
“Tessa!”
“Bunda!”
Hanya beberapa langkah Owen akhirnya berhasil mendekap tubuh istrinya yang tiba-tiba saja pingsan. Dalam hati, Owen menyalahkan dirinya. Harusnya tadi dia bisa menahan emosinya, seperti yang sudah sering ia lakukan.
Segera dia gendong dan dia baringkan tubuh Tessa di atas tempat tidur. Ia buka beberapa kancing baju Tessa, agar istrinya itu lebih mudah dan nyaman untuk bernapas.
“Bun! Bunda! Kamu bisa dengar suara aku?” Owen terus memanggil-manggil istrinya. Sayangnya tak ada respon sama sekali.
Owen memeriksa dengan teliti kondisi istrinya, terutama pernapasan dan denyut nadinya. Owen bergegas mencari minyak aroma terapi yang disukai Tessa di laci nakas. Dia berharap, dengan mencium aroma tersebut Tessa bisa sadar. Namun, tanpa sengaja kedua netranya melihat kalender meja di atas nakas.
Jantungnya berdebar saat melihat kalender itu bersih tanpa ada coretan sama sekali. Ia ingat, kebiasaan Tessa adalah memberi tanda di kalender tiap kali tamu bulanannya datang.
“Apa mungkin?” gumam Owen.
Owen berusaha menahan senyumnya, dalam hati ia berdoa agar dugaannya benar. Bersamaan dengan itu, ia bisa merasakan gerakan di ujung jemari Tessa.
“Bun, Bunda, kamu bisa dengar aku kan?!” seru Owen dengan satu tangan menggenggam tangan istrinya dan satu lagi terus menepuk-nepuk lengannya.
Owen akhirnya bisa merasa lega saat Tessa akhirnya membuka kedua matanya. “Bang, ke-kepalaku pusing,” keluhnya.
“Apa masih sangat sakit?” tanya Owen seraya terus memijit pelan kening Tessa.
Tessa mengangguk. “Kenapa aku di tempat tidur? Apa aku pingsan lagi?”
“Lagi?!” pekik Owen.
Tessa mengangguk lemah, buliran air mata berlinang di pipinya. “Tiga hari lalu, sepertinya aku juga sempat pingsan di kamar mandi. Kepalaku tiba-tiba pusing dan pandanganku kabur. Lalu aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya. Bangun-bangun aku terbaring di lantai kamar mandi dan kuperiksa sudah 30 menit aku di sana,” ungkap Tessa.
Seketika Owen memeluk Tessa. “Kenapa kamu tidak cerita, Bun?”
“Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu? Aku tak tahu lagi harus bagaimana, jika benar terjadi sesuatu padamu,” aku Owen.
Tessa membalas pelukan Owen. Ia usap lembut punggung suaminya. “Bang, apa kamu masih marah padaku?”
Ah, karena begitu khawatir, Owen sampai lupa perdebatannya dengan Tessa sebelum kejadian ini. Pria itu menghela napas panjang lalu melerai pelukan mereka.
“Sebenarnya aku masih marah padamu. Aku masih kecewa. Tapi, apa boleh jika aku marah pada orang yang sakit?” canda Owen.
Tessa menggeleng. “Enggak boleh! Kalau Bang Owen masih marah, aku lebih baik pingsan lagi aja!” ancam Tessa membalas candaan Owen.
__ADS_1
Owen tertawa lalu kembali melanjutkan pelukan mereka. Bagaimana mungkin aku bisa marah, jika, kamu selalu membuatku khawatir, batin Owen.
“Kali ini aku akan memaafkanmu, la-gi!” ucap Owen. “Tapi, ada syaratnya.”
“Syarat? Apa itu, Bang?”
“Tetaplah di tempat tidur. Istirahat, jangan memikirkan banyak hal,” pinta Owen. “Yang paling penting, kamu harus mematuhi kata-kata doktermu!” imbuhnya.
Tessa mengangguk. “Jika dokterku setampan kamu, tanpa diminta aku pasti akan patuh,” balas Tessa menggoda suaminya.
Dengan senyum yang membuatnya terlihat semakin tampan, Owen membantu Tessa agar kembali merebahkan tubuhnya. Ia rapikan selimut yang menutupi sebagian tubuh Tessa. “Sayangnya doktermu tak setampan aku,” ucap Owen seraya menjawil puncak hidung Tessa.
“Tidurlah. Aku akan menghubungi dokter untuk datang dan memeriksamu,” lanjutnya.
“Kenapa bukan kamu saja, Bang?”
“Sssttt … tidurlah! Komohon patuhi aku sebagai suamimu, bukan sebagai doktermu.”
...…...
Owen meninggalkan Tessa sesaat. Setelah menghubungi rekannya di rumah sakit, ia menengok keadaan putrinya yang sedang asyik bermain di kamarnya.
“Aya … lagi ngapain, Nak?”
Senang sekali rasanya melihat Aya berpura-pura sebagai seorang dokter. Lengkap dengan snelli dan stetoskop mainan yang melekat di tubuh kecilnya. Dirinya tentu akan sangat bangga, jika saat dewasa nanti Aya mengikuti jejaknya sebagai seorang dokter.
