
Bruk!
Sekotak kue berwarna-warni layaknya pelangi, terjatuh dari tangan Tessa. Meski tak berceceran, namun kue tart di dalam kotak itu tak berbentuk lagi.
“Bun! Ada apa? Kamu baik-baik saja?” tanya Owen seraya mengeratkan rangkulannya di bahu Tessa.
“Eh, a-aku … kuenya?!” Tessa sangat terkejut saat sadar jika ia baru saja menjatuhkan kuenya.
“Kamu kenapa? Apa aku salah bicara?!” tanya Nawra.
Walau raut wajahnya layaknya seorang yang sedang prihatin, namun dalam hati ia bersorak. Rupanya benar! Kehadiran pria itu mampu mengancam wanita sok cantik ini.
“Tidak, ini bukan salahmu kok,” jawab Owen. “Istriku hanya kelelahan. Jika tak keberatan, kami ingin beristirahat.”
“Mengenai kue itu, kami minta maaf,” lanjut Owen.
Nawra mengangguk. “Oh, oke. Aku permisi dulu.” Setelah itu ia berbalik dan hendak melangkah pergi meninggalkan kediaman Owen. Namun, baru beberapa langkah ia menghentikan langkahnya.
“Oh, ya … mengenai pengirim kue itu … jika aku tak salah ingat, dia pria yang sama dengan pria yang mengirim paket untuk Ayasya beberapa hari lalu,” ungkap Nawra kemudian ia terus melanjutkan langkahnya.
Masih bergeming di depan pintu, Owen bisa merasakan genggaman tangan Tessa yang semakin erat di lengannya. Owen tahu apa yang dikhawatirkan istrinya itu.
“Bun, jangan khawatir. Dia tak akan mungkin menyakitimu,” ucap Owen menenangkan Tessa.
“Aku tahu dia tak mungkin menyakiti kami. Tapi, aku takut jika dia merebut dan memisahkan Ayasya dari kita, Bang,” aku Tessa.
Sebenarnya, apa yang Tessa ucapkan barusan, juga menjadi kekhawatiran Owen. Namun, sebisa mungkin ia tak memperlihatkan itu. “Tenanglah, tak akan kubiarkan hal itu sampai terjadi.” Owen kini memeluk Tessa, menenangkan istrinya. Satu tangannya mengusap lembut punggung Tessa, sedang satunya lagi membelai surai lembut Tessa.
Malam ini, Alfio kembali memberi guncangan pada rumah tangganya bersama Tessa, pikir Owen. Walau tak menyampaikannya langsung, Owen menganggap jika Alfio telah mengirimkan peringatan bagi dirinya dan Tessa. Entah berlebihan atau tidak, bagi Owen hal ini adalah sebuah ancaman dari Alfio.
Sebelum dia mendatangi keluargaku, aku yang harus menemuinya lebih dulu! Ucap Owen dalam hati.
...…...
Rupanya, peringatan yang diberikan Alfio terus membayangi Tessa. Keesokan harinya, dengan berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja, Tessa mengantar Ayasya ke sekolah. Setibanya di depan sekolah, muncul keraguan dalam benak Tessa untuk meninggalkan putrinya di sekolah seorang diri.
Bagaimana jika Alfio datang lagi menemui Aya?
Apa lebih baik jika aku juga menunggu Aya hingga jam sekolah usai?
“Bunda!” panggil Aya menghentikan lamunan Tessa.
“Ya, sayang, ada apa?”
“Kita cudah campai cekolah, Bun,” ucapnya. Tessa tahu, sikapnya seperti ini telah membuat Ayasya bingung. Tapi, dia tak ingin Aya kembali bertemu Alfio.
__ADS_1
“Hem … iya, Bunda tahu kita sudah sampai ….”
“Tapi, kok tiba-tiba Bunda ingin berikan hadiah untuk putri kesayangan Bunda!” Tessa beralasan.
“Yee … Aya cuka hadiah, Bunda!” seru Aya mulai bersemangat.
“Kalau begitu, untuk hari ini Aya boleh libur sekolah. Bunda akan ajak Aya ke tempat yang Aya suka.”
“Ta-tapi kata Ayah … Aya harus rajin ke cekolah. Enggak boleh cuka bolos, Bun,” ucap Aya.
“Hem, spesial hari ini pengecualian. Ini juga bukan bolos kok. Aya enggak ke sekolah karena nemenin Bunda. Bagaimana, Aya mau kan?” bujuk Tessa.
“Mau, Bun! Sorak Aya bersemangat.
Pagi itu, Tessa pun kembali melajukan mobilnya menjauhi Taman Kanak-Kanak tempat Aya bersekolah. Sejujurnya, ia merasa bersalah pada putrinya. Tak ingin Alfio kembali menemui Aya, Tessa akhirnya mengorbankan sekolah Ayasya hari ini.
Mobilnya ia lajukan ke sebuah studio foto yang juga menyewakan berbagai macam pakaian putri yang ada di cerita-cerita dongeng. Entah mengapa tiba-tiba Tessa ingin memiliki banyak foto Ayasya. Bukannya tak memiliki foto putrinya, namun, Tessa ingin ada yang spesial di foto kali ini. Bukan seperti foto-foto yang tersimpan di ponselnya.
