
“Ibu!” seru Owen dan Tessa bersamaan.
Kehadiran Bu Damira dan Qanita di kediaman keluarga Tessa, sungguh tak diduga oleh sepasang suami istri itu. Jujur, mereka telah membuat kesalahan dengan lupa mengabari keluarga Owen mengenai wafatnya Papi Stephen.
“Kamu itu ya Tessa, sengaja ingin membuat Ibu malu? Kamu sengaja ingin menjelekkan Ibu di depan keluargamu, hah?!” tuduh Bu Damira.
Mendengar adanya perdebatan antara sahabatnya dan Ibu mertuanya, Phyla yang sejak tadi bertugas menemani Bu Damira dan Qanita izin pamit. “Aku pamit ke dalam, ya,” ucap Phyla di tengah-tengah ketegangan yang sedang terjadi.
Dalam hati sebenarnya, Phyla juga tak senang saat mendapat tugas harus menemani Ibu dan Adik Owen. Keduanya tampak angkuh saat menatapnya. Namun, kondisi Mami Fhanie tak memungkinkan untuk ia menerima tamu. Beliau masih sangat terpukul dengan musibah ini, hingga butuh lebih banyak waktu untuk istirahat.
Belum lagi Sea yang menolak mentah-mentah duduk bersama Bu Damira. Ibu dua anak itu, beralasan jika ia harus menjaga anaknya juga Aya. Phyla sampai dibuat bingung, mengapa Sea seperti tak suka dengan Ibunda Owen. Alhasil, dirinyalah satu-satunya yang tak memiliki alibi untuk menolak tugas ini.
“Oh, iya Phyl. Makasih, ya,” ucap Tessa. Hingga akhirnya Phyla pun berlalu meninggalkan mereka berempat di sana.
“Bu, bisakah aku minta tolong?” pinta Owen begitu tersisa mereka berempat di sana.
“Heh, akhirnya kau juga butuh pertolongan Ibu. Tapi, kamu malah pergi dari rumah tanpa bilang apa-apa,” gerutu Bu Damira.
Owen mengangguk, menerima semua ucapan Ibunya tanpa berniat membantah. Ia tak ingin ada perdebatan di kediaman keluarga istrinya. Terlebih momen saat ini sungguh tak tepat untuk memancing keributan.
“Iya, Bu aku tahu kami salah. Saat mendapat kabar mengenai kondisi Papi Stephen, kami terkejut. Karena panik dan tak ingin mengusik tidur Ibu saat itu, makanya kami pergi dan hanya meninggalkan pesan saja,” ungkapnya dengan lembut berharap kekesalan Ibunya bisa mereda.
Bu Damira memalingkan wajahnya. Ia beralih menatap Tessa yang hanya menatap lurus ke depan. Tatapannya kosong, namun dari gurat wajahnya jelas sekali ada kesedihan di sana. Satu sisi hatinya turut merasa iba, namun, di sisi lain egonya melarang untuk bersikap empati pada menantunya itu.
“Bisakah Ibu tak membuat keributan di sini?” pinta Owen.
Bu Damira tak menyangka jika itu adalah permintaan putranya. Memangnya aku pembuat masalah?! Gerutunya dalam hati.
“Apa kamu berpikir Ibu datang ke sini untuk membuat masalah?” tanya Bu Damira.
“Bukan begitu, Bu,” jawab Owen segera. “Maksudku, itu-“ ucapannya di sela oleh Ibunya.
“Sudah! Karena kamu sudah mengaku salah dan meminta maaf, maka Ibu tak akan mempermasalahkan hal itu lagi,” ucapnya.
”Kamu memang putra Ibu yang baik. Sungguh berbeda dengan istrimu itu. Sudah salah, malah bersikap sombong,” sindir Bu Damira.
Ia merasa kesal, karena sejak tadi Tessa hanya bungkam. Jangankan mengajaknya bicara, menatapnya pun Tessa tidak melakukan itu.
Owen menghela napas. Kedua tangannya mengepal erat. Dia akan bicara pada Ibunya, tapi tidak di depan istrinya. Baik fisik maupun batin istrinya sedang lelah. Owen tak ingin menambah beban pikiran Tessa lagi.
“Bun, ayo kuantar ke kamar.” Owen merangkul pundak Tessa, hendak menuntun istrinya masuk ke dalam kamar.
