Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 85. Jujur


__ADS_3

Setelah tadi Tessa dan Ibu Damira pingsan secara bersamaan, kini Owen, Mami Fhanie, Qanita, Nawra, juga Alfio sudah berada di rumah sakit. Dengan cemas mereka menanti para dokter selesai memeriksa Tessa juga Bu Damira.


“Jujurlah pada Mami! Apa yang Mami dengar tadi tidak salah kan? Ibumu menuding Tessa menjebakmu dengan kehamilannya?” desak Mami Fhanie.


Beliau sebenarnya menyadari jika seharusnya dia tak menanyakan hal itu sekarang. Sekarang bukanlah waktu dan tempat yang tepat untuk menuntut penjelasan mengenai hal itu. Namun, Mami Fhanie tak bisa menunggu lagi. Terlebih hal itu adalah penyebab utama hingga putrinya pingsan seperti sekarang.


“Mi … aku akan menjelaskan semuanya pada Mami. Tapi, tidak sekarang.” Owen memohon pada Mami Fhanie.


Agar Ibu mertuanya mengerti, ia menatap ke sekeliling. Owen melakukan hal itu bukan karena Owen ingin menutupi atau menghindar. Melainkan, saat ini di tempat itu ada banyak orang bahkan Ayasya juga sedang berada dalam gendongan Mami Fhanie. Belum lagi dengan beberapa rekan dokter yang datang setelah tahu apa yang menimpa keluarga Owen.


Mami Fhanie ikut melihat ke sekeliling. Ia akhirnya melunak. Ia akhirnya berpaling dari Owen dan beranjak untuk duduk di salah satu kursi tunggu.


Dalam benaknya ia bertanya-tanya. Mengingat bagaimana besannya tadi menghina putrinya ia jadi berpikir, apa mungkin jika putrinya selama ini tak pernah diperlakukan dengan baik oleh Ibu mertuanya?


Apa Tessa selama ini menderita dengan rumah tangganya? Mami Fhanie bergidik saat membayangkan hal itu. Putri kesayangannya, menderita dengan hidupnya selama bertahun-tahun.


“Bunda cakit agi ya, Oma?” tanya Aya. Kedua netra gadis kecil itu berkedip-kedip menahan kantuk. “Adik bayinya gimana?”


Mami Fhanie membelai lembut surai cucunya. “Doakan Bunda dan adik bayi baik-baik saja, ya.”


Pertanyaan Ayasya mengingatkannya pada kondisi Tessa saat ini yang sedang hamil muda. Stres sangat berbahaya bagi ibu yang sedang mengandung, dan sepertinya jika Tessa tetap di sini sudah pasti dia akan mengalami hal itu.


Mami Fhanie menggeleng. Tidak, hanya Tessa dan Aya yang kumiliki saat ini. Aku tak akan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya, batinnya.


Bersamaan dengan itu, dokter wanita yang memberikan pertolongan pada Tessa muncul. Mami Fhanie mengamati dari kejauhan saat dokter itu berbicara dengan Owen.


Entah apa yang mereka bicarakan, keduanya terlihat serius. Mami Fhani bisa melihat Owen yang mengusap wajahnya dengan kedua tangan lalu ia menjabat tangan si dokter untuk berterima kasih pada rekan sejawatnya itu. Pemandangan itu membuat Mami Fhanie merasa sedikit lega. Benar saja, tak lama setelah itu tampak beberapa perawat mendorong ranjang pasien.

__ADS_1


“Tessa?! Mau dibawa ke mana putriku?” tanya Mami Fhanie.


“Pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan, Nyonya,” jawab salah satu perawat dengan ramah.


Mami Fhanie mengangguk setuju. Ia biarkan perawat itu membawa Tessa. Tak lama Owen muncul, “Mi, bisakah Mami menemani Tessa dahulu? Aku akan melihat kondisi Ibuku sebentar,” pinta Owen.


“Baiklah,” jawab Mami Fhanie singkat. Lalu sembari menggendong Ayasya, ia mengikuti langkah perawat tadi.


...…...


Di dalam ruang perawatan, Mami Fhanie menatap wajah putrinya yang sedang terlelap. Menurut dokter, Tessa sebelumnya sudah sempat siuman namun kembali tidur setelah diberi beberapa obat. “Biarkan Nyonya Tessa istirahat dulu,” begitu kata Dokter.


