
“Bun, Alhamdulillah. Hasil tesnya ….”
Belum selesai Owen menyelesaikan ucapannya, sepasang suami istri itu dikejutkan dengan suara dehaman seseorang.
“Ekhem!”
Masih dengan Tessa yang berada dalam gendongan Owen, keduanya menoleh bersamaan. “Eh, Ma-mi!” seru keduanya bersamaan.
Kedatangan Mami Fhanie benar-benar sebuah kejutan. Pasalnya tak ada kabar sama sekali yang mereka terima. Setahu Tessa dan Owen, Mami Fhanie masih berada di luar Negeri.
“Mami kok gendong Aya? Kapan datangnya, Mi?” tanya Tessa.
“Kamu juga, kok digendong Owen sih?” balas Mami dengan pertanyaan yang membuat Tessa dan Owen merona.
Owen akhirnya menurunkan Tessa dari gendongannya. Dengan canggung ia rapikan baju kaosnya yang kusut setelah menggendong istrinya.
Astaga, saking bahagianya aku meninggalkan Aya di halaman rumah sendirian, sesal Owen dalam hatinya.
“Enggak tahu nih, Bang Owen. Datang-datang langsung main gendong-gendong aja,” jawab Tessa jujur.
“Roman-romannya ada berita bagus tuh. Bener enggak, Wen?” Mami Fhanie menaik turunkan alisnya.
“Semoga berita baiknya itu, kamu dapat mutasi ke Kota P. Mami kesepian di sana,” lanjut Mami Fhanie membuat Tessa dan Owen saling berpandangan.
Tanpa sadar, Mami Fhanie mengutarakan isi hatinya yang sesungguhnya. Sejak kepergian Papi Stephan untuk selamanya, Mami Fhanie merasa tak sanggup jika harus berada di rumah sendirian. Kenanagan indah bersama suaminya selalu membayangi, hingga ia merasa amat rindu dengan sosok Almarhum.
“Mami!” Tessa berjalan merentangkan tangan saat menghampiri Ibunya. Ada setitik penyesalan dalam benak Tessa, sebagai anak dia tak bisa selalu ada di masa-masa terpuruk Ibunya.
Mami Fhanie menurunkan Ayasya dari gendongannya. Ia menyambut putrinya dengan kedua tangan yang juga ia rentangkan. Ibu dan anak itu berpelukan cukup lama. Meski keduanya bungkam, namun, bulir air mata yang membasahi pipi mereka sudah mampu menyampaikan betapa besar kerinduan yang keduanya rasakan.
Owen yang melihat itu semua ikut terharu. Dalam hatinya ia juga merindukan Ibunya. Sebenarnya, yang paling ia rindukan adalah sosok Ibunya yang dahulu. Wanita yang hangat, perhatian, dan penuh kasih.
“Ayah, gendong!” suara Ayasya membuyarkan lamunan Owen. Di sampingnya, gadis kecilnya sudah berdiri dengan wajah cemberut yang membuatnya tampak makin menggemaskan.
“Ayah, gendong! Aya juga mau digendong, Yah,” pintanya.
Owen mengangkat tubuh Ayasya, menggendongnya sesuai permintaan gadis kecil itu. Keduanya menjadi penonton bagaimana Ibu dan Anak saling melepaskan rindu.
Tak ingin berlama-lama dalam suasana sedih, Owen mengajak semua orang untuk mengobrol di tempat selain dapur. “Pada penasaran enggak dengan berita baiknya apa?” tanya Owen.
Pertanyaan Owen menjeda pelukan Ibu mertua dan istrinya. “Oh iya, sampai lupa!” seru Mami Fhanie
“Apaan sih, Bang? Dari tadi kok misterius banget.” Tessa yang belum bisa menerka berita apa yang ingin diberitahu suaminya tak kalah penasarannya.
__ADS_1
“Ngobrol di ruang TV saja. Aku yakin kalian pasti sangat senang dengan berita ini,” ucap Owen seraya berjalan lebih dulu dengan menggendong Ayasya.
Sepertinya Aya sedang dalam mode cemburu saat melihat Ayahnya menggendong Bundanya. Pasalnya, tak ia biarkan sedikit pun Ayahnya jauh darinya. Bahkan saat duduk di sofa, Aya tetap duduk di pangkuan sang Ayah.
“Jadi, apa Bang berita baiknya?” cecar Tessa sebab ia penasaran.
“Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu, Bun,” ucap Owen. Raut wajahnya yang tampak serius membuat Tessa cemas. Saat gugup menyerangnya, yang ia lakukan adalah menggenggam erat tangan sang Ibu yang duduk di sisinya.
“Bang, katamu ini berita baik. Kok ada minta maaf segala,” ucap Tessa cemas.
“Iya, aku minta maaf karena aku sudah bohong padamu,” ucap Owen.
“Maafkan aku, Bun. Mengenai tes darah yang tadi kamu lakukan, kamu benar. Sebenarnya, tes itu bukan untuk pemeriksaan kesehatan, tapi … untuk pemeriksaan kehamilan,” jelas Owen.
“Apa?!” pekik Tessa bersamaan dengan Mami Fhanie.
Keduanya saling bertukar pandangan. Masalah kehamilan adalah hal sensitif bagi Tessa. Sedangkan bagi Mami Fhanie yang baru tiba, dia tak tahu menahu mengenai tes darah dan kehamilan yang dibicarakan menantunya.
“Maksud kamu apa, Wen?” tanya Mami Fhanie. “Bisa jelasin dulu enggak, tes darah? Hamil?”