“Hem, kenapa Bang? Tapi, kan ada Ibu dan Qanita,” tolak Tessa.
“Tak apa, kamu butuh istirahat. Aku yang akan mengurus Ibu dan Qanita.”
Meski awalnya sempat menolak, namun Tessa akhirnya mengikuti ucapan Owen. Saat hendak ke kamar, samar-samar masih terdengar celetukan Ibunya.
“Mentang-mentang orang kaya, seenaknya dia memperlakukan suaminya. Manjanya minta ampun!”
__ADS_1
Mendengar itu, Tessa sempat menghentikan langkahnya. Dia sedang tak siap menghadapi Ibu mertuanya, ia butuh ketenangan. Apa sebaiknya dia kembali duduk saja agar Ibu mertuanya tidak marah, pikirnya.
Namun, Owen yang bisa menebak apa yang dipikirkan oleh istrinya segera mencegah hal itu. “Tidak, Bun. Jangan dipikirkan. Kamu butuh istirahat. Kamu harus kuat. Ingatlah, ada putri kita yang merindukanmu,” bujuk Owen.
Akhirnya, dibantu suaminya, Tessa kini telah berganti pakaian dan berbaring di atas ranjang empuk di kamarnya.
“Kamu tidur, ya. Ibu dan Qanita, biar aku yang urus,” ucap Owen menenangkan Tessa.
...…...
Tiga hari setelah kepergian Papi Stephen. Selama itu pula, Bu Damira dan Qanita juga masih bertahan di rumah Tessa.
Kondisi Tessa sudah jauh lebih baik. Beruntung sekali ia, memiliki suami dan anak yang sungguh perhatian. Tak henti-hentinya Owen dan Aya menghiburnya.
Jauh berbeda dengan Mami Fhanie. Beliau masih lebih senang menyendiri. Saat berada di keramaian pun, ia lebih banyak diam. Sorot matanya tampak kosong, kepergian suami yang ia cintai untuk selamanya, seakan telah merenggut sebagian jiwanya.
Malam ini adalah pengajian malam terakhir untuk mendoakan Almarhum Papi Stephen. Setelah pengajian usai, para anak yatim piatu, para kerabat, dan semua yang turut hadir untuk mendoakan Almarhum, kini telah kembali ke kediaman mereka masing-masing. Tersisa sahabat-sahabat Tessa juga sekretaris Almarhum Papi Stephen.
“Mami, akan pindah ke rumah Oma,” ungkap Mami Fhanie mendadak.
Semua orang yang berada di sana, termasuk Bu Damira dan Qanita terkejut dengan berita yang disampaikan Mami Fhanie. Rumah Oma yang dimaksud Mami Fhanie, adalah rumah kedua orang tuanya di luar negeri.
“Kenapa mendadak seperti ini?” sela Tessa yang sudah pasti keberatan dengan keputusan Maminya.
“Mami butuh waktu, Nak.”
“Tapi enggak juga harus ke luar negeri, Mi. Tempat itu sangat jauh!” Tessa tak bisa membayangkan Maminya seorang diri berada di negara asing.
“Jangan khawatir, di sana ada Om dan Tantemu yang akan menemani Mami.” Tessa berhambur memeluk Maminya.
“Maafkan aku, Mi. Jujur saja, rasanya sulit sekali jika harus rela terpisah jarak yang sangat jauh denganmu, Mi. Namun, harus bagaimana lagi, yang kupedulikan saat ini hanyalah kebahagiaan Mami. Jika, dengan begitu Mami bahagia, maka aku akan ikhlas Mami pergi.”
Hampir semua orang yang berada di sana menatap haru pada sepasang Ibu dan Anak di hadapan mereka. Tersisa Bu Damira dan Qanita yang bungkam sebab sedang memikirkan sesuatu.
Qanita mendekat ke arah Ibunya. Ia sudah tak sabar ingin membisikkan sesuatu pada Ibunya.
“Bu, jika Maminya Tessa pergi, bagaimana dengan rumah mewah ini?” bisiknya pada Ibunya.
Bu Damira membalas dengan mengedikkan bahunya.
“Kita bujuk saja Bang Owen tinggal di sini,” usul Qanita. Dia sangat bersemangat dengan idenya itu. Bagaimana tidak, tinggal di rumah mewah seperti rumah milik Kakak Iparnya ini, adalah salah satu impiannya.
