Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 82. Tamu yang tak diharapkan


__ADS_3

Tak ada rasa bosan saat memandangi wajah seseorang yang kita cintai. Begitulah yang dirasakan Owen saat ini. Meski baru saja bekerja keras hingga membuat istri tercintanya terlelap karena kelelahan, namun, kata lelah itu tak berlaku baginya.


Bahkan hanya untuk berkedip, sepertinya Owen tak ingin melakukannya. Ia tak ingin sedetik pun melewatkan pemandangan indah di hadapannya. Istrinya yang tidur, dengan wajah dan tentunya tubuh yang polos bagai seorang bayi. Bergelung di bawah selimut, berlindung dari suhu dingin karena penyejuk ruangan.


Owen tak bisa menahan senyumnya saat mengingat detik-detik yang baru saja mereka lewati. Ah, bagaimana dia harus berterima kasih pada Tuhan. Kehadiran Tessa dan Ayasya dalam hidupnya tak pernah terbayangkan sebelumnya.


Seandainya tak ada Tessa dan Aya, aku tak yakin akan bisa bertahan dengan semua rasa sakit di hatiku, batin Owen. Perlahan dan hati-hati ia belai puncak kepala istrinya. Jangan … ia tak ingin sampai ia mengusik tidur lelap istrinya.


Sekilas netranya menangkap bayangan ponsel miliknya juga milik Tessa di atas nakas. Segera ia raih ponsel miliknya. Owen ingat saat tadi sedang bergumul dengan istrinya, benda pipih itu bergetar beberapa kali. “Maaf, aku mengabaikanmu,” ungkapnya saat ponsel sudah berada dalam genggaman.


Kening Owen mengernyit saat ia memeriksa ponselnya dan ada beberapa kali panggilan tak terjawab dari nomor Alfio. Mau apa dia? tanya Owen dalam hati. Bukankah kami baru saja bertemu beberapa jam yang lalu? Ia mulai gusar.


Apa mungkin Alfio memiliki informasi soal Nawra, ya? Owen menerka-nerka. Ia segera bangun dan beranjak dari tempat tidur. Ia memilih keluar, ke ruang tengah untuk menghubungi Alfio.


Owen tak akan ambil risiko, pembicaraannya dengan Alfio tak boleh sampai diketahui Tessa. Menyembunyikan fakta jika Nawra sudah mengetahui rahasia mereka, masih menjadi pilihan terbaik saat ini. Demi kesehatan Tessa dan calon bayinya.


Tut … tut …. Owen menghubungi Alfio tiga kali, namun pria itu tak menjawab panggilannya. Hanya suara dari mesin operator seluler yang menyambut Owen. Apa dia sedang membalasku? Pikir Owen.


Baru saja Owen akan menyerah dengan Alfio dan ia hendak kembali ke kamarnya, ponsel di genggamannya kembali bergetar. Nama Alfio muncul sebagai id penelepon.


“Halo,” sapa Owen seraya kembali duduk pada sofa di ruang tengah.


“Tunggu aku! Aku dalam perjalanan ke rumahmu,” balas Alfio tanpa menjawab sapaan Owen lebih dulu.


Lalu, tut … tut … tut … sambungan telepon terputus. Kening Owen mengernyit, apa-apaan Alfio!


“Tadi apa katanya? Dia dalam perjalanan ke rumahku? Untuk apa dia ke sini?” Owen bergumam pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Apa dia begitu tak sabarnya untuk bertemu dengan Ayasya, bahkan hingga malam hari pun ia ingin ke sini. Kemungkinan pertama yang terlintas dalam benak Owen. Lalu, kemungkinan kedua yang sempat terpikir olehnya adalah apa mungkin karena Nawra. Owen sampai bergidik, memikirkan hal buruk apa yang bisa saja terjadi seandainya Nawra benar-benar membocorkan rahasia mereka.


Saat Owen masih sibuk dengan pikirannya, suara deru mobil milik Alfio berhenti tepat di depan rumah. Owen pun bergegas keluar rumah untuk menemui tamu yang kehadirannya tak ia harapkan malam itu.


