
Owen melangkahkan kakinya dengan cepat memasuki sebuah gedung bertingkat di daerah pusat perkantoran. Mengapa ia merasa seperti dejavu, beberapa bulan yang lalu dia juga pernah datang ke gedung ini dengan perasaan yang sama.
“Maaf Tuan, Anda ingin bertemu siapa?” Seorang karyawan wanita dengan setelan blazer mahal dan rok mininya menghalangi langkah Owen.
“Saya ingin bertemu bosmu. Jangan menghalangiku!”
“Tapi Anda harus buat janji lebih dulu, Tuan.” Karyawan itu masih berusaha untuk melakukan tugasnya dengan baik.
“Kukatakan jangan menghalangiku! Apa perlu aku mengulangnya lagi?!” Bentak Owen yang kemudian tanpa peduli dengan larangan si karyawan, ia tetap melanjutkan langkahnya untuk menerobos masuk ke dalam ruangan si pemilik perusahaan. Sementara si karyawan wanita dengan tubuh yang mulai gemetar berlari ke mejanya untuk menghubungi pihak keamanan perusahaan.
Brak! Owen mendorong pintu dengan keras hingga Ben yang sedang sibuk memainkan gawainya terkejut.
“Owen?!” gumamnya.
Setelahnya ia mengamati raut wajah Owen. Ada kilatan amarah dari sorot kedua netranya. “Hei, Bro!” sapanya.
Owen menghentikan langkahnya tepat di depan meja kerja Ben. Semakin dekat jaraknya dengan Owen, Ben bisa mendengar deru napas temannya itu yang saling memburu.
“Kau keterlaluan, Ben!” ucap Owen.
Tak lama karyawan wanita yang sebelumnya mencegah Owen, ikut masuk ke dalam ruangan bersama dua orang petugas keamanan. Melihat itu Ben menyadari jika sebelum Owen berdiri di hadapannya, pria itu pasti telah membuat kekacauan di luar. Hanya dengan satu gerakan tangan Ben, akhirnya karyawan dan petugas keamanan itu pergi, meninggalkan Ben dan Owen yang kembali dalam ketegangan.
“Keterlaluan?!” Ben mengernyitkan keningnya bingung.
“Apa hanya aku yang tak tahu jika sekarang cara berterima kasih telah berubah?” lanjut Ben ketika tertinggal mereka berdua di ruangan.
Terdengar helaan napas Owen. “Aku tahu seharusnya aku berterima kasih padamu. Tapi seingatku, kau hanya mengatakan akan menjauhkan Nawra dari rumah tanggaku.”
“Ya, dan itu yang kulakukan semalam. Kau lihat, Ibumu bahkan sudah mengusirnya kan?” Ben tertawa, mengingat kejadian semalam saat dia berakting di depan Ibu dari temannya.
Dia sampai merasa geli sendiri saat ingat bagaimana dia memohon-mohon maaf dari Nawra. Apalagi dia sampai mengaku sebagai pemilik janin yang dikandung wanita itu. Ben bergidik mengingat peran yang ia lakoni semalam.
Owen mendudukkan dirinya di kursi, berhadapan dengan Ben. “Benar, dan seharusnya semuanya sudah berakhir semalam saat Nawra angkat kaki dari rumahku,” ucap Owen.
“Lalu, apa yang kau permasalahkan hingga datang ke kantorku dan membuat kekacauan?”
__ADS_1
“Kau masih pura-pura tak paham?! Lihatlah!” Owen meletakkan ponselnya di atas meja kerja Ben.
Rasa penasarannya membuat Ben bergegas meraih ponsel itu dan melihat foto yang tampak di layar ponsel itu. “I-ini Nawra?” tanyanya.
“Kau sudah tahu dia siapa. Sekarang tentunya kau juga sudah ingat apa yang kau lakukan padanya.”
Ben kembali memandangi foto di ponsel Owen. Nawra terbaring dengan beberapa alat-alat medis terpasang di tubuhnya. Selang oksigen, infus, dan beberapa alat lain yang ia tak tahu apa namanya.
Seingatnya semalam ia meninggalkan Nawra di daerah yang cukup sepi untuk memberikan wanita itu pelajaran. Dalam rencananya, Nawra akan kelelahan berjalan untuk mendapatkan tempat ramai lalu mencari taksi untuk pulang ke rumahnya. Skenario kedua, Nawra akan menggunakan ponsel pintarnya untuk memesan taksi online lalu dia akan pulang dan tiba dengan perasaan kesal di rumahnya.
“Mengapa bisa jadi seperti ini? Apa yang telah terjadi padanya?” gumam Ben bertanya. Entah dia bertanya pada Owen atau pada dirinya sendiri.
“Lihatlah sendiri. Kau akan tahu seburuk apa yang telah terjadi padanya!” ucap Owen lalu ia segera beranjak pergi dari ruangan Ben. Ada hal lain yang akan ia lakukan. Hal penting yang ia harap akan membawa perubahan baik dalam kehidupannya.
...…...
Ben pun tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tak berselang lama, setelah melihat foto Nawra yang tak berdaya dari ponsel Owen. Namun satu yang pasti, dirinya kini sudah berada di depan sebuah ruang unit perawatan intensif. Di dalam sana, di salah satu ranjang pasien, Nawra terbaring lemah.
