Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 58. Menghindari Alfio


__ADS_3

“Alfio!” Tessa menggeram. Si*lan Alfio! Berani sekali dia!


Owen mengeluarkan boneka kelinci yang sangat mirip dengan milik Aya, yang baru ia beli beberapa jam lalu. “Apa ini boneka yang Aya inginkan?” tanya Owen.


Tessa berpaling, tak sanggup baginya untuk membalas tatapan suaminya. Owen lantas kembali memeriksa box yang baru saja dibukanya. “Di sini bahkan tak tertulis siapa pengirimnya. Tapi, rupanya kamu sudah tahu siapa si pengirimi itu!” sindir Owen.


“Bang!” seru Tessa.


“Ya! Aku benar bukan?!”


“Ada apa lagi ini, Tessa?!” Owen tak bisa lagi berpura-pura tenang. Ia akan menuntut penjelasan Tessa.


“Apa benar yang menemui Aya adalah pria itu?!” tanya Owen. Tessa mengangguk lemah, lalu kembali memalingkan wajahnya.


“Oke, aku mengerti sekarang.” Owen berpindah tempat. Bertumpu pada salah satu lututnya, dan kini ia berada tepat di hadapan Tessa.


“Tessa, jawab aku dengan jujur. Kamu tahu aku tak akan mempermasalahkan hal ini. Dari awal kita sudah sama-sama tahu keadaannya,” ujar Owen dengan lembut.


Owen meraih dagu Tessa agar mereka bisa saling bertatapan. “Apakah Alfio adalah ayah kandung Aya?”


Cukup lama Tessa bungkam. Owen terus menelisik ke dalam bola mata indah istrinya, berharap menemukan jawaban dari sorot mata itu. Hanya butuh beberapa detik saja hingga Owen melihat, ada genangan air mata membanjiri pelupuk mata Tessa.


Tanpa perlu diakui oleh Tessa, Owen sudah mengetahui jawabannya. Owen memejamkan kedua netranya, berusaha menenangkan dirinya. Ia lalu berdiri dan mengusap wajahnya kasar.


“Bukankah dia dulu menaruh hati pada Sea? Kenapa kamu ….” Owen menghela napasnya. Dadanya sesak saat tahu siapa Ayah kandung Ayasya. Terlebih, orang itu kini berada sangat dekat dengan mereka.


“Ceritanya panjang, Bang. Intinya semua terjadi di saat kami berdua dalam kondisi tak sadar,” jelas Tessa.


“Ssstt …. Sudahlah, Bun. Kita akan bicarakan itu nanti. Paling penting saat ini adalah mengetahui apa yang direncanakan Alfio,” ujar Owen.


“Kamu lihat sendiri ‘kan tadi, bagaimana sikap pria itu. Dia mengakui jika sedang mencari seseorang. Aku khawatir dia sudah tahu siapa Aya.”


Tangisan Tessa tiba-tiba saja pecah. Ia berhambur memeluk suaminya. Meski ia juga memikirkan cara untuk menjauhkan Alfio, namun, dalam hati dan pikirannya kini dipenuhi oleh Owen. Tessa merasa beruntung, sebab pria seperti Owen lah yang menjadi pendamping hidupnya.


...…...


Keesokan harinya, di depan sebuah Taman Kanak-Kanak, Alfio menanti datangnya Tessa dan Ayasya. Berjam-jam mempersiapkan penampilannya, Alfio berharap kali ini Ayasya tak lagi mengira dirinya orang yang berniat jahat.


“Bagusnya, hari ini aku ajak mereka ke mana, ya?” gumam Alfio. Dalam angannya, setelah jam sekolah usai, ia bersama Tessa dan Aya akan pergi berjalan-jalan.


Menit demi menit berlalu. Pria tampan itu tetap berdiri di depan pintu gerbang sekolah Ayasya dengan senyum yang mengembang. Alfio menjadi pusat perhatian dan bahan gosip para Ibu-Ibu yang juga mengantar anak mereka ke sekolah. Awalnya, Alfio biasa saja. Ketika di sapa, maka dia akan balas menyapa. Ketika dia ditanyai sedang menunggu siapa, maka dia dengan percaya diri akan menjawab sedang menunggu putrinya.


Hingga, tanpa terasa sebentar lagi adalah jam masuk kelas Ayasya. Sekuriti yang bertugas, hendak menutup gerbang sekolah.

__ADS_1


“Pak, kok ditutup?” tanya Alfio.


“Ini Pak ... sudah masuk jam sekolah. Biar aman, pintu gerbangnya saya tutup. Nanti dibuka lagi jika, waktu pulang sekolah sudah dekat.”


“Ta-tapi anak saya belum datang loh, Pak!”


“Anak Bapak? Maaf, Pak, tapi boleh saya tahu siapa anak Bapak?” Sekuriti itu dibuat bingung dengan sikap Alfio. Harusnya dia bisa menemui anaknya di rumah, kenapa malah menunggui di depan sekolah?! Aneh, batinnya.


“Ayasya. Ya, nama putriku … Ayasya Putri Ss-Ss … ah, pokoknya itulah!” Alfio mengutuk dirinya. Bisa-bisanya dia melupakan nama lengkap putrinya.


Pasti karena nama itu jelek! Jika aku yang beri nama pada putriku, pasti akan bagus dan mudah diingat! gerutunya dalam hati.


“Ayasya ….” Sekuriti itu terlihat sedang memutar otaknya, mengingat-ingat siapa pemilik nama itu.


