Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 43. Undangan Nawra


__ADS_3

Kriiieettt ….


Bunyi derit pintu yang dibuka dari luar mengalihkan perhatian Owen yang sedang menyempotkan parfum ke arah tubuhnya. Meski begitu netranya mengawasi gerak-gerik Tessa yang melangkah mendekat ke arahnya. Saat pandangan keduanya bertemu melalui pantulan cermin, Owen sontak memalingkan wajahnya.


Kening Tessa mengernyit, mengapa rasanya tak nyaman saat Owen tiba-tiba saja berpaling darinya. Walau tak saling bertatapan secara langung, namun Tessa bisa merasakan perbedaan tatapan suaminya.


Tak hangat seperti biasanya, batin Tessa.


Sembari Tessa mengamati penampilan suaminya, otaknya ia paksa untuk bekerja keras memikirkan kesalahan apa yang telah ia lakukan.


Ah … ia ingat! Dirinya lupa menyiapkan pakaian kerja Owen. Tessa menghela napas berat, ia pikir bisa saja suasana hati suaminya buruk karena hal itu.


Atau, mungkin saja Bang Owen kecewa karena hasil tesnya negatif? Batin Tessa.


Tetapi, di ingatannya jelas sekali bagaimana Owen berbesar hati menerima hasil tesnya yang mengecewakan. Bahkan tadi suaminya sendiri yang menghiburnya. Jadi, kecil kemungkinan jika tatapan tajam itu karena alasan tes kehamilannya.


Tessa menurunkan Ayasya dari gendongannya, ia dudukkan balita itu di atas tempat tidur. Lalu ia mendekat pada suaminya, namun Owen tetap bergeming.


“Bang,” panggilnya.


“Hem,” jawaban Owen hanya berupa dehaman saja.


“Menurutku kamu lebih cocok gunakan dari yang warna biru deh, Bang,” ucap Tessa berusaha tetap tenang.


Tessa dibuat bingung dengan sikap dingin Owen yang tiba-tiba. Bukannya membalas ucapannya, Owen hanya melirik dasi yang dibicarakan Tessa melalui cermin. Ia seolah menunjukkan jika masukan Tessa mengenai penampilannya itu bukanlah sesuatu yang penting.


Fix, Bang Owen mengabaikanku! Tapi, mengapa? Tanya Tessa dalam hati.


Selanjutnya, seperti tak terjadi apa-apa, Owen tetap meneruskan bersiap-siap tanpa peduli dengan kehadiran istrinya. Sementara Tessa mulai merasa dibuat tak nyaman dengan situasi seperti saat ini.


Dulu Owen pernah mendiaminya sekali, dan saat itu terasa sangat menyiksa bagi Tessa. Namun, saat mengingat bagaimana ketegangan mereka dulu berakhir, tiba-tiba wajah Tessa terasa panas. Kedua pipinya sampai merona mengingat bagaimana ia dan suaminya akhirnya melewatkan malam itu.


Pikiran Tessa menerawang ke malam itu, ia sampai tak sadar jika Owen telah selesai bersiap dan kini sudah siap untuk sarapan.


“Anak kesayangan Ayah, ayo kita sarapan!” seru Owen seraya mengulurkan tangan ke Aya.


Seperti biasa, Aya selalu antusias dan bersemangat jika itu menyangkut Ayahnya. Balita itu bertepuk tangan sebelum ia meraih uluran tangan Ayahnya.


“Bunda … ayo, calapan!” ajak Aya seraya menarik-narik tangan Tessa.


“Oh, eh, iya, ayo!” sahut Tessa gelagapan.


Di meja makan tampak Bu Damira sedang menata piring makan. Sesekali Tessa melirik ke Owen, raut wajah suaminya masih sulit ia tebak.


“Silakan, Nyo-nya! Sarapannya sudah siap,” tegur Bu Damira saat Tessa hendak duduk. Sengaja Bu Damira menekankan kata Nyonya agar Tessa tersinggung.


