Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 84. Semakin Memanas


__ADS_3

Hal yang dikhawatirkan Owen akhirnya terjadi. Keributan yang dibuat oleh Ibunya, pada akhirnya berhasil mengusik tidur lelap sang istri. Saking paniknya, Owen tak menyadari pakaian tidur tipis yang dikenakan oleh Tessa. Ketika menyadari hal itu, Owen segera menarik tubuh Tessa agar merapat padanya. Sekilas ia juga sempat memandang tajam pada Alfio saat mendapati pria itu tak berkedip memandangi istrinya.


“Maaf karena telah membangunkanmu,” bisik Owen seraya merangkulkan tangannya pada bahu Tessa.


Tessa menggeleng. Bukan itu jawaban yang ia inginkan. Pertanyaannya, apa yang dilakukan semua orang di rumah mereka saat larut malam seperti ini. Kira-kira seperti itu yang ingin disampaikan Tessa melalui sorot matanya.


Seakan tahu apa yang ingin ditanyakan istrinya, Owen segera menjawab. “Bu-bukan apa-apa. Semuanya hanya kebet-“ Sayangnya, sebelum Owen menyelesaikan ucapannya, Bu Damira sudah menyela.


“Beraninya kau pura-pura tak mengerti, hah?! Wanita sial*n!” umpat Bu Damira.


“Ibu!” tegur Owen.


Tessa terlihat mengusap dada suaminya perlahan. Seakan mengatakan, tenanglah ... dia Ibumu, jadi tolong jaga sikapmu.


“Maaf Bu, jika aku ada salah. Tapi, sungguh aku tak tahu apa yang terjadi.”


“Juga, bisakah kita membicarakannya baik-baik? Ini sudah sangat larut, Bu. Aku khawatir keributan ini akan mengganggu tetangga yang lain,” pinta Tessa.


Dalam hati yang Tessa takutkan bukanlah para tetangga. Dia masih bisa bersikap tak acuh dengan omongan para tetangga. Namun, yang dia khawatirkan adalah Mami Fhanie. Selama ini, dia tak pernah bercerita mengenai Ibu Mertuanya yang tak pernah sekali pun menerika kehadirannya.


“Bagus! Aku akan sangat senang jika semua orang tahu bagaimana busuknya kau!” Lagi-lagi hinaan itu terucap dari bibir Bu Damira begitu saja.


Tessa menahan dirinya untuk tak membalas hinaan yang ia terima. Ia hela napasnya perlahan untuk menenangkan diri. Owen pun tak jauh berbeda. Seandainya yang di hadapannya ini bukan Ibu kandungnya. Seandainya yang menghina istrinya bukan wanita yang telah melahirkannya. Fakta itu membuat Owen dilema.


“Bu, kumohon pengertian Ibu. Jangan buat keributan.” Owen bahkan memelas meminta pengertian Ibunya.


“Ibu akan berhenti jika wanita ini angkat kaki dari rumah ini!” tuntut Bu Damira.


Ia palingkan wajahnya lalu berkata, “Bawa juga anak harammu itu!” Imbuhnya lirih namun semua orang di sana masih bisa mendengar dengan jelas.


Anak haram? Apa yang Ibu maksud Ayasya? batin Tessa.


Hanya beberapa detik waktu yang dibutuhkan Tessa untuk mencerna maksud Ibu mertuanya. Lalu, pecahlah tangisan wanita yang sedang hamil muda itu.


“Hina saja aku, Bu. Tapi, jangan hina putriku!” bela Tessa sambil terisak.

__ADS_1


Tak hanya Tessa, baik Owen juga Alfio merasa geram saat Ayasya disebut sebagai anak haram oleh Bu Damira.


“Bu!!!” Owen mendahului Alfio menegur Ibunya.


“Tolong jaga ucapan Ibu, ya. Jangan keterlaluan menghina keluargaku. Selama ini aku sudah berusaha sabar. Aku dan istriku selalu mengalah saat Ibu menghina kami. Tapi, kali ini Ibu sudah keterlaluan!”


Untuk pertama kalinya, Owen bicara sambil meneriaki sang Ibu. Mendapati sikap Owen yang seperti itu, Bu Damira dibuat terkejut bukan main. Sakit yang ia rasakan di dadanya semakin menjadi-jadi. Owen yang akan membela istrinya, tentu sudah diprediksi olehnya. Namun, Owen yang mengusir bahkan berbicara dengan kasar padanya, tak pernah ada di bayangan Bu Damira. Ia pikir Owen akan mengalah seperti biasa.


“Aku heran denganmu, Bu. Mengapa kamu lebih mendengarkan ucapan orang lain,” ucap Owen mulai melunak. Saat mengatakan ini, ia menatap tajam pada Nawra seakan ingin menguliti wanita itu lewat tatapannya. Ia tahu, semua ini bersumber dari wanita gila yang telah membongkar semua rahasia mereka.


“Aku akan anggap malam ini tak pernah terjadi!” putus Owen dengan tegas. Ia tak ingin berlama-lama dalam suasana menegangkan seperti ini.


Sejak tadi Owen mengamati Ibunya. Beliau seperti sedang menahan sakit. Setelah perdebatan malam ini berakhir, ia akan coba bicara dan memeriksa kondisi Ibunya.


