
Tak ada satu pun yang mengira jika Owen akan meninggalkan meja makan seperti itu. Bu Damira bahkan tersentak. Sepanjang hidupnya, ia tak pernah melihat putranya bersikap kasar seperti itu.
“Ekhem …” dehaman Nawra yang akhirnya memecah keheningan di antara ketiga wanita itu.
“Eh, Nawra … maaf ya, Nak. Harusnya kamu enggak perlu melihat kekacauan ini,” ucapnya lembut pada Nawra.
Lalu sedetik kemudian, kelembutan Bu Damira berubah menjadi tatapan sinis ketika ia menoleh pada menantunya, Tessa.
”Hari ini Owen terlalu lelah,” imbuhnya.
Tessa yang mengerti arti tatapan Ibu mertuanya, hanya bisa menghela napasnya. Sudah pasti Ibu mertuanya itu menyalahkan kedua orang tuanya yang diantar Owen ke Bandara.
“Ibu betul … maaf ya, Nawra. Padahal suamiku tak biasanya bersikap kasar seperti tadi,” ucap Tessa.
Dengan raut wajah seolah-olah ia sedang bingung, Tessa menatap pada Nawra. “Sungguh aneh, mengapa pas ada kamu dia malah begitu. Maaf, ya!” Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, ia harap Nawra paham maksud ucapannya.
“Tessa!” tegur Bu Damira. “Kamu memang enggak ada sopan-sopannya, ya!”
“Kenapa, Bu? Enggak sopan gimana yang Ibu maksud?” Bukannya membantah, Tessa sengaja membalas ucapan Ibu mertuanya dengan pertanyaan.
“Yang tadi itu, maksudmu Owen memang sengaja bersikap tidak sopan karena kehadiran Nawra?!” Ibu Damira mulai terpancing emosi.
“Maaf, Bu … tapi aku sungguh tak bermaksud begitu. Maaf jika menyinggung Ibu atau Nawra,” ucap Tessa. Walaupun kata maaf terucap dari bibirnya, namun tak ada penyesalan yang tampak di wajah cantiknya.
“Tak apa, Bu. Aku yakin Tessa tak bermaksud buruk.” Dengan raut wajah sedih yang ia buat-buat, Nawra mengelus lembut punggung Bu Damira. “Sudah, enggak perlu diributkan lagi,” lanjutnya sok bijak.
“Baiklah, karena semuanya sudah diperjelas, maka tak akan ada lagi salah paham di kemudian hari. Terima kasih Nawra atas pengertianmu,” ujar Tessa.
“Dan silakan jika Ibu dan Nawra ingin melanjutkan makan malamnya, maaf aku tak bisa menemani. Aku harus menyusul suamiku.”
“Aku akan berusaha yang terbaik untuk menghilangkan suasana hatinya yang buruk,” lanjut Tessa.
Setelah pamit, Tessa beranjak dari meja makan. Saat berjalan menuju kamarnya, samar-samar Tessa masih bisa mendengar gerutuan dari Ibu mertuanya. Namun, dia memilih untuk mengabaikannya saja. Ada bayi besar di dalam kamar yang menunggu untuk ia tenangkan.
Dan benar saja, saat Tessa masuk ke dalam kamar, dilihatnya Owen yang duduk di kursi meja rias miliknya. Owen tampak sedang serius membaca sesuatu di ponselnya.
“Bang,” panggil Tessa.
Owen kini beralih menatap istrinya yang melangkah mendekat padanya. “Loh, kamu sudah selesai makannya?” tanyanya.
__ADS_1
Tessa mengangguk lalu sedetik kemudian ia menggeleng membuat Owen tergelak. “Jadi apa jawaban yang benar? Kamu sudah selesai makan atau belum?”
Tessa berdiri di belakang Owen. Kedua netra mereka bertemu lewat pantulan cermin. “Hem, aku sudah selesai makan. Namun, aku tak menghabiskan makananku,” jawab Tessa.
“Mengapa?” Kening Owen mengernyit. Dia tahu, hidangan makan malam tadi juga merupakan makanan kesukaan istrinya.
“Mana bisa aku makan sedangkan kamu tidak,” jawab Tessa.
Dari pantulan cermin, Tessa bisa melihat Owen yang sedang berusaha menahan tawanya. “Oh, jadi aku nih yang salah?” tanya Owen.
Tessa mengangguk. Entah dorongan dari mana, langkah Tessa terasa ringan mendekat pada suaminya. Ia letakkan kedua tangannya di pundak suaminya.
“Ya, ini salahmu. Awas saja jika kamu tertawa, seandainya nanti cacing-cacing di perutku berdemo,” canda Tessa membuat Owen semakin tergelak.