Tessa tentu saja paham mengapa Ibu mertuanya memanggilnya seperti itu. Beliau pasti sedang kesal karena pagi ini ia tak menyiapkan meja makan.


Setelah memasak sarapan, Tessa langsung kembali ke kamar dan malah sibuk dengan tes kehamilan. Ia bahkan lupa menghidangkan masakannya ke meja makan.

__ADS_1


“Maaf, Bu. Tadi, setelah masak perut aku sakit. Jadi, aku ke kamar mandi dulu,” jelas Tessa beralasan.


“Alasan saja terus!” balas Bu Damira.


Owen yang memang dalam suasana hati yang buruk, tak ingin mendengar keributan di meja makan. Dengan kasar ia letakkan sendok dan garpu yang telah ia genggam.


“Bisakah kita mulai sarapan?!” ujar Owen dengan intonasi suara yang tinggi.


“De-ngan te-nang!” Imbuhnya dengan penuh penekanan.


Tessa dan Bu Damira yang awalnya bergeming, sontak kompak mengangguk bersamaan. Bu Damira berhenti berceloteh, sedangkan Tessa bergegas mengisi piring Owen dengan nasi dan lauk yang ada.


Hanya suara Ayasya yang terdengar bertanya ini dan itu pada Ayah dan Bundanya. Hingga akhirnya Bu Damira mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya pada Owen.


“Wen,” panggilnya ragu.


“Ada apa, Bu?”


“Jadi, kamu bisa kan datang ke rumah Nawra malam nanti?” tanya Bu Damira.


Kening Owen mengernyit, ia belum paham arah pembicaraan Ibunya. “Ke rumah Nawra? Aku tak punya rencana berkunjung ke sana,” jawab Owen.


Mendengar jawaban dari suaminya, dalam hati Tessa merasa lega. Jujur saja, beberapa saat yang lalu dirinya sempat merasa cemas karena ia lupa menyampaikan pesan Nawra. Untung saja, sepertinya Owen tak berminat untuk menghadiri undangan tersebut.


Namun, Tessa tak berpikir jika jawaban suaminya itu telah memancing kemarahan sang Ibu mertua. “Kau!” Jari telunjuknya mengarah tepat ke wajah Tessa.


“Kau sudah keterlaluan, ya!” Bentaknya.


“Kenapa?! Biarkan saja Aya tahu betapa buruknya sikap Bundanya,” tantang Bu Damira.


”Kau itu bodoh atau apa, huh?! Apa kau tak pernah diajarkan oleh orang tuamu jika pesan seseorang itu adalah sebuah amanat?!” Ibu Damira sengaja membesar-besarkan kesalahan Tessa.


Suasana hati yang buruk ditambah dengan sikap menantang Ibunya, sukses memancing emosi Owen. Tanpa sadar ia menggebrak meja, membuat semua orang yang berada di sana terkejut, termasuk Ayasya.


“Hentikan!” Bentak Owen.


“Aku tak ingin lagi mendengar keributan saat di meja makan! Yang tak setuju, aku tak akan menahan jika ingin meninggalkan meja makan,” peringat Owen.


Bu Damira berdecih namun setelahnya ia akhirnya memilih untuk bungkam. Tessa pun melakukan hal yang sama, walau dalam hati ia ingin sekali membela dirinya.


Alhasil, selama sarapan tak ada pembicaraan sama sekali. Hingga makanan mereka telah habis tak tersisa, barulah Owen mulai menanyakan alasan yang membuat Ibunya begitu marah pada istrinya.


“Ada apa sebenarnya, Bu? Mengapa Ibu marah pada Tessa? Apa kesalahannya? Tolong Ibu jelaskan tanpa terpancing emosi,” tanya Owen.


Bu Damira yang tadinya sarapan dengan lesu kini kembali bersemangat. Ini waktunya dia beraksi, pikirnya.