“Ceritanya panjang, Mami. Pastinya, akhir-akhir ini Tessa kerap kali mengalami gejala-gejala kehamilan. Namun, karena tak ingin membebaninya, aku ingin memastikan dugaanku melalui tes darah. Yang Tessa tahu, tes itu untuk pemeriksaan kesehatannya saja,” jelas Owen.
Mami Fhanie tampak mengangguk-angguk. Dia sudah mulai mengerti. “Lalu, hasilnya?” Saat menanyakan itu, Mami Fhanie bisa merasakan genggaman tangan Tessa semakin erat.
“Alhamdulillah … hasilnya positif,” ucap Owen riang.
Dari jauh Owen mengangguk. “Benar, Bun. Kamu hamil, kita akan punya anak lagi!”
Air mata seketika menggenangi kedua netra Tessa. Kali ini ia tak akan keberatan atau mengeluh karena menangis. Ini adalah air mata bahagia.
Ingin rasanya ia berhambur ke pelukan Owen. Namun, melihat keberadaan putrinya di sana Tessa rasa itu akan sulit.
Mami Fhanie yang berada di sampingnya menjadi tempat Tessa mencurahkan kebahagiaannya. Ia peluk erat tubuh Ibunya sembari terus mengucap syukur. “Terima kasih, Tuhan. Terima kasih,” gumamnya.
Kini sepasang Ibu dan anak itu kembali menangis haru. Namun, bukan lagi karena sedih atau mencurahkan rindu. Tangisan keduanya adalah tangisan bahagia. Tangisan karena besarnya rasa syukur yang mereka rasakan.
...…...
“Tidak!” Kali ini, Tessa dengan tegas menolak permintaan putrinya.
Dengan wajah cemberutnya, Aya berlari pada Omanya. Ia kini sedang mengumpulkan suara yang dapat mendukung keinginannya.
“Oma … boleh , ya?” rengek Ayasya. Dua bola mata bening milik gadis kecil itu, membuat Omanya sangat sulit untuk menolak.
__ADS_1
“Tes, ayolah!” bujuknya. “Lagian, makan malam ini kan karena ingin merayakan kehamilanmu,” ucap Mami Fhanie.
“Iya, Bun. Dedek bayinya pasti ceneng kalau di ajak ke lestolan itu. Di sana kan ada tempat mainnya,” celoteh Ayasya mendukung ucapan Omanya.
“Aya … Dedek bayinya kan juga masih di dalam perut. Belum bisa juga main sama kamu, Nak.”
Bukan tanpa alasan Tessa menolak permintaan putrinya. Dia juga heran, mengapa putrinya selalu saja ingin ke restoran milik Alfio. Seandainya Aya tahu, jika selama ini dia berusaha sangat keras untuk menjauhkan Aya dari hal apa pun yang terkait dengan Alfio.
Owen yang baru selesai mandi sore, duduk di sisi istrinya. Tangannya refleks ia letakkan di atas perut istrinya yang masih rata. Kedua sudut bibirnya membentuk senyuman, membayangkan ada kehidupan di dalam perut istrinya. Buah hati mereka akan tumbuh dan berkembang di dalam sana.
“Bang, bilangin tuh sama anak kamu! Dia maunya kita makan malam di restoran yang itu,” ucap Tessa.
Owen tentunya paham dengan maksud Tessa. Sebenarnya, Owen malah suka jika keluarga mereka sering-sering bertemu Alfio. Dia ingin menunjukkan pada pria itu bagaimana harmonisnya rumah tangganya bersama Tessa. Dia ingin Alfio sadar jika tak ada celah untuk pria itu masuk dan menghancurkan keutuhan rumah tangganya.
Tapi, karena kini Tessa sedang mengandung, kesehatan Tessa dan calon bayinya yang paling penting. Owen tak ingin memaksa. Ia tak ingin ada sesuatu yang membebani pikiran Tessa.
Owen memutar otak. Memikirkan ide untuk membujuk putrinya. “Bagaimana jika Bunda dan Oma memasak makanan yang enak di rumah,” usul Owen membuat Aya semakin cemberut.
“Sedangkan Ayah dan Aya, akan pergi membeli kue es krim coklat mint. Bagaimana?” lanjut Owen.
Aya yang tadinya cemberut dan tampak tak bersemangat seketika berubah. Kue es krim yang Ayahnya tawarkan tak dapat ia tolak. Itu adalah kue kesukaannya.
“Cetuju!” pekiknya girang.
...…...
Menghabiskan waktu dengan memasak bersama Maminya, adalah hal yang hampir tak pernah dilakukan Tessa sebelumnya. Rupanya, menyenangkan memasak bersama Mami, batin Tessa.
Selain mendapatkan banyak resep dan tips memasak dari Mami Fhanie. Tessa juga mendapatkan banyak nasihat tentang bagaimana menjalani biduk rumah tangga.
Tanpa terasa, telah banyak hidangan yang mereka siapkan untuk makan malam. Ibu dan Anak itu tinggal menanti Owen dan Aya kembali dari membeli kue, lalu mereka akan menikmati makan malam bersama.
Ting … tong … bel pintu berbunyi.
“Akhirnya mereka pulang,” ucap Mami Fhanie.
“Ah, itu bukan mereka, Mi.” Tessa bangun dari duduknya. “Jika itu Bang Owen, pasti dia tak menekan bel,” imbuhnya.
Tessa berlalu untuk membuka pintu. Dari jendela dia bisa melihat sosok Nawra berdiri di sana. “Mau apa lagi sih, orang itu?! Hobi banget bertamu ke rumah orang!”
Klik. Tessa membuka pintu.
Tubuhnya mematung melihat sosok yang datang bersama Nawra. “Ka-kau?!”
__ADS_1
“Mau apa kau ke sini? Pergi!!!”
...———————...