Tanpa Tessa duga, Owen memegang kedua tangannya yang berada di pundak Owen. Sengaja ia menahan tangan istrinya agar tetap berada di sana. Dengan lembut ia elus punggung tangan istrinya.
“Ya aku akan bertanggung jawab. Katakan saja padaku, apa yang ingin kamu makan,” ucap Owen.
“Hem … apa, ya?”
Melihat raut wajah serius Tessa, membut Owen tak kuasa untuk mengabaikan istrinya. Ia berusaha menahan tangan Tessa agar tetap berada pada pundaknya.
Tessa mengangguk. “Tentu saja aku akan memaafkan Ibu.”
“Jangandipikirkan lagi ya. Sekarang kamu jangan cemberut lagi. Nanti ketampanan wajahmu akan berkurang,” imbuh Tessa.
Satu tangannya kini sudah berpindah mengelus lembut puncak kepala Owen. Saat Tessa melakukan itu, kedua netra Owen terpejam. Bukan sepenuhnya salahnya jika kini ada sesuatu dari dirinya yang terbangun.
“Bun ….” Owen tiba-tiba saja melingkarkan tangannya di pinggang istrinya lalu menariknya semakin dekat.
Tessa sempat memekik karena terkejut dengan perlakuan suaminya. Namun lama kelamaan ia mulai merasa nyaman saat Owen menuntunnya untuk duduk di pangkuannya. Rangkulan Owen di pinggang Tessa semakin erat hingga megikis jarak yang tersisa.
“Bun, menurutmu apa kita perlu pindah lagi?” tanya Owen dengan suara beratnya.
“Pindah? Pindah rumah, maksudmu?” tanya Tessa yang dijawab Owen dengan anggukan.
“Memangnya kenapa dengan rumah kita sekarang? Aku sudah merasa sangat nyaman di sini,” ungkap Tessa.
“Akhir-akhir ini kurasa banyak sekali pengganggu yang berkeliaran di rumah tangga kita,” komentar Owen.
__ADS_1
“Aku tak ingin hal itu mengusikmu, membuatmu merasa tak nyaman dalam rumah tangga kita,”lanjut Owen.
Hati Tessa seketika menghangat. Perhatian Owen akan perasaannya membuatnya bahagia. Ia pun menggeleng, “Tak ada rumah tangga yang berjalan mulus, tanpa adanya masalah,” ucap Tessa.
“Selama kamu berjanji akan terus bursamaku, kamu berjanji untuk terus berjalan di sisiku, menggenggam tanganku, dan berjuang bersamaku.”
“Kita akan menjadi kuat saat bersama. Masalah apa pun itu aku yakin akan berhasil kita lewati,” lanjutnya.
Owen semakin mengeratkan pelukannya. Tak ada lagi jarak di anatara keduannya. Tessa pun kini merebahkan kepalanya di pundak Owen.
Lembut dan penuh rasa sayang, ia belai surai lembut istrinya. “Terima kasih, Bun karena bersedia bertahan bersamaku. Terima kasih, Bun karena bersedia bersabar setelah semua hal buruk yang harus kamu lalui,” ungkap Owen.
Tessa tak menjawab sepatah kata pun. Terlampau nyaman dengan posisinya saat ini. Ia hanya mengangguk agar Owen tahu jika dia mendengarkan semua ucapannya.
Beberapa menit berselang, mereka lalui dalam keheningan. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Owen yang mulai pembicaraan lebih dulu.
“Bun, akun merindukanmu,” akunya.
Tessa paham maksud suaminya. Apalagi kini ia duduk di pangkuan suaminya. Jelas sekali, ia dapat merasakan ada sesuatu yang terbangun di bawah sana.
“Ya, ya, aku sudah di sini, Bang,” jawab Tessa.
“Hem, jangan bercanda, Bun. Kamu tahu apa yang kumaksud,”
“Apa itu, Bang?” tanya Tessa.
Dalam hati kini ia percaya dengan ucapan Sea, jika sebagian besar pasangan suami istri akan berakhir di atas ranjang saat mereka mulai membicarakan dan menyelesaikan suatu permasalahan.
Owen tak lagi menjawab pertanyaan istrinya. Setelah menarik napas panjang, ia gendong Tessa membuat wanita itu memekik karena terkejut.
“Sstt … jangan berisik, Bun,” peringat Owen.
Dengan menggendong Tessa, layaknya seorang Ibu koala menggendong bayinya, Owen melangkah ke arah tempat tidur. Bibir keduanya telah bertaut sejak langkah pertama Owen tadi.
Ia rebahkan perlahan tubuh istrinya, tautan bibir keduanya pun terpaksa terlepas.
“Bun, boleh ya?”
...-------------...
__ADS_1