Tak hanya itu, tubuh istrinya yang sedang ia dekap dengan erat itu pun kini sedang bergetar hebat. Owen bisa merasakan, dada Tessa yang naik turun tak beraturan. Ditambah lirih suara isakannya yang coba ia tahan, semakin membuat miris hati Owen. Ia menyesal, lagi-lagi istrinya merasa tersakiti. Lagi-lagi, ia telah gagal melindungi keluarganya.


“Sekarang kau Nawra, pergi dari rumahku. Jangan pernah muncul di hadapan keluargaku, walau hanya bayanganmu saja!” usir Owen.


Saat Owen mengusirnya, Nawra kembali merangkul lengan Bu Damira. Dia tak akan semudah itu menyerah. Bu Damira harus menepati janjinya, begitu pikir Nawra. Tua bangka ini harus membelaku!


“Jika kau mengusir Nawra, maka sama saja kau mengusir Ibu!” ucap Bu Damira. “Dan saat Ibu keluar dari rumahmu, maka saat itu juga ikatan Ibu dan anak di antara kita berakhir!”


“Bu! Tarik kembali ucapan Ibu!” Owen tak terima. Ia memang marah pada Ibunya. Ia kecewa pada Ibunya. Tapi, untuk memutus ikatan di antara mereka tak pernah terlintas di benak Owen.


Seandainya bisa Owen mengakuinya, maka dari semua sikap buruk Ibunya malam ini adalah puncaknya. Hati Owen terluka, berdarah-darah hanya dengan satu kalimat mematikan dari sang Ibu.


Bertahun-tahun dia berusaha menjadi anak yang membanggakan sang Ibu. Berusaha keras menjadi anak yang bertanggung jawab pada keluarga setelah sang Ayah memilih pergi. Semua kebanggaan Owen menjadi putra Ibunya seakan runtuh hanya dengan satu kalimat yang terlontar dari bibir Ibunya.


“Bu, ikatan darah di antara kita tak sebanding untuk Ibu pertaruhkan demi membela wanita sampah seperti dia!” geram Owen.


“Jangan pernah memintaku memilih antara Ibu atau Istri dan anakku. Aku tak akan pernah bisa!”


Bu Damira berdecak. Tentu saja, Owen tak akan pernah bisa tak acuh padanya. Walau tak akan mudah membuat Owen berada di pihaknya, namun, Bu Damira percaya Owen tak akan pernah bisa meninggalkan keluarganya.


Sementara itu Mami Fhanie yang baru saja terbangun karena mendengar keributan dari luar, bergegas keluar dari kamar untuk memeriksa keadaan. Ia tak langsung membuka pintu kamar lebar-lebar. Ia hanya membuka sedikit dan mengintip dari celah kecil pintu.

__ADS_1


Apa yang terjadi? Apa yang sudah kulewatkan? Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat melihat putri semata wayangnya menangis dalam pelukan menantunya. Mami Fhanie merasa kasihan dengan Tessa, samar-samar ia bisa mendengar ucapan terakhir Owen.


Jadi, dugaan Mami selama ini benar. Kamu tak diterima dengan baik oleh keluarga suamimu? batin Mami Fhanie mengasihani putrinya.


“Ck! Jadi, kau masih mau pertahankan wanita murahan juga anak haram itu?!” pekik Bu Damira.


Semua orang kembali membelalak. Rupanya Bu Damira belum ingin mengakhiri ketegangan malam ini.


Brak! Pintu kamar tamu terbuka lebar dengan kasar. Dari sana muncullah Mami Fhanie dengan wajah yang memerah menahan amarah.


“Hei! Siapa yang Anda sebut wanita murahan dan anak haram, hah?!” Mami Fhanie memekik seraya menunjuki wajah Bu Damira. Ya, dia sedang menantang besannya itu. Besan yang seenaknya menghina putri kesayangannya.


Bu Damira tergelak. “Oh, jadi Anda belum tahu, ya?!”


“Sebaiknya Anda bawa putri Anda yang murahan itu pergi dari rumah putraku. Dia sudah menipu putraku. Ayasya bukan anak kandung Owen!”


Mami Fhanie terkejut mendengar hal ini. Tubuhnya membeku, otaknya ia paksa untuk berpikir. Haruskah dia percaya dengan apa yang baru saja dibeberkan besannya itu.


“Putri kebangaanmu itu hamil dengan pria lain lalu dia menjebak putraku. Meminta pertanggung jawaban dari putraku hingga masa depan dan karirnya yang cemerlang hancur!”


“Apa?!” Mami Fhanie masih sulit untuk percaya. Ia menoleh pada Owen dan Tessa, keduanya memalingkan wajahnya. Tak ada pembelaan yang bisa mereka berikan.


Di tengah ketegangan luar biasa yang sedang terjadi, Nawra pikir ini saatnya ia mengambil perannya. Malam ini … jika dengan cara di usir Tessa tak mau angkat kaki dari rumah ini, maka dia akan membuat Tessa pergi dengan sendirinya.


Nawra merogoh sesuatu dalam tasnya. “Ekhem,” ia berdeham agar perhatian tertuju padanya.


“Biarkan dia pergi, Owen. Benar kata Ibu, lepaskan mereka,” ucap Nawra seperti sedang menuangkan minyak ke dalam api.


Dengan percaya diri dia mengangkat benda pipih kecil di tangannya. “Biarkan mereka pergi. Kamu harus tanggung jawab juga padaku!”


Apa lagi ini?! teriak Owen dalam hati.


Belum juga Owen membantah lelucon Nawra … Bruk!


“Ibu!”

__ADS_1


“Tessa!”


...———————...


__ADS_2