“Permisi Tuan, ada yang bisa kami bantu?” tanya salah seorang perawat yang melihat Ben tampak kebingungan.
“A-ku ingin melihat kondisi pasien bernama Nawra,” ucap Ben ragu.
“Oh, apa Anda Tuan Ben?” tanyanya yang segera dijawab dengan anggukan oleh Ben.
“Dokter Owen sudah menitip pesan, jika Anda datang diminta untuk segera menemui Dokter Rita,” ucap si perawat.
“Dokter Rita? Dia siapa?”
“Dokter kandungan. Dokter yang melakukan pemeriksaan dan perawatan pada Nyonya Nawra,” jelasnya.
Ben pun mengangguk. Dalam benaknya ia bertanya-tanya seburuk apa kondisi Nawra saat ini. Wanita itu dirawat di ruang perawatan intensif. Owen menemuinya dengan perasaan marah. Lalu, sekarang dia harus menemui dokter kandungan. Semua hal itu menimbulkan tanda tanya besar dalam benaknya. Apa yang terjadi pada Nawra?
Lalu sekarang, di sinilah Ben berdiri. Di depan pintu ruangan Dokter Rita. Dokter kandungan yang disebut-sebut akan memberinya informasi mengenai kondisi Nawra.
“Permisi, Dokter … boleh saya masuk?”
__ADS_1
“Silakan,” jawab Dokter wanita yang Ben perkirakan usianya sudah sekitar 40 tahunan.
“Perkenalkan, saya Ben. Dokter Owen meminta saya menemui Anda untuk tahu bagaimana kondisi pasien bernama Nawra,” ucapnya.
“Oh, Tuan Ben!” seru Dokter Rita bersemangat seolah dia sudah lama menunggu Ben untuk menemuinya.
Dokter itu mengambil satu map dan menyerahkannya pada Ben. “Di sana semuanya sudah lengkap, Tuan. Laporan pemeriksaan beserta penjelasan mengenai kondisi kesehatan pasien sudah kami jelaskan di sana. Anda sudah bisa menggunakan berkas itu untuk melapor pada pihak kepolisian.”
Melapor pada polisi? Ben menelan salivanya. Mengapa sampai harus melibatkan polisi segala, pikir Ben.
Dengan tangan yang bergetar, Ben membuka map dan mulai membaca isinya. Kedua netranya terbelalak saat mulai memahami apa yang terjadi pada Nawra. Dari hasil pemeriksaan, Nawra sepertinya habis menjadi korban kejahatan s*ksu*l. Terdapat banyak luka, baik bagian selaput luar maupun bagian dalam pada organ kel*m*n wanita itu. Ben membaca dengan teliti lembar per lembar laporan pemeriksaan yang diberikan oleh Dokter Rita.
Tak hanya itu, Dokter Rita bahkan menemani Ben untuk melihat kondisi Nawra saat ini. Ben mematung, melihat wanita angkuh yang tak pernah bersikap lembut padanya kini terbaring lemah di ranjang pasien. Alat-alat medis yang terpasang pada tubuhnya sama persis dengan yang dia lihat di foto.
Ben memandangi tubuh Nawra dari ujung kepala dan berhenti di perutnya. Ah, dia ingat Nawra kan mengaku sedang hamil. “Dokter, bagaimana dengan kandunganya?” tanya Ben.
“Syukurnya, janin dalam kandungan Nyonya Nawra saat ini masih bisa bertahan. Tapi, kondisinya sangat lemah,” ungkap Dokter Rita.
“Namun ada satu hal lain yang butuh perhatian lebih,” ucap Dokter seraya menghela napasnya. “Kami pikir mental Nyonya Nawra sedang terguncang. Namun, baru bisa kami lakukan pemeriksaan lebih lanjut setelah beliau sadar.”
Ben bergeming. Ia tak tahu harus berkomentar apa. Dalam semalam Nawra mendapatkan balasan atas hal buruk yang telah ia lakukan. Yang membuat Ben tak menyangka, dirinya secara tidak langsung ambil bagian dari kemalangan yang menimpa Nawra.
“Maaf … kami butuh wali pasien untuk seluruh tindakan medis yang akan diberikan pada Nyonya Nawra,” ucap Doker.
“Aku. Aku yang akan menjadi walinya. Aku akan bertanggung jawab penuh atas seluruh biaya pengobatan pasien.” Ben pikir ia memang harus melakukan itu.
“Boleh tahu, hubungan Anda dengan pasien?”
“A-Aku … aku adalah ayah dari janin yang dikandung oleh Nawra,” aku Ben.
...…...
Di tempat lain, Owen dengan senyum sumringah berjalan tergesa-gesa di bandara. Tak henti-hentinya ia melirik jam di pergelangan tangannya. Menurut perkiraannya, sekitar dua puluh menit lagi apa yang ditunggunya akan tiba.
Waktu terasa sangat lambat atau memang Owen yang sudah tak sabar. Yang pasti tak terhitung lagi sudah berapa kali dia berjalan mondar-mandir di depan pintu kedatangan.
__ADS_1
Hingga, suara yang tak asing terdengar oleh Owen. “Ayah!”
...—————————...