
Sebab tak ada yang selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Begitulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi pada Tessa saat ini. Terlalu bahagia dengan kehamilannya yang kedua, ia sempat melupakan kehadiran Alfio yang bagai bom waktu di kehidupannya.
Seminggu sudah Mami Fhanie tinggal di kediaman Tessa dan Owen. Rencananya tiga hari lagi ia akan kembali ke Kota P, mengurus beberapa hal terkait perusahaan lalu beliau berniat untuk pergi lagi ke luar Negeri.
Seminggu sudah, tiap pagi Tessa merasakan mual dan muntah yang dahsyat. Owen, sebagai suami siaga, katanya … selalu berada di sisi Tessa saat dia harus melalui semua itu.
“Sudah, Bang. Berangkatlah bekerja,” suruh Tessa. Ia melirik jam di dinding, ini sudah lewat lima belas menit dari jam biasa Owen berangkat.
“Sebentar lagi. Aku akan berangkat setelah kamu selesai.”
“Tapi ini bakal lama urusannya, Bang. Mungkin karena kemarin aku kebanyakan makan rujak kali, ya.” Tessa mencari alasan mengapa pagi ini mual dan muntahnya terasa lebih parah dari hari-hari kemarin.
“Lama dan sebentar bukan masalah, Bun. Yang penting bagiku, aku akan meninggalkanmu bekerja saat kamu sudah baik-baik saja.”
“Tapi, Bang … kamu kan ha-“
Huueekk … hueekk. Ucapan Tessa tak dapat ia lanjutkan lagi karena kembali harus memuntahkan isi perutnya yang tersisa. Owen pun yang berada di sisinya, dengan sigap kembali memijat lembut tengkuk Tessa. Mengusap-usap punggung istrinya agar merasa lebih baik.
Hinga dua puluh menit berlalu, Tessa dirangkul Owen akhirnya keluar dari kamar mandi. Keduanya berjalan perlahan, menuju tempat tidur. Di atas tempat tidur sudah ada Ayasya yang duduk dengan wajah sedihnya. Kedua bola mata bening gadis kecil itu tampak berkaca-kaca.
“Bun … Bunda ….” Lalu pecahlah tangis Ayasya saat Bundanya duduk di sisinya.
“Loh, loh, kok tiba-tiba nangis sih,” ucap Tessa seraya memeluk Ayasya.
“Bu-Bunda ca-kit lagi, ya?” tanyanya dengan terisak.
“Enggak, Bunda enggak sakit kok.” Tessa membelai rambut putrinya yang sudah dikuncir mengikuti model rambut salah satu tokoh kartun favoritnya.
“Sudah, Aya jangan nangis lagi. Mau ke sekolah, kan? Ini sudah cantik gini,” bujuk Tessa.
Ah, gadis kecil itu tersadar. Benar kata Bunda, batinnya.
Sang Oma sudah bersusah payah untuk membuat tatanan rambut yang sesuai keinginannya. Kan sayang jika tatanan rambutnya sampai berantakan, pikirnya.
Aya bergegas berlari ke depan cermin, mematut dirinya, berputar-putar mengamati tampilannya bagai seorang model. Tingkah gadis kecil itu mengundang tawa Owen dan Tessa.
Rasanya baru kemarin mereka menimang Aya yang masih bayi. Sekarang Aya sudah menjelma menjadi gadis kecil yang cantik, pintar, dan pastinya menggemaskan. Bahkan, sebentar lagi ia akan menjadi seorang kakak.
...…...
__ADS_1
Hari ini Owen memperkirakan dirinya akan cukup sibuk. Berangkat lebih lama dari biasanya karena mualnya Tessa, membuat pasien yang mengantri menumpuk.
Sebelum mulai memeriksa pasien, tak lupa Owen menghubungi istrinya. Meminta pengertian sekiranya hari ini dia tak bisa menemani makan siang. Beruntung suasana hati Ibu hamil itu dalam keadaan baik. Tak ada perdebatan, izin Owen keluar tanpa dia harus bersusah payah membujuk istrinya.
Karena hal itu juga, hari ini Tessa akan ikut bersama Mami Fhanie mengantar Aya ke sekolah. Daripada dia sendirian di rumah dan berakhir merasa bosan, lebih baik dia mengantar Aya. Sudah lebih seminggu tugas mengantar dan menjemput Ayasya diambil alih oleh Mami Fhanie.
Entah suatu kebetulan atau memang hal ini disengaja oleh Alfio, pria itu sukses membuat Tessa terperanjat saat kedua netra mereka bertemu. Alfio, pria itu berdiri dengan senyum secerah mentari di depan gerbang sekolah Ayasya.
“Ka-Kau?!” Kaki Tessa terasa berat untuk melangkah. Refleks ia menahan langkah Ayasya yang ingin berlari masuk ke dalam sekolahnya.
“Tenapa, Bunda?” tanya Ayasya bingung.
“Masuk kembali ke dalam mobil. Tunggu, Bunda di sana,” suruh Tessa pada Ayasya.