Selain ia dapat membujuk Owen untuk datang ke rumah Nawra, ia juga bisa menjelek-jelekkan Tessa. Sekali tepuk, dua lalat. Di pikirannya adalah rencana yang ia susun bersama Nawra harus berhasil kali ini.


“Kamu tahu kan, tadi Nawra datang ke rumah kita?” Tanyanya yang dijawab anggukan oleh Owen.

__ADS_1


“Dia mengundang kita semua untuk menghadiri pesta dirumahnya malam ini,” lanjutnya.


“Oh,” jawab Owen singkat.


Bu Damira sampai mengerutkan kedua alisnya karena respon Owen. Bagaimana ini … sepertinya Owen tak tertarik, batinnya.


“Apa itu pesta ulang tahunnya?” Tebak Owen.


“Dia memang berulang tahun hari ini,” gumamnya lirih menjawab pertanyaannya sendiri.


Tebakan Owen membuat Bu Damira yang semangatnya hampir patah, kini kembali utuh.


“Oh? Apa kamu sudah tahu? Dari mana? Apa dia sudah memberitahumu?” tanyanya seraya menunjuk Tessa.


Tessa sontak menunduk dan menggelengkan kepalanya. Hatinya terasa seperti dicubit saat tahu jika suaminya masih mengingat tanggal ulang tahun mantan kekasihnya.


“Tak penting aku tahu dari mana,” jawab Owen.


Beberapa detik kemudian, Bu Damira tiba-tiba saja menepuk dahinya. “Astaga, maafkan Ibu. Aku sampai lupa jika dulunya Nawra adalah kekasihmu,” ucap Bu Damira seraya tersenyum sinis pada Tessa.


Tessa yang mendapat tatapan sinis itu, sampai tersedak. “Aku sudah duga kau tak akan menyampaikan pesan Nawra. Kau pasti sengaja kan agar Owen tak hadir di pesta itu?!” tuduh Bu Damira.


“Aku tak bermaksud begitu, Bu,” elak Tessa.


“Lagi pula kupikir Bang Owen tak akan bisa memenuhi undangan tersebut,” jelasnya.


“Kata siapa?” Celetuk Owen.


Tessa yang tak percaya dengan ucapan suaminya dibuat menganga. Apa maksud pertanyaan, Bang Owen? Batinnya.


“Akan kuusahakan pulang lebih awal sore ini,” ucap Owen. “Aku akan hadir di pesta ulang tahun Nawra.”


Senyum kemenangan terlihat jelas di wajah Bu Damira. Sementara Tessa menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.


Sebenarnya Owen menyadari bagaimana tatapan Tessa padanya. Namun, sebisa mungkin ia mencoba untuk tak peduli.


Tak ingin berlama-lama mendapat tatapan seperti itu, Owen pun akhirnya beranjak dari kursinya. Ia mengecup kedua pipi putrinya lalu pamit pada istri dan Ibunya.


“Aku berangkat kerja dulu,” ucapnya.


Namun, sebelum Owen melangkah menjauh, Ibunya segera mencegahnya. “Sebentar!” serunya.


“Lalu, kamu akan beri hadiah apa? Ini pesta ulang tahun, kamu harus membawa hadiah untuk Nawra,” ucap Bu Damira.


Owen mengedikkan bahunya. “Apa Ibu bisa membantuku untuk itu?”


”Silakan pilihkan hadiahnya, mengenai uangnya akan aku transfer ke rekening Ibu,” ujar Owen sebelum akhirnya berlalu meninggalkan rumah untuk bekerja.


Meninggalkan Ibunya yang kegirangan karena merasa menang dan rencananya akan berhasil kali ini. Sedangkan Tessa tetap bergeming di tempatnya, menahan hati yang sakit karena sikap acuh Owen padanya.

__ADS_1


...————————...


__ADS_2