dengan rumah tangga orang lain.
Dahulu, dia sempat jatuh hati pada Sea. Meski awalnya karena dendam, namun akhirnya dia benar-benar mencintai wanita itu. Sayangnya, cintanya tak bersambut karena Sea adalah istri Noah.
Lalu, karena kejadian tak terduga, ia kembali melabuhkan hati pada Tessa. Wanita yang terlibat cinta satu malam dengannya. Membuatnya penasaran dan terus menghantui pikirannya selama bertahun-tahun.
Mengapa takdir mempertemukan kita di saat kau telah menjadi milik orang lain? Batin Alfio.
Jika, bersama Sea ia akhirnya menyerah. Bagaimana dengan Tessa? Dia memiliki sesuatu lebih dari cinta yang menjadi alasan untuknya berjuang, putri kandungnya.
Tok … tok … tok …. Bunyi ketukan di pintu menghentikan lamunan Alfio.
“Bos, maaf aku mengganggumu. Boleh aku masuk?” ucap Roy.
“Roy, masuklah!”
Melihat ada map yang dibawa oleh Roy, Alfio tahu pria itu pasti memiliki informasi baru untuknya. “Ada apa?”
“Mengapa biarkan dokter itu memukuli wajah Anda?” tanya Roy. Menyedihkan sekali melihat bosnya itu merenung dengan wajah lebam.
“Aku mengikuti saranmu,” jawab Alfio diikuti tawanya.
“Saran? Saranku?”
“Kau yang memberiku saran untuk merebut hati Tessa dari pada memaksanya,” ucap Alfio.
“Sekarang aku paham maksudmu. Memaksa Tessa hanya akan membuatnya semakin membenciku. Benar, bukan?”
Roy mengangguk setuju. “Baguslah jika Anda akhirnya mengerti.” Ia letakkan map yang dibawanya ke atas meja, tepat di hadapan Alfio.
“Aku rasa ini akan membantu?”
Alfio membuka map tersebut. Di dalamnya ada selembar foto dan selembar kertas berisi data diri seorang wanita. “Siapa dia?” tanya Alfio.
“Dia yang akan membantu Anda, Bos!”
__ADS_1
...————————...