Gadis kecil itu tampak bingung. Mengapa harus masuk ke mobil lagi? Padahal bel sekolahnya baru saja berbunyi, pikir Ayasya.
“Tapi belnya cudah bunyi, Bun!” protes Aya.
Saat Tessa ingin mengulang ucapannya, Mami Fhanie muncul membuat Tessa menutup mulutnya rapat. “Loh, kenapa masih berdiri di sini?”
“I-itu, Mi ….”
“Eh, Kamu … Alfio kan? Kok ada di sini?”
Tessa menggeleng. Lewat tatapannya ia memohon agar Alfio tak mengungkap rahasia mereka.
“Ada yang ingin aku bicarakan dengan Tessa. Mumpung berada di sekitar sini, aku mampir. Kupikir Tessa pasti mengantar Aya ke sekolah,” jelas Alfio.
Lalu tiba-tiba Alfio berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan Ayasya. “Di jalan, Paman melihat ada yang menjual gelang cantik ini. Paman pikir, gelang ini akan sangat cantik jika dipakai oleh gadis manis seperti Aya.”
Mata Aya tampak berbinar, melihat gelang cantik dengan ukiran huruf A yang menjadi hiasannya. “Itu untuk aku, Paman?”
“Aya, Sayang, kamu ingatkan pesan Bunda? Enggak boleh nerima barang pemberian dari orang asing.”
Mami Fhanie mengernyit. Ia menyadari ketidaksukaan putrinya dengan kehadiran Alfio.
“Tapi, aku bukan orang asing. Lagian aku belum sempat memberi kado ulang tahun yang pantas untuk pu-“ Ucapan Alfio segera disela Tessa.
“Kemarikan gelangnya. Biar aku yang menyimpannya,” sela Tessa seraya merampas gelang dari tangan Alfio.
__ADS_1
“Mi, tolong antarkan Aya masuk ke kelas, ya. Aku akan bicara sebentar padanya,” pinta Tessa.
Walau ada pertanyaan di benaknya, Mami Fhanie hanya mengangguk. Ia urungkan niatnya untuk bertanya. Waktu dan tempatnya tak tepat. Ia bisa bertanya nanti, pikirnya.
Setelah tersisa dirinya dan Alfio, wajah permusuhan segera di pasang Tessa. “Kau lupa kesepakatan kita? Kau bisa mulai menemui Ayasya setelah Mamiku pulang!”
“Tapi kapan? Aku sangat merindukan putriku!”
“Cih! Rindu katamu?! Apa tak bisa kita kembali seperti dulu saja? Sepakat jika tak ada apa pun yang terjadi di antara kita. Sepakat untuk tidak mencampuri kehidupan masing-masing?!”
Alfio tertawa mendengar penuturan Tessa. “Sudah kucoba Tes, tapi aku tak bisa. Kau pikir selama lima tahun di penjara, siapa wanita yang selalu menghantui pikiranku?”
“Kamu, Tessa! Kamu!”
Tessa memalingkan wajahnya. Ucapan Alfio tak bisa ia terima dan percaya begitu saja. Masih segar di ingatannya bagaimana dulu setelah malam yang mereka lalui bersama, Alfio bukannya memikirkan tanggung jawab, pria itu malah sibuk mengejar-ngejar Sea-sahabatnya.
“Cukup Alfio! Aku sudah punya kehidupanku sendiri. Maaf, tapi aku bahagia dengan hidupku dan keluargaku sekarang. Bisakah kau tak merusaknya? Jika kau memang benar-benar peduli padaku,” pinta Tessa.
Alfio menghela napasnya. Untuk kali ini ia tak akan menyiakan kesempatan. Ia sudah bertekad untuk memiliki Tessa dan Ayasya kembali.
“Baiklah. Aku akan mengikhlaskanmu. Tapi tidak dengan Ayasya,” dusta Alfio. “Kita akan tetap pada kesepakatan kita sebelumnya.”
Tessa kembali memalingkan wajahnya. Ia kecewa dengan jawaban Alfio.
“Aku bukan orang yang sabar Tessa. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi sampai Ibumu pergi.” Setelah itu Alfio pun berlalu meninggalkan Tessa yang mematung.
Air mata Tessa kembali berlinang tanpa permisi. Ia masih bergeming di tempatnya. Beberapa detik setelahnya ia merogoh ponsel dari dalam tas yang ia jinjing.
Pikirannya hanya tertuju pada seseorang, Owen-suaminya. Segera ia hubungi melalui panggilan telepon. Cukup lama menunggu panggilannya dijawab, membuat Tessa gelisah.
“Ya, Bunda.” Saat terdengar suara Owen di seberang telepon, Tessa langsung saja menangis.
Tangisan Tessa membuat Owen panik. “Bun, ada apa? Kenapa menangis? Ada yang sakit? Kamu di mana sekarang?”
Tessa menggeleng menjawab cecaran pertanyaan dari suaminya. Ia lupa jika Owen tak mungkin bisa melihat gelengan kepalanya.
“A-aku ingin pindah, Bang. Aku tak mau lagi tinggal di sini!”
...—————————...
__ADS_1