“Oh, saya tahu!” serunya tiba-tiba. “Ayasya, anaknya Pak Dokter, kan?”


“Anda siapanya? Pamannya? Karena Anda tampannya hampir sama dengan Pak Dokter, pasti Anda adalah saudara Pak Dokter. Adik atau kakaknya?” cecar sekuriti itu membuat Alfio menahan geram.


Si*l! Enak saja aku dibilang saudara dengan pria itu!


“Kok, malah melamun, Pak?” tanya si sekuriti lagi. “Oh, jangan-jangan Anda mau ngasih kejutan, ya?” tebaknya.


Alfio tak menjawab. Dia merasa menyesal telah bicara dengan pria di hadapannya. Ucapan sekuriti itu lama-kelamaan memancing kekesalannya saja.


Alfio mengikuti ke mana arah pandangan sekuriti itu. Senyumnya yang baru saja akan kembali mekar terhenti, saat mobil yang ia duga adalah milik Tessa sepertinya batal menepi. Mobil itu malah melaju menjauhi sekolah.


“Loh! Kok enggak berhenti sih?! Itu kan mobil Bundanya Neng Ayasya,” gumam si sekuriti.


“Bapak yakin itu mobil Tessa?!”


“Eh … hem, i-iya.” Melihat ketegangan di wajah Alfio, pria yang bertugas menjaga keamanan Taman Kanak-Kanak itu menjawab dengann ragu.


“Si*l!” geram Alfio.


“Dia berani menghindariku!” Alfio bergegas kembali ke mobilnya dan membuntuti ke mana arahnya mobil Tessa.


...…...


Si*l sungguh si*l! Alfio memukul kemudi di hadapannya, saat melihat Tessa membelokkan mobilnya masuk ke halaman sebuah rumah sakit. “Jadi, dia sengaja menghindariku dan pergi menemui pria itu!”


Sebenarnya, bisa saja Alfio turun dan menyusul Tessa ke dalam rumah sakit. Namun, sudah pasti keributan akan terjadi. Ia tak ingin menakuti putrinya dan berakhir menghindarinya.


Alfio benar-benar marah, dari dalam mobilnya dia bisa melihat Tessa keluar dari dalam mobil disusul Ayasya setelahnya. “Dia pikir menghindariku seperti ini akan membuatku menyerah!” ucap Alfio diiringi tawanya.

__ADS_1


“Baiklah, jika ini memang maunya. Aku akan memberinya kejutan lain!” monolog Alfio sebelum melajukan mobilnya menjauhi rumah sakit tempat Owen bekerja.


Sementara itu, Tessa yang baru tiba di rumah sakit tempat suaminya bekerja, berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan Owen. Alfio tak main-main dengan ucapannya kemarin, pikir Tessa. Jika begini terus, bisa saja dia akan membawa Aya pergi dariku.


“Bunda, tenapa kita malah ke tempat Ayah kelja? Bukannya Aya halus cekolah?” tanya Aya.


“Hem, Bunda tiba-tiba teringat sesuatu yang penting untuk diberitahu pada Ayah. Jadinya, kita temui Ayah dulu, ya,” jawab Tessa beralasan.


Ayasya mengangguk. Dia tak akan pernah menolak jika hal itu menyangkut Ayahnya. Ke tempat Ayahnya bekerja juga salah satu hal yang selalu menjadi keinginannya. Aya ingin sekali melihat Ayahnya saat mengobati pasien. Sayangnya, itu jarang terjadi. Kata Ayahnya tempatnya bekerja berbahaya, banyak penyakit yang bisa saja menularinya.


Tok … tok … tok ….


“Masuk!” Suara tak asing terdengar dari dalam, mempersilakan Tessa dan Aya masuk ke dalam ruangan.


“Loh! Bunda … Aya?! Kenapa ke sini?” tanya Owen dengan kening mengernyit.


“Bang, aku ingin menitipkan Aya di sini dulu. Biarkan dia di sini menemanimu,” pinta Tessa.


“Memangnya ada apa? Kamu tahu kan, tempat ini tak baik untuk putri kita,” balas Owen.


Ia coba menelisik raut wajah cemas Tessa. “Apa sesuatu terjadi? Apa karena pria itu?”


Tessa mengangguk, lalu mulai menceritakan apa yang terjadi. Owen mengepalkan kedua telapak tangannya menahan emosi. Ia harus segera menemui Alfio, pikirnya.


“Sekarang kalian pulanglah! Setelah jam praktekku usai, aku akan menemui pria itu,” suruh Owen.


Tessa menggeleng. “Tidak, Bang. Tidak!”


“Biarkan aku yang menemuinya,” imbuhnya.


“Tapi, kamu sudah bicara dengannnya kemarin. Lihatlah, dia masih saja datang. Aku hanya ingin tahu apa maunya!” Owen tak setuju dengan usul Tessa.


Tessa mendekat pada Owen. Ia genggam kedua tangannya erat. “Aku tak ingin ada keributan, Bang,” akunya.


“Aku tahu kamu tak mungkin memulai keributan. Tapi, pria itu … aku tak yakin.”


“Aku hanya ingin bicara dengannnya, Bun. Tenanglah, jangan khawatir. Serahkan semua ini padaku!”


Tessa mengangguk. “Baiklah, Bang. Tapi, untuk sekali ini saja, biarkan aku yang menemuinya. Kumohon, ini yang terakhir. Biarkan aku menemuinya dan menyelesaikan ini semua,” pinta Tessa.


“Kumohon, Bang.”


...——————...

__ADS_1


__ADS_2