“Huh, mana mau Abangmu itu meninggalkan pekerjaannya di sana,” balas Bu Damira ikut berbisik.
Qanita tampak lesu, pupus sudah harapannya tinggal di rumah mewah. Namun, kembali terlintas di benaknya sebuah ide.
“Atau … bagaimana jika kita meminta Tessa menjual rumah ini. Uangnya bisa kita pakai membeli tumah mewah di Kota X,” usul Qanita.
Bu Damira menggeleng, melihat tingkah putrinya dengsn seribu ide ajaibnya. “Kalau kamu berani, kamu saja yang bilang ke Abangmu!”
__ADS_1
...…...
Di tengah suasana haru itu, ponsel Sea tak henti-hentinya bergetar. Ada panggilan yang sedari tadi terus dia abaikan. Namun, satu pesan dari si penelepon yang akhirnya membuat Sea beranjak dari tempatnya.
Tanpa permisi pada siapa pun, Sea keluar rumah. Ia harus menemui seorang pria yang sejak tadi tak berhenti menghubunginya.
“Kak Al!” serunya ketika dia sudah berdiri di depan pagar rumah Tessa.
Pria yang di panggil Al tak lain adalah Alfio. Mendengar namanya dipanggil, pria itu menoleh. Wajah kesalnya berubah senyum saat melihat Sea.
Biar bagaimanapun, sangat sulit untuk marah pada wanita ini, batinnya.
Tanpa aba-aba, Sea menarik tangan Alfio. Ia bermaksud mengajak Alfio bicara di tempat yang sedikit tersembunyi.
“Kenapa Kak Al ke mari?!” tanya Sea dengan kesal.
“Kenapa kamu hanya sendiri? Mana Tessa?!” Balas Alfio tak kalah kesalnya. Bukankah sejak tadi aku sudah meminta Sea menemuiku bersama Tessa, batinnya.
“Kak Al, apa kamu tak paham situasi?!” Sea berkacak pinggang. “Di dalam sana Tessa sedang bersedih. Ia dalam kondisi yang buruk. Dan kamu datang ingin menambah beban ya lagi.”
“Sea cantik, dengar baik-baik!” Alfio menghela napas. Sulit sekali membuat ibu muda di hadapannya ini mengerti.
“Aku tak memiliki niat menyakiti Tessa. Aku dan dia memiliki urusan yang belum selesai. Aku harus bertemu dengannya, masih ada hal yang harus kami bicarakan,” ungkap Al.
Sea menggeleng. “Kak Al, tak bisakah kamu anggap urusanmu dengan Tessa sudah selesai?” pinta Sea.
“Kenapa, Sea? Beri aku satu alasan kenapa aku harus melakukan itu?” desal Alfio.
Belum juga mendapat jawaban dari Sea, keduanya dikagetkan dengan dehaman seorang pria. “Ekhem!”
Keduanya sontak menoleh ke arah sumber suara. Di dapatinya Noah yang berjalan dengan gagah ke arah keduanya. Yang aneh, bukannya cemas, Sea malah bersyukur sebab yang memergokinya adalah suaminya.
“Mhiu sayang, kamu di sini?” tanyanya. “Dan dia ….” Noah menunjuk ke arah Alfio.
“Hai Bro!” sapanya. “Jangan berpikir aneh-aneh. Gue ke sini ingin menemui si pemilik rumah,” ungkap Alfio.
Kening Noah mengernyit. “Tessa? Kamu ingin bertemu Tessa?” tanyanya memastikan kembali.
“Mhiu, ada apa ini? Jika ingin menemui Tessa, mengapa kamu yang menemuinya?” tanya Noah meminta penjelasan.
Sea mengusap wajahnya kasar. Ia bingung harus menjawab apa. Tak mungkin dia menjawab yang sebenarnya, baik Noah maupun Alfio akan tahu kebenarannya.
“I-itu, Mas,” Sea tergagap. “A-anu … be-begini … Phiu.” Sea sangat gugup, ia belum menemukan jawaban terbaik.
“Noah! Sea!” Mendengar namanya dipanggil, keduanya terlonjak.
“Nagapain kalian di luar?” tanya Owen seraya berjalan mendekat pada kedua sahabatnya.
...————————...
__ADS_1