“Ada apa? Kau tak tahu aturan bertamu ke rumah orang, hah?” Owen menyambut Alfio dengan tak ramah.


“Perset*n dengan aturan itu!” balas Alfio juga tak ramah.


Owen menelisik ke air muka pria di hadapannya. Ada kekhawatiran dan kegelisahan di sana. “Lalu, apa yang membawamu menemuiku?”


“Ini tentang Nawra!” jawabnya dengan raut wajah serius.


Owen bergeming beberapa detik. Jadi benar, karena Nawra. Akan jadi seburuk apa kali ini?


“Hei! Ini bukan saatnya kau melamun,” tegur Alfio.


Alfio berdecak. Ia berjalan melewati Owen, melalui car pot hingga ia mendudukkan dirinya di kursi teras rumah tanpa menunggu dipersilakan lebih dulu. Perbuatannya itu mendapat tatapan tajam dari si empunya rumah. Owen sengaja keluar dari rumah menemuinya, eh … si tamu malah seenaknya masuk ke area rumah tanpa diminta.


“Kenapa? Kau tak suka aku duduk di sini? Tenanglah, aku tak akan membuat keributan,” ungkap Alfio setelah paham dengan tatapan Owen.


“Lebih baik kau juga ikut duduk, apa yang akan kusampaikan ini aku yakin akan mengejutkanmu!”


Dengan berat hati Owen mengikuti ucapan Alfio. Ia duduk di kursi teras lainnya, di samping Alfio yang hanya dibatasi oleh sebuah meja bundar kecil. “Katakan segera. Aku sangat lelah, juga tak ingin lama-lama meninggalkan istriku.


“Oke, oke. Dengarkan baik-baik, ya. Kau … eh, maksudku kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi,” ucap Alfio. Kini raut wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya.


“Maksudmu?”

__ADS_1


“Roy … kau tahukan pria yang menjadi asistenku? Yang selalu bersamaku itu,” jelasnya yang dijawab anggukan oleh Owen.


“Dia sudah menelusuri di mana keberadaan Nawra. Wanita itu tak ada di mana pun. Di toko, di rumahnya, ia tak terlihat sejak siang hari.”


Owen memalingkan wajahnya. Sedikit kesal karena menurutnya hal itu tak penting baginya. Dia tak punya urusan dan tak mau tahu apa pun tentang wanita dari masa lalunya itu. “Pergilah! Aku tak ingin tahu apa pun tentang wanita itu.”


“Kau harus tahu! Kau harus tahu siapa yang ditemui oleh Nawra.”


Owen mulai terpancing. “Siapa?”


“Ibumu.”


Satu kata jawaban Alfio, membuat Owen membeku. Ibu? Nawra menemui Ibu? Apa akhirnya semua rahasia mereka akan terbongkar? Apa hidupnya yang baik-baik saja, akan segera berantakan?


“Hei, kau dengar aku kan? Nawra menemui Ibumu. Coba pikir, untuk apa dia jauh-jauh ke sana? Aku menduga dia telah membocorkan semua rahasia kita pada Ibumu.”


Alfio terus mengoceh, sementara ucapan Alfio hanya terdengar samar-samar oleh Owen. Pikiran pria itu kini sedang tak fokus. Banyak hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi jika Ibunya benar-benar mengetahui kebenaran mengenai Ayasya.


“Kau sudah punya rencana kan?” tanya Alfio. Owen menggeleng sebagai jawaban.


Alfio menepuk jidatnya. “Sebaiknya kau segera memikirkannya, sebab menurut Roy kemungkinan Ibumu sedang dalam perjalanan ke sini bersama Nawra.”


“Apa katamu? Sekarang?! Ibu ke sini sekarang?!” Owen mulai gusar.


Lalu tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di belakang mobil Alfio yang terparkir di depan rumah Owen. Pandangan keduanya seketika tertuju ke mobil itu.


Mobil Nawra, mungkinkah?

__ADS_1


...———————...


__ADS_2