“Coba Ayah lihat, pasiennya sakit apa?” Owen duduk di samping Ayasya. Dia berniat menemani Aya bermain sebentar, sebelum seseorang yang ditunggunya tiba.
“Ini, Yah … perut paman kelincinya cakit,” jawab Aya. Owen menahan tawanya ketika melihat raut wajah serius Aya yang sangat lucu dan menggemaskan.
“Ayah tahu nih … perutnya pasti sakit karena kelincinya lupa cuci tangan sebelum makan.”
Aya menoleh pada Ayahnya lalu bertepuk tangan. Raut wajahnya penuh kekaguman pada sosok Owen.
“Ayah hebat! Kok Ayah bica tahu? Padahal Aya belum ngasih tahu kenapa paman kelincinya bica cakit.”
Belum juga Owen menjawab, Aya menepuk jidatnya. “Astaga, Aya lupa. Ayah kan dokter!” serunya diikuti tawanya juga tawa Owen.
Ayah dan anak itu sedang asyik bermain saat bel pintu rumah berbunyi. “Aya, main sendiri dulu. Nanti Ayah balik lagi dan kita lanjutkan bermain, oke?”
“Oke Ayah. Aya tunggu, ya,” jawab Aya dengan menaikkan jempolnya.
__ADS_1
Langkahnya ia percepat menuju pintu. Owen sudah tak sabar, ia ingin segera membuktikan jika dugaannya benar.
“Siang, Dok,” sapa seorang pria, petugas laboratorium dari rumah sakit tempat Owen bekerja.
“Siang. Terima kasih karena kamu sudah mau datang dan membantuku,” ucap Owen.
“Ini bukan apa-apa, Dok. Memang sudah tugas saya,” balasnya. “Jadi, di mana istri Anda?”
Owen menuntun petugas tersebut ke kamarnya. Dilihatnya Tessa yang masih berbaring di tempat tidur. “Bun,” panggilnya lembut.
Tessa bangun dan duduk di atas tempat tidur. Ia menatap Owen lalu seorang pria yang datang bersama suaminya secara bergantian.
“Oh, dia ini salah satu petugas lab di rumah sakit. Aku memintanya datang dan mengambil sampel darahmu, Bun. Biar dilakukan pemeriksaan lengkap di rumah sakit,” jelas Owen.
“Pemeriksaan darah? Bukankah itu berlebihan, Bang. Aku hanya kelelahan,” tolak Tessa.
“Bun … kumohon. Hanya dengan begini, maka aku akan berhenti khawatir. Mau, ya?” Owen berusaha membujuk Tessa.
Jika sudah seperti ini, mana bisa Tessa menolak. Ia terpaksa mengangguk. Bukannya ia baru saja membuat kesalahan, dengan mengikuti permintaan Owen, semoga bisa menebus sedikit kesalahannya. Begitu yang dipikirkan Tessa.
...…...
Beberapa jam telah berlalu. Siang telah berganti sore. Owen terus saja bolak balik memeriksa email yang masuk ke ponsel pintarnya. Menurut petugas lab yang memeriksa sampel darah Tessa, hasilnya bisa ia ketahui paling lama setelah tiga jam.
Sebenarnya, semuanya akan lebih mudah jika Owen meminta Tessa melakukan tes urin dengan alat tes kehamilan saja. Namun, ia tak ingin mengecewakan Tessa seandainya hasilnya tidak sesuai harapan. Karena itulah Owen memilih untuk melakukan tes darah saja. Dia bisa memikirkan banyak alasan seandainya hasilnya tak sesuai dugaannya.
Owen sedang mengawasi Aya yang bermain di taman depan rumah mereka, saat notifikasi ponselnya berbunyi. Kedua bola matanya membelalak, saat tahu jika itu adalah email yang ia tunggu-tunggu.
Ya Tuhan, semoga semua usaha dan doa kami Engkau kabulkan, doa Owen dalam hati sebelum mulai membaca hasil tes darah Tessa.
Air mata perlahan menggenangi pelupuk matanya. Pandangannya mulai kabur karena air mata yang semakin banyak tergenang. Tangannya yang memegang ponsel bergetar. “Terima kasih, Ya Tuhan,” gumamnya.
Owen segera berlari masuk ke dalam rumah, ia ingin segera menemui istrinya. “Bun, kamu di mana?” teriaknya. Langkahnya ia percepat menuju ke dapur ketika mendengar jawaban Tessa berasal dari sana.
“Bun, Alhamdulillah ….” Tiba-tiba Owen memeluk Tessa erat. Ia menggendong Tessa sambil berputar-putar. Owen tak peduli dengan tangan Tessa yang masih dipenuhi busa sabun, sebab tadi istrinya sedang mencuci piring.
“Bang, ada apa ini? Turunin gih, malu kalau dilihat Aya,” ucap Tessa ketika Owen masih terus memeluknya dan mengecupi hampir seluruh wajahnya.
“Bun, Alhamdulillah. Hasil tesnya ….”
Belum sempat Owen menyelesaikan ucapannya, sepasang suami istri itu dikejutkan dengan suara dehaman seseorang.
__ADS_1
“Ekhem!”
...——————...