“Bun, tempat apa ini?” tanya Aya.
“Studio foto,” jawab Tessa singkat.
“Foto?” tanya Aya yang belum paham tujuan Bundanya mengajak dirinya ke tempat itu.
“Tapi, foto Aya cudah banyak di ponsel Bunda.” Aya menunduk. Dari dalam mobil Aya melihat tak ada hal menarik dari tempat yang akan mereka kunjungi. Tak cama dengan yang dikatakan Bunda, keluhnya dalam hati.
“Tetap saja, Sayang. Ini akan berbeda. Bunda yakin, Aya akan suka,” bujuk Tessa.
“Ayo, kita masuk sekarang!”
Setibanya di dalam studio, awalnya Aya hanya diam dan memperhatikan Bundanya yang sedang bicara pada beberapa orang. Pembicaraan Bundanya pun tak dimengerti olehnya, hingga seseorang datang dengan membawa banyak sekali kostum putri.
“Wow!” pekik Ayasya kegirangan. “Bunda, ayo lihat cini! Banyak cekali baju putri,” teriak Ayasya.
Tessa pun menghampiri Ayasya. “Semua bajunya cantik-cantik, ya?” Ayasya pun mengangguk dengan antusias.
“Sekarang Aya boleh pilih satu, yang Aya ingin pakai.”
“Asyik!” Soraknya lalu bergegas memilih-milih kostum putri yang ia suka.
Tessa menggeleng melihat tingkah putrinya. Ia seperti melihat cerminan dirinya sewaktu kecil. Sejak kecil, dirinya sangat menyukasi saat dipotret. Dirinya sangat suka berpose di depan kamera.
“Bun!” panggil Ayasya. “Semua baju putrinya bagus-bagus. Apa Aya boleh pilih dua?” Pintanya dengan manja. Tessa mengangguk sebagai jawaban membuat Aya sekali lagi bersorak kegirangan.
“Kalau pilih tiga, apa boleh juga, Bun?” pinta Aya sekali lagi membuat Tessa tertawa.
__ADS_1
“Baik-baik … begini saja, Aya boleh pilih berapa pun baju yang Aya mau. Bunda hanya ingin Aya merasa nyaman saat pemotretan nanti,” ujar Tessa.
Alhasil hari itu, Aya melakukan pemotreran dengan beberapa kostum putri. Tak hanya kostumnya, baik aksesoris maupun riasan yang dikenakan juga disesuaikan dengan kostum yang Aya pakai.
Gadis kecil itu juga tak merasa canggung saat berpose di depan kamera. Tessa jadi mengingat bagaimana dulu Aya yang masih bayi beberapa kali mengikuti sesi foto untuk promosi barang.
Hingga siang menjelang, Tessa memutuskan untuk membeli makanan di restoran favorit keluarga mereka. Makanan itu akan dia bawa ke rumah sakit tempat Owen bekerja.
Walau mereka tak janjian untuk makan siang bersama, entah mengapa Tessa ingin sekali melakukan hal itu. Entah mengapa otaknya terus memikirkan cara agar mereka bertiga lebih banyak menghabiskan waktu bersama.
“Aya, bagaimana jika kita memberi kejutan pada Ayah,” usul Tessa.
“Kita ke lumah cakit lagi, Bun?” Tessa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Aya. “Hole! Aya mau, Bun.”
...…...
Sementara itu, di depan sebuah Taman Kanak-Kanak yang tak lain adalah sekolah Ayasya, Alfio dan Roy berdiri berdampingan seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar sekolah. Sudah satu jam berlalu dari jadwal pulang anak-anak yang biasanya, namun, sosok gadis kecil yang ia rindukan belum juga tampak di pandangannya.
“Roy, berkelilinglah! Cari putriku sampai ketemu,” titah Alfio.
“Siap, Bos!” jawab Roy sebelum mulai mencari.
Belum juga Roy hilang dari pandangannya, Alfio teringat jika Ayasya sempat takut melihat Roy. “Hei, Roy. Tunggu!” teriaknya hingga Roy menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Tunggu! Aku ikut!” ujar Alfio. “Aku khawatir jika putriku akan lari ketakutan saat melihatmu.”
Sepuluh menit berkeliling, Taman Kanak-Kanak semakin sepi. Tak hanya para siswa, guru-guru pun sudah mulai meninggalkan sekolah.
“Maaf, Pak,” tegur seorang guru wanita.
“Apa yang sedang bapak cari?” tanyanya.
“Hem … aku mencari putr- eh, maksudku … aku mencari Ayasya,” jawab Alfio.
“Ayasya? Bapak ini, siapanya ya? Dan ada keperluan apa ingin menemui salah satu murid kami?”
“Aku … a-aku adalah kerabat dekatnya,” jawab Alfio.
“Oh, sayang sekali, Pak. Tapi, Ayasya hari ini tidak datang ke sekolah,” jelas guru tersebut.
Alfio bungkam. Sepertinya paketku sampai dengan selamat.
“Apa mungkin Tessa sengaja menghindariku? Dia sengaja menjauhkanku dari putriku?”
...—————————...
__ADS_1