Ayasya sudah dia baringkan pada sofa bed yang ada di ruangan itu. Sebelumnya gadis kecil itu tak lagi kuat menahan kantuk dan berakhir tertidur dalam gendongan Omanya.


Mami Fhanie mengamati anak dan cucunya bergantian. “Sebenarnya apa yang kamu tutupi dari Mami?” gumamnya seraya membelai lembut puncak kepala Tessa.


Setelah itu Mami Fhanie ikut berbaring di sisi Ayasya. Dia mengikuti saran dokter, dia tak ingin mengusik tidur lelap putrinya. Berbaring di sisi Ayasya seperti ini, ia bisa melihat dengan jelas wajah polos cucunya itu. “Siapa pun Ayah kandungmu, kamu tetap cucuku. Aku akan selalu menyayangimu,” gumamnya.


Mami Fhanie tak menyapa atau mengatakan apa pun. Ia hanya mengamati, menunggu untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh menantunya itu.


Sementara Owen, rasanya berat sekali ia melangkahkan kakinya. Di pundaknya seperti ada beban berat yang harus ia pikul. Bukannya tak sanggup, hanya saja semuanya terasa sangat tiba-tiba.


Ia menghampiri ranjang pasien di mana Tessa berbaring. Setidaknya ada hal yang masih bisa ia syukuri, istri dan calon bayinya baik-baik saja.


Owen lalu membelai puncak kepala istrinya, lalu ia usap punggung tangannya. Owen berikan satu kecupan lama di kening istrinya. Owen duduk pada kursi yang berada di sisi ranjang pasien. Ia genggam kedua tangan istrinya, lalu ia kecup punggung tangan itu bekali-kali secara bergantian.


Mami Fhanie masih biarkan saja Owen melakukan semua itu. Ia bungkam, dan hanya mengamati saja. Mami Fhanie seketika tertegun saat samar-samar ia mendengar isak tangis Owen. Apa yang sudah terjadi? Tanyanya dalam hati.

__ADS_1


Punggung Owen yang tampak bergetar semakin menambah keyakinan Mami Fhanie jika menantunya itu sedang menangis. Tapi apa penyebabnya, ia belum bisa menebak. Bukankah Tessa dan calon bayinya baik-baik saja? Apa mungkin Ibunya? Atau ….


Entah bagaimana, tapi Mami Fhanie tiba-tiba saja memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Bukankah sebelum Tessa dan Ibunya Owen pingsan, wanita itu meminta Owen bertanggung jawab. Apa mungkin …? Tiba-tiba saja Mami Fhanie menjadi geram.


“Owen,” panggilanya. “Kemarilah!” imbuhnya saat Owen menoleh padanya.


Owen mengecup kening lalu bibir Tessa sekali lagi sebelum menghampiri Mami Fhanie di sofa. Ia ikut duduk di salah satu sofa di hadapan Ibu mertuanya.


“Bisa kamu jelaskan semuanya sekarang?” desak Mami Fhanie.


Owen menoleh pada Tessa lalu pada Ayasya. “Haruskah sekarang, Mi? Di sini?”


“Ya.” Mami Fhanie mendesak. Ia tak ingin menerima penolakan.


“Tak perlu menjelaskan banyak hal. Cukup jawab, apakah yang dikatakan Ibumu benar?”


Owen menghela napasnya lalu ia menggeleng. Melihat itu Mami Fhani pun ikut menghela napas lega. “Sudah kuduga, semua itu tak mungkin benar,” ucap Mami Fhanie untuk semakin meyakinkan dirinya.


“Tentu saja Ayasya anak kandung kamu dan Tessa. Benar kan?” tanyanya sekali lagi.


Cukup lama Owen bergeming. Mami Fhanie harap-harap cemas melihat respon Owen. Lalu saat melihat Owen menggeleng lemah, rasanya sebagian dunia Mami Fhanie runtuh. Jadi, selama ini Tessa dan Owen telah berbohong? Batin Mami Fhanie merasa kecewa.


“Jujur, Mami bingung. Singkat saja, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!” desak Mami Fhanie.


“Apa yang dikatakan Ibuku, tidak semuanya benar. Tessa tak pernah menjebakku untuk menikahinya. Kami menikah karena memang itu keinginan kami berdua,” jelas Owen.


“Namun, yang dikatakan Ibuku jika Ayasya bukan anak kandungku … maafkan aku, Mi. Itu benar, aku bukan ayah kandung Ayasya,” aku Owen.

__ADS_1


“Apa?!” pekik Mami Fhanie.


